
Permainan ketuk jari Chandra di atas meja terhenti saat ponselnya berdering. Pikirannya yang semula kalut karena masalah kemarin, langsung kembali pada realita. Bahwa ia sudah duduk dengan posisi sedikit membungkuk cukup lama, hingga punggungnya pegal saat ditegakkan pada sandaran kursi. Pria itu melihat guru-guru di sekitarnya yang tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sementara dirinya tidak bisa berpikir dengan baik.
Sekali lagi, dering membuyarkan penilaian Chandra mengenai keadaan sekitar. Ia segera merogoh saku, di saat beberapa pasang mata mengarah padanya. Pria itu segera merogoh ponsel dari saku celana. Namun, sebelum sempat menggeser icon penerima panggilan, deringnya sudah terhenti.
Sialnya, ini telepon dari Shila. Chandra mendesis kesal pada diri sendiri karena keterlambatannya sendiri. Perempuan itu dipastikan sedang marah sekarang. Chandra mengacak rambutnya, lalu menyugar ke belakang. Sesaat, berpikir untuk menelepon kembali dengan ancaman makian dari seberang sambungan, atau membiarkan sembari mencari alasan agar ia bisa menghadapi kemarahan Shila saat pulang nanti.
Demi apa pun! Hanya karena sebuah panggilan, tetapi Chandra seperti dihantam oleh masalah besar. Sebab, yang dihadapi Chandra bukan perempuan biasa.
Pria itu menghela napas. Ia mengusap wajah terlebih dahulu, kemudian berdiri dari kursi yang telah ia diami hampir dua jam. Kepalanya menunduk, pada layar ponsel di tangan. Pada akhirnya, ia tidak bisa lari dari resiko pilihannya dulu, sehingga Chandra memilih menelepon balik. Terlebih dahulu, ia harus memastikan tidak ada yang mendengar obrolannya nanti.
Namun, baru saja beberapa langkah setelah menginjak lantai luar ruangan, ia secara samar mendengar obrolan samar oleh rekan guru perempuannya.
"Kasihan Pak Chandra, ya? Abis nikah sama istrinya sekarang, jadi rada kurusan. Sering kelihatan stres. Ck ck. Istri gila gitu, kok masih dipertahankan, ya?"
"Ya bisalah, Bu. Bu Shila lebih cantik dari rata-rata perempuan, apalagi perempuan kayak Ibu. Lebih kaya dan terjamin pula hidupnya. Udah sembuh total juga. Cuman posesif doang, dibilang gila? Itu semua biasa lah, Bu, namanya juga saling cinta." Terdengar suara Lastri, sebagai penutup dari gosip tadi.
Chandra meneruskan langkahnya, menuju toilet. Sembari itu, ia mencoba untuk melakukan panggilan telepon dengan sang istri. Butuh setidaknya dua percobaan, hingga teleponnya diterima.
"Halo, Sayang." Penuh kesigapan, Chandra langsung menyapa. Ia segera menyesali tindakannya, karena masih berada di perjalanan, sementara di sekitarnya masih ada beberapa siswa-siswi karena ini waktu istirahat.
Hingga Chandra berada di salah satu bilik kamar mandi pria paling ujung, ia tidak kunjung mendapatkan jawaban dari seberang sambungan. Sehingga berinisiatif untuk memberikan penjelasan.
"Sorry, Sayang. Tadi beneran nggak sempet angkat karena lagi diskusi sama guru-guru lain. Bisa tanya Bu Lastri kalau mau—"
"Nggak." Shila memotong dengan cepat, penuh ketegasan. "Aku percaya kamu."
Tanpa sadar, Chandra mendesah lega karena mendengar itu. Tubuhnya yang semula tegang, bersandar malas pada pintu kamar mandi. Ia tetap menempelkan ponsel di telinga, sembari menunggu lanjutan ucapan dari istrinya.
"Kamu pulang jam berapa?" tanya Shila.
Menimbang-nimbang bahwa Chandra harus menemui ibu Mishall terlebih dahulu, jadi ia menjawab bahwa akan pulang satu jam lebih lambat.
"Perasaan aku aja atau, kamu selalu ... aja, keluyuran abis dari sekolah," ucap Shila. "Kamu udah sering gini, loh."
"Maaf, Sayang. Tapi si Tristan emang sebeban itu. Masalah di rumah barunya selalu mesti aku yang bantuin. Temen-temen lain nggak bisa bantu karena pada sibuk."
"Kamu bilang aja sama dia, kalau kamu juga sibuk. Nggak sepenuhnya bohong, karena ya ... kamu memang sibuk sama aku. Gimana?"
Chandra menggaruk pelipisnya terlebih dahulu. "Gimana ya, Sayang? Tristan ini udah baik banget sama aku. Paling baik, dan paling iya gitu kalau aku minta tolong. Jadi, nggak enak kalau ditolak."
__ADS_1
Hening.
Kelegaan Chandra tadi hanya bertahan sesaat. Ketika pria itu mulai meninggalkan sandarannya, ia mulai tegang, sembari menebak-nebak reaksi sang istri.
"Oke. Cuman satu jam aja, 'kan?"
"Iya, Sayang. Cuman satu jam." Chandra memperjelas ucapannya, dengan penuh optimisme.
