
Chandra sedang berpakaian ketika ia menjelaskan rencananya hari ini, dan mata Mishall hampir tidak pernah berhenti memperhatikannya. Perempuan itu masih setia dengan hanya selimut yang membalut tubuh.
"Aku bakalan pesenin makanan buat sarapan kamu. Nanti aku sarapan di warung aja. Siang ini, aku bakalan temui Shila buat selesaikan pernikahan kami secara baik-baik. Kalau lihat responsnya kemarin, dia kayaknya beneran udah sembuh. Dia nggak pernah nyerang aku lagi," jelas Chandra.
"Aku ... bisa kerja nggak, Pak?" tanya Mishall hati-hati. "Pelayan restoran, atau apa gitu."
"Nggak perlu, Mishall. Aku bisa penuhi semua kebutuhan kamu," jawab Chandra dengan nada tegas kentara. Ia baru saja meloloskan kaus dari kepalanya, lalu berlutut di depan Mishall. Memberikan ciuman singkat, kemudian tersenyum. "Aku bukan guru kamu lagi. Berhenti panggil aku 'pak'."
"Terus ... panggil apa?" tanya Mishall dengan wajah memerah, dan mata melotot.
"'Mas' mungkin?" goda Chandra. Ia sekali lagi menanamkan ciuman di bibir Mishall, lalu kedua pipi perempuan itu karena bersemu merah.
"Malu ...." Mishall segera menutupi wajahnya untuk menyembunyikan hasil godaan Chandra. "Mending panggil 'sayang'." Mishall membuka tangannya, lalu mencium Chandra penuh percaya diri.
Merasa belum puas, ia ingin memberikan ciuman yang lebih dalam, tetapi Chandra menahan keningnya dengan telunjuk.
"Aku baru mandi, Mishall. Jangan sekarang. Nanti kalau aku pulang, oke?"
Mishall merapatkan bibir, sedikit manyun. Chandra susah payah untuk tidak mencicip lagi. Sekarang, cukup mengusap bibir Mishall penuh kekaguman, kemudian berdiri.
"Mau aku beliin makanan apa?"
"Terserah," jawab Mishall cepat. "Aku suka apa pun yang kamu kasih."
"Oke. Makanannya nggak bakalan lama." Chandra memastikan hal itu, kemudian keluar dari kontrakan.
Chandra menggunakan angkutan umum untuk digunakan ke rumah Shila. Selama perjalanan, sejujurnya ia tidak pernah bisa tenang. Ketika ia mencoba menenangkan pikiran dengan melihat ke luar, pria itu sering tidak sengaja melirik ponsel sendiri yang menampilkan pesannya bersama Widya. Dokter itu memberitahu kondisi, dan tempat Shila berada sekarang. Calon mantan istrinya itu sudah pulang ke rumah, masih dalam kondisi lumpuh. Sementara untuk psikisnya, Shila sudah tidak melakukan pemberontakan berlebih.
Mematikan ponsel, Chandra berusaha mempertimbangkan tujuannya bertemu Shila.
Meminta perpisahan secara baik-baik, Chandra tidak yakin bisa seperti itu. Namun, jika menunda terlalu lama, Chandra tidak bisa. Jiwa pedulinya bisa saja sulit dikendalikan, apalagi dalam kondisi Shila yang memperihatinkan, Chandra tidak yakin tidak akan luluh pada Shila.
Tarik napas panjang ... lalu embuskan.
Chandra menenangkan pergulatan pikirannya dalam kepala. Sekarang sedikit melegakan, karena ia bisa membedakan cinta dan kasihan, sehingga Chandra tidak lagi bingung. Selama memilih Shila, pria itu masih selalu gelisah mengenai perasaannya sendiri. Sekarang, setelah pilihannya dijatuhkan pada Mishall, tidak ada lagi dilema seperti kemarin.
Chandra semakin yakin sekarang.
Pria itu menghentikan angkot setelah berada di perempatan, kemudian membayarnya. Perjalanannya masih seratus meter, dan ia harus selesaikan dengan berjalan kaki. Setiap langkah yang Chandra ambil, selalu memberikan kegelisahan tersendiri, bahwa ia akan masuk ke kandang singa secara sukarela. Hanya Widya yang bisa diandalkan untuk menolongnya, tetapi ... si dokter juga lebih sering kalah saat adu kekuatan dengan Shila.
__ADS_1
Chandra menghentikan langkah.
