
Rashila Ghana :
Hari buruk. Aku dipaksa datang ke rumah Om Ergan karena nggak ada di acaranya kemarin. Jadi, sorry:( aku nggak bisa jemput sekarang. Tapi, Anwar lagi ke situ, kok. Kamu duduk-duduk ya, sambil tunggu. Dia baru selesai antar aku ke rumah Om Ergan soalnya.
Pesan dari Shila ditanggapi dengan senyum simpul oleh Chandra. Ia segera mencari pohon terdekat untuk berlindung dari panasnya matahari, kemudian membalas pesan sang istri.
^^^Chandramawa Ahtar :^^^
^^^Nggak papa. Aku bisa duduk di bawah pohon. Lumayan sejuk di sini. ^^^
Belum cukup, ia turut mengirimkan foto selfie-nya agar sang istri percaya.
Rashila Ghana :
Sorry, bikin kamu nunggu. Pasti nggak enak nunggu, ya?
^^^Chandramawa Ahtar :^^^
^^^Nggak papa, Sayang:)^^^
Chandra semakin tersenyum, ketika Shila begitu cepat membalas pesannya.
Rashila Ghana :
Nanti, kalau sudah sembuh total, kamu bisa naik motor lagi.
Tapi, pulang tepat waktu, oke?
Aku khawatir sama kamu.
^^^Chandramawa Ahtar :^^^
^^^Oke. Aku bakalan lakuin apa pun yang kamu mau;)^^^
Status online di bawah nama 'Rashila Ghana' menghilang. Ia asumsikan bahwa istrinya sedang sibuk, sehingga Chandra juga bisa memasukkan ponselnya ke dalam saku. Tas kerja yang ia bawa, diletakkan samping kaki, sementara ia sendiri menyandarkan punggung pada batang pohon.
Sengaja keluar lebih cepat, dan tidak berniat menunggu di ruangannya sendiri, karena ia perlu memantau semua muridnya. Terutama gadis itu. Sedikit kecewa, karena apa yang ditakutkan Chandra sungguhan terjadi. Semua terasa sia-sia. Usahanya ... sampai harus ditusuk Shila ... semuanya habis.
Chandra berniat merutuk Mishall, atas semua yang menimpa dirinya yang malah disia-siakan perempuan itu. Namun, ia malah mendapati dirinya kian kesal ketika di depan gerbang, berhenti sebuah mobil Maserati GranCabrio hitam yang amat ia kenali.
Mobil Tristan.
Terlalu penasaran dengan apa yang dilakukan sobat bangsatnya itu di sini, Chandra segera membawa tas kerjanya ke luar gerbang sekolah.
Namun, kurang beberapa meter dari mobil, ia menghentikan langkah. Ketika tubuhnya dilewati oleh Mishall yang berlari senang menghampiri Tristan. Bahkan, begitu akrab pada sahabatnya itu, sementara Chandra tahu, mereka sama sekali tidak punya hubungan apa pun.
Atau, Mishall sekarang jadi 'pelayan' pribadi si anak sultan? Chandra mendecih dalam hati. Mencocokkan jejak merah di kulit putih bersih Mishall, ia tahu betul, si player Tristan sangat suka meninggalkan tanda pada perempuan yang ia kencani.
Sekarang, Chandra harus bagaimana? Berbalik, atau meneruskan langkah?
Meneruskan perjalanan bukan pilihan bijak. Ia akan terlihat sangat jelas sedang mendekati Mishall secara pribadi, jadi Chandra berbalik. Ingin menunggu di teras saja, daripada halaman. Namun, sekali lagi, langkahnya diinterupsi oleh panggilan.
"Chandra, lo songong amat abis ketemu malaikat maut!" ucap Tristan.
Sahabat Chandra padahal terlalu kaya, tetapi untuk membeli buku yang mempelajari adab saja, ia tak mampu. Ini sekolah, sialan! Chandra sebagai guru yang harus menjaga kharisma, langsung tersentil. Ia berbalik lagi, demi menghampiri sahabatnya.
"Kamu kalau panggil, minimal tahu tempat, Tristan. Saya di sekolah sekarang!" ucap Chandra ketika ia sudah berhadapan langsung dengan si biang masalah.
__ADS_1
"Heleh, serius amat sampe harus saya-kamu. Biasanya juga keluarin kata-kata kasar," hardik Tristan. "Bener, kan, Mishall?"
Yang ditanya malah mengerjap bingung, kemudian mengangguk kaku. Bibirnya dipaksa tersenyum pada Chandra yang menatapnya sinis.
"Kamu mau bawa dia ke mana?" Kepalang tanggung, Chandra sudah berhadapan dengan kedua manusia ini sekarang. Jadi, sekalian saja bertanya.
Chandra sesekali menoleh ke sekitar. Harus berhati-hati bicara, karena siswa-siswi masih lalu-lalang karena pulang sekolah.
