Siswiku Canduku

Siswiku Canduku
Bab 17


__ADS_3

Ini hari minggu pertama sejak Mishall bekerja di rumah Tristan; dapat dijadikan alasan untuk menemui perempuan itu demi memastikan bahwa Mishall datang ke tempat bekerja pagi-pagi, atau malah keluyuran. Namun, ia harus lolos perizinan dari istrinya terlebih dahulu, yang entah di mana pagi ini.


Biasanya, perempuan itu akan berada di halaman untuk olahraga sebelum konflik besar kemarin terjadi. Namun, setelah penyakitnya kambuh, Shila lebih suka mengurung diri. Sayangnya, perempuan itu tidak ada di kamar, atau tempat favoritnya: perpustakaan. Pencarian Chandra baru membuahkan hasil ketika ia tiba di ruang santai. Menemukan istrinya tengah duduk di sofa, dengan seorang perempuan berusia setengah abad sedang lesehan samping meja untuk memijit kaki Shila.


"Bi Ana sudah balik lagi?" tanya Chandra basa-basi, sekadar untuk mendapatkan perhatian kedua perempuan itu.


Shila hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus pada buku di tangannya. Sementara Bi Ana memamerkan senyum untuk menyambut Chandra.


"Iya, Pak. Soalnya Bu Shila nggak terbiasa makan makanan di luar terlalu lama. Nggak terjamin higienisnya."


Chandra menyetujui ucapan Bi Ana dengan anggukan pelan. Ia mengarahkan langkahnya menghampiri Shila, lalu duduk di sofa yang sama dengan sang istri. Pandangannya mengarah pada Bi Ana, dan perempuan itu hanya butuh beberapa detik untuk memahami maksud pengusiran dari Chandra. Perempuan tua itu langsung pamit pergi, dengan alasan ingin membuatkan teh hijau untuk Shila.


"Kamu butuh sesuatu?" tanya Shila, setelah pintu ruangan terdengar tertutup usai kepergian Bi Ana. Ia melipat rapi selembar kertas dari buku yang ia baca, lalu menoleh pada Chandra.


"N—nggak."


Shila tampak sangat tahu kebiasaan Chandra, sehingga ia bisa dengan mudah menebak 'sesuatu' yang menyebabkan pria itu datang menemuinya ke sini. Ia meletakkan buku di atas meja, agar bisa mengubah posisinya menghadap langsung pada Chandra.


Merasa terdesak, Chandra tidak bisa menatap mata Shila untuk sesaat. Sehingga ia harus mengalihkan pandangan ke arah televisi yang tidak menyala terlebih dahulu, memberanikan diri sesaat, lalu menghadap Shila lagi.


"Aku dipanggil Tristan datang ke rumahnya," jawab Chandra. "Dia sama temen-temen lain pada kumpul di sana, mumpung lagi pada libur."


"Oke." Shila menjawab tenang. Ia berdiri dari sofa, sembari memperbaiki rok sepaha yang ia kenakan agar bebas dari kusut. "Ayo!"


"Apa?" Chandra balas bingung, tetapi tetap mengikuti Shila berdiri.


"Ayo pergi bareng." Shila memperjelas maksudnya. "Aku juga udah lumayan lama nggak ketemu temen-temen kamu. Masih jadi sampah dan polusi, atau udah lumayan berguna sebagai manusia?"


Gawat jika seperti ini.


Chandra kebingungan ketika berusaha mencegah Shila yang berjalan mendahuluinya keluar dari ruangan.


"Ini cuman buat cowok, Sayang." Chandra mencoba memberitahu, tetapi perempuan itu sudah keluar dari ruangan.


Chandra segera mengejar, dan berhasil menahan tangan Shila sebelum lebih jauh. Ia memutar tubuh ramping itu dengan mudah. Segera, ekspresi panik yang tanpa sengaja ia tampilkan, diubah agar tetap tenang. Ia tersenyum tipis pada Shila, dengan tangannya juga aktif mengusap wajah sang istri.


"Kamu nggak usah ikut, ya? Ini perkumpulan cowok soalnya. Temen-temen aku pada nggak bisa dikontrol, mereka sering bicara kotor, kasar, dan bakalan debat mulu sama kamu."


"Jadi, apa masalahnya? Aku bisa atasi semua hal. Bahkan teman-teman kamu itu."


