
Senyum Shila hampir tidak pernah pudar setelah ia mendengarkan penjelasan Anwar atas pekerjaannya kali ini: di luar masalah antar-mengantar. Shila sedang membaca pesan dari Chandra ketika itu, dan dengan mudah mengiyakan ajakan dalam chat tersebut.
"Bagus, Anwar. Dia seharusnya tahu, bagaimana rendahnya perempuan yang dia pilih itu," kata Shila dengan bangga. "Sore ini saya harus keluar untuk menyelesaikan hubungan kami. Siapkan mobil yang didekor seperti taksi, dan juga kursi roda." Perempuan itu memberikan perintah sembari berdiri dari sofa.
"Kalau Bu Shila mau memutuskan hubungan, kenapa masih mau pakai kursi roda? Anda tidak perlu mengemis perhatian Pak Chandra lagi," sahut Widya.
"Mengemis?" Shila langsung melirik tajam pada dokternya itu. "Saya sepertinya lebih tidak perlu dokter lagi, Widya," jawab Shila telak. "Jangan kamu pikir saya tidak tahu, kalau kamu yang menolong Chandra malam itu, dan menghasutnya untuk memilih selingkuhannya. Kamu juga seharusnya saya beri hukuman." Shila tersenyum misterius, ketika raut wajahnya terlihat berpikir keras. "Hukuman apa yang cocok untuk seorang dokter?"
Pertanyaan itu berakhir menggantung, karena Shila tidak terlalu tertarik menuntut jawabannya, dan kedua suruhannya itu tidak ada yang berani menjawab.
"Silakan pergi, Anwar. Siapkan apa yang saya perlukan!" titah Shila, dengan nada datar.
Perempuan itu meninggalkan ruang tengah, menuju perpustakaan. Bukan untuk membaca, tetapi untuk menenangkan pikiran yang mulai penuh. Shila kesulitan meredam riuh di dalam kepalanya, walau ia sudah berhasil bersikap tenang. Meski terlihat baik-baik saja, nyatanya tidak seperti itu sepenuhnya.
Setelah pintu tinggi perpustakaan ditutup, Shila tidak lagi punya kekuatan untuk mengangkat kakinya. Semua tenaga sudah ia keluarkan ekstra untuk terlihat baik-baik saja, sejak ia menerima informasi dari Tristan bahwa Chandra pasti memilih siswinya. Perempuan itu luruh bersandar pada pintu, kemudian memeluk lutut sendiri untuk mengeluarkan semua tangis yang diredam dengan menggigit bibir bawahnya sekuat mungkin. Matanya yang bengkak belum sempat sembuh, ketika ia kembali lagi menangis dalam waktu yang cukup lama.
Pada akhirnya, perempuan itu terbaring lemah di lantai dingin. Ia padahal punya ribuan buku, puluhan rak, dan dua pasang meja-kursi di sini, tetapi ... Shila hanya melihat semua itu tanpa memiliki niatan untuk mengacaukan kondisi ruangan ini. Sebaliknya, Shila meredam lukanya dengan semakin meringkuk, dengan tangan yang menyentuh perut.
Sebuah jiwa baru sedang dibuat di dalam dirinya, jadi ia harus menjaganya.
*
Berada dalam mobil menuju perjalanan ke tempat pertemuan perdananya dengan Chandra, Shila tampak sangat sibuk. Selama dalam mobil, ponsel hampir tidak pernah menjauh dari tangannya, untuk mengonfirmasi beberapa hal yang menjadi bagian dari rencananya.
Barulah, ketika mobil mulai berhenti, Shila baru memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Keluarkan kursi roda saya!" pinta Shila, angkuh.
Meski pria yang sedang menjadi supirnya masih setara derajat sosialnya, Shila tidak peduli. Ia tetap menggunakan kesempatan ketika pria itu patuh padanya untuk disuruh-suruh sesuai kemauan.
__ADS_1
"Kamu yakin sendiri, Shila? Aku bisa temenin kamu kalau mau. Chandra pasti lebih terguncang lagi kalau lihat kita berdua," usul pria itu. "Aku khawatir sama kamu."