Sebenarnya mudah bagi pria itu melawan Shila jika melakukan penyerangan, tetapi ia takut jika dirinya lepas kendali, dan menyakiti perempuan lemah itu. Apalagi, Shila ketika melakukan penyerangan selalu secara tiba-tiba. Ekspresinya yang biasa saja mungkin menyimpan sejuta rencana jahat, dan ketika waktunya sudah tiba ... perempuan itu tidak akan segan melukai Chandra.
Pria itu semakin gelisah. Ia memilih menepi, untuk memikirkan hal ini. Lanjut, atau berhenti?
Chandra hendak mengecek ponselnya, memberitahu kesediaan Widya untuk membantunya dengan menyiapkan obat penenang, mungkin, karena Chandra pasti mengguncang kejiwaan Shila karena keputusan ini. Namun, usahanya menyalakan ponsel berakhir sia-sia. Ia lupa sudah tidak mengisi daya benda ini berhari-hari.
Rambut pria itu mengeluarkan keringat saat ia mengusapnya dengan kasar. Ia semakin segan untuk melanjutkan perjalanan. Demi keselamatan bersama, Chandra memilih berbalik, menunda sebentar niatnya untuk bertemu Shila hari ini.
Sekali lagi, menaiki angkutan umum, Chandra bersiap pulang. Karena kondisi ponselnya yang mati, sementara Chandra hampir lupa memesan makanan, jadilah ia lebih dulu membeli dua porsi makanan untuk dibungkus. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju kontrakan Mishall.
Namun, ada pemandangan aneh di depan kontrakan. Sebuah mobil—Lexus LS 500 yang sangat mudah dikenali oleh Chandra—tengah terparkir di depan rumah. Pria itu mengambil langkah yang begitu pelan saat mendekati pintu, ketika guncangan ketakutan menyerangnya. Khawatir jika Shila ....
Chandra membuka pintu secara kasar, dan napasnya langsung berhenti ketika ia melihat perempuan yang sudah ia berikan label 'kekasih' itu tengah berbaring di kasur sempit, tanpa pakaian apa pun, sementara di kedua kakinya ada seorang pria dewasa tengah menikmati apa yang seharusnya hanya Chandra pemiliknya.
"MISHALL!" teriak Chandra dengan nyaring, tidak peduli jika tetangga kontrakan mungkin akan mendengar.
Kekasihnya itu hanya mengintip di celah lengan dari pria yang menikmati tubuhnya itu. Mishall menampilkan raut bersalah, tetapi tidak melakukan pemberontakan apa pun, sampai pria di atasnya menyelesaikan tujuan.
Chandra seharusnya maju untuk memukul pria tua itu, dan menendangnya keluar dari kontrakan. Namun, bagaimana Mishall memasrahkan diri, menerima, dan menatap Chandra—pria itu berhasil kehilangan percaya diri serta tenaga secara bersamaan, hingga tubuhnya hanya bisa disandarkan pada dinding. Saat pria yang tidak asing itu menjauhkan diri dari Mishall, Chandra dihadiahi senyum meremehkan.
"Saya nggak tau, Pak Chandra, kalau perempuan ini punya hubungan sama Pak Chandra," ujar pria yang sebelumnya memiliki status di bawah Chandra itu: Anwar—sopir pribadi Shila. "Pacar Anda, Pak?"
"Maaf, Pak Chandra." Anwar segera berpakaian, lalu dari saku celananya mengeluarkan uang seratus ribuan beberapa lembar, meletakkannya di antara Chandra dan Mishall. "Saya permisi—"
"Siapa yang suruh kamu ke sini?" Chandra baru membalas ucapan Anwar, dengan tuduhan telak. Ia tahu bahwa keberadaan pria di depannya ini bukan sekadar kebetulan. "Saya tahu ... kamu pasti disuruh ke sini, 'kan?"
Anwar berdecak kecil, kemudian tersenyum. "Yah ... ketahuan." Untuk pertama kalinya, sopir yang Chandra anggap rendah itu menampilkan raut angkuh tanpa perasaan bersalah. "Saya diminta Bu Shila ke sini, buat nunjukkin ke Pak Chandra ... bagaimana sebenarnya perempuan yang Anda pilih ini." Ia melirik penuh hinaan pada Mishall yang menatap dua pria itu secara bergantian dengan bingung. "Murahan. Bahkan, istri saya yang sudah berumur jauh lebih sempit dari perempuan yang terlalu mudah membuka kaki pada pria mana pun ini. Bagaimana Anda bisa ... menyia-nyiakan seseorang seperti Bu Shila demi .... Saya yang tidak terlalu suka pada bos seperti Bu Shila saja, merasa menyayangkan pilihan Pak Chandra ini—"
"BUKAN URUSAN KAMU!" balas Chandra tegas. Matanya yang memerah segera menciutkan nyali Anwar. Tangannya yang mengepal kuat sedari tadi berhasil berlabuh di wajah Anwar, cukup berhasil membawa si supir ke pintu kontrakan.
