
Pukul satu siang, Chandra baru tiba lagi di rumah sakit. Mobil Tristan sudah tidak ada di parkiran. Ia menebak bahwa sahabatnya itu pasti mempertanyakan keberadaan Mishall, dan mungkin mencoba menelepon Chandra yang berakhir gagal.
Chandra tidak mau terlalu peduli dengan hal seperti itu. Meski Tristan banyak membantunya, tetapi Chandra tetap tidak suka jika pria itu terlalu banyak ikut campur mengenai kehidupannya. Terutama jika itu tentang Mishall.
Memasuki ruang rawat Shila, pria itu tertahan di ambang pintu karena sang istri sudah dalam kondisi duduk. Perempuan yang kepalanya diperban itu tampak menatap kosong ke depan, seolah tidak menyadari keberadaan Chandra karena ia sama sekali tidak bergerak sedikitpun.
Seharusnya, Chandra memanfaatkan kesempatan untuk kabur sebelum Shila tahu keberadaannya, tetapi ia tetap bergeming di tempatnya berdiri sekarang. Jadilah, pria itu seperti patung di celah pintu yang setengah terbuka. Shila hampir sama kondisinya: membeku. Hanya karena perempuan itu mengerjap beberapa kali dengan sesekali mengembuskan napas panjang membuat Chandra tahu bahwa istrinya itu hidup.
Dari jarak beberapa meter pemisah ini, Chandra hampir tidak berkedip sama sekali melihat perempuan di depannya itu. Mengingatkannya saat ia pertama kali bertemu Shila. Perempuan itu dalam kondisi seperti sekarang ini. Hanya saja, Shila tidak selesu dulu. Untuk sekarang ini, Shila memang menatap tanpa minat ke depan, tetapi ada aura optimis di matanya.
Ini seperti ... membawa Chandra ke masa lalu, mengingatkannya lagi mengenai alasan mengapa ia terpaku menatap perempuan itu, hingga tanpa sadar tertarik pada Shila, lalu menikahinya tidak lama setelah pertemuan perdana. Tentunya, butuh banyak perjuangan sebab sang istri memiliki trauma pernikahan dari orang tuanya.
Perempuan itu cantik. Sangat.
Chandra tiba-tiba menahan napas, ketika kepala Shila bergerak menatap padanya. Pria itu masih bergeming di tempat, mengabaikan bahwa tatap kosong Shila kini berubah tajam padanya. Pria itu merasa sudah terkunci, sehingga tidak bisa beranjak atau sekadar menoleh ke arah lain.
Waktu demi waktu berlalu dalam keheningan di antara keduanya. Sampai, suasana kebungkaman mereka berhenti saat suara ringis kesakitan Chandra terdengar. Sesaat setelah sebuah benda mendarat di dada kirinya, dari lemparan Shila. Pria itu membungkuk untuk meredam sakit, sekaligus melihat apa yang istrinya tadi lempar. Vas bunga, yang kini pecah beberapa bagian di lantai.
Dalam posisi setengah bungkuk itu, Chandra menengadah pada sang istri. Shila kembali ke mode awal, diam membeku melihat keadaan Chandra. Sama sekali tidak menunjukkan gelagat bersalah, menyesal, atau kepuasan. Perempuan itu datar saja.
Tidak terlalu menikmati apa yang sudah ia perbuat.
Chandra berhenti mengeluhkan sakit di dadanya. Ia menegakkan postur, dengan tangan berada di samping tubuh. Memberanikan diri menatap sang istri.
"Kenapa datang ke sini?" tanya Shila. Nadanya terdengar dingin, penuh pengancaman. Perempuan itu sedikit menelengkan kepala, serta menarik sedikit sudut bibir pucatnya membentuk sebuah smirk. "Manfaatkan kesempatan selama aku nggak bisa gerak ... kamu bisa sembunyi di mana pun, tapi pasti ... aku bakalan temuin kalian berdua. Ketika saat itu tiba ... nggak ada maaf untuk kalian berdua."
