Siswiku Canduku

Siswiku Canduku
Bab 26


__ADS_3

Bangun di pagi hari, Chandra sekali lagi diliputi penyesalan, dengan sedikit campuran kejengkelan. Bahkan, meski apa pun yang Chandra lakukan untuk perempuan ini: mempertemukan Mishall dengan pekerjaan bagus, melarangnya menjual diri lagi, bahkan sampai mengatainya dengan kata buruk—Mishall masih belum bisa menghilangkan kebiasaan buruk ini.


Sialnya, pendirian Chandra tidak terlalu kukuh, sehingga hanya dengan beberapa godaan, pria itu langsung kehilangan akal sehatnya. Bermula saat kemarin pagi bangun, dan mendapat tubuh Mishall yang dapat diterawang melalui kausnya, lalu setelah perempuan itu mandi, hingga kalimat undangan yang menggiurkan ... sekali lagi, Chandra kalah.


Seharusnya, luka yang belum sepenuhnya sembuh itu, terus menyadarkan Chandra agar tidak melakukan kesalahan tambahan, tetapi ....


Ketika Mishall ikut mengangkat kelopak matanya ketika Chandra melirik perempuan di sampingnya itu, Chandra abai dengan lengannya sendiri. Ia mengubah posisi setengah tengkurap, menggunakan sebelah tangan sebagai penopang tubuh, sementara tangan lainnya menyentuh wajah Mishall demi menyingkirkan anak-anak rambut dari wajahnya. Sehingga, ketika pria itu merunduk, ia tidak dihalangi apa pun untuk mempertemukan bibir mereka.


Awalnya sekadar ingin memberi kecupan selamat pagi, tetapi Chandra merasakan berat memenuhi dirinya untuk beranjak dari posisi sekarang ini. Hanya menjauhkan kepala selama beberapa detik untuk mempertemukan tatap mereka, lalu kembali menunduk untuk memulai ciuman yang lebih dipenuhi tekanan kali ini. Sedikit menggerakkan bibir untuk memberikan sensasi geli yang mengundang.


"Kirain nyesel lagi kayak kemarin," bisik Mishall saat Chandra memberikan kesempatan untuknya menghirup oksigen, sebelum melanjutkan ke level lebih dalam lagi.


"Mumpung gratis," balas Chandra, sama sekali tidak peduli. "Ponsel kamu saya sita, supaya nggak bikin kesalahan yang sama."


"Katanya terpaksa kemarin ...." Mishall terus mengeluarkan kalimat-kalimat protes setiap kali Chandra memberi jeda. Ia mengusap lengan Chandra yang melingkupi dadanya, pada bekas luka yang tidak ditutupi apa pun.


"Saya mau tunjukkan ... seberapa murah harga diri kamu."


"Oke ...." Seperti biasa, Mishall bersikap santai dengan segala hinaan dari pria ini, karena ia punya tujuan lain. Tetapi, ia tetap melampiaskan sedikit kekesalannya dengan meremas luka Chandra.


Cepat, Chandra menanggapi perbuatan siswinya itu dengan ringis ringan, lalu berniat membalas dendam dengan menggigit bibir Mishall secara bergantian. Cukup kuat, sampai perempuan itu turut memekik pelan.


Keduanya semakin bersemangat saling *******, saling menyentuh—sembari mengatur posisi yang pas untuk saling menindih. Mishall tidak bisa menahan kekehannya ketika pria di atasnya menurunkan ciuman ke leher dengan isapan yang pas. Akses semakin diberikan saat kepala Mishall mendongak, sementara tangannya terus aktif mengusap bagian mana pun dari tubuh lawannya yang bisa ia capai.


Suara berat dari napas mereka mengisi kekosongan ruangan. Chandra masih sangat sibuk dengan penjelajahannya di tubuh Mishall, ketika sebuah dehaman menginterupsi kegiatan mereka. Chandra, dengan gerakan secepat kilat, segera menjauh dari tubuh Mishall, tidak lupa menarik selimut sebagai penutup tubuh—hal sama dilakukan oleh lawan mainnya tadi. Keduanya melirik ke pria yang berdiri malas tiga meter dari tempat tidur.