"Oke. Jangan terlalu lama, ya? Aku punya kejutan buat kamu."
"Kejutan?" Dibandingkan penasaran yang dibalut bahagia, Chandra malah melotot dengan alis mengerut ragu. "Apa?"
"Ra-ha-sia. Kamu cepetan pulang biar bisa tahu."
Sambungan dimatikan. Dan, mendengar kata kejutan tadi ... rasanya Chandra khawatir untuk pulang sore nanti.
Pria itu keluar dari bilik kamar mandi. Menuju wastafel untuk membasuh wajah. Ketika ia menengadah dan melihat pantulan dirinya sendiri di cermin, pria itu tercenung sesaat.
Mengingat-ingat keputusannya di masa lalu, bahwa dengan menikah dengan perempuan yang ia cintai, dirinya akan bahagia. Entah bagaimana pun keadaan pasangannya nanti.
Namun ... sedikitpun Chandra tidak menemukan kata 'bahagia' itu di wajahnya saat ini.
***
Tiba di rumah Mishall, Chandra disambut dengan senyum dari ibu Mishall. Padahal, terlihat ramah. Namun, entah mengapa Chandra malah menaikkan tingkat kewaspadaannya.
"Pak, kan saya bilang anterin langsung ke rumah Pak Tristan," keluh Mishall yang masih duduk di atas motornya.
"Saya ada urusan sama Mama kamu," ucap Chandra tanpa peduli dengan gerutu perempuan di belakangnya. Ia melepaskan helm dari kepalanya, yang menjadi sinyal bagi Mishall agar turun dari motor.
Mishall berjalan lebih dahulu, dengan langkah buru-buru memasuki rumahnya. Sementara Chandra tetap bersikap tenang mendekat. Setelah kakinya menginjak teras, ia berhenti melangkah. Wajah ramah ibu Mishall semakin terlihat mencurigakan di matanya.
"Kenapa nggak langsung masuk, Pak Chandra?" tanya wanita itu, yang secara terang-terangan terbaca seperti sindiran tegas bagi Chandra.
"Anda punya urusan apa bertemu istri saya kemarin?" tanya Chandra, tanpa ada ekspresi bersahabat sedikit pun.
Bahkan, meski sudah diberitahu oleh Shila mengenai alasan kedatangan wanita tua ini, Chandra masih tetap tidak percaya. Entah mengapa, pria itu merasa sesuatu yang buruk dari ketenangan ibu Mishall.
"Saya bahkan kaget, ternyata Shila itu istri Anda, Pak Chandra. Saya cuman niatnya mau ketemu Shila yang sudah saya anggap seperti anak sendiri. Udah lama nggak ketemu, empat atau lima tahunan kayaknya. Jadi kangen sama dia."
__ADS_1
"Kangen?" Entah mengapa, Chandra sedikit tergelitik karena kata itu.
Bahkan, orang tua Shila tidak peduli dengan mental putri tunggal mereka, apalagi orang lain. Lalu, perempuan aneh ini tiba-tiba mengatakan 'kangen'?
"Saya sering ketemu sama sama mamanya pas dia pas masih kecil. Setiap kali ketemuan, dia pasti selalu betah main sama Mishall." Perempuan tua itu menjeda sesaat, karena menunduk demi menghela napas pertanda penyesalan. "Sayangnya, setelah suami saya meninggal, rada susah ketemunya. Shila sama Mishall padahal kayak kakak-adik dulu. Sekarang ... pasti udah nggak saling kenal."
Chandra menyipitkan matanya. Mencoba dengan ekstra ketelitian untuk membaca ekspresi dan maksud dari sikap wanita yang duduk di kursi itu. Namun, tidak bisa. Benar-benar hanya penyesalan samar di wajahnya. Meski demikian, Chandra masih tidak mau menyerah dari opininya bahwa perempuan tua itu punya tujuan buruk.
"Mungkin, kapan-kapan saya bakalan ajak Mishall ketemu Shila."
Chandra langsung melebarkan matanya mendengar ucapan wanita itu. Sebelum ia sempat membalas, ibu Mishall sudah lebih dahulu memotong.
"Shila punya ingatan bagus—yang sayangnya bikin dia mudah trauma sama lukanya di masa lalu. Seharusnya, dia masih ingat Mishall." Perempuan itu tanpa merasa bersalah menatap lurus pada Chandra, dengan sedikit menelengkan kepala, dan senyum tipis yang tampak mengancam. "Pasti Shila bangga, suaminya sangat bertanggungjawab pada murid-muridnya."
Pada detik ini juga, Chandra langsung mengambil kesimpulan dari sikap wanita ini.
Ia ... ingin memancing masalah baru dengan Chandra.
...Hai, ini Es Pucil!...
...Aku boleh baca pendapatmu mengenai bab ini? ...
...Jangan lupa berikan komentar/ulasan ya❤️...
...Itu sangat mendukung aku untuk semakin semangat update bab baru. ...
...Ada kesalahan, typo, dan lainnya? Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau membantu melaporkannya. ...
...***...
...Mari kenalan :...
...Instagram : es.pucil...
...Facebook : Es Pucil III ...
...🔺🔺🔺...
__ADS_1
...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku. ...