Terlebih dahulu, Chandra melihat beberapa barang di sekitar Shila. Seharusnya tidak ada yang berbahaya, karena hanya ada tiang infus, ranjang pasien, dan meja dengan laci yang tentunya berat untuk perempuan lemah seperti Shila angkat. Jadi, pria itu memantapkan langkah pertama untuk memasuki ruangan. Berhasil membuat mata perempuan di depannya itu melotot.
Shila bergerak kelimpungan, seolah mencari sesuatu di sekitarnya, tetapi perempuan itu belum bisa mendapatkan apa pun ketika pergerakannya dibatasi oleh sepasang lengan yang melingkupi tubuhnya. Deru napas Shila terdengar cepat, menjadi satu-satunya sumber suara dalam ruangan. Perempuan itu mencoba melepaskan diri, tetapi dalam kondisi baru sadar dari koma serta adanya perbedaan kekuatan signifikan di antara mereka, Shila kalah. Ia masih memberikan beberapa pemberontakan kecil saat isakannya terdengar. Begitu cepat, Chandra bisa merasakan bahwa kaus pinjamannya ini basah hingga menembus kulit.
Selama beberapa menit, keduanya tidak ada yang mengeluarkan ucapan apa pun. Bahkan, Shila tidak mengatakan makian atau ancaman. Mungkin juga, karena perempuan itu sekarang kesulitan mengatur tangisnya sendiri, sehingga ia sulit mengeluarkan suara apa pun. Tangannya setia di depan dada Chandra, sebagai bentuk perlawanan. Sesekali memukul pria itu, atau mencengkeram kausnya dengan kuat.
Chandra menghela napas panjang, lalu memperbaiki posisi dagunya agar bersandar nyaman di puncak kepala Shila. Ia masih bingung untuk memulai kalimat pertama yang harus dikatakan agar sang istri tidak mengamuk, tetapi ... otaknya buntu saat ini. Karena ... semuanya benar. Ia salah. Tidak ada pembelaan apa pun yang bisa menyelamatkannya, bahkan meski itu sebuah kebohongan.
Jadi, Chandra hanya bisa membisu. Menghabiskan beberapa puluh menit dalam posisi seperti ini. Mengabaikan kakinya terasa pegal, dan dadanya masih sesak setelah insiden pelemparan tadi. Mengabaikan semua itu, Chandra malah memejam menikmati aroma Shila memenuhi paru-parunya.
Hanya sebentar pria itu memejam, karena kelopak matanya segera membuka ketika ia merasakan bahwa tangan Shila bergerak. Terlepas dari himpitan tubuh mereka. Chandra meningkatkan kewaspadaan, tetapi tidak terlalu khawatir karena kuku perempuan ini hampir tidak pernah panjang, sehingga tidak akan membahayakan. Apalagi ketika lengan Shila malah bergerak ke belakang tubuh Chandra, pria itu membeku di tempat. Dalam sebuah entakan, tubuh Chandra terdorong ke depan. Sang istri memeluknya begitu erat, seolah ingin meremukkan tulang mereka. Bahkan, Chandra menjadi khawatir jika Shila sesak karena tekanan pelukannya begitu besar.
Namun, Chandra tidak mengatakan apa pun. Takut jika ia salah berbicara. Biarkan saja Shila melakukan apa pun, setidaknya sampai isakannya mulai berkurang. Secara kaku, Chandra memberikan beberapa tepuk ringan di bahu Shila, sampai perempuan dalam dekapannya ini benar-benar berhenti menangis. Saat itu tiba, Chandra juga merasakan bahwa tekanan di punggungnya menghilang, bersama dengan tambahan beban di dadanya. Pria itu menjauhkan diri sebentar untuk mengecek kondisi Shila. Istrinya sudah jatuh tertidur.
Hati-hati, Chandra meletakkan Shila dalam posisi telentang di atas ranjang pasien. Ia juga menyelimuti sang istri hingga sebatas dada, lalu merapikan beberapa anak rambut yang mengacaukan kondisi wajahnya. Bawah mata Shila diusap lembut, agar jejak tangisnya sedikit berkurang.