"Serius?" Tristan, berujar dengan nada malas, mempertanyakan kegiatan keduanya. "Gue kira kalian berdua—Chandra—bakalan menyesal, terpuruk, atau ... apa gitu, karena Shila udah tahu perselingkuhan kalian, tapi ternyata ...." Tristan menggantung ucapan, menggantinya dengan decakan takjub bercampur geli.


Chandra tidak memberikan komentar apa pun, karena jujur saja, apa yang Tristan katakan adalah kebenaran. Ia mengumpulkan pakaiannya—milik Tristan dari pinggir tempat tidur untuk dikenakan.


"Lo, Chandra, gue nggak bela Shila atau apa, tapi ... jujur aja. Gue kadang, kasihan juga sama tuh cewek. Kalau emang lo nyerah, kenapa nggak langsung ceraiin dia gitu? Dia menggila gara-gara lo, lo malah balas makin menggila sama selingkuhan."


"Gue ...." Chandra ingin membantah apa yang Tristan keluhkan mengenai selingkuhan, karena ia tidak melakukan hal itu, tetapi sekali lagi, sahabatnya itu benar. Pada akhirnya, Chandra hanya bisa menggaruk  rambut karena kesal pada diri sendiri.


"Gue mumpung lagi baik," kata Tristan, hendak memberikan solusi. Mishall dan Chandra mendengarkan saksama. "Gue bakalan bantu lo cerai dari Shila. Nanti gue usahain supaya dia nggak ngelakuin hal buruk ke kalian berdua selama proses perceraian—"


"Nggak." Chandra dalam keadaan berantakannya, memotong cepat. "Gue masih belum ...."


"Sama aja lo mainin dua cewek, Chandra. Pilih salah satu! Kalau lo mau balik ke istri lo, ya fokus buat dapatin Shila lagi. Mishall biar jadi urusan gue."


"Urusan lo?" Chandra tiba-tiba tidak suka sepenggal hal ini. Tristan seorang player—walaupun hanya sebatas senang-senang sehingga tidak ada perempuan yang merasa dipermainkan, tetapi Chandra tetap tidak rela jika siswinya terlalu dekat dengan sang sahabat. "Urusan dalam bentuk apa?"


Tristan mengangkat kedua bahunya tidak acuh. "Gue jadiin simpanan, bisa kayaknya." Ia tersenyum menilai kondisi fisik Mishall yang tenggelam di dalam selimut menyisakan wajah saja. "Mukanya terlalu cakep, kayaknya 2 -3 bulan, nggak bakalan bosan. Kita juga sama-sama buruk: sering ngelakuin hubungan sama orang lain ... gue sama Mishall keknya cocok deh. Ya nggak, Mishall?"


Perempuan yang ditanya tampak kebingungan, melirik Chandra seolah ingin meminta perlindungan agar Chandra tetap mau menjaganya, dan pria itu seolah paham dengan baik.


"Nggak. Gue masih ... bisa atasi ini." Chandra memberikan jawaban, yang terdengar ragu. Ia bahkan tidak yakin dengan dirinya sendiri sekarang.


"Cepetan ambil keputusan," kata Tristan, sekali lagi tidak peduli pada apa yang Chandra pilih walau ia tidak bisa menyembunyikan kekesalan samar di wajahnya. "Arfan mulai deketin istri lo di rumah sakit."


"R—rumah sakit?" Chandra terbata menyebut nama tempat itu, sembari membuat punggungnya menegak seolah bersiap untuk berlari meninggalkan tempatnya sekarang ini.


"Iya," jawab Tristan. Rautnya berubah datar. "Saat lo asik bercinta sama cewek ini di sini ... istri lo sekarat karena kecelakaan setelah maksa naik mobil buat cari kalian berdua."


Chandra tidak membuang waktu satu detik pun sejak mendengar informasi tersebut dengan bermalas-malasan. Ia segera turun dari tempat tidur. Tidak lagi membasuh wajah atau sikat gigi—bahkan abai dengan kondisi bahwa kausnya terbalik, pria itu mengambil kunci mobil dari atas nakas, lalu keluar dari apartemen.


