Siswiku Canduku

Siswiku Canduku
Bab 25


__ADS_3

Suara derit pintu membuat Chandra yang baru saja terpejam segera membuka mata karena panik. Ia mencoba memberontak—sekali lagi, tetapi seperti sebelumnya, usaha pria itu berakhir sia-sia.


"Pak Chandra?"


Dipanggil dengan suara yang dikenali, Chandra segera berhenti berontak. Ia menengadah, mendapati Widya yang datang. Wanita itu melangkah hati-hati, mendekat ke arah Chandra. Ringisannya keluar saat melihat bagaimana buruknya keadaan laki-laki di hadapannya saat ini. Kening yang terluka dengan darah kering yang hampir menutupi separuh wajah, serta lengan bertancapkan pulpen.


"Bu Shila sudah saya kasih obat tidur tadi," kata Widya memberitahu. Ia terlebih dahulu ke belakang tubuh Chandra untuk melepaskan ikatan yang terdiri beberapa lapis itu. "Lebih dari sikap Bu Shila yang mengancam, jujur saja, saya malah lebih jengkel ke Anda, Pak Chandra! Anda tahu betul Bu Shila bagaimana, kenapa malah coba main-main sama perasaannya? Ini bukan cuman tentang ancaman kejahatan yang akan Bu Shila lakukan nanti, tapi ... ini tentang gimana kondisinya nanti. Cuman Anda orang terakhir yang dia punya, Pak Chandra. Beneran cuman satu-satunya. Saya, cuman dokternya. Orang kepercayaan papanya tidak bisa membantu sama sekali. Saya beneran ... kasihan sama Bu Shila."


"Itu nggak sengaja, Dok." Chandra memberikan pembelaan setelah kedua tangannya berhasil terlepas. "Saya ... beneran nggak sengaja malam itu. Kemarin-kemarin saya coba untuk memperbaiki semuanya sebelum Shila tahu, tapi ... terlambat. Saya belum menemukan orang yang mengirimkan video ke Shila. Saya cuman mau memperbaiki kesalahan saya, tapi ... semuanya berakhir rumit sekarang."


"Peluangnya kecil." Widya berlutut di depan Chandra untuk melepaskan ikatan di sana. Pria itu turut membantu. "Tapi saya benar-benar berharap, Bu Shila masih bisa disembuhkan kali ini, dan saya sangat berharap, Anda yang membantunya sembuh lagi kali ini."


"Berapa persen peluangnya?"


Widya menghentikan pergerakan sebentar, demi menatap pria itu. Keseriusan Chandra menggugah Widya, sehingga ia tersenyum sebelum memberikan harapan.


"Di bawah lima persen, tapi ... Anda bisa mencobanya. Mau saya bantu untuk kembali dekat dengan Bu Shila?"


Chandra mengangguk tegas.


"Untuk yang pertama ... Anda cari tempat bersembunyi terlebih dahulu," lanjut Widya. Wanita itu lanjut bantu melepaskan ikatan, saat Chandra sibuk memikirkan tempat yang dimaksud.


Kekayaan Shila bisa membuat Chandra hampir sulit untuk bersembunyi di mana pun, tetapi ... setidaknya ada yang bisa ia mintai tolong sekarang ini. Satu-satunya ... yang paling dibenci Shila.


Tristan.


...***...


Tidak terlalu sulit bagi Chandra untuk menemukan Mishall. Gadis itu tentu saja bersembunyi di rumah majikannya, dan beruntung, Shila belum bertindak apa pun. Jadi, dini hari, Chandra mengganggu kediaman Tristan hanya untuk menjemput siswinya itu.


"Gue bisa pinjem apartemen lo, Tristan?" tanya Chandra.


"Pake aja." Tristan menjawab tanpa bisa mengalihkan tatap bergidiknya dari Chandra, karena sang sahabat belum membersihkan jejak darah di wajah. "Gila bini lo. Gila banget. Lo kenapa mesti pilih cewek gila jadi istri sih?"


