
Chandra sebenarnya sudah mendapatkan pesan larangan dari Widya untuk tidak datang ke rumah sakit karena saat Shila sadar, perempuan itu mengamuk hingga melukai dirinya sendiri. Nadi di punggung tangannya robek karena jarum infus dikeluarkan paksa. Untuk sementara, Shila sudah diberikan obat penenang sehingga perempuan itu kembali tertidur.
Bukannya memenuhi larangan Widya, Chandra malah datang lagi ke rumah sakit. Berpikir bahwa sang istri sudah tidur, jadi ia tidak mengkhawatirkan apa pun. Apalagi setelah apa yang terjadi tadi siang: Shila tidak terlalu mengamuk, bahkan terlelap sendiri saat Chandra peluk—pria itu sedikit percaya diri untuk kembali menemui sang istri. Berpikir bahwa cinta Shila padanya mungkin bisa meluluhkan perempuan itu agar memaafkan Chandra.
Namun, saat baru saja sampai di depan pintu ruangan, Chandra membatalkan keinginannya untuk masuk. Ia tertegun di tempat kakinya berdiri sekarang, ketika matanya menemukan ada sosok pria di dalam ruangan berdua bersama istrinya.
Chandra hampir lupa untuk mengedip, membiarkan matanya mengering hingga membuat skleranya memerah. Ia benar-benar membeku, ketika melihat pria di dalam ruangan menggenggam mesra tangan Shila, bahkan memberikan ciuman di sana. Chandra tidak bisa tahan lagi. Ia mendorong pintu secara kasar, hingga membuat pria yang duduk itu tersentak kaget: berdiri sembari menoleh ke arah Chandra.
"Tristan?" Chandra menyebut nama sahabatnya dengan suara bergetar. "Lo apain istri gue?"
Tristan tampak tidak terpengaruh sedikitpun pada kemarahan Chandra. Bahkan dengan santainya membawa kedua telapak tangan ke dalam saku celana.
"Menurut lo?" balas Tristan dengan nada santai, tetapi berhasil menyulut kemarahan Chandra. "Lo nggak sadar diri, Chandra? Lo udah selingkuh sama siswi lo sendiri. Kenapa masih pertahanin Shila? Lepasin dia, karena dia bisa dapat yang lebih setia dibanding lo—"
"Lo maksudnya?"
Tristan tersenyum, sama sekali tidak mempermasalahkan Chandra yang memotong ucapannya sesuka hati.
"Di saat hubungan lo sama Shila udah mulai retak, lo malah fokus ke selingkuhan lo itu. Bahkan ... setelah lo ketahuan ... lo masih berhubungan sama si Mishall. Lo beneran udah ngelanggar komitmen pernikahan, dan lo nggak punya alasan buat dapat maaf dari Shila. Dia terlalu terhormat buat laki-laki yang terlalu plin-plan kayak lo!"
Bugh!
Chandra hanya butuh milidetik untuk melayangkan pukulan di tulang pipi Tristan: dengan mudah membuat lawan tersungkur ke lantai. Tristan seorang pria bebal. Ia secepat kilat berdiri seolah tidak merasakan sakit untuk pipinya yang dihiasi lebam merah. Chandra bersiap untuk melanjutkan serangan, tetapi oleh Tristan, lengannya ditahan dengan mudah.
"Gue nggak bakalan biarin lo jadiin Shila salah satu korban lo."
Tristan berdecak pelan, tampak malas. Itu cukup untuk mengecoh Chandra sehingga ia tidak mempersiapkan diri ketika Tristan mendorong kedua tangannya ke samping, kemudian memukul wajah, lalu area tulang rusuk Chandra dengan kuat. Meski tidak sampai jatuh ke lantai, cara Chandra membungkuk memegang dada, serta bagaimana sulitnya ia mengatur pernapasan, sudah menjelaskan betapa sakit pukulan yang Tristan berikan tadi.
"Gue emang terlambat buat sadar ini, tapi ... gue merasa ... jatuh cinta sama Shila." Tristan menatap sendu sosok perempuan yang terbaring di atas tempat tidur. "Gue perlu delapan bulan buat yakinin diri, kalau gue beneran suka sama dia, dan ... bener. Gue bahkan siap lakuin apa pun buat perempuan semahal Shila. Gue bisa 24/7 hari di rumah asal sama dia. Sumpah."
"Playboy jenis lo, nggak bisa dipercaya."
"Emang." Tristan membantu Chandra untuk menegakkan punggung. Tetapi hanya sekadar bisa mencapai sebelah wajahnya yang lain untuk disikut kuat. "Gue banyak nyoba perempuan buat nyari yang sejenis Shila, tapi ... nggak ada. Jelas. Perempuan setia kayak dia ... gue nggak tau bisa beli di mana."
__ADS_1
"Gue nggak bakalan biarin lo dapat Shila!" hardik Chandra. Ia berusaha mengumpulkan semua kekuatannya di kepalan tangan, bersiap dipukulkan ke Tristan, tetapi kondisi fisik mereka terlalu kalah jauh. Chandra yang sudah dihadiahi banyak luka, hanya bisa pasrah saat dadanya mendapat dorongan keras dari sepatu Tristan.
"Kenapa lo terlalu tamak, Chandra? Bebasin satu perempuan! Lo nggak bisa kekang dua-duanya dalam hidup lo! Dalam kasus ini, Shila yang harus lo bebasin, karena lo nggak bisa hargai pernikahan kalian, dan lo lebih mentingin pelacur lo itu ketimbang istri lo sendiri!" Tristan memberikan pertimbangan lain pada Chandra yang semakin membungkuk. Untuk meraup oksigen saja, lawan Tristan itu tampak kesulitan.