Sementara itu, tersisa Tristan yang menatap ke arah pintu setelah kepergian Chandra, dan Mishall semakin menyembunyikan separuh wajahnya di balik selimut. Bahkan, ia berniat untuk menutupi seluruh tubuh hingga tidak ada yang terlihat, tetapi terlambat karena Tristan melihatnya.


"Bego! Ngapain malah tiduran di sini?" hardik Tristan pada pelayannya itu. "Harusnya lo kalau mau miliki Chandra, lo tadi larang dia buat ke mana-mana. Dia terlalu naif jadi manusia, makanya gampang bingung sama sekitar, makanya dia satu-satunya yang mau peduli dengan orang segila Shila, saat semua orang mau perempuan itu mati aja, sekaligus ... satu-satunya yang hargai lo saat semua orang memandang remeh ke lo. Dia usaha buat ngasih yang terbaik, tapi ... gue tebak. Lo sendiri yang ngebuang harga diri di depan dia, 'kan?"


Mishall merapatkan bibir. Skleranya memerah, dengan genangan air mata yang siap tumpah.


"Semua orang tau, gue nggak suka Shila, tapi ... jujur aja. Chandra bakalan jadi orang paling rugi kalau ninggalin perempuan semahal Shila cuman demi pelacur nggak ada harganya kayak lo. Jadi ... pergi, Mishall. Tempat lo bukan di sini."


Mishall memalingkan wajah ke arah lain. Ia tidak mau menatap atasannya yang kelewat jujur itu. Sekarang, ia juga mengerti mengapa Shila sama bencinya dengan pria ini.


Tristan memutar tumit, berbalik. Namun, ia tidak melangkah sama sekali, ketika kepalanya sedikit menoleh.

__ADS_1


"Gimana rasanya, Mishall? Sakit? Harusnya lo ngerti perasaan Shila sekarang. Dia ... jauh lebih berhak buat sakit hati daripada lo."


Tristan mengambil langkah, bersiap pergi, tetapi sekali lagi, urung karena Mishall memanggil lirih dengan suara gemetar.


"Saya ... mau ikut Pak Tristan."


Tristan tersenyum puas. Berbalik. Memberikan dua anggukan.


"Ayo, sini! Pelacur kecil ...."


...***...


Rasanya seperti ada yang salah, saat Chandra menemukan bahwa mata yang biasanya menatap tajam, kini telah tertutup statis. Luka-luka di tulang pipi dan rahang sang istri, dengan mudahnya menanamkan rasa bersalah di sudut hati Chandra. Membuat pria itu tampak seperti mayat hidup setelah melewati ambang pintu, berjalan hati-hati mendekati ranjang pasien.


"Kondisinya mulai membaik, Pak Chandra," kata Widya yang seketika berdiri dari kursinya mempersilakan pria itu untuk duduk. "Masa-masa kritisnya sudah dilewati, tinggal menunggu Bu Shila untuk sadarkan diri."


"Kenapa nggak ada yang hubungi saya masalah kondisi Shila?"


"Maaf sebelumnya, Pak. Kemarin sore, saya juga panik. Nggak inget buat lakuin apa selain bawa Bu Shila ke rumah sakit. Baru saya telepon Pak Chandra jam sembilan, tapi kayaknya Pak Chandra udah tidur. Baru saya SMS, mengenai kondisi Bu Shila," jelas Widya, yang diangguki pelan oleh Chandra.


Pria itu tidak meragukan sang dokter, walaupun sekarang ia tidak bisa mengecek ponsel karena tertinggal di rumah Tristan. Chandra duduk di kursi bekas Widya tadi untuk meraih tangan Shila agar bisa digenggam.


"Teman Pak Chandra kemarin malam datang ke sini," kata Widya memberitahu, "padahal nggak ada yang ngasih tahu, Pak. Saya cuman ... terkejut aja."