"Ikut gue lah. Gue yang pekerjakan dia sekarang."
"Tris!" Chandra memanggil frustrasi atas jawaban sahabatnya. "Dia ... masih ... 16 tahun! Kamu nggak bisa pekerjakan anak di bawah umur." Chandra melirik ke Mishall, yang melotot karena pembahasan mereka. "****. Maksud saya, dia nggak bisa main sama kamu dulu."
Chandra selalu lupa, bahwa perempuan ini tidak ingin ada siapa pun yang tahu bahwa dirinya bekerja, apalagi pekerjaan orang dewasa.
"Lo perhatian amat sama siswi sendiri!" seru Tristan, kali ini sembari tertawa kecil dan meninju pelan bahu Chandra. "Gue nggak bisa di sini lama-lama, karena yeah ... Lo tau lah, sibuknya gue." Tristan berlagak ketika ia melirik jam rolex di pergelangan tangan, kemudian memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. "Mau ikut gue, biar sambilin jelasin pekerjaannya dia?" tawar Tristan, dengan alis naik-turun. Seolah sangat tahu dilema Chandra saat ini, dan dengan senang hati mempermainkannya.
Chandra menoleh sebentar ke kanan-kiri kebingungan. Namun, pada akhirnya, ia tetap memberikan pengiyaan atas tawaran Tristan. Sebelum naik ke mobil, ia terlebih dahulu memberitahu istrinya.
^^^Chandramawa Ahtar :^^^
^^^Sayang, aku keluar sama Tristan dulu, ya. Mau sekedar jalan-jalan ke rumah barunya.^^^
Sebelum centang duanya berubah biru, Chandra ikut naik ke mobil, dan mengambil potret dirinya bersama Tristan. Mishall diberi isyarat untuk menepi. Sebelum mengirimnya, Chandra memastikan bahwa tidak ada jejak perempuan yang tertangkap kamera. Barulah setelah lolos sensor, pria itu mengirimkan foto itu pada Shila.
"Gini amat lo jadi suami, Chandra." Tristan berceletuk ketika ia mulai menjalankan mobilnya.
"Naikin atapnya. Mata-mata Shila ada di mana-mana."
"Ye ... beban! Mishall padahal suka atap kebuka, 'kan?"
Pertanyaan Tristan diangguki polos dua kali, tetapi kemudian ia mendudukkan dirinya sebagai isyarat lain agar Tristan mau memenuhi keinginan Chandra.
"Bukan urusan lo." Chandra balas sengit, kemudian masukkan ponsel usai izin dari Shila ia dapatkan. "Sekarang, lo ngapain nih anak? Sampe lehernya lebam-lebam merah gitu? Sumpah ya, Tristan. Lo walaupun semaunya, seenggaknya mikir gitu. Ini anak masih di bawah umur. Dia nggak tau apa yang dia lakuin, karena masih remaja labil. Lo yang udah tua kenapa nggak mikir sama sekali?"
"Wuish, selow, Bro." Tristan memasang ekspresi takut yang dibuat-buat, dengan matanya yang mengarah ke jalanan melotot sembari melirik pada Mishall. "Lo pernah gue pake, Shall?"
Si perempuan menggeleng ragu. Matanya bergerak ke kanan-kiri mencoba berpikir. Saat-saat seperti ini; mengenakan seragam sekolah, wajah bingung, dan ekspresi ragu—perempuan ini terlihat seperti gadis polos pada umumnya. Berbeda seratus delapan puluh derajat ketika ia sedang berlutut di depan kaki para pria. Chandra mendadak merinding ketika mengingat hal itu.
"Jangan jawab kek gitu, Mishall. Gue bakalan langsung dituduh yang enggak-enggak sama ... guru lo ini." Tristan mengeluh.
"Nggak inget, Pak." Mishall menjawab, lalu menggaruk pelipisnya. "Saya nggak pernah inget sudah pernah berhubungan dengan siapa aja, Pak."
Chandra memicingkan mata pada spion tengah, karena berpikir kesal; atas dasar apa siswinya ini memanggil Tristan dengan sebutan 'Pak'?
"Yee ...." Tristan mencibir, tetapi senyumnya muncul. Lebih mirip ejekan ke arah Chandra tanpa pria di sampingnya itu tahu. "Arfan ngeluh ke gue, lo ngeluh ke dia kalau ini bocah sering gangguin lo selama sakit." Tristan mulai menjelaskan, segera mendapatkan perhatian dari pria di sampingnya. "Karena si Arfan emang kampret kalau dimintai bantuan, jadi ya ... gue dengan senang hati bantu lo amankan nih anak."
Kedua pria itu sibuk menyebut 'bocah' dan 'anak', sementara objek obrolan mereka tengah mengerutkan kening tidak suka di kursi belakang.