"Ceraiin Shila. Gue bisa bikin dia jatuh cinta sama gue—"
"Nggak bakal—" potong Chandra, dan detik berikutnya, kaki Tristan sekali lagi mendarat di kepalanya dari arah samping, membuatnya terbanting ke tembok. Belum cukup, Tristan memegang kepala pria yang ia sebut sahabat itu, lalu memukulkannya lebih kuat dari sebelumnya ke tembok.
Tristan menepuk-nepuk tangannya seolah menghilangkan debu setelah melihat Chandra jatuh tidak sadarkan diri. Dari bekas luka di keningnya, berjatuhan tetesan darah yang lebih parah dari kemarin. Namun, Tristan tidak terlalu peduli. Menyempatkan diri menghampiri Shila, memberikan ciuman perpisahan di punggung tangan perempuan itu, kemudian meninggalkan ruangan.
Meski sangat berharap bahwa Chandra tidak bisa diselamatkan sehingga Shila bisa ia gapai dengan mudah, tetapi Tristan tetap memanggil dokter untuk memeriksa sahabatnya itu.
Berpikir, bahwa bukan Tristan yang harus menghabisinya. Biarkan Shila melepaskan amarahnya lebih dulu, sehingga hati kosong Shila bisa ia isi dengan mudah.
Rencana Tristan seperti itu.
...***...
Saat bangun, Chandra mendapati dirinya berada di atas ranjang pasien. Ia mengeluh sakit, saat mencoba untuk bangun. Pandangannya menggelap beberapa saat, kemudian merasakan bahwa sekitarnya terlihat berputar.
Widya bertanya, turut membantu Chandra untuk mengambil posisi duduk.
"Istri saya ... gimana, Dok?" Chandra susah payah bertanya. Ia berusaha memutar ulang memori semalam, lalu menemukan ingatan bahwa dirinya sudah dikhianati oleh Tristan hingga berakhir semenyedihkan ini.
"Bu Shila baik-baik saja, Pak. Sekarang sudah tidak menyerang diri sendiri," jawab Widya.
Chandra masih belum bisa memperbaiki penglihatannya sendiri, tetapi ia sudah bersusah payah untuk turun dari ranjang pasien. Widya ikut membantu, walau perempuan itu tampak menyayangkan kondisi Chandra sekarang ini.
"Sepertinya, kondisi Pak Chandra jauh lebih buruk daripada Bu Shila. Anda sebaiknya beristirahat, Pak."
"Nggak perlu, Dok. Saya perlu jaga istri saya." Chandra hanya perlu sedikit mengelak, dan Widya sudah melepaskan tangannya dari Chandra. "Terlalu banyak orang yang mengharapkan hal buruk ke pernikahan kami."
Chandra mulai melangkah, dan hal sederhana ini cukup sulit karena tubuhnya sesekali oleng. Saat Widya bersiap membantu, Chandra dengan sigap mengangkat sebelah tangannya sebagai bentuk penolakan.
__ADS_1
"Saya bisa ... sendiri."
Meski pria itu bahkan ragu dengan kemampuan sendiri, tetapi Chandra tetap gigih melangkah sendiri. Ia memilih untuk menopang berat tubuh pada dinding. Chandra hanya perlu bertanya pada Widya arah ruangan Shila, karena ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih sekarang ini.
"Dokter Widya, saya boleh minta tolong?" tanya Chandra sebelum ia mendorong pintu ruangan Shila untuk terbuka. "Anda menjaga Shila di sini setiap hari. Tolong larang siapapun yang ingin menemui istri saya, siapapun itu. Bahkan yang mengaku teman saya sekalipun."
Widya tertegun selama beberapa saat, tetapi ia tetap memberikan anggukan menerima perintah dari Chandra.
"Baik, Pak. Akan saya jaga Bu Shila seperti yang Pak Chandra katakan."
"Terima kasih, Dok." Chandra sekarang bisa tenang. Ia memasuki ruangan, kemudian menutupnya sehingga hanya tersisa dirinya dan sang istri.
Chandra beberapa kali memejam kuat dengan niat mengembalikan fokus penglihatannya. Namun, selalu berakhir gagal. Semua hal yang matanya lihat tampak bergerak sendiri, dengan beberapa hal tidak terlihat jelas. Ia sangat berharap bahwa efek ini bisa segera menghilang, agar bisa fokus menjaga sang istri.
Namun, satu yang Chandra tidak sadari ketika ia memasuki ruangan. Bahwa di atas tempat tidurnya, Shila sudah dalam posisi duduk bersila menghadap pintu seolah menunggu kedatangan Chandra. Pakaian pasiennya yang berlengan panjang, ditarik-tarik sampai kedua tangannya bersembunyi secara sempurna.
Berupaya menutupi sebuah logam dalam genggamannya.
...Dari angka 1 - 10, berapa nilai yang bakalan kamu kasih untuk bab ini? Beritahu aku di kolom komentar📌...
...Oh ya, akan ada banyak lagi cerita seru di akun @Es Pucil , follow supaya nggak ketinggalan info! ...
...***...
...Mari kenalan :...
...Instagram : es.pucil...
...Facebook : Es Pucil III ...
...🔺🔺🔺...
__ADS_1
...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku. ...