
Rentetan ketukan di daun pintu, selalu mencegah Chandra memejam dengan tenang. Selain Mishall, Tristan juga sangat hobi mengganggu ketenangan pikirannya.
"Woe, anjing! Lo berdua kalau cuman numpang nge-s*x, ngapain di rumah orang, anjir! Bangun lo pada! Pintu nggak dikunci, kampret! Gue masuk, nih!"
Gerutuan Tristan sangat mudah memancing emosi. Sebelum Shila bangkit untuk menyerang, Chandra sudah melepas sepatunya lebih dulu, melempar ke arah pintu, yang kemudian mendapat makian lanjutan dari si pemilik rumah.
"Anjir! Anjir! Udah pake rumah orang, nggak sopan lagi! Kalian berdua gue usir dari rumah! Cepetan keluar, atau gue buka pintu!" Tristan memainkan ancamannya dengan memutar-mutar kenop pintu. "Gue kasih waktu 10 menit, kalau nggak keluar juga, gue ... beneran bakalan buka pintu, dan biarin pengurus rumah gue nontonin kalian berdua!"
Setelah itu, sentakan sandal Tristan terdengar menjauhi pintu kamar. Shila ikut bangkit dari posisi berbaringnya, untuk mengenakan pakaian secepat mungkin.
"Kenapa?" tanya Shila, saat ia masih sibuk memeriksa beberapa pakaiannya, sebelum diloloskan ke kepala. "Nggak biasanya kamu lepas kendali kayak tadi." Ia turut memicingkan mata penasaran.
Chandra ikut meninggalkan bantal. Mengusap tengkuknya secara kasar, ketika ia mendapati dirinya bingung memberikan alasan. Tidak mungkin ia jujur, bahwa ia dipengaruhi oleh keraguan Mishall mengenai perasaan Chandra, sehingga ia langsung ingin membuktikan bahwa ia benar-benar mencintai Shila, bukan karena kekayaannya.
Namun, itu adalah jawaban tergila, dan mungkin akan menjadi kalimat terakhir Chandra sebelum dibunuh Shila, jika ia berani mengatakan hal itu.
"Chandra ... pakaian aku nggak bisa nutup bekasnya." Keluhan Shila segera mengalihkan pikiran semrawut Chandra.
Perempuan ini benar. Potongan pakaian atas Shila membentuk V-neck, sementara Chandra memberikan tanda kepemilikannya di atas dada, tepat bagian tengah kulit Shila.
"Aku nggak bawa foundation atau bedak ke sini buat nutupin," lanjut Shila.
"Nggak usah ditutup." Chandra memberi usul dengan tenang. Ia mendekat, dan mengusap bekas merah yang sengaja ia tinggalkan itu. "Biarin semua orang tahu, kalau aku cinta kamu."
"Tapi ... malu-maluin banget ...."
"Sejak kapan istri aku ini peduli penilaian orang lain, hm? Jangan dengerin ucapan orang-orang. Ini tanda kepemilikan aku di kamu."
Shila diam sejenak, lalu mengangguk berat. Ia berdiri menggunakan lututnya, mendekat pada Chandra, untuk ikut mengisap leher pria itu, disertai beberapa gigitan. Entah sekuat apa, tetapi saat melihat bibir pink Shila dihiasi cairan berwarna merah ketika menjauh, dan rasa perih di bekas Shila mencium Chandra tadi; sudah memberitahu pria itu, bahwa kulitnya sekarang ini terbuka dan berdarah.
"Nggak terlalu parah kok." Shila tersenyum tanpa merasa bersalah ketika mengusap bekas gigitannya. "Ini sempurna," bisiknya rendah.
Meski ritual memberi kissmark sudah selesai, Shila masih enggan melepaskan tangannya dari pundak Chandra. Kelengketan tubuh atletis suaminya yang setengah berkeringat setelah kegiatan mereka tadi, terlalu sulit untuk ditinggalkan. Shila tersenyum semakin lebar, dengan kepala sedikit miring ke samping.
"Kamu cemburu sama Arfan?" tanya Shila, tiba-tiba.
"Arfan?" Chandra bingung sebentar. Ia bahkan hampir lupa mengenai masalah itu. Segera, Chandra menemukan alasan yang tepat mengapa ia menyeret Shila ke tempat ini. "Jelas, aku cemburu sama dia. Kamu nggak biasanya deket sama cowok lain selain aku sama Pak Anwar. Bahkan, temen-temen Papa kamu aja, kamu nggak sedeket kayak interaksi kamu sama Arfan tadi."