"Masalahnya ...." Chandra kebingungan, sampai harus mendesis panjang sembari memeras otak untuk mencari ide.


"Aku malah semakin semangat buat ikutan, lihat sikap kamu kayak gini." Shila memisahkan diri dengan mundur dua langkah. "Aku ikut. Mau naik ke atas buat ambil tas sama ponsel dulu." Perempuan itu langsung memberikan keputusan.


Chandra sekarang tidak punya alasan lagi untuk mencegah. Bahkan, Bi Ana yang baru datang dari arah dapur tidak bisa menghentikan keinginan Shila untuk terus ke lantai atas.


Chandra memilih duduk di sofa ruang tamu, untuk membuka ponselnya. Mengirim pesan pada Tristan. Ia bisa dengan mudah memprediksi reaksi temannya itu, tetapi Tristan bukan apa-apanya dibanding Shila.


Tristan


Asu! Lo tau sendiri gue anti sama bini lo. Anjir. Jangan bawa ke sini. Jangan! Gue sama Arfan emang mau BBQ-an di halaman! Istri lo nggak diundang! Bawa ke rumah sakit jiwa, sana!


^^^Chandramawa Ahtar^^^


^^^Bodo amat! Lu semua siap-siap. Bini gue mau ke situ! Si Mishall, kalau datang kerja hari ini, sembunyiin dulu.^^^


Tristan


Shila tau masalah Mishall? Asw! Seru kalau gitu! Bawa ke sini, bawa! Gue mau kenalin sama Mishall, sebagai perempuan kedua yang pernah rasain kejantanan lo.


^^^Chandramawa Ahtar^^^


^^^Gue nggak bercanda!^^^


Tristan


Yang bercanda siapa? Bawa ke sini bini lo itu. Gue sama Arfan, sama Daniel mo bikin popcorn aja kalau gitu, biar enak nontonin drama secara langsung.


Chandra langsung menyesali tindakannya memberitahu Tristan. Sekarang, semuanya semakin rumit. Ia sempat mengusap wajahnya dengan kasar terlebih dahulu, sebelum Shila kembali muncul dengan tas kecil.


"Kenapa? Ayo berangkat." Berbanding terbalik dengan sang suami yang setengah pucat, Shila malah memamerkan senyum tipisnya. Ia memeluk sebelah lengan Chandra, agar bisa menyamai langkah mereka. "Naik motor kamu? Kayaknya, udah lama aku nggak dibonceng kamu."


"Tapi, kamu pakai rok." Chandra membantah seadanya, sementara pikirannya yang kalut, kebingungan mencari solusi atas masalah ini. Ketika ia tidak mendengar balasan dari Shila, Chandra segera menambahkan alasan lain. "Polusi udara makin buruk, Sayang. Kulit kamu nanti kenapa-napa. Naik mobil aja ya?"


Shila menghela napas kasar, tetapi ia mengiyakan saran dari Chandra. Sembari memanaskan mobil, Chandra masih terus memberikan alasan-alasan agar istrinya itu tidak ikut serta.

__ADS_1


"Di sana, semuanya cowok, Yang. Kamu yakin gabung sama kita? Pembahasannya pasti nggak ada yang sesuai sama kamu. Lebih buruk lagi, si Tristan bisa aja bahas hal-hal aneh. Kamu tahu sendiri, dia otaknya emang rada geser. Aku takut ... kamu dihasut segala macam sama dia."


"Dia nggak bakalan bisa lakuin itu," jawab Shila dengan santai. Ia melirik sekitar, entah untuk memastikan apa. "Temen kamu yang punya restoran itu, aku pikir aku bisa ngobrol nyambung sama dia." Perempuan itu mendengkus geli, sembari melanjutkan, "Kayak aneh, ya? Anak konglomerat malah kayak sampah yang nggak berpendidikan, sementara yang satu lagi berhasil dan gigih banget memulai usaha dari nol." Shila lalu menoleh pada Chandra, yang segera pria itu baca sebagai sinyal 'membandingkan'. "Aku beneran harap kamu mau bantuin aku ngurus perusahaan. Biar aku bisa lepas dari orang-orang kepercayaan Papa. Mereka benar-benar nggak bisa bikin aku gerak bebas."


"Sorry, Sayang. Aku nggak punya pengetahuan apa pun di bidang bisnis, dan kayaknya emang nggak punya keahlian di sana."