"Nggak ada waktu buat bahas itu." Chandra mengibaskan tangannya ingin membuang topik yang Tristan ucapkan. "Gue harus pergi sekarang. Thanks bantuannya!"


"Bentar!" Tristan mencegah sebentar, sebelum Chandra menyeret Mishall. Ia menuju lantai dua rumahnya lebih dulu, kemudian menyerahkan kunci pada Chandra. "Nih, bawa mobil gue. Lo nggak bawa motor, 'kan?"


"Sekali lagi, makasih, Tris."


Tristan mengangkat kedua bahunya tidak acuh. "Nggak usah makasih. Asal lo jaga mobil gue baik-baik. Jangan ... pake ML lagi!"


Mendengar sindiran dari Tristan, Chandra dan Mishall masing-masing memberikan respons berbeda. Jika perempuan berseragam sekolah itu menunduk malu sembari menggigit bibir, Chandra berdecak kesal.


"Iya, iya." Chandra menjawab malas. Ia menggenggam tangan Mishall, lalu membawanya ke garasi tempat di mana mobil Tristan berada.


Awalnya hening. Tidak ada obrolan di antara mereka di menit-menit awal perjalanan.


"Pak Chandra ... kenapa nggak obatin lukanya dulu?" Pertanyaan Mishall terdengar, begitu lirih.


"Nggak sempet." Chandra menjawab tidak acuh. Fokusnya tertuju pada jalanan, sehingga ia bisa menambahkan kecepatan mobil. "Saya bebas juga mepet waktu, cuman karena Shila dikasih obat penenang sama dokternya. Kalau nggak ... nggak tau lagi."


"Terus ... selanjutnya gimana, Pak?"


"Ya ... gimana lagi? Kamu kayaknya harus libur dulu, atau ... pindah sekolah, Mishall. Sekolah lama nggak bisa lindungi kamu. Beberapa guru di sekolah itu suruhannya Shila."


"Nggak ada ... jalan lain selain kabur, Pak?"


"Mati? Bisa." Chandra memberikan pilihan yang lebih menakutkan untuk Mishall. "Istri saya baru akan berhenti mengejar kita, kalau kita mati."


"Kok ...." Mishall kehabisan kata-kata. Pelukannya pada tas yang ada di pangkuan semakin diperkuat. "Kenapa Pak Chandra milih nikah sama istri yang kayak gitu, sih? Kenapa dia nggak dibawa masuk ke rumah sakit jiwa aja? Kenapa ... kenapa ... saya juga harus berurusan sama orang gila kayak dia!"


Chandra mendengkus. Melirik malas pada Mishall melalui spion tengah. "Bukannya itu resiko pekerjaan kamu, Mishall? Kamu sendiri yang paksa-paksa saya kemarin, padahal saya usaha buat pergi dari tempat itu," balas Chandra sinis, "Pake uang hasil jual diri kamu itu untuk lindungi nyawa kamu."


"Pak Chandra ... kenapa jahat, sih? Saya ... beneran takut sekarang! Saya ...." Mishall tidak bisa melanjutkan ucapannya, hanya bisa menggantung suara di udara.


"Bukannya kemarin kamu nggak takut mati, ya, pas saya ajak cek kunjungi teman saya yang sakit?"


"I—itu beda ...." Mishall mengembuskan napas gusar. "Kalau kondisi Pak Chandra aja kayak gini, yang notabenenya dicintai sama istri Pak Chandra—apalagi nanti nasib saya kalau ketemu istri Bapak! Pasti lebih parah lagi."


"Nah, itu kamu tahu!" Chandra tersenyum tipis, meski matanya begitu sayu saat melihat siswinya sekejap. "Kalau kamu tetap lanjut kerjaan buruk kamu ini, Mishall, percaya sama saya ... akan ada Shila-Shila yang lain, lahir dari kekecewaan. Mereka akan mengejar perusak rumah tangga mereka—yaitu perempuan sejenis kamu ini."