"Saya permisi, Pak. Mungkin nanti kita bakalan sering-sering ketemu," kata Anwar, dengan raut kesakitan kentara, tetapi memaksa senyumnya untuk terbit, kemudian meninggalkan kontrakan sempit ini.
Sekarang, sisa suasana mencekam antara Chandra dan Mishall. Keduanya adu tatap, lalu saling melirik ke kumpulan uang yang entah berapa puluhan lembar.
"Saya perlu uang, Pak ...." Mishall berinisiatif menjelaskan lebih dulu, kemudian bersusah payah untuk bangkit dari posisi berbaring. Ia bersandar di dinding, dengan tangan mengapit selimut agar tidak jatuh. "Pak Chandra enak ... bisa terbiasa hidup sederhana. Saya enggak bisa, Pak. Susah ...." Mishall gemetar, ketika ia meremas kuat sisi selimut untuk mengungkapkan perasaannya sendiri sekarang. "Kalau Pak Chandra nyesel, Pak Chandra bisa tinggalin saya, dan balik ke istri Pak Chandra itu."
"Mishall, ini bukan masalah pilih kamu atau Shila. Bukan! Saya memang menerima masa lalu kamu, tapi hanya masa lalu! Saya masih punya uang kalau kamu butuh sesuatu! Apa kamu nggak bisa hargai saya sedikit saja, Mishall? SEBAGAI SEORANG KEKASIH ... APA KAMU NGGAK BISA HARGAI STATUS ITU?"
__ADS_1
"Kalau Pak Chandra nyesel—"
"INI BUKAN TENTANG MENYESAL, MISHALL!" Napas pria itu terburu, lalu berakhir lemas, "Saya sudah pilih kamu, dan saya nggak bakalan ganggu-gugat itu lagi, cuman ... sebagai sebagai kekasih kamu ... apa nggak bisa hargai saya, Mishall? Saya kekasih kamu sekarang! Cuman saya yang berhak sentuh kamu!"
"Pak Chandra sendiri yang bilang, cinta dan nafsu itu beda. Saya cinta Pak Chandra, dan nggak bakalan berubah. Saya cuman ... butuh uang, Pak. Saya—"
"Beda konteks, Mishall!" balas Chandra semakin sengit. "Cinta dan nafsu yang saya katakan kemarin, itu nggak ada sama sekali! Kalau kamu cinta sama saya, seharusnya kamu nggak adu nafsu sama orang lain! Saya sudah mencintai kamu sejak dulu, makanya itu ... saya gampang berhasrat sama kamu. Apa kamu nggak bisa mikirin ini, Mishall?!"
"P—Pak ...." Mishall memelas, tetapi Chandra lebih sigap meninggalkan perempuan itu.
Berdiri di teras kontrakan, Chandra meremas rambutnya sendiri dengan kuat, lalu menjambak dengan sama kuatnya. Lalu, sebuah geraman kesal mengawali langkahnya meninggalkan tempat ini.
Sembari mengayunkan kedua kaki secara bergantian, Chandra juga mengirimkan pesan pada perempuan yang masih berstatus istrinya.
^^^Chandramawa Ahtar :^^^
^^^Ketemu berdua sore ini, bisa, Shila? Jam enam sore, di tempat kita pertama kali ketemu. Cuman boleh ada kita berdua.^^^
...Dari angka 1 - 10, berapa nilai yang bakalan kamu kasih untuk bab ini? Beritahu aku di kolom komentar📌...
...Oh ya, akan ada banyak lagi cerita seru di akun @Es Pucil, follow supaya nggak ketinggalan info! ...
...***...
...Kalau kamu nggak sabaran, kamu bisa baca cerita ini secara lengkap di :...
...Ka Be eM : Es_Pucil...
...***...
...Mari kenalan :...
...Instagram : es.pucil...
...Facebook : Es Pucil III ...
...🔺🔺🔺...
__ADS_1
...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku. ...
... ...