Shila tidak menjawab lebih lanjut, karena ada dering dari ponsel yang mengharuskan ia membuka tas kecilnya. Kesempatan itu digunakan Chandra untuk mengecek ponselnya, karena ia juga mendapatkan pesan dari Tristan.


Tristan


Hari ini harusnya si Mishall istirahat, tapi demi lo, gue dengan senang hati jemput tuh cewek.


Chandra memejam kuat. Ia memalingkan pandangan ke arah luar, sembari mendesis kesal.


...***...


Waktu terasa sangat cepat berlalu, dan Chandra sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Tristan. Ia sedikit ragu setelah mematikan mesin, tetapi Chandra sadar bahwa ia bahkan tidak punya pilihan lain. Pria itu menghela napas, barulah turun dari mobil demi membukakan pintu untuk sang istri.


Seperti biasa, kesan angkuh nan dingin segera menguar dari ekspresi Shila saat ia mengedarkan pandangan ke sekitaran rumah Tristan. Tangannya memeluk lengan Chandra dengan sangat anggun, tetapi sudah menguarkan kesan kepemilikan posesif.


"Ayo, Sayang." Chandra mengajak, tetapi sikapnya begitu waspada ketika mulai melangkah. Kepalanya hampir tidak bisa diam; menoleh ke kanan-kiri untuk mencari jejak siswi pembawa kerumitan hidupnya itu.


Namun, hingga mereka tiba di halaman dan menemukan hanya ada tiga sahabatnya di sana; Tristan yang sedang adu debat ringan bersama Arfan, dan Daniel sedang tidur di sofa panjang—sedikit melegakan. Meski acara ini terkesan santai, tetapi bagi Chandra, suasananya begitu mencekam. Ia tidak bisa meloloskan dirinya dari sensasi menegangkan ini sebelum memastikan bahwa Mishall tidak akan menampakkan diri di depan sang istri.


Shila tanpa peduli kecemasan suaminya, bergerak sendiri ke samping sofa, melempar tas kecilnya tanpa beban, sampai Daniel langsung bangun kebingungan.


"Siapa yang bangunin, as—"


Segera, ketika Daniel menengadah, ia langsung membungkam mulutnya sendiri. Shila yang membelakangi matahari, tampak sangat bersinar hingga menyilaukan mata Daniel. Sementara Tristan terbahak melihat si DJ tidak berkutik, dan Arfan hanya bisa mendengkus geli; lalu fokus pada dagingnya.


"Lo beneran mampir, Shil? Yaelah, nggak ngasih tahu dari kemarin. Stok daging gue nggak cukup kayaknya buat dikasih anjing."


Celetukan blak-blakan Tristan langsung mendapat sambutan pelototan dari Chandra. Terlebih dahulu, pria itu menyusul Shila duduk di sofa, untuk mengantisipasi serangan dari sang istri, yang untungnya, tidak ada benda tajam di sekitarnya. Berbanding terbalik dengan ketakutan Chandra, Shila malah mengangkat sebelah alisnya, dan tersenyum tipis seolah tertarik dengan obrolan ini.


"Siapa yang anjing, Tristan?" tanya Shila, masih dengan suara santai terkontrol, tetapi Chandra sudah berkeringat dingin di bawah sinar matahari pagi. Pria itu secara ragu memeluk pinggang Shila, agar bisa mencegah sesuatu yang buruk terjadi.


"Ya ... sadar diri aja lah. Yang sikapnya kek anjing banget sampe nyalak orang-orang yang deket sama tuannya, siapa?" Tristan mengibaskan keras kausnya, seolah merasa bangga pada diri sendiri. Meski sudah disikut oleh Arfan, si pemilik rumah tampaknya tidak peduli.


Shila mendengkus geli, sembari menunduk. Chandra mengeratkan pelukannya.


"Ide yang bagus, Arfan."


Sekali lagi, Chandra kalah cepat berbicara. Shila sudah memberikan tanggapannya, yang mungkin dianggap candaan oleh teman-temannya. Namun, Chandra tahu betul, bahwa perempuan ini tidak tahu apa itu bercanda, karena mata Shila langsung tertuju pada pisau besar persegi panjang, di atas meja.


Sinyal ketakutan Chandra terbaca oleh Arfan, yang kemudian menyikut Tristan. Si pemilik rumah masih bersikap santai, tetapi sudah berhenti melanjutkan topik daging tadi.