__ADS_1


"Terus ... buat lepas? Masa' nggak ada jalan lain, Pak? Ceraikan istri Pak Chandra misalnya ... terus laporin dia ke polisi biar masuk rumah sakit jiwa. Dengan begitu, Pak Chandra bakalan bisa lanjutin hidup dengan ten—ang." Mishall tersendat saat mobil berbelok di tikungan tajam, membuat tubuh yang tidak ia amankan dengan sabuk pengaman itu miring ke arah Chandra.


"Nggak ada ketenangan ... dari pelarian, Mishall. Saya yang salah di sini," ucap Chandra lirih. Matanya bergerak-gerak tampak kebingungan. Lalu, secara rakus ia meraup banyak udara masuk ke saluran pernapasannya guna mengurangi sesak dalam dada. "Saya harus bertanggungjawab."


Mishall mengepalkan tangan di atas pangkuan, ketika sebuah perasaan tidak rela muncul dalam dirinya. Ia melirik Chandra diam-diam, dalam waktu yang terbilang lama.


...***...


Pakaian pria tidak perlu dipermasalahkan di apartemen Tristan. Masalahnya ada pada Mishall yang bahkan tidak memiliki pakaian ganti. Sementara perempuan itu baru saja membersihkan tubuhnya.


"Pakaian laki-laki juga nggak papa, Pak," kata Mishall pada Chandra yang sedari tadi berdiri di depan lemari memilah pakaian.


"Masalahnya di sini ...." Chandra menggantung ucapannya sebentar, memancing rasa penasaran dari perempuan belasan tahun itu. Namun, Chandra tidak melanjutkan ucapannya sama sekali. Ia menarik tiga lembar kaus putih, serta kemeja lengan panjang, juga celana training panjang dari sana. Lima benda itu dilemparkan ke belakang, pada Mishall, lalu Chandra membanting tubuhnya ke atas tempat tidur. Lukanya sudah diobati saat baru saja tiba di apartemen, disusul mandi, lalu perempuan itu yang membersihkan tubuh.


"Bajunya banyak banget, Pak."


"Pake semuanya." Chandra memberi titah sembari memperbaiki posisinya menghadap jendela—membelakangi Mishall. "Malam ini dingin. Kamu tetap tidur di sofa kayak kemarin."


Terdengar, Mishall memberikan protes lirih. Membandingkan dirinya yang seorang perempuan kecil nan lemah ini, harus tidur di sofa sempit, sementara Chandra yang seorang pria dewasa tidak mau mengalah untuk berbagi tempat tidur. Mishall semakin menambahkan gerutuan ketika merasa bahwa Chandra suah terlelap.


"Cih, lemah godaan ternyata, makanya nggak mau tidur seranjang," ucap Mishall. Ia membawa handuk ke kamar mandi, kemudian mengembalikan beberapa pakaian ke lemari. Kaus ini sudah cukup untuk dirinya. Apalagi sisa beberapa jam lagi malam akan berakhir. Ia berniat untuk tidak kehilangan kesadaran sampai pagi.


Begitu cepat, suara dengkuran Chandra terdengar pelan. Mishall menoleh, untuk sesaat memandangi punggung dalam balutan kemeja hitam itu. Diam-diam bangun dari posisinya berbaring. Menapakkan kaki telanjangnya di lantai dingin, lalu mulai melangkah, mendekat ke tempat tidur. Hati-hati membaringkan tubuh di sana, dengan posisi menyamping menghadap punggung gurunya. Selama beberapa detik, ia hanya terpaku pada kemeja hitam yang memeluk tubuh Chandra, sampai tidak menyadari bahwa kedua sudut bibirnya mulai tertarik membentuk senyum tipis. Kelopak matanya terasa berat untuk tertahan, Mishall berakhir membatalkan niat untuk tetap terjaga sampai pagi.


...***...


Terbangun, dan mendapati keberadaan perempuan sumber masalah tepat ada di belakangnya, Chandra seharusnya marah. Ia punya hak untuk menendang perempuan ini—mengabaikan gendernya, karena perempuan sialan ini sudah membuatnya berada dalam situasi rumit.