"Aku nggak tau ...." Shila seolah menerawang. "Nyambung aja ngobrol sama dia." Shila berhenti menerawang, dan menatap lurus pada Chandra bersama senyum tipisnya. "Tapi, aku bakalan jauh dari dia, kalau itu bisa nenangin kamu. Aku ... nggak bakalan deket sama cowok lagi kayak tadi. Tapi ... aku suka sih, sifat posesif kamu ini."
Suara rendah Shila, tatapnya, dan senyum perempuan itu seolah memberikan hipnotis tersendiri, sampai Chandra hanya bisa diam di tempat ketika istrinya memajukan wajah untuk menciumnya lagi untuk hari ini. Namun, pertemuan bibir mereka tidak bisa berlangsung lama karena pintu kamar yang mendadak dibuka. Membuat Chandra hampir memaki, tetapi segera urung saat mengetahui bahwa yang berada di ambang pintu adalah seorang perempuan dengan rambut panjang diikat rendah. Meski mengenakan masker hitam, Chandra dengan cepat mengenali perempuan yang tengah menunduk itu.
Mishall.
"Maaf. Pak Tristan memanggil Anda, dan istri Anda ke halaman."
Chandra masih bermalas-malasan, saat Shila sudah turun dari tempat tidur sembari merapikan pakaian. Ia menatap lurus pada Mishall, yang masih berdiri di ambang pintu. Menggunakan kesempatan beberapa detik saat Shila lengah dan Mishall menengadah, Chandra melemparkan senyum kemenangan.
Bahwa apa yang Mishall duga terhadapnya, tidak benar.
Chandra hanya ingin mematahkan tuduhan gila harta yang diucapkan Mishall tadi, tetapi ... ada yang salah.
Mata perempuan itu memerah, dengan cairan menggenang siap jatuh, dan ... terjadi. Setetes cairan lolos begitu saja dari mata Mishall, yang beruntung langsung terserap oleh masker sehingga Shila tidak sempat melihatnya.
Saat Mishall beranjak pergi dari ambang pintu, Chandra menegakkan punggungnya karena gusar. Meneguk ludah secara kasar, lalu sekali lagi memaki dalam hati.
Karena perempuan itu—sekali lagi—membuat Chandra gusar mengenai maksud air mata tadi.
...***...
Sialnya, kebingungan Chandra mengenai sikap Mishall berlangsung hingga esok harinya. Merenggut ketenangan tidurnya semalam suntuk, sehingga Chandra hanya bisa terpejam kurang dari empat jam.
Pria itu bersiap lebih awal daripada biasanya. Setelah mengenakan seragam, bersamaan dengan itu Shila juga bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Kamu mau berangkat sekarang?" Shila bertanya kebingungan, sembari melirik ke arah jam digital di atas nakas. "Ini bahkan belum jam enam pagi, Chandra!"
"Ini hari senin, Sayang." Untuk meredam protes istrinya, Chandra mendekat ke tempat tidur, mencium Shila sebentar. "Aku nggak boleh telat, supaya jadi teladan."
Shila mendengkus ringan. Ia menggeser posisi tubuhnya, dengan masih menahan lengan Chandra agar tetap duduk di sampingnya. Ia membuka laci, untuk mengeluarkan kotak obat dari sana. Shila sangat ahli membukanya hanya dengan satu tangan, dan berhasil mengeluarkan sebuah plaster luka. Ia hanya perlu menggigit kemasannya untuk bisa membuka masih dengan satu tangan. Barulah, saat hendak menempelkan benda sewarna kulit itu, Shila melepaskan pegangannya dari Chandra.
"Murid kamu jelas nggak boleh lihat ini," bisik Shila.
Setelah selesai, ia menepuk pundak Chandra terlebih dahulu, lalu mundur. Tangannya berada di atas pangkuan, dengan senyum lembut yang masih berada di bibirnya.
"Terima kasih," balas Chandra, dan seakan belum cukup, ia menyempatkan diri mencium kening Shila sebelum turun dari tempat tidur.