"Apa sih, pada berisik?" Daniel yang diusir secara paksa dari sofa, dan duduk di atas rumput, berceletuk kesal. Kantuknya masih belum hilang, tetapi ia tidak punya pilihan lain. "Pembantu lo kayaknya bawa banyak daging tadi, Tris. Yakali lo ngajakin kita ke sini tanpa stok banyak."


Tristan tersenyum senang. Lalu beralih pada Chandra dengan sorot penuh arti. "Chandra, lo keenakan banget baru dateng langsung duduk! Ambil daging di dapur sana!"


Chandra masih bingung. Harus melepaskan cengkeramannya di pinggang Shila, atau .... Namun, Tristan mengedipkan sebelah matanya, sebuah sinyal yang entah mengapa dibaca Chandra sebagai kode dari keberadaan Mishall. Sehingga hati-hati Chandra melepaskan tangannya, dan memastikan bahwa Shila masih tenang duduk di tempat ketika ia berdiri.


"Aku ke dapur dulu, ya, Sayang." Chandra pamit, berharap bahwa fokus Shila bisa beralih padanya, dan bisa melupakan topik Tristan tadi.


Beruntung, Shila tampak tenang mengiyakan kepergian Chandra. Pria itu segera berbalik, dan menuju dapur. Ia mendapati hanya ada seorang perempuan di dapur; tengah mengelap piring. Chandra mengarahkan langkahnya ke perempuan itu tanpa keraguan.


"Kamu kerja juga akhir pekan?" tanya Chandra sekadar basa-basi, sekaligus untuk menarik perhatian Mishall.


Perempuan itu mengangkat kedua bahunya tak acuh. "Ini aja masih kurang dari bayaran saya di pekerjaan sebelumnya, Pak. Kadang nyesel, berhenti kerja gitu aja."


"Tapi gaji di sini lumayan, loh ... seharusnya."


"Memang, tapi ... ya ... Bapak nggak bakalan ngertiin perasaan remaja konsumtif kayak saya." Mishall merasa sia-sia menjelaskan. "Pak Chandra cari apa ke sini?"


"Daging."


"Di kulkas."


Chandra mengangguki jawaban Mishall, tetapi ia tidak bergerak ke arah yang dimaksud perempuan itu. Malah sebaliknya, semakin memperkecil jarak di antara dirinya dan Mishall, untuk menyampirkan ikatan rambut Mishall ke bahu kiri perempuan itu.


"Pak Chandra ngapain?" tanya Mishall, waspada, ketika bulu kuduknya merinding karena sentuhan halus dari gurunya itu.


"Mau ngecek." Tanpa peduli reaksi Mishall, Chandra terus memeriksa kulit Mishall di bagian tengkuk, bahkan sedikit menarik kerah belakangnya tanpa alasan, dan berakhir meneguk ludah secara kasar. Chandra mundur selangkah, demi menghindari sesuatu yang aneh dalam dirinya. "Saya mau pastikan, Tristan nggak ngapa-ngapain kamu. Gimana pun, dia masih laki-laki bebas tanpa aturan. Bukannya susah buat dia bawa kamu ke kamarnya."


"Saya bakalan seneng kalau gitu, Pak," jawab Mishall tidak acuh, sembari memperbaiki posisi pakaiannya yang sedikit tertarik ke belakang tadi. "Bisa dapat tambahan gaji dari Pak Tristan."

__ADS_1


"Ini yang bikin saya malas, kamu kerja di sini." Chandra mendengkus geli. "Kamu beneran nggak bisa berkaca dari kasus mama kandung kamu, Mishall? Sikap murahan kamu itu, bisa aja punya dampak buruk ke masa depan kamu. Anak kamu, mungkin? Kamu bahkan nggak pake pengaman di tubuh kamu, cuman ngandelin pengamanan dari cowok. Gimana kalau cowok itu khilaf, terus ...."


"Kayak Pak Chandra dulu?" Mishall membalas dengan sengit, bersama sorot mata tajamnya yang tampak berkaca-kaca.


Dibanding balasan Mishall, Chandra lebih fokus pada wajah gadis itu. Matanya tidak bisa menyembunyikan kesedihan, dan bibir merah mudanya gemetar meski samar.


Apa Chandra sudah terlalu kelewatan menyinggung keluarga Mishall? Ia baru saja mendekat untuk meminta maaf, tetapi Mishall sudah menunduk fokus pada pekerjaannya.