Chandra mengembalikan fokus usai mendengar itu. Langsung menebak, bahwa teman yang dimaksud Widya adalah Arfan. Entah apa maksud dari tindakan Arfan semalam, Chandra belum tahu secara pasti. Yang jelas ... ia harus terus mencurigai sahabatnya itu, agar Arfan tidak memiliki celah sedikitpun untuk memperkeruh hubungannya bersama sang istri.


Namun sebenarnya ... Chandra juga yang bermasalah di sini. Dia ... sekali lagi tidak bisa mengontrol diri sendiri, dan membuat masalah baru dengan siswinya itu.


Chandra menyisiri rambut, lalu menjambak dengan kuat. Ia tidak peduli dengan suara ketukan sepatu dan lantai yang keluar dari ruangan. Hanya fokus pada bayangan di kepalanya mengenai apa yang menyebabkan ia semalam tidak mengangkat telepon dari Widya.


Bagaimana ... bagaimana bisa ia mudah hilang kendali pada Mishall? Kenapa bisa? Padahal sebelum ini, tahun-tahun sebelum mengenal Shila, bahkan setelah menikahinya ... berlangsung tenang. Beberapa perempuan datang ingin mengganggu, sehingga Shila mudah curiga, tetapi ... Chandra tidak pernah benar-benar menjalin kedekatan apalagi hubungan dengan para wanita itu.


Namun, Mishall? Bahkan, Chandra dengan mudahnya langsung mencium perempuan itu setelah mendengarkan tawaran murahannya. Pria itu sekarang sadar, bahwa komitmen pernikahannya sama murahannya dengan harga diri Mishall.


Kenapa bisa ...?


Di tengah-tengah kegelisahan, Chandra mendengar pintu ruangan terbuka. Awalnya tidak mau peduli, karena mengira itu adalah Widya, tetapi segera setelah mendengarkan suara bariton yang menyapa, ia segera berbalik.


"Tristan?" Chandra memanggil ragu. Ia merogoh saku celana jeans yang ia kenakan, untuk memberikan kunci mobil pada pemiliknya.


"Pegang aja dulu. Nanti anterin ke rumah, karena gue juga bawa mobil ke sini," kata Tristan. Ia bergeser ke seberang Chandra, berdiri di sisi lain ranjang pasien tempat Shila berbaring tidak sadarkan diri. "Gimana kabarnya?" Pria itu bertanya, sembari melirik Shila sebentar, lalu Chandra.


"Kalau kata dokternya tadi, dia udah mendingan sekarang, nggak kritis kayak semalam. Cuman perlu nunggu sadar."


"Bagus lah. Lo nggak perlu kepikiran lagi."


"Mishall ...." Chandra merapatkan bibir sesaat usai menyebut nama siswinya itu.


Tristan tidak perlu pertanyaan lanjutan, cukup mengerti, sehingga ia langsung menjawab.


"Udah gue amanin di mobil, nanti gue bawa ke rumah. Dia nggak bakalan ganggu lo lagi."


"Mengenai tawaran lo ke Mishall ... lo serius?" Chandra mendongak, karena posisinya yang duduk, sementara Tristan masih berdiri, menatap Shila sebentar, baru melirik sahabatnya.


"Iya. Kenapa? Kalau dilepasin gitu aja, dia nggak bakalan bisa hidup tenang, karena bini lo bakal kejar dia. Kalau sama gue, dia bakalan aman. Gue punya banyak uang buat lindungi dia."


"Lo ... nggak ada niatan buat nikahin dia? Dia juga ... sendiri, Tris—"


"Nggak lah! Gila aja kalau mesti nikahin!" balas Tristan dengan nada tinggi, begitu tegas menolak apa yang Chandra katakan. "Lo tau sendiri, gue nggak suka terikat sama siapapun. Oh, bahkan kalau misal gue nikahin tuh cewek, nggak ada jaminan dia bakalan bahagia, karena ya ... gue pastinya bakalan jalin hubungan sama cewek lain juga. Masih mending gue mau tampung dia buat bantu lo, Chandra. Jangan ngelunjak."


Chandra memilih diam. Remasannya bertambah kuat pada jemari Shila, membuat jemari putih itu sedikit memerah—menjelaskan ada kegelisahan dalam dirinya. Setelah sadar, ia segera melemahkan genggamannya.


