
Mengacak rambut secara asal—hanya itu yang bisa dilakukan Chandra setelah melepas helmnya, ketika turun dari motor. Ia kelewatan terlalu jauh. Dua puluh lima menit waktu yang diberikan, ia malah hampir dua jam bersama Mishall. Bahkan untuk memikirkan alasan bohong pun, otaknya tidak lagi mampu.
Chandra hanya pasrah mengikuti setiap langkah yang ia ambil secara cemas. Kemudian berdiri di depan ambang pintu selama beberapa saat. Perlu penguatan di kepalan tangannya, sebelum akhirnya mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban.
Tangannya tidak lagi mengetuk. Ia menyentuh kenop, kemudian memutarnya. Mendapati ruangan sudah temaram karena kurangnya pencahayaan. Hanya cahaya lampu dari lantai dua yang membuatnya bisa melihat keadaan di lantai dasar ini. Chandra hati-hati mengunci pintu, kemudian masuk dengan perlahan. Selalu sedia, jika sampai ada benda padat terbang yang mengincar kepalanya.
Namun, sepertinya aman. Ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Shila sedikit pun, menguatkan opininya bahwa perempuan itu sedang ada di kamarnya. Chandra memilih duduk di sofa, dengan lehernya bertumpu pada sandaran sofa sehingga ia bisa menengadah ke langit-langit ruangan. Tarikan napasnya yang panjang menjadi satu-satunya sumber suara dalam ruangan ini. Memberikan efek menenangkan, tetapi tetap, tidak mengurangi aura mengancam dari Shila di rumah ini.
Sekali lagi. Frustrasi membuat Chandra menyugar rambut secara kasar. Merasa belum cukup, ia mengusap wajah sama kasarnya, guna menyadarkan diri sendiri.
Apa yang sebenarnya ia lakukan tadi? Kenapa bisa ... dia lupa segala hal karena siswinya itu? Kenapa bisa?
Chandra ... tidak melenceng dari tujuan awal, 'kan?
Tidak mungkin. Bahkan jika seandainya ia jatuh pada siswinya ... tidak mungkin secepat itu. Ini masih hitungan hari sejak mereka saling mengenal.
Ketenangan membawa Chandra dalam kegelapan sempurna ketika ia memejam. Ia bersiap untuk menyambut mimpi, tetapi kesadarannya dientak dengan kasar oleh suara keras yang berasal dari dekatnya.
Meja kaca di depan sudah pecah. Meningkatkan kadar waspada Chandra, sampai harus menoleh ke sekitar. Mencari-cari jejak keberadaan perempuan itu, dan ketemu!
Perempuan dalam balutan dress semata kaki dengan tali pundak spaghetti itu tengah berdiri di pertengahan tangga. Menatap lurus ke arah Chandra, tanpa pergerakan sama sekali, dan kediaman perempuan itu selalu lebih berbahaya dibandingkan amukannya.
"Sayang, aku tadi ... konsultasi dulu sama Widya, makanya agak telat pulangnya." Chandra meneguk ludah usai jawaban bohong ia utarakan. "Aku tanya-tanya kondisi kamu, mau pastikan kamu sudah baik-baik aja."
Perempuan itu masih bergeming.
Chandra memberanikan diri melangkah mendekat. Mengabaikan sakit di pahanya akibat menabrak sudut sofa dengan kasar. Fokusnya hanya tertuju pada Shila di pertengahan tangga sana.
"Sayang ...." Chandra melunakkan suara, karena melihat Shila tetap diam, tetapi terus mengikuti pergerakannya. "Maafin aku, ya?"
Shila seperti orang kerasukan, yang hanya diam sembari menyimak. Matanya nyaris—atau bahkan mungkin memang tidak pernah berkedip sekali pun. Berdiri tegak, dalam balutan gaun berwarna biru malam polos. Seharusnya ia tampak seperti dewi karena sorotan lampu dari belakang punggungnya, tetapi karena Chandra tahu ini Shila—perempuan itu lebih cocok sebagai pencabut nyawa yang menanti mangsanya mendekat.
Berdiri dengan dua selisih anak tangga, Chandra kini sama tingginya dengan Shila. Ia meraih sebelah tangan Shila untuk digenggam lembut. Menatap intens pada Shila, dan membiarkan waktu beberapa saat berlalu dalam keheningan. Karena tidak adanya respons penolakan, Chandra anggap bahwa Shila bersedia mendengarkan semua alasan bohongnya.
