
^^^Chandramawa Ahtar^^^
^^^Sayang, aku mau ke rumah Tristan dulu, ya. Cuman sekitar setengah jam an. ^^^
Belum ada balasan dari pesan tersebut, tetapi Chandra sudah memasukkan ponsel ke sakunya. Menoleh sedikit, untuk melihat perempuan yang berdiri di sisi motor yang ia naiki sekarang ini.
"Ayo, naik! Saya antar kamu ke rumah Tristan." Chandra memakai helm-nya, sementara Mishall juga bersiap untuk naik ke motor.
Perempuan itu mengungkapkan kesiapannya dengan memegang pundak Chandra. Hampir bersamaan dengan bunyi klik dari helm. Pria itu merunduk, agar tangannya bisa mencapai kendali motor. Mesin dinyalakan. Mishall menyempatkan untuk menoleh ke belakang terlebih dahulu, sebelum motor mulai bergerak meninggalkan bawah pohon tempat keduanya bertemu sepulang sekolah ini; agar tidak menimbulkan kecurigaan, sehingga tidak boleh terlalu dekat dari jarak area sekolah.
Mishall memusatkan fokus tatap pada jemarinya di pundak Chandra. Sesekali memberikan remasan ketika ia merasa kecepatan motor ditambah. Memberanikan diri mencoba menurunkan sebelah tangannya ke punggung, lalu ke pinggang Chandra dan berpegangan pada jaket hitam pria itu. Namun, ketika ia menyadari bahwa motor melamban, dan Chandra menoleh sedikit selama beberapa detik—Mishall mengerti. Pria itu tidak menyukai tindakannya. Bahwa pria beristri ini melarangnya untuk melakukan pendekatan lebih. Bahwa yang sebenarnya, Mishall secara perlahan ingin melampaui batas status mereka saat ini.
Jadi, jemari lentiknya kembali ditempelkan pada pundak Chandra. Mishall mengembuskan napasnya, agar bersatu dengan angin kencang yang datang dari arah berlawanan. Waktu terasa lebih lama kali ini, entah untuk alasan apa. Mishall sibuk dengan pikirannya yang tengah logis saat ini, dan Chandra fokus pada jalanan.
Hingga motor berhenti di halaman rumah Tristan, Mishall langsung turun tanpa menunggu mesin motor dimatikan.
"Makasih, Pak."
Perempuan itu langsung merotasi tubuh usai mengatakan hal itu, demi membatasi segala interaksi pemicu debar khusus untuk pria itu. Namun, ia hanya dibiarkan melangkah sekali, lalu terhenti, ketika panggilan Chandra terdengar.
"Kamu kenapa nggak mampir ke rumah kamu buat ganti baju sebentar? Saya masih bisa antar ke rumah kamu, terus ke sini."
"Males, Pak."
Malas karena ia semakin sulit menekan debar sialan di dada kirinya itu. Malas, karena semakin lama mereka berada dalam jarak dekat, Mishall dihantui oleh fakta buruk mengenai status mereka, sementara rasanya semakin sulit terbendung. Namun, ia jelas tidak bisa mengutarakan malas-malasnya itu.
Mishall sekali lagi membuang napasnya secara kasar. Ia tetap diam selama beberapa saat, sampai dirinya tidak mendapat balasan dari Chandra. Ia meninggalkan pria itu dengan kepala tertunduk dalam.
Chandra tidak langsung beranjak, meski terpaan panas sinar matahari sangat menyengat siang ini. Keningnya mengerut dalam, merasakan keanehan dari suasana kali ini. Terasa sedikit ... lebih dingin.
Namun, Chandra menyadari. Bahwa perempuan berseragam SMA itu jauh lebih rumit untuk dibaca isi pikirannya dibandingkan Shila. Jadi, ia tidak mencoba terlalu banyak usaha untuk menebak. Langsung meninggalkan pekarangan rumah tersebut, untuk kembali ke rumah Shila.
Padahal ... ia ingin mengajak Mishall bolos kerja hari ini.
...***...
Suara deru motor kian melemah setelah memasuki gerbang rumah, lalu berhenti secara sempurna ketika ia tiba di halaman depan, di mana bayangan dari rumah tinggi itu berhasil memberikan ruang untuk motor berteduh dari sinar matahari.
