Siswiku Canduku

Siswiku Canduku
Bab 24


__ADS_3

"Dia jadi pemeran utama di film dewasa itu ... sama suami saya."


"M—maksudnya apa, Shila?"


Pertanyaan ibu Mishall diabaikan oleh Shila. Wanita itu sibuk mengobrak-abrik isi tasnya entah untuk mencari apa. Sementara Chandra menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat sekarang ini, jadi, ia mendorong-dorong Mishall agar mundur.


"Kamu pergi, Mishall!" pinta Chandra dengan nada berbisik.


"Tapi, Pak Chandra gimana?" Mishall balas bertanya, saat netranya mengarah pada Chandra. Luka pria ini seharusnya masih berbekas, dan sekarang, ancaman yang lebih parah lagi tengah menunggu di hadapan mereka.


"Saya tahu apa yang harus saya lakukan, Mishall! Kamu apa tidak bisa sekali saja mematuhi apa yang saya katakan, Mishall! Pergi sekarang!" Dua kalimat pertama diperintahkan Chandra dengan nada tegas. Sementara dua kata terakhir diucapkannya dengan suara lebih rendah.


Meski ... Shila seharusnya mendengar hal itu, dan Chandra sepatutnya paham, bahwa sikapnya itu malah membuat sang istri semakin geram.


Wanita itu, yang terlihat anggun dalam balutan dress merah muda—berbanding terbalik dengan kondisi rumah sekarang ini—menghentikan kegiatan memeriksa tas tangannya. Shila mengangkat pandangannya, mengarahkan tatap secara langsung pada Chandra, memperlihatkan secara jelas bagaimana matanya sudah didominasi oleh warna merah.


Chandra terlebih dahulu memastikan bahwa Mishall sudah pergi dari sekitar rumahnya sendiri, barulah ia datang mendekat ke teras tempat sang istri berdiri. Sembari itu, Chandra berusaha memberikan isyarat kecil untuk ibu Mishall agar pergi juga dari tempat ini.


Shila dan isi pikirannya hampir tidak pernah bisa dibaca.


Langkah Chandra berhenti saat ia sudah berjarak kurang satu meter dari Shila. Kepalanya menunduk, hanya untuk memastikan bahwa tidak ada benda berbahaya di kedua tangan wanita ini.


"Sayang ... kan sudah aku bilang dulu, kalau videonya itu cuman editan. Kamu nggak percaya lagi sama aku?" Sudah berada dalam keadaan yang terjepit, tetapi Chandra masih memperkuat kebohongannya, berharap bahwa setidaknya kali ini, ia bisa selamat.


Sungguh ... Chandra berdoa dalam hati, agar setidaknya hari ini saja ... kali ini saja ... istrinya bisa ditipu. Ia bahkan belum menemukan secara pasti siapa yang membuatnya dalam masalah serumit ini, tetapi Shila sudah memergokinya.


"Aku percaya." Shila menjawab dengan nada lemah. Senyumnya tiba-tiba saja terbit, seolah ingin memperkuat apa yang ia sampaikan tadi. Namun, sorot mata wanita itu, kepalan tangannya, serta gemetar di suaranya ... memberikan jawaban yang berbanding terbalik. "Aku percaya sama suami aku yang baru saja bonceng perempuan lain. Aku percaya suami aku yang sangat baik ini, yang dengan sabar mau menuntun siswi pelacurnya ke jalan yang benar, dengan cara diantar-jemput pulang, selalu ketemuan ... dan katanya juga kasih siswinya uang? Uang yang mungkin dari aku juga?"


"Sayang ...."


"Berapa kali kamu bohong sama aku, Chandra?" Shila bertanya, masih dengan nada biasa saja, tetapi si lawan bicara malah semakin menambahkan tingkat kewaspadaan. "Kamu tahu ... berapa kesalahan kamu, Chandra? Aku bahkan sulit memaafkan satu kesalahan, apalagi ditambah dengan kebohongan. Kamu tahu? Aku bahkan bingung harus apakan kamu sekarang, karena jelas ... bunuh kamu saja belum cukup."


"Shila ... aku ... dijebak, Sayang. Aku dijebak sama Arfan. Yang terjadi malam itu beneran cuman kecelakaan. Itu pertama dan terakhir kalinya aku berhubungan sama perempuan lain."


Dengkusan geli Shila keluar. Bibirnya tersenyum, tetapi air mata wanita itu terjatuh bahkan sebelum ia memejam.