Namun, tidak. Pria itu tetap membiarkan pikirannya tetap dipenuhi oleh umpatan kesal, tetapi ... ia sama sekali tidak melakukan apa pun setelah mengubah posisinya menjadi telentang. Wajahnya menoleh sempurna pada Mishall, meski ia tidak bisa mengubah posisi menghadap siswinya akibat sakit di lengan dan keningnya.


Pria itu diam. Membiarkan ruang dan waktu hanya diisi oleh suara-suara dari napas mereka yang bersahutan, atau detak jantungnya yang berdebar lebih keras dari biasanya. Secara perlahan, suara riuh penuh kejengkelan di dalam kepala Chandra berubah, ketika memorinya mulai memutar peristiwa dari awal masalah ini. Sialnya, bukan untuk memberikan penyesalan pada Chandra, tetapi malah membuat perasaan pria itu memanas tanpa diminta.


"P—pelan-pelan ... saya masih belum bisa beradaptasi ...."


Saat suara lembut Mishall kembali terngiang, Chandra secara otomatis menutup mata. Membiarkan bayangan itu semakin leluasa berputar dalam pikirannya.


"Sentuh ... sentuh di mana pun yang kamu mau ...."


Seharusnya, ia menuju kamar mandi sekarang—begitulah pikiran bersihnya memberi saran. Namun, tubuh Chandra terasa berat meninggalkan tempat tidur. Ada ketidakrelaan dalam diri, untuk pergi dari tempatnya berbaring saat ini. Mungkin malasnya, mungkin rasa lelah—yang menahan pria itu. Chandra menolak tebakan dari pikirannya sendiri, bahwa perempuan di sampingnya yang menjadi alasan ia tidak mau beranjak.


Lalu, saat menyadari sesuatu, Chandra merasa geli sendiri. Ia tidak lagi sejalan dengan pikirannya sendiri, atau ... sisi lain dari dirinya mencoba melawan apa yang otaknya sendiri pikirkan. Aneh, tetapi ... Chandra berada dalam kondisi seperti itu: pertentangan batin dan pikiran.


Menoleh ke samping, Chandra tersentak kaget melihat mata Mishall sudah terbuka sepenuhnya. Ia hampir bergeser ke samping, tetapi urung. Pria itu menghela napas kasar terlebih dahulu, lalu melirik Mishall malas. Tubuh beratnya dipaksa untuk duduk, lalu berdiri meninggalkan tempat tidur.


"Sudah saya bilang kamu pakai baju-baju yang saya kasih semalam, Mishall. Kenapa cuman pakai satu?" tanya Chandra, protes. "Mana pilihnya kaus putih tipis." Ia tampak sibuk berjalan ke sana-kemari tanpa melirik perempuan yang berbaring telentang di atas ranjang, mengamatinya dengan seksama.


"Ribet, Pak. Sesak juga kalau banyak pakaian, Pak. Kalau tidur, enaknya itu pake pakaian longgar, bahkan nggak perlu pake apa-apa lebih bagus." Mishall menipiskan bibir membentuk senyum usai mengungkapkan gagasannya.


"Kalau gitu, minimal pakai ulang ... pakaian dalam kamu. Itu mengganggu pandangan saya."


"Yang suruh Pak Chandra liatin 'itu' siapa?" Mishall balas sengit. Ia menunduk sebentar melihat apa yang pria itu maksud. Tubuh Mishall memang semurahan itu, sampai ia langsung menegak sempurna entah karena hawa dingin dari AC, atau karena sindiran gurunya.


Chandra berbalik, melirik sinis pada Mishall selama beberapa detik, yang dibalas dengan senyum tipis oleh perempuan itu.


Percuma saja, menurut Chandra. Mishall mengerti tujuan Chandra semalam, tetapi ... perempuan itu tidak mau peduli. Jadilah, pria itu memilih mengalah, dan masuk ke kamar mandi.


...***...