"Widya tadi jelasin beberapa hal mengenai kondisi kamu yang menurun, balik lagi kayak dulu. Tapi, nggak masalah, Sayang. Aku bisa bantu kamu supaya kembali tenang seperti pas awal-awal pernikahan kita."
Chandra menaiki satu anakan tangga, berhenti. Ia mengangkat tangannya yang bebas untuk menyentuh lembut pinggiran wajah Shila. Merapikan setiap anakan rambut yang lepas dari ikatan tinggi perempuan ini. Setelahnya, meletakkan secara pas telapak tangannya di pipi Shila, sebelum menaiki satu anak tangga lagi.
"Maaf, ya?" bisik Chandra, sembari memperkecil jarak wajah mereka, sampai kening mereka bertemu.
__ADS_1
Chandra melakukan pendekatan secara hati-hati, untuk menunggu respons Shila, tetapi perempuan ini sungguh hanya diam. Hanya pergerakan mata perempuan itu yang terus mengikuti Chandra, menjadi penanda bahwa Shila masih menyimak semua penjelasannya.
Tangan Chandra menyelusuri dari pipi Shila, ke samping kepala perempuan itu, berakhir di tengkuk, untuk memberikan penahanan. Agar perempuan itu tidak mengelak, atau melirik ke kanan-kiri, dan cukup melihat keseriusan Chandra yang siap untuk menghipnotisnya. Menggunakan kesempatan diamnya Shila, Chandra semakin berani memajukan dagunya, agar bisa mempertemukan bibir mereka. Namun, ia bahkan belum merasai apa-apa dari bibir peach Shila, ketika tusukan sakit menghentak pernapasannya. Ia turun selangkah. Demi bisa melihat benda asing bersarang di perutnya, dengan tangan Shila yang menggenggam gagangnya.
Mundur lagi selangkah, tangan Shila terlepas dengan mudah dari gagang plastik benda tajam tersebut. Sehingga Chandra bisa melihat jelas, bahwa sebuah pisau kini tertanam dalam di perutnya.
Napasnya terbata, karena terlalu takut menggerakkan otot perut. Ia butuh bantuan dengan membuka mulut agar bisa bernapas tenang. Kerutan di keningnya terbentuk dalam, ketika ia mendongak pada Shila yang masih bergeming. Perempuan itu masih sama tak tersentuhnya seperti tadi, seolah tidak ada apa pun yang terjadi sekarang ini.
Chandra sendiri tidak bisa mengharapkan apa-apa dari perempuan Shila. Ia juga tidak seberani itu untuk menarik benda asing ini, karena bisa saja menimbulkan robekan yang lebih parah. Maka, ia hanya bisa mengandalkan sisa-sisa tenaganya yang terkuras secara drastis untuk perlahan menuruni anakan tangga.
Berteriak juga tidak bisa menjadi pilihannya karena bisa membuat otot perutnya menegang. Alasan lain kenapa ia tidak berteriak ... karena hanya akan memicu manusia-manusia penasaran untuk memojokkan Shila atas kasus ini. Walaupun perempuan itu sengaja. Walaupun memang Shila menginginkan kematian untuk Chandra. Pria itu masih sempat mempertimbangkan dampak buruk bagi mental Shila jika orang-orang mengetahui masalah ini.
Ia tidak mau perempuan itu kenapa-napa.
Tiba di lantai dasar sepenuhnya, Chandra memutar tubuh secara perlahan. Melangkah cepat, tetapi penuh kehati-hatian. Skleranya sudah memerah, ketika ia melipat bibirnya ke dalam untuk digigit kuat. Sesekali memejam, untuk menahan setiap sakit yang nyaris tidak tertahankan. Lalu ketika ia butuh bernapas, Chandra akan membuka mulutnya lebar-lebar, demi mendapatkan asupan oksigen tanpa harus menggerakkan otot perutnya—meski mustahil.
Langkahnya terhenti, ketika pertama kalinya setelah ia datang, perempuan itu akhirnya mengeluarkan suara. Namun, bukan berbicara dengan Chandra.
"Halo, Anwar. Kamu bisa siapkan mobil? Sekarang."
Chandra mengembuskan napas kasar, mengabaikan bahwa nyeri di perutnya bertambah. Ia tersenyum diam-diam, dan hanya perlu berdiri terpaku, menunggu suara derap langkah di belakangnya mendekat. Hingga Shila berjalan mendahuluinya. Tanpa berniat memberikan bantuan apa-apa selain membukakan pintu.
...***...
Chandra bahkan belum sepenuhnya pulih dari anestesi regional setelah operasinya tadi, tetapi ia tetap memaksakan diri untuk bangun dari posisi berbaringnya.