"Kenapa? Ck, nggak usah peduliin dia, Chandra. Lo ... hidup lo bahkan nggak lebih baik dari Mishall setelah menikah. Jadi, fokus aja sama Shila kalau emang mau lanjutin pernikahan, atau ... selesaikan secara baik-baik. Banyak kok yang bisa gantiin posisi lo sekarang. Arfan misalnya. Dia yang paling deket sama Shila. Lo nggak bakalan terkekang, dan Arfan bakalan jaga Shila dengan baik, karena Shila salah satu jalannya dia buat capai kesuksesan."


Chandra menggeleng pelan. Ia mengusap wajah secara kasar. "Nggak ada solusi lain buat Mishall?"


Dengkusan kasar Tristan adalah tanggapan pertama atas apa yang Chandra baru saja katakan. Ia berkacak pinggang, menatap malas pada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Lo ... berhenti peduli sama Mishall, Chandra! Nggak guna. Lo udah berusaha buat bawa dia ke jalan yang lurus—cuih—tapi apa? Dia sendiri yang nggak suka. Biarin dia sama dunia yang dia suka, dan gue bakalan dukung dia dengan apa yang dia suka itu."


"Lo sama sekali nggak membantu kalau gitu, Tris," balas Chandra. Dilema terlihat jelas di wajahnya ketika ia berdiri, hingga suara derit kursi terdengar. "Dia di mana sekarang? Gue nggak bisa biarin dia makin rusak—"


"Gue nggak bisa biarin dia makin rusak bla bla bla! Lo sendiri nyatanya malah ikut bantu rusakin dia! Nggak usah sok suci lo! Makin lo berurusan sama tuh cewek, makin rumit masalah lo, makin susah lo buat lepasnya. Nggak usah pikirin dia!"


Namun, Chandra keras kepala. Ia meninggalkan ruangan dengan tatap malas pada sang sahabat sebagai penutup obrolannya bersama Tristan. Pria itu langsung keluar, bahkan sedikit berlari-lari setelah melewati pintu.


Tristan tidak mengatakan apa pun lagi. Bahkan ketika ia menyadari bahwa kelopak mata Shila perlahan terangkat dengan setetes cairan jatuh dari sana ... Tristan tetap bungkam. Tidak memiliki niat sedikitpun untuk memanggil sahabatnya untuk melihat kondisi istrinya yang baru saja sadar, padahal tahu bahwa Chandra belum terlalu jauh. Sebaliknya, ia memutari ranjang pasien hingga bisa duduk di bekas Chandra tadi. Mengabaikan fakta bahwa perempuan di depannya ini bukan sembarang manusia ... Tristan mengambil tangan Shila yang masih hangat. Tarikan di kedua sudut bibirnya mencapai batas maksimal, hingga sepasang lesung muncul di pipinya.


"Kamu sudah sadar, Shila? Aku di sini ...."


...***...


Chandra batal memasuki mobil ketika sudut matanya tidak sengaja menangkap sesosok perempuan di balik kaca jendela sebuah mobil. Ia mundur dua langkah, kemudian berbelok menuju tempat mobil tersebut berada. Segera, dirinya menjadi pusat perhatian dari orang yang pria itu tuju.


Dalam kondisi yang tidak terkunci, mobil dengan mudah dibuka oleh Chandra. Ia menarik lengan kurus dari perempuan berseragam SMA itu secara paksa. Menyeretnya ke mobil yang dipinjamkan Tristan.


"Kamu nggak seharusnya ngikut Tristan, Mishall. Tau sendiri dia itu playboy. Dia bakalan jadiin kamu salah satu pelayan nafsunya," kata Chandra memberikan petuah setelah duduk dengan sempurna di bagian kemudi, yang langsung mendapat tatapan malas dari si lawan bicara.