"Ikuti sesuai rencana, Tristan." Shila memperingatkan dengan nada tegas. Ia menerima bantuan Tristan untuk turun dari mobil, dan membiarkan dirinya berada dalam gendongan pria yang selalu hobi berdebat dengannya itu. "Jangan pernah mendekat, sebelum saya hubungi kamu. Untuk sementara, kamu bisa pergi dan bersembunyi dekat sini. Kirim pesan, kalau Anwar sudah datang."
"Oke," kata Tristan, sepenuhnya mempercayai isi kepala perempuan berbahaya ini.
Setelah duduk sempurna, Shila membuka tas, mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan untuk Tristan yang tengah mengenakan masker dan topi itu. Dengan angkuh, ia mengibaskan tangan, memintanya untuk segera pergi.
Sekarang, tersisa Shila. Di depannya, dalam jarak dua puluh meter, terdapat sebuah gubuk tidak terurus, tempat Shila pernah melarikan diri dari pemeriksaan dokter mengenai kejiwaannya. Ia bersiap bunuh diri ketika itu di tempat ini, tetapi urung karena kedatangan Chandra secara tiba-tiba. Ia mendengarkan penuturan Chandra yang sedang mencari pekerjaan di kota ini. Pria itu menceritakan mengenai kehidupannya yang tidak bisa dikatakan beruntung, sehingga ketika Chandra mengatakan bahwa hidup Shila lebih baik darinya, perempuan itu percaya. Sehingga ia membuang seng yang rencananya ingin ia gunakan sebagai pemutus nadi.
Sekarang, setelah taksi menjauh, kini Shila menemukan lagi Chandra di rumah. Berdiri di ambang pintu, seolah datang menyambutnya. Shila menggerakkan kursi roda mendekat, dan itu cukup sulit karena jalanan yang tidak rata. Maka, Chandra datang menghampiri untuk membantu mendorong kursi roda hingga mereka sudah berada di dalam gubuk yang sudah ditumbuhi rumput liar.
"Sekarang, gantian kamu yang mau bunuh diri di sini, Chandra?" tanya Shila dengan tenang, setelah Chandra mengunci roda dari kursinya. "Pilihan yang bagus. Seharusnya di rumput-rumput itu ada ular berbisa."
"Shila," panggil Chandra dengan nada serius. Ia memposisikan tubuh di depan perempuan itu, sehingga tampilan Chandra terlihat mendominasi sekarang. Sayangnya, aura tenang Shila terasa sulit untuk dikalahkan. Si lawan bicara tampak santai bersandar di kursinya, dengan sudut bibir yang terangkat. "Aku ajak kamu ke sini, biar kita bisa mengingat semua peristiwa yang sudah kita lewati. Sudah empat tahun .... Semuanya berlalu begitu cepat."
Shila menunjukkan raut bosan atas pembukaan Chandra. Ia tetap mendengarkan beberapa hal yang membuat mereka mengulang beberapa peristiwa penting dalam kehidupan selama keduanya bersama.
"Sebenarnya, apa arti cinta menurut kamu, Chandra?" tanya Shila. "Pengorbanan kamu kayaknya terlalu besar untuk seseorang yang cuman 'kasihan'. Bertahan di sisi aku selama satu tahun dalam pernikahan ... jika cuma didasari 'kasihan', nggak bakalan bisa sampai setahun. Bahkan empat tahun, termasuk PDKT kita. Kamu kayaknya lupa, kalau sebuah 'cinta', bagian utamanya adalah : pengorbanan."
"Beda, Shila, dan ... aku baru sadar sekarang. Ada perasaan istimewa yang cuma aku rasakan ke Mishall, dan nggak ada di kamu."
"Bahkan setelah tahu bagaimana rendahnya perempuan yang kamu pilih ... kamu masih mau sama dia? Perempuan yang dengan mudah membuka kaki pada laki-laki mana pun. Perempuan yang bisa mencium laki-laki mana pun tanpa peduli usia, dengan penuh percaya diri. Perempuan ... yang tentunya sangat ahli di ranjang, sampai kamu mungkin merasa hambar selama sama aku."
"Nggak gitu, Shila. Ini bukan tentang nafsu aja. Aku beneran cinta sama Mishall, sampai-sampai, perbuatan dia pagi tadi nggak aku permasalahkan sama sekali."