Membuka helm, hal pertama yang dilakukan Chandra adalah menyisir rambut ke atas. Mudah dilakukan, dengan bantuan keringat yang membasahi kepalanya. Ia lalu turun dari motor, setelah menarik kunci. Pria itu berlari-lari kecil menaiki anakan tangga, tetapi kakinya mendadak terpaku di teras ketika menyadari bahwa kursi di bawah pohon bagian samping rumah tengah terisi. Bukan hanya oleh Shila sendiri, tetapi ia ditemani oleh perempuan yang sekilas tampak tidak asing. Pastinya, bukan Bi Ana, karena pembantu itu jelas tidak akan pernah diizinkan untuk duduk sejajar dengan Shila.
Rasa penasaran mendorong Chandra untuk melangkah secara hati-hati, hingga tiba di pinggir teras. Ia mendapatkan lambaian dari Shila, bersama senyum manis dari perempuan itu. Namun, Chandra tidak bisa membalasnya karena pikiran yang mendadak blank, ketika ia bisa melihat jelas wajah yang tengah bersama Shila di sana.
__ADS_1
Itu ... ibunya Mishall?
Tanpa sadar, pria itu meneguk ludah secara kasar karena menyadari fakta itu. Ia dilanda dilema selama beberapa saat; antara lari agar perempuan tua itu tidak menyadari keberadaannya sehingga tidak perlu mengungkit mengenai kedekatan Chandra dan Mishall, atau ... ia mendekat untuk memastikan bahwa perempuan itu tidak membahas sesuatu apa pun yang bisa memicu kecurigaan Shila mengenai Chandra dan siswinya.
Namun, tidak ada satu pun dari dua pilihan itu diambil Chandra. Keduanya beresiko, bahwa perempuan tua itu bisa saja akan mengatakan hal yang tidak-tidak. Jadi, Chandra memilih mengeluarkan ponselnya, mengirimkan pesan pada Shila. Menjadikan alasan bahwa Chandra ingin memakan masakan sang istri, sehingga Shila tidak perlu merasa curiga. Beruntung sedang berpihak pada Chandra ketika ia melihat Shila berjalan ke arahnya. Masih dengan senyum semringah, yang tampak bersinar ketika perempuan itu berjalan di bawah terik matahari. Meski demikian, Chandra tetap tidak mengurangi tingkat kewaspadaannya. Siapa yang bisa menebak bahwa di balik senyum itu, ada kejutan berdarah dari sang istri?
Shila mempercepat langkahnya menghampiri Chandra, bahkan langsung memeluk lengannya. Memutar tubuh Chandra agar segera membelakangi pohon tadi, lalu setengah menyeret memasuki rumah.
"Astaga, makasih, Chandra. Kamu bisa bebasin aku dari perempuan itu. Nyebelin banget, setengah jam dengerin curhatan dia yang sama sekali nggak guna buat aku," keluh Shila, ketika ia berhenti melangkah, saat Chandra tengah menutup pintu.
Mendengar itu, napas Chandra berembus lega. Ia dengan tenang bisa menyunggingkan senyum pada sang istri, sembari meraih pinggang Shila agar mereka bisa melangkah sejajar.
"Emang dia siapa?" tanya Chandra, untuk mencari tahu seberapa besar ancaman ibu Mishall pada hubungan pernikahannya.
"Dia temen Mama-Papa. Suaminya anggota dewan apa—aku lupa, soalnya nggak peduli banget. Terus, tadi dia curhat, suaminya meninggal setelah kasus korupsi." Shila memijit pelipisnya dengan jemari, menunjukkan betapa penuh isi kepalanya saat ini. "Dipikir aku tempat buang sampah pikirannya apa? Asal datang, nggak ngabarin, langsung curhat segala macam yang nggak penting, bikin aku muak!"
Chandra mendengkus geli. Ia menaikkan tangannya dari pinggang Shila, ke pundak perempuan itu agar bisa mengusapnya, dengan harapan bisa menenangkan Shila walau sejenak.
"Emang dia curhat apa? Kamu bisa buang isi curhatannya ke aku."
"Nggak perlu dibahas." Shila mengibaskan tangan di depan wajah, yang sekejap membuat Chandra sedikit lesu, karena ia tidak bisa mencari tahu sedikit alasan mengapa ibu Mishall datang ke sini. Namun, ia segera memperbaiki ekspresi saat mendapatkan wajah Shila mendongak demi melihatnya secara langsung. "Mau aku buatin makanan? Kebetulan, aku mau latih skill pegang pisau aku."