"Pak Chandra juga nggak ada bedanya tuh," balas Mishall. Ia melipat kedua tangan depan dada, menatap angkuh ke luar. "Turunin saya, Pak. Saya mau ikut Pak Tristan!" pinta Mishall, tetapi Chandra seolah menulikan telinga. Mobil bergerak perlahan meninggalkan area parkir rumah sakit. Perempuan itu juga tidak berusaha untuk membuka pintu mobil.


"Yang semalam ... kesalahan—"


"Tadi pagi juga? Pak Chandra kayaknya sudah kecanduan sama badan saya."


"Semua laki-laki, bahkan yang suka sejenis sekalipun, kalau ditawarin tubuh perempuan ... jelas susah nolak, Mishall. Kamu cuman nggak paham gimana cara kerjanya otak laki-laki."


"Jadi ... gimana cara otak laki-laki milik Pak Chandra itu melihat saya?" tanya Mishall, dengan nada sensual.


Begitu mudah, membuat bulu di sepanjang lengan Chandra berdiri sempurna selama beberapa saat.


"Murahan."


"Pak Chandra selalu bilang gitu." Meninggalkan tampilan sempurna di wajah gurunya, Mishall memilih melarikan arah pandang ke jendela. "Pak Tristan secara terang-terangan mau jadiin saya simpanan, dan rasanya lebih baik dari Pak Chandra yang sok-sok an ngehina saya, nunjukkin jalan lurus buat saya, tapi ... tetap nikmati saya juga."


"Beda! Saya nggak sengaja, itu pun kamu goda seharian penuh."


Mishall mendecih, mengejek.


Chandra mengambil sebelah tangan Mishall setengah paksa untuk ia bawa menyentuh pinggangnya. Pria itu fokus pada jalanan, sehingga tidak melihat mata melebar Mishall karena terkejut.


"Kamu tahu? Bekas luka di sini belum sembuh, luka kepala saya masih terbuka, dan lengan saya masih sesekali mengeluarkan darah. Memang karena perbuatan Shila semuanya, tapi, apa yang mempelopori dia melakukan hal ini? Kedekatan kita. Saya sendiri nggak bisa lepas tangan gitu aja setelah tahu gimana keadaan kamu, karena saya merasa perlu bertanggung jawab. Apa nggak bisa kamu hargai usaha saya, dan luka-luka ini sedikit saja, Mishall? Saya nggak minta banyak. Cukup satu hal. Berhenti bersikap murahan seperti kemarin ke pria lain. Kamu berharga, dan saya berusaha buat tunjukkin itu ke kamu, supaya kamu bisa pertahankan harga diri kamu. Gampang banget, kan?"


"Saya butuh uang." Masalah utama diutarakan Mishall.


"Ibu kamu nggak tau ada di mana, dan anggap udah lepas dari kamu. Kamu biar saya yang jamin sampai hidup kamu sejahtera, walau gaji saya sebenarnya nggak seberapa. Kamu bisa kerja sama Tristan, tapi sebatas pelayan biasa. Kalau dia mulai goda-goda kamu, atau mau ngajak kamu tidur—tolak tegas! Langsung keluar aja kalau perlu! Saya bakalan bantu cari kerjaan lain buat—"


"Pak!" tegur Mishall, dengan nada kesal yang kentara, untuk menyembunyikan fakta bahwa matanya mulai panas. Ia menarik tangannya secara paksa dari genggaman Chandra, untuk diletakkan ke atas pahanya sendiri. "Nggak usah terlalu peduli sama saya!"


"Nggak bisa!" jawab Chandra tegas, lalu melemahkan suara untuk kalimat selanjutnya. "Nggak tau kenapa, saya paling nggak bisa nggak peduli sama segala sesuatu yang berhubungan sama kamu. Nggak bisa sedikitpun."



...Dari angka 1 - 10, berapa nilai yang bakalan kamu kasih untuk bab ini? Beritahu aku di kolom komentar📌...


...Oh ya, akan ada banyak lagi cerita seru di akun @Es Pucil , follow supaya nggak ketinggalan info! ...


...***...


...Mari kenalan :...


...Instagram : es.pucil...


...Facebook : Es Pucil III ...


...🔺🔺🔺...

__ADS_1


...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku. ...


__ADS_2