"Nggak perlu!" Shila segera melarang, dengan menunjukkan telapak tangan kanannya pada Chandra. Ia mendekati ranjang pasien, dan berdiri tanpa melirik wajah Chandra sedikit pun. Hanya fokus pada perban di perut. Setelah puas, barulah ia melirik Chandra dengan sudut bibirnya yang terangkat.
Katakan bahwa Chandra bodoh, karena ia bahkan ikut tersenyum tipis untuk perempuan ini. Ia bahkan menerima dengan senang hati sentuhan tangan Shila di kepalanya. Padahal itu tangan yang sama, penyebab ia berada di tempat ini setelah melalui masa kritis selama perjalanan.
"Aku baik-baik aja sekarang," ucap Chandra memberitahu.
"Aku nggak tanya keadaan kamu."
Jawaban itu sontak membuat Chandra mendengkus geli. "Ya ... seperti yang kamu lihat."
"Aku sudah urus absensi kamu hari ini, sampai dua pekan ke depan, jadi ... fokus sama penyembuhan kamu."
Chandra mengangguk kecil. Ia bersyukur dalam hati, karena setidaknya, Mishall akan tahu alasan ia tidak bisa menemuinya selama dua pekan ke depan. Perempuan itu seharusnya tidak akan marah jika Chandra mendiamkannya selama beberapa hari, sebab harus fokus pada Shila.
__ADS_1
"Dan ... aku sudah hubungi Widya untuk tanya mengenai alasan kamu ...."
Chandra langsung meredupkan senyum karena lanjutan ucapan Shila tersebut. Tubuhnya nyaris sulit bergerak, ketika perempuan ini malah terlihat tenang. Ia menyentuh perut Chandra, membuat pria itu bahkan tidak lagi tahu caranya bernapas. Shila menarik sudut bibir kanannya, kemudian memberikan usapan lembut di sana.
"Sorry ...." Shila berbisik rendah. "Aku terlalu marah semalam."
Meski Shila tidak memberitahukan jawaban Widya, tetapi Chandra sudah bisa menebak bantuan yang si dokter itu berikan. Napasnya kembali teratur, ketika Shila benar-benar melunakkan ekspresinya. Perempuan itu bahkan menarik sebuah kursi untuk ia duduki, kemudian meraih tangan Chandra untuk digenggam lembut, sesekali dimainkan jemarinya.
"Kamu tahu sendiri, Chandra." Shila membuka curhatannya dengan mengerjap beberapa kali, yang Chandra tahu adalah sebuah usaha untuk menyembunyikan air matanya yang mulai menggenang. "Kamu ... satu-satunya ... yang aku punya sekarang. The only one ... yang kalau kamu sendiri pergi dari aku ... I don't know how bad I am going to be. Jadi ... yang aku pikirkan cuman ... bagaimana supaya kamu bisa rasakan apa yang aku takutkan sekarang."
"Trust me." Chandra mengubah genggaman Shila, sehingga kali ini, ia yang menggenggam lembut tangan perempuan itu dengan sedikit penekanan. "I will only be yours completely." Ia terlihat serius dalam ucapannya, tetapi tidak ada yang menyadari, bahwa pria itu meneguk ludah usai mengatakan hal tersebut.
Chandra meragukan dirinya sendiri.
Beruntung, Shila tidak melihat perubahan ekspresinya yang sedikit cemas, karena sibuk pada bagian perut Chandra.
"Pasti sakit banget, 'kan?" Shila bertanya. Mungkin terdengar seperti pertanyaan bodoh bagi beberapa orang. Namun, karena Chandra tahu yang bertanya adalah Rashila Ghana—perempuan yang lupa mengenai arti sebuah sakit fisik—maka ia memaklumi pertanyaan tersebut.
Tersenyum canggung, Chandra mengangguki pertanyaan Shila. "Jadi, apa kamu mau temani aku di sini sampai aku sembuh?"
Shila dengan tenang mengangguk, bersama senyum yang selalu Chandra rindukan. Senyum tulus dari istrinya, yang sempat menghilang sejak pertengkaran hebat mereka beberapa hari yang lalu.
...Hai, ini Es Pucil!...
...Aku boleh baca pendapatmu mengenai bab ini? ...
...Jangan lupa berikan komentar/ulasan ya❤️...
...Itu sangat mendukung aku untuk semakin semangat update bab baru. ...
...Ada kesalahan, typo, dan lainnya? Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau membantu melaporkannya. ...
...***...
...Mari kenalan :...
...Instagram : es.pucil...
__ADS_1
...Facebook : Es Pucil III ...