"Jangan lupa sarapan, oke? Atau, kalau sarapan belum siap, minimal bawa bekal!" pesan Shila yang langsung diiyakan oleh Chandra sebelum keluar dari kamar.
Pria itu sibuk dengan ponsel di tangannya, membuka kontak Mishall, dan tanpa keraguan mengirimkan pesan pada perempuan itu.
^^^Chandramawa Ahtar^^^
^^^Saya ke rumah kamu.^^^
^^^Jangan ke mana-mana.^^^
Sama sekali tidak berniat izin, Chandra malah memberikan titah tegas. Ia mampir sebentar ke dapur, seperti arahan Shila. Agar tidak membuang waktu lebih lama karena Bi Ana bahkan baru mau memasak, jadi Chandra memilih membawa buah-buahan dalam kantong plastik sebagai bekal sarapannya nanti. Ia juga berpesan, agar memberitahu hal ini pada Shila, supaya istrinya tidak khawatir.
Setelah itu, saatnya meluncur menggunakan motornya menuju kediaman Mishall. Tepat pukul enam pagi, Chandra sudah memarkirkan motornya di halaman. Hal itu, membuat pintu rumah Mishall langsung terbuka, dan keluarlah ibunya yang memandang aneh pada keberadaan Chandra, walau, masih tampak segan.
"Mishall ada, Bu? Saya harus pastikan dia tidak telat hari ini, dan beberapa hari ke depan, sampai terbiasa berangkat pagi," ucap Chandra memberikan alibi, sehingga tatap tidak nyaman dari perempuan tua itu seketika sirna.
"Di dalam, Pak. Belum mandi. Tenggorokan saya sampai sakit teriakin dia supaya bangun pagi, tapi ... emang dasar anaknya bandel."
Chandra enggan peduli dengan keluhan perempuan tua itu. Ia bergegas permisi, hendak masuk, tetapi dicegah oleh pertanyaan dari ibu Mishall.
"Pak Chandra ini ... sudah menikah?"
Berhenti sejenak, untuk mengikuti arah pandang perempuan tua ini yang tertuju pada jari manisnya. Ia tanpa beban, mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, saya tenang kalau anak saya diawasi Pak Chandra. Kemarin-kemarin, rada cemas. Namanya juga ya ... anak perempuan sama laki-laki, kalau keseringan deket, takutnya ... ada sesuatu gitu. Tapi karena Pak Chandra udah nikah, seharusnya nggak, ya?"
Chandra tersenyum tipis, lalu memberikan anggukan ala kadarnya pada perempuan itu. Dengan mudah, Chandra menemukan kamar Mishall, tetapi saat mengetuk beberapa kali, tidak ada jawaban. Namun, terdengar suara keran air dari arah dapur, yang berdekatan dengan kamar mandi, jadi, Chandra menuju ke sana.
Ia menemukan pintu belakang terbuka. Mengabaikan pintu kamar mandi yang baru saja akan ia ketuk, Chandra meneruskan langkah keluar dari rumah melalui pintu belakang. Lalu menemukan Mishall duduk menerawang di atas kursi kayu panjang.
"Kamu nggak siap-siap?"
Mishall menoleh sebentar mendengar pertanyaan itu. Ia kembali menatap kosong ke depan. Semakin Chandra mendekat, ia kemudian mendapati bahwa perempuan ini tengah membawa gunting di tangannya. Segera, Chandra merebut benda itu karena di pikirannya seketika muncul bayangan Shila yang hobi menggores kulit dengan gunting.
"Kamu ngapain bawa-bawa gunting ke sini?" tanya Chandra kesal.
"Pak Chandra ini ... ngapain ke sini pagi-pagi?"
"Pastikan kamu tidak datang terlambat. Saya seenggaknya harus melakukan ini selama 90 hari sekolah, agar nantinya bisa menjadi kebiasaan kamu berangkat pagi."
Mishall mendengkus geli. Tanpa aba-aba, ia merebut gunting dari tangan Chandra, dan mengarahkan pada rambutnya.
"Males sembunyi mulu dari istrinya Pak Chandra," ucap Mishall. Tanpa beban, langsung memotong rambut sepunggungnya yang di bawah ke depan secara acak, hingga panjangnya hanya sebatas dada.