"Jadi, gue sebagai orang yang berperisahabatan, bantu lo. Selama sakit, gue ngasih dia kerjaan. Sekarang, dia malah ketagihan kerja sama gue, jadi ya ... gue sih nggak ada alasan buat nolak karena—"
"To the point, Tristan. Lo bilang aja kerjaan dia apa?" potong Chandra, gemas dengan pembahasan sahabatnya yang terkesan berbelit-belit.
Dan, memang sengaja dilakukan oleh Tristan, demi memberikan pengujian. Ia tersenyum tipis atas respons Chandra, tetapi segera disembunyikan ketika pria di sampingnya menatap tajam.
"Dia jadi pembantu di rumah gue—"
Ucapan Tristan lagi-lagi diinterupsi ketika Chandra tersedak oleh ludahnya sendiri. "Pembantu?" Chandra menyebut pekerjaan itu dengan mata melotot.
__ADS_1
Serius? Perempuan gengsi ini jadi pembantu?
"Ye ... jangan ngejek, kampret! Gini-gini, gaji Mishall bahkan lebih gede dari elo."
Kampret. Chandra menggeram pelan mendengar jawaban menohok dari Tristan, tetapi karena ia suka dengan pekerjaannya saat ini, jadi Chandra tidak terlalu menanggapinya.
"Pembantu apa sampai lehernya lebam begitu?" tanya Chandra, kembali ke topik utama.
"Kadang, gue ngerasa lo paling lurus di antara yang lain, Chandra. Tapi, mesum juga ternyata. Leher cewek lo liatin sampe segitunya. Mulus, ya?"
Chandra mengetatkan rahang, sebagai isyarat tegas bahwa ia tidak suka obrolan saat ini.
"Dia jatuh dari tangga. Lehernya kepentok di tangga. Harusnya lo lihat juga, lengan sama lututnya juga memar. Bahkan kepalanya sempat berdarah kemarin."
"Kok bisa?" tanya Chandra, tampak tidak suka. Ia segera berbalik pada Mishall, dan mulai mengabsen beberapa bagian tubuh Mishall yang dimaksud Tristan. Perempuan itu turut menggosok bagian samping kepalanya, sebagai tanda bahwa di sanalah lukanya kemarin.
Tristan terkekeh geli atas respons Chandra. Ia menipiskan bibir, selama Chandra menarik tangan siswinya itu untuk memeriksa lebam-lebam itu.
"Beberapa pembantu iri, karena gue perlakuin Mishall istimewa. Makanya, udah biasa kalau ada persaingan buat saling menjatuhkan. Mereka malah nuduhnya Mishall pelayan plus-plus gue, padahal, mereka sendiri tahu, nih bocah udah pulang sebelum gue balik rumah. Bego emang mereka."
"Lo kenapa belain Mishall sampe segitunya?" tanya Chandra, sembari memperbaiki posisi duduknya. "Padahal, Arfan kemarin sok-sok profesional padahal gue udah ngemis sama dia."
"Nah!" Tristan berseru senang. "Harusnya pertanyaan itu buat lo. Ngapain lo ikut ke sini cuman buat kepoin siswi lo sendiri?" tanya Tristan.
Chandra baru menyadari, bahwa mobil ini mulai memasuki pekarangan rumah mewah milik Tristan. Ia sedikit panik, apalagi ketika Tristan mulai melepas sabuk pengaman, dan Mishall sendiri langsung turun dari mobil.
"Gue cuman ... khawatir sama dia." Chandra berdeham ringan. "Lo ... jangan sampai apa-apakan dia. Walaupun dia bukan gadis lagi, tapi tetap ... hormati dia."
"Wuish, meleleh, Pak Guru!" balas Tristan, disusul kekehannya. Ia tampak tidak peduli, segera turun dari mobilnya, tetapi masih sempat mengintip di jendela mobil. "Bukannya enak kalau Mishall kerja di sini? Lo bisa ... izin dengan mudah sama istri lo buat ketemu dia. Lo suka ketemu dia, 'kan?"
Chandra merotasi bola matanya, lalu ikut turun dari mobil. Mereka masih berinteraksi dengan saling berhadapan di atas atap mobil.
"Gue bukannya karena suka sama dia." Chandra berkilah. "Gue bakalan sering ke sini ... buat mastiin dia nggak lo apa-apain!"
Tristan terbahak. Padahal lawan bicaranya tampak begitu serius. Karena, Tristan tahu betul jawabannya.
...Hai, ini Es Pucil!...
...Aku boleh baca pendapatmu mengenai bab ini? ...
...Jangan lupa berikan komentar/ulasan ya❤️...
...Itu sangat mendukung aku untuk semakin semangat update bab baru. ...
...Ada kesalahan, typo, dan lainnya? Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau membantu melaporkannya. ...
...***...
...Mari kenalan :...
...Instagram : es.pucil...
...Facebook : Es Pucil III ...
...🔺🔺🔺...
__ADS_1
...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku. ...