"Sekarang, mau tambah kebohongan lagi, pakai nama temen kamu buat sembunyiin keburukan kamu?"

__ADS_1


"Shila ... aku beneran ... nggak tau gimana? Aku tau salah, tapi ... aku berusaha buat bayar semua kesalahan aku."


"Dengan cara setiap hari mendekati pelacur kamu itu?"


Chandra tidak punya jawaban lagi. Kondisinya benar-benar terjepit, sampai untuk kabur saja ... pria itu tidak punya jalan, walau di belakangnya ada jalan luas dan motor siap pakai. Namun, ketika menghadapi Shila ... pria itu tidak punya celah sedikit pun.


"Shila—"


Tangan Shila tiba-tiba berayun dengan cepat membawa sebuah beban, lalu bunyi pukulan terdengar nyaring, memutus ucapan Chandra karena pria itu langsung terjatuh ke samping menabrak lantai, dan kehilangan kesadarannya. Sementara Shila tengah memegang pecahan pot tanah liat yang baru saja menabrak kepala Chandra sampai pecah berkeping-keping. Gaunnya kotor oleh tanah yang berjatuhan, tetapi bukan itu yang membuat napas Shila berubah cepat.


Wanita itu menatap benda di tangannya saat ini, mengamati sudut tajam hasil dari pecahan pot tadi. Seharusnya mampu untuk membuat sebuah sumur darah di kedua mata Chandra, dan Shila memang sangat ingin melakukannya.


Namun, yang Shila lakukan hanyalah mengembalikan pecahan itu ke tempat pot berada: di tembok pembatas teras yang posisinya berada di samping Chandra tadi.


Shila merogoh tas untuk mencari ponsel, tetapi tangannya malah mengangkat sebuah pena. Ia mencengkeram benda itu dengan kuat, saat keinginan yang sama dengan pecahan pot tadi kembali muncul.


Tidak. Ia tidak bisa melakukannya sekarang. Nyawa pria ini hanya satu, dan harus dimanfaatkan Shila sebaik mungkin agar selama sisa hidupnya ... pria ini harus merasakan sakit dalam dada yang menggerus logika Shila sekarang ini.


Wanita itu meletakkan benda itu kembali ke dalam tas, mengeluarkan ponsel seperti tujuan awal, lalu memerintahkan suruhannya untuk datang ke tempat ini.


Setelah sambungan dimatikan, Shila masih merasa kurang. Tusukan sakit di dalam dadanya belum terbayarkan sepenuhnya walau Chandra sekarang sudah dalam genggaman. Ia menoleh ke belakang, dan tidak menemukan keberadaan ibu Mishall, dan si pelacur ... Shila harus melakukan telepon dua kali untuk mengejar perempuan incarannya.


...***...


"Kamu ingat siapa aku, Chandra? Setelah kena pukulan di kepala ... kamu nggak amnesia, 'kan?" tanya Shila, lalu tanpa menunggu suaminya menjawab, ia meneruskan ucapannya, "seharusnya nggak, ya? Lihat kamu kaget dan panik, seharusnya kamu nggak lupa apa yang terjadi siang tadi."


"S—Sayang ... ini Arfan yang jebak aku, Sayang. D—dia yang ...." Chandra hanya bisa menggantung ucapannya karena Shila mengerjap malas mendengarkannya kali ini.


"Kamu tahu, Chandra? Aku lagi susah payah tahan diri supaya nggak langsung bunuh kamu. Jangan paksa aku, dengan ciptain kebohongan-kebohongan lagi. Aku punya batas penampungan kebohongan."


Chandra sekarang tidak bisa berkutik. Ucapan dan segala bujuk rayu mengandung kebohongan tidak lagi mempan untuk perempuan ini. Chandra hanya bisa mengandalkan diri sendiri agar bisa lepas, tetapi ... Shila terlalu hebat mengikatkan tali tebal di kedua tangannya.


Perempuan itu diam-diam tersenyum melihat Chandra begitu kesulitan melepaskan diri, tampak berusaha menikmati hiburannya. Meski, mata bengkak Shila juga menggambarkan hal lain, bahwa di balik senyum angkuh yang ia tampilkan sekarang, ada beberapa jam sebelum sekarang ini dilaluinya dengan air mata.