"Kalau saya lihat, videonya nggak terlalu terang. Muka saya yang lebih sering kamu sorot. Seharusnya, kamu nggak terlalu dikenali sama Shila, apalagi kamu juga pakai dandanan menor malam itu." Chandra tidak nyaman dengan sikap perempuan ini, jadi, segera merebut gunting itu lagi, dan menyembunyikan di belakang punggungnya. "Nggak usah kayak gini. Sana, siap-siap. Berangkat pagi, sama saya. Kalau di sekolah nanti masih sepi, saya antar sampai halaman. Kalau udah rada siang, saya cuman bisa anter sampai dekat gerbang."
"Nggak usah sok baik. Murid bermasalah bukan cuma saya aja, Pak. Urus mereka aja, daripada saya."
"Saya urus kalian semua secara merata." Chandra meneguk ludah usai mengatakan itu.
Padahal, ia hanya memanggil orang tua murid jika ada yang bermasalah. Namun, perempuan satu ini ... Chandra tidak tahu. Bisa-bisanya dia merepotkan diri untuk membantu Mishall sampai hari ini.
__ADS_1
"Kamu kenapa potong rambut?" tanya Chandra. Ia memosisikan diri di belakang Mishall. Menyisir lembut rambut kecokelatan perempuan ini, hingga ke belakang punggung. "Kayak orang patah hati."
"Rambut aku berat," jawab Mishall seadanya. "Beban di dalam kepala aku udah lebih berat."
"Segini mau?" Tidak acuh pada jawaban Mishall, Chandra menggaris batas rambut yang ia tawarkan untuk dipotong; sedikit di atas bekas guntingan Mishall dengan niat untuk merapikan.
"Segini." Mishall memberi batasan di pundaknya.
"Yakin?"
"Yang saya nggak yakinin itu, cuman sikap baiknya Pak Chandra yang ngundang curiga."
"Kamu bahas apa sih?"
Mishall merotasi bola matanya ketika mulai merasakan bagian dingin dari gunting menyentuh kulitnya. Chandra mulai memotong rambutnya, dan itu memicu beberapa kali kulit mereka bersinggungan. Dan ... ini salah.
Kulit Mishall pasti salah, karena ia langsung merinding karena hal sederhana itu. Mishall membawa tangannya ke pangkuan, kesulitan menenangkan dirinya yang tegang. Dalam hati, terus berdoa bahwa kegiatan ini akan segera berakhir, dan Chandra bisa langsung menjauh darinya. Sialnya, itu membutuhkan beberapa menit, yang terasa berjam-jam. Leher kaku Mishall akhirnya bisa digerakkan ketika ia merasakan tepukan di pundaknya, lalu mendengar ucapan Chandra.
"Lumayan juga hasil karya pertama saya."
Mishall menyentuh rambutnya. Masih lebih panjang dari yang ia perintahkan tadi. Sebelum mengajukan protes, Chandra sudah lebih dulu memotong ucapannya.
"Nanti rapihin lagi ke salon. Akhir pekan, harusnya kamu libur kerja, kan?"
Mishall enggan peduli. Ia berdiri dari kursinya. Tidak hanya bersikap dingin, ia turut menarik paksa gunting dari tangan Chandra secara paksa.
"Mau saya ajak jalan-jalan hari minggu nanti?"
Mishall berhenti melangkah, karena mendengar tawaran Chandra tadi. Sesaat, debar dalam dadanya menguat, tetapi segera ia tenangkan agar kembali normal, saat Mishall menanamkan fakta untuk dirinya sendiri.
Bahwa pria itu sudah beristri.
Bahwa Mishall menemukan ketakutan ketika mendekati Chandra, karena trauma atas apa yang ibunya lakukan, yang bisa saja berdampak buruk pada kehidupan Mishall saat ini.
Jadi, ia tegas menggeleng. Masuk ke rumah, dan menutup pintu belakang dengan kasar.
...Selalu gans di tiap kesempatan🔥...
...Si sumber masalah🔥...
...Hai, ini Es Pucil!...
...Aku boleh baca pendapatmu mengenai bab ini? ...
...Jangan lupa berikan komentar/ulasan ya❤️...
...Itu sangat mendukung aku untuk semakin semangat update bab baru. ...
...Ada kesalahan, typo, dan lainnya? Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau membantu melaporkannya. ...
...***...
...Mari kenalan :...
...Instagram : es.pucil...
...Facebook : Es Pucil III ...
__ADS_1
...🔺🔺🔺...
...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku. ...