Chandra membawa masuk makanan yang baru saja diantar oleh kurir. Ia meletakkannya di atas meja, segera didatangi dengan antusias oleh Mishall. Perempuan itu mengambil lebih dahulu salah satu kantong plastik, tanpa memedulikan tatap dari Chandra.


"Kamu kayak santai aja nggak masuk sekolah, Mishall." Chandra ikut duduk di sofa samping Mishall, mengambil bagiannya sendiri untuk sarapan di pukul 12 siang ini.


"Kan saya emang dari dulu nggak ada niatan buat lanjut sekolah, Pak." Sembari menyendokkan makanan ke mulut, Mishall menjawab pertanyaan tadi. "Yang saya takutin cuman ... masalah istri Pak Chandra itu."


Chandra mengunyah makanannya tanpa minat. Pandangan kosong diarahkan ke depan, membuat Mishall menoleh penasaran, bercampur iba.


"Pak Chandra ... beneran sedih, ya, berhenti kerja?"


"Jelas, Mishall." Tanpa menoleh atau mengubah posisi, Chandra menjawab si lawan bicara. "Nggak ada yang bisa dilakuin di sini, saya harus cari pekerjaan lain ... kita mesti hemat-hemat selama selama saya masih cari kerjaan."


"Kalau masalah keuangan, saya bisa bantu, Pak. Saya belum dipecat Pak Tristan, terus gaji saya kemarin malam belum dibayar Pak Arfan. Nanti saya minta, deh."

__ADS_1


"Bukannya buat bayar utang ibu kamu?" Seketika, Chandra menoleh menatap sinis pada Mishall.


"Nggak jadi, Pak. Mama saya aja nggak peduli lagi sama saya sekarang. Jadi, uangnya saya nikmati aja sendiri," jawab Mishall. Gilirannya yang memandang kosong ke depan, menerawang hidupnya sendiri. Senyum kecewa terbit, membuat pria di sampingnya mengangguk-angguk seolah mencoba memahami posisi siswinya.


"Omong-omong, Arfan beneran gampang terima kamu malam itu?"


"Iya, Pak."


"Kok bisa? Padahal sebelumnya, saya sampai ngemis-ngemis sama dia sekalipun, dia nggak mau terima kamu kerja di sana." Chandra mendecih pelan, menarik perhatian Mishall. "Saya curiga, dia yang kirim video itu ke Shila, karena dia yang paling mau ambil istri saya. Saya harus buktikan ini ...."


"Buat apa buktiin, Pak? Semuanya juga udah telat. Istri Pak Chandra tetap aja udah tahu kalau Pak Chandra udah tidur sama perempuan lain."


"Seenggaknya, saya bisa cegah Shila untuk dekat sama Arfan, karena Arfan pasti cuman incar hartanya Shila."


"Pak Chandra fokus ke persembunyian aja." Mishall memberi saran. Ia menunduk, fokus menghabiskan makanan. "Nggak usah pikirin keselamatan istri Pak Chandra. Dia juga nantinya yang bakalan bunuh Pak Chandra."


"Saya masih mau usaha buat dapat kepercayaan Shila lagi," ucap Chandra penuh optimis, mendapat sambutan tatap malas dari lawan bicaranya. "Kata dokternya, masih ada sedikit peluang .... Sekecil apa pun itu, saya mau coba."


"Secinta itu sama istri Bapak yang gila itu?"


"Ya." Chandra balas menatap Mishall dengan penuh keyakinan. "Saya secinta itu ke istri saya."


Mendadak saja, Mishall kehilangan nafsu makannya—berbanding terbalik dengan Chandra yang kini bersemangat menghabiskan makanan. Gadis itu diam-diam meremas kuat sisi pakaiannya, dengan kepala menunduk. Beberapa saat kemudian, senyumnya tiba-tiba terbit, saat sebuah ide muncul dalam benaknya.


Untuk menguji ucapan gurunya ini.


...***...


Kurir datang lagi sore harinya, kali ini mengantar lebih banyak barang. Di dua kantongan besar, berisi sayuran, daging, dan bahan makanan pokok lainnya, sementara sebuah kantong plastik putih kecil, Chandra tidak mengecek isinya. Langsung memberikan uang pada si pengantar barang, kemudian menutup pintu.