"Murahan!" hardik Shila, lalu mendengkus geli. "Kalian memang cocok. Murahan."
"Shila ...." Chandra memanggil dengan nada lirih. "Aku ... minta maaf, tapi ... aku mau mengakhiri hubungan kita sekarang. Dengan ini ... aku membebaskan kamu dari pernikahan ini—"
__ADS_1
"Kenapa nggak langsung urus surat cerainya?" tanya Shila tanpa beban. "Kenapa harus ajak aku ke sini?"
Ini aneh. Chandra belum menemukan alasan ketenangan Shila sampai detik ini. Seharusnya perempuan itu kembali meronta, dan mencari benda tajam untuk melakukan penyerangan padanya. Namun ... tidak ada. Shila tampak sangat tenang ketika mengatakan hal itu.
"Kita nggak butuh surat cerai di pengadilan," kata Chandra. Matanya kembali menyorot tajam, ketika ia teringat perbuatan Shila yang menyuruh Anwar untuk menyentuh kekasihnya. Tangan pria itu mengepal kuat di sisi tubuh: campuran amarah, serta ketakutan.
Shila tampak tertarik dengan ucapan Chandra. "Tanpa perceraian?"
Chandra bergeming selama beberapa detik, kemudian mengangguk. Gemetar menguasai tubuhnya ketika ia menyibak rerumputan liar, dan mengeluarkan sebuah jergen putih ukuran lima liter.
Shila menarik napas panjang, setelah Chandra membuka penutupnya. Aroma menyengat bahan bakar itu dengan cepat ia kenali. Bensin. Mata perempuan itu menatap nanar pada Chandra, tetapi tetap mempertahankan ketenangan dan senyumnya.
"Tentu ... kamu yang satu-satunya keluarga aku ... akan dapat semua kekayaan kalau aku mati di sini." Shila menarik paksa sudut bibirnya agar semakin tinggi. Matanya mulai memerah, ketika isi dalam jergen mulai dituangkan pada kayu-kayu yang menjadi dinding rumah.
Chandra keluar dari gubuk kayu itu, membiarkan pintu tetap terbuka sehingga mereka bisa adu pandang. Ia harus menarik napas panjang berkali-kali, ketika akal sehatnya sudah tidak bisa berfungsi dengan baik setelah apa yang terjadi pagi tadi.
Mungkin juga ... setelah Mishall mengungkapkan bahwa ia sama sekali tidak bisa mengurangi hedonnya. Chandra yang merasa cinta buta, tidak lagi melarang kekasihnya itu, malah sibuk memikirkan cara untuk mendapatkan banyak uang agar kebutuhan Mishall terpenuhi semuanya.
Lagi pula ... Shila sendiri selalu mengaku bosan dengan semua kekayaannya. Jadi, apa salahnya memberikan 'bayaran' atas kesabaran Chandra selama pernikahan bersama Shila, pada Mishall.
Tangan Chandra terlihat jelas gemetar kuat ketika ia mengeluarkan korek api dari salah satu sakunya. Tangannya berkali-kali gagal menggesek korek kayu itu, karena gemetarnya sulit dikendalikan. Pria itu menggeram kuat, sementara Shila menunduk setelah mendengar denting ponselnya berbunyi.
Chandra menipiskan bibir ketika tiga korek kayu langsung digesekkan hingga menghasilkan percikan api. Matanya berkaca-kaca ketika ia menjatuhkan api di di salah satu kayu yang tersambung ke rumah, dan tadinya sudah ia sirami dengan bahan bakar.
Secepat kilat, api membesar karena bahan bakar tadi. Sosok Shila segera terbingkai kayu yang penuh kobaran api.
Dan Chandra seperti disentak kesadarannya melihat perempuan di depan sana mulai menjatuhkan air mata, sementara senyumnya seolah terkunci sehingga Shila sama sekali tidak mengerutkan bibirnya.
Namun, terlambat untuk menyesali perbuatannya. Chandra berbalik, dan meninggalkan tempat itu. Menunjukkan dengan jelas, bahwa ia sekarang meninggalkan masa lalunya bersama Shila, dan siap memulai kehidupan baru bersama Mishall.
__ADS_1
...*...