"Sorry, saya nggak maksud sama sekali. Itu cuman supaya kamu berhenti bersikap murahan, Mishall. Saya mau kamu mengerti, kalau kamu seberharga itu. Sayang, kalau harga diri kamu cuman dibeli sama uang, bukan cinta dan kebahagiaan."


"Bermaksud pun nggak papa, Pak. Emang kenyataannya gitu; saya bisa tidur sama laki-laki mana pun, supaya punya uang." Mishall kembali melirik Chandra, tetapi kali ini dengan aura tajam menantang. "Kayaknya, nggak beda jauh sama Pak Chandra yang bahkan rela nikah sama perempuan gila supaya bisa rasain kekayaan istri Bapak."


Sikap simpati Chandra langsung sirna ketika ia melipat kedua tangan di depan dada. "Selain sikap murahan, sikap sok tau kamu itu juga seharusnya dikurangi, Mishall." Ia berceletuk kecil, lalu meninggalkan Mishall untuk mengambil daging dari kulkas.


Chandra kembali ke halaman. Baru saja menginjak rumput halaman, langkahnya langsung tergesa ke arah sofa yang sudah dipindahkan ke bawah pohon untuk menghindari teriknya matahari, karena di sana istrinya tidak duduk sendiri. Melainkan bersama Arfan, sementara Daniel dan Tristan sibuk mengobrol.


Setelah menempatkan daging dalam kemasan tadi di atas meja, Chandra segera mengusir Arfan secara kasar. Jika Daniel yang duduk bersama Shila, Chandra tidak akan peduli, karena si DJ itu hampir tidak pernah bisa nyambung dengan istrinya. Tristan hampir mustahil berada kurang 1 meter dari istrinya, atau perang akan terjadi.


Namun, Arfan? Hanya satu itu yang beberapa kali dapat pujian dari Shila, dan ... sisi posesif Chandra tidak suka itu.


Shila adalah cintanya, dan milik Chandra seorang. Ketika pria itu sudah duduk di sofa, Chandra mengarahkan pandangan ke jendela dapur, dan menemukan Mishall berdiri di sana dengan tangan masih memegang piring dan lap. Bukan pekerjaan perempuan itu yang menjadi fokus Chandra, melainkan smirk perempuan itu, yang seolah menantang, bercampur dengan keraguan.


Seolah Mishall meremehkan perasaan Chandra pada Shila.


Anak kecil itu hanya sok tahu, menurut Chandra. Tidak mungkin semua tuduhan yang perempuan itu katakan adalah benar.


Meski, Chandra mulai dihantui oleh ucapan Mishall, dan tanpa sengaja menumbuhkan keraguan dalam hatinya.


Dan, ia dibuat gelisah oleh hal itu. Sudah dua kali Mishall menyinggung perasaan Chandra pada Shila, dan selalu ... berhasil mengusik ketenangan Chandra. Sehingga, pria itu semakin kesulitan mengendalikan dirinya.


"Tristan, kamar tamu lo, gue pinjem ya?" ucap Chandra, dan tanpa menunggu jawaban dari si pemilik rumah, ia sudah menarik tangan Shila agar mengikutinya.


Chandra harus membuktikan ke anak kecil itu, bahwa ia benar-benar mencintai istrinya, bukan seperti yang Mishall tuduhkan.


Meski ... ketika ia menyatukan tubuh dengan istrinya ... tidak ada hal yang mendebarkan selain kendali nafsu.


Sangat berbeda ketika ia melakukannya bersama Mishall.


Namun, Chandra menepis. Harus menepisnya! Bahwa ia berdebar di mobil pada malam itu, karena ketakutan.


Bukan karena ketertarikan.


Tetapi ... pria itu meragu.



...Gimana nggak takut kesaing, Arfan aja semanis ini...



...HATERS, harap menepi. Shila mau lewat🔥...



...***...


...*Hai, ini Es Pucil!...


...Aku boleh baca pendapatmu mengenai bab ini?...


...Jangan lupa berikan komentar/ulasan ya❤️...


...Itu sangat mendukung aku untuk semakin semangat update bab baru....


...Ada kesalahan, typo, dan lainnya? Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau membantu melaporkannya....


...***...


...Mari kenalan :...


...Instagram : es.pucil...


...Facebook : Es Pucil III...


...🔺🔺🔺...

__ADS_1


...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku*....


__ADS_2