"Sebelum menikah, aku sering bilang ke kamu Chandra, kalau aku gila. Nggak waras, kalau kata orang-orang. Sedikit iblis, kalau kata bawahan Papa. Tidak manusiawi .... Kamu paham betul bagaimana aku. Aku sering minta kamu mundur sebelum pernikahan, tapi kamu ngotot untuk melanjutkan hubungan kita, dan bersumpah untuk tidak menjalin hubungan apa pun dengan perempuan lain, tapi ... kamu tetap lakukan. Bercinta dengan siswi sendiri, antar-jemput pelacur kecil kamu itu .... Kata ibunya sendiri, pelacur kecil itu sudah sering menjajakan diri. Kenapa ... kamu malah lebih tertarik dengan perempuan seperti dia, dibanding aku yang ... memberikan segalanya ke kamu, Chandra? Aku ... memberikan cinta pertama aku ke kamu, keperawanan aku ke kamu, harta aku—walaupun selalu kamu tolak .... Aku cuman mau satu hal: kesetiaan dari kamu, tapi ...." Shila menjelaskan panjang lebar dengan nada lemah di awal, tetapi dalam sekejap, tatapnya segera berubah tajam. Gigi-giginya saling menekan, ketika sebuah kalimat penuh penegasan ia keluarkan. "Kenapa kamu tidak bisa menghargai aku, Chandra? KENAPA NGGAK BISA?"


Hanya hitungan beberapa detik, wanita pemarah ini berubah drastis. Saat Shila menengadah, isakannya keluar. Lalu, menunduk dalam sebagai sebuah usaha untuk menyembunyikan tangis—dan selalu berakhir gagal. Isak Shila terdengar memilukan, apalagi saat ia berusaha untuk menghapus dan menghentikan air matanya, tetapi selalu gagal.

__ADS_1


Chandra terenyuh. Ia ingin memeluk istrinya, tetapi tidak bisa dalam kondisi terikat seperti ini. Lalu, tangan Shila tiba-tiba saja terayun. Sekejap, menancapkan ujung pulpen hingga setengahnya di lengan Chandra sampai pria itu berteriak kesakitan. Shila melepaskan tangannya dari batang pulpen, dan membiarkan benda itu tertancap di daging suaminya.


Shila memiringkan kepala, memamerkan senyum kebahagiaan, sementara kedua matanya tidak pernah absen menggulirkan tetesan cairan bening. Kotak obat ia ambil dari lantai, mengeluarkan alkohol di sana untuk dituangkan di tempat tusukannya berada. Desisan sakit Chandra terdengar, dan semakin membuat Shila kian melebarkan senyum.


"Kamu tahu? Rasanya beneran sakit banget di dalam dada sampai aku sering nyoba buat tusuk diri sendiri supaya sakitnya hilang, sementara kepala serasa mau meledak—seandainya bisa, Chandra. Kadang, aku merasa mau pukul kepala supaya sakitnya bisa hilang, tapi ... nggak adil. Nggak adil rasanya. Jadi, supaya adil, kita bagi sakit ini sama-sama, ya? Karena kamu juga yang sebabin aku sampai sakit kayak sekarang ini. Tenang, Sayang, seharusnya sakit fisik kamu nggak seberapa dengan sakit di dalam diri aku."


Shila berdiri dari kursi, membawa kotak obat bersamanya. Ia tersenyum hangat, yang berbanding terbalik dengan perbuatannya sekarang ini.


"Aku tinggal dulu, ya? Malam ini, kamu di sini sendiri, tapi tenang. Besok, pelacur kecil kamu itu bakalan temenin kamu di sini. Selamat malam ...."


Setelah kepergian sang istri, Chandra langsung mengumpat. Ia bahkan tidak berani memberontak dari kursi tempatnya terikat sekarang ini, takut dirinya jatuh, dan pulpen semakin tertancap ke dalam lengannya.


Sementara di sisi lain ... ia mulai mencemaskan siswinya. Sesuatu yang salah, karena seharusnya ... Chandra lebih mengkhawatirkan psikis Shila yang terguncang hebat setelah terbongkarnya masalah ini.


Tapi ... tidak bisa.


Otak laknatnya memilih memutar Mishall dalam memorinya.



...Hai, ini Es Pucil!...


...Aku boleh baca pendapatmu mengenai bab ini? ...


...Jangan lupa berikan komentar/ulasan ya❤️...


...Itu sangat mendukung aku untuk semakin semangat update bab baru. ...


...Ada kesalahan, typo, dan lainnya? Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau membantu melaporkannya. ...


...***...


...Mari kenalan :...


...Instagram : es.pucil...


...Facebook : Es Pucil III ...

__ADS_1


...🔺🔺🔺...


...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku. ...


__ADS_2