Pria itu menghampiri tempat tidur lebih dulu, melemparkan kantongan putih tadi ke arah Mishall yang menghadap jendela. Perempuan itu melirik penasaran kantongan dan si pemberi tadi, tetapi Chandra tidak lagi melihat padanya.


"Apa, Pak?"


Chandra tidak menjawab, meneruskan perjalanannya menuju dapur untuk mengatur semua bahan makanan. Mishall tampak jengkel pertanyaannya diabaikan begitu saja, jadi ia menarik kresek tadi secara kasar. Segera setelah membuka isi kantongan dan menarik beberapa lembar kain dari sana, senyum geli Mishall tercipta. Ia turun dari tempat tidur, tidak lupa menarik gorden agar jendela lebar tertutup sempurna. Kakinya berjinjit saat berjalan menuju lemari, memasukkan kantongan ini ke bagian paling bawah. Selanjutnya, ia tinggal masuk ke kamar mandi. Membersihkan tubuh, lalu dengan sengaja langsung mengenakan pakaian tanpa mengeringkan tubuh terlebih dahulu. Membuat kaus putih yang ia kenakan melekat di tubuh.


Hal itu sontak mendapat tatap tidak suka dari Chandra. Pria itu berdiri berkacak pinggang, menatap Mishall malas.


"Kamu ini ... beneran suka bikin saya migrain, Mishall!"


"Halah ... katanya nggak tertarik sama anak di bawah umur," cibir Mishall. "Katanya cinta banget sama istrinya."


"Kamu ...!" Chandra tidak tahu harus mengatakan apa lagi, sehingga ia hanya bisa memejamkan mata sembari memijit pangkal hidung agar mengembalikan fokus, supaya tidak melihat ke arah dada perempuan di depannya itu. "Cinta sama nafsu itu beda, Mishall. Cinta bisa mengandung nafsu, tapi nafsu belum tentu karena cinta. Kamu ... nggak ada malunya sama sekali, jadi pelampiasan nafsu laki-laki?"


Mishall menggeleng polos, dengan kedua bibir membentuk senyum datar. Ia melewati tubuh Chandra penuh percaya diri. Lalu, setelah dua langkah di belakang gurunya, Mishall berhenti sebentar, menoleh sedikit pada sang guru.


"Pak Chandra mau? Khusus buat Pak Chandra ... saya kasih gratis."


Pria itu bergeming, sementara tangannya yang berada di samping tubuh mulai mengepal kuat.


"Tubuh saya ... masih kepasang pengaman, Pak." Tawaran terakhir, Mishall sampaikan sebelum gadis itu benar-benar berlalu dari tempatnya berdiri sekarang. "Mau nggak, Pak?"


"Kamu itu ...." Chandra berbalik, menggantung sebentar ucapannya saat dua langkah panjang membuatnya kini berada di hadapan Mishall dalam jarak kurang setengah meter. "Murahan." Pria itu mendesis dengan gigi-gigi saling menekan.


Perempuan itu tetap tersenyum miring, tetapi dalam sekejap, matanya mulai memerah dengan tangan mengepal kuat. Saat Chandra maju lagi untuk merapatkan tubuh keduanya, Mishall mendengkus geli, merasa menang saat ia bisa memeluk leher Chandra ketika pria merunduk untuk mempertemukan bibir mereka.



...Dari angka 1 - 10, berapa nilai yang bakalan kamu kasih untuk bab ini? Beritahu aku di kolom komentar📌...


...Oh ya, akan ada banyak lagi cerita seru di akun @Es Pucil , follow supaya nggak ketinggalan info! Plus, jadwal update cerita bisa kamu cek di deskripsi akun!...


...***...


...Mari kenalan :...


...Instagram : es.pucil...


...Facebook : Es Pucil III ...


...🔺🔺🔺...

__ADS_1


...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku. ...


__ADS_2