Kenapa tiba-tiba Shila bahas pisau? Ini hanya tentang makanan, yang bahkan sering tidak perlu menggunakan benda tajam. Ini memicu penasaran Chandra untuk semakin bertambah besar, dan ia pikir, ia tidak akan bisa menenangkan diri sebelum mengetahui niat ibu Mishall datang ke sini.
...***...
Tubuh Chandra masih menitikkan air bekas membersihkan tubuh, ketika ia keluar dari kamar mandi. Tubuhnya masih dililit salah satu handuk, sementara handuk lain digunakan untuk mengeringkan rambut. Ia segera menyambar ponselnya dari celana seragam, lalu mengirimkan pesan pada Mishall.
^^^Chandramawa Ahtar^^^
^^^Mama kamu ke rumah Shila. Ngapain?^^^
Pria itu hampir tidak bisa melepaskan ponsel selama menunggu balasan. Panik, dan tidak sabaran. Ia tidak bisa membuang waktu terlalu banyak; yang menjadi penyebab waktunya di kamar mandi menjadi sangat singkat, akibat ketakutan bahwa Shila akan menyelesaikan kegiatan memasaknya lebih cepat, sebelum Chandra sempat mendapatkan balasan dari Mishall.
Lalu, sebuah denting ponsel tanda pesan masuk membuat pria itu mengembuskan napas lega. Chandra segera memeriksa pesan tersebut.
Mishall Afifah
Mana saya tau. Saya lagi kerja.
Pria itu menyisir rambut secara kasar menggunakan jemarinya, hingga cipratan air beterbangan sembarang tempat. Ia meletakkan handuknya di pundak, agar bisa mengetik dengan dua tangan.
__ADS_1
^^^Chandramawa Ahtar^^^
^^^Saya nggak main-main sekarang, Mishall. Mama kamu ketemu istri saya, buat apa? Saya nggak mau tau, kamu harus nyari tau alasan Mama kamu ke sini tadi. ^^^
Bunyi 'tuk' dari jarinya dan layar ponsel terdengar jelas saat Chandra menekan tombol kirim. Ia memejamkan mata dengan erat, lalu segera memperbaiki sikap ketika mendapati suara langkah mendekati pintu. Chandra memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku seragam. Ia menormalkan postur dengan menghadap ke cermin, sembari mengusap wajah.
"Ada ruangan ganti, buat ngeringin badan. Kenapa harus di kamar, Chandra?" Pertanyaan dingin itu membuat Chandra menoleh sejenak, mendapati Shila memasang ekspresi jenuh di ambang pintu dengan tangannya masih memegang gagangnya.
"S—sorry, Sayang. Soalnya tadi aku kirain kamu udah masuk kamar, jadi aku buru-buru keluarnya." Kebohongan entah yang ke berapa kali, diutarakan Chandra dengan lancarnya. Ia tersenyum tipis, sebelum berpindah ke ruang ganti.
Kemarahan Shila tadi, tidak seberapa jika dibandingkan dengan amukannya saat mengetahui kedekatan Chandra dan Mishall. Walau pria itu kukuh pendirian, hanya sebatas murid dan guru, tetap saja ... ia tidak bisa tenang. Apalagi dengan fakta bahwa pengirim video belum diketahui.
Memusatkan fokus pada cermin full body di hadapan, Chandra juga seolah memusatkan pikirannya pada tiga tujuan utama sekarang; mencari tahu pelaku pengirim video, mencegah ibu Mishall melapor hal yang aneh-aneh, dan memastikan bahwa Mishall benar-benar sudah berubah.
Jika ketiganya terwujud ... ia berjanji, akan melepaskan hubungan guru-murid ini.
Lalu kembali fokus pada Shila ... seperti sebelum malam sialan itu terjadi.
...Hai, ini Es Pucil!...
...Aku boleh baca pendapatmu mengenai bab ini? ...
...Jangan lupa berikan komentar/ulasan ya❤️...
...Itu sangat mendukung aku untuk semakin semangat update bab baru. ...
...Ada kesalahan, typo, dan lainnya? Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau membantu melaporkannya. ...
...***...
...Mari kenalan :...
...Instagram : es.pucil...
...Facebook : Es Pucil III ...
...🔺🔺🔺...
...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku. ...
__ADS_1