Chandra terduduk di kursi dengan tempat tidur. Ia mengambil tangan Shila untuk digenggam, sementara tangan lainnya sibuk menyisiri lembut rambut perempuan ini. Ia sedikit menelengkan wajah, demi bisa melihat secara jelas Shila sekarang.
Istrinya dalam kondisi kacau, pun Chandra, serta Mishall yang dalam masa persembunyian. Kasus ini memperumit kehidupan ketiganya, tetapi ... tidak ada jalan yang bisa Chandra atau Mishall pilih. Chandra berhenti mengusap rambut Shila saat ia tiba-tiba terpikirkan sesuatu.
Bahwa ia hampir lupa arti sebuah kebahagiaan sejak malam sialan itu terjadi. Atau mungkin lebih jauh lagi, sejak pernikahan, ketika ia menyalami beberapa wanita hingga memancing amukan sang istri ... sepertinya kewaspadaan serta kegelisahan perenggut kebahagiaan Chandra dimulai saat itu.
Jadi ... apakah ia semakin menyesal sekarang?
...***...
"Tadi dia cuma serang saya sekali. Karena nggak ada barang-barang yang bisa dia pakai serang, dia berhasil saya taklukkan sebentar, sampai tertidur karena menangis. Sudah satu jam lebih sejak dia tidur tadi," kata Chandra menjelaskan kondisi Shila pada Widya yang baru saja datang berkunjung. "Saya perlu keluar sebentar karena ada urusan. Dokter bisa bantu jaga Shila sebentar? Saya ke sini lagi sekitar tiga atau empat jam lagi. Kalau Shila ternyata lebih cepat bangunnya, Dokter bisa hubungi saya."
Widya mengangguki permintaan Chandra. "Bisa, Pak." Ia menyimak sebentar sikap Chandra yang sesekali menekan dadanya. "Pak Chandra baik-baik saja?"
"Tadi, kena vas sedikit." Chandra memberitahu disusul dengan kekehan kecil. "Nggak masalah, Dok."
Sekali lagi, Widya mengangguk. "Anda juga sebaiknya mencari 'sesuatu' yang bisa Anda katakan pada Bu Shila nanti. Membiarkan beliau menahan semua sakitnya selama di sini, tidak akan baik untuk mentalnya. Bu Shila butuh ... penenangan, dan itu hanya bisa didapat dari Anda, tentang masalah sekarang ini."
Chandra memasang raut ragu pada awalnya, tetapi tetap mengangguk pada sang dokter. "Baik, Dok. Saya permisi." Ia langsung pamit, berharap bahwa si dokter tidak tahu kegelisahan yang mulai meliputi dirinya sekarang ini.
Pria itu meninggalkan rumah sakit, masih dengan menggunakan mobil yang Tristan pinjamkan. Hari ini begitu sibuk, sehingga jangankan untuk membersihkan tubuh, sekadar mengambil motor di rumah Shila saja ia tidak bisa. Chandra hanya mampir di apartemen sebentar untuk mengambil ponselnya, lalu lanjut ke sebuah tempat di mana salah satu sahabatnya ia perkirakan berada.
Armony Restaurant.
Sekali lagi, Chandra berada di restoran mewah ini. Namun, bukan lagi sebagai pengunjung, atau sekadar sahabat yang ingin bertemu pemilik restoran. Tidak. Raut wajah Chandra sama sekali tidak menunjukkan keramahan untuk melakukan dua hal tadi. Tatapnya sinis, ketika ia melewati pintu pertama kali. Begitu mudah mendapatkan jawaban dari salah satu pelayan mengenai keberadaan pemilik restoran ini sekarang.
"Pak Arfan ada di ruangannya, Pak."
Jadi, Chandra menggunakan lift untuk naik ke atas, tempat di mana ruangan Arfan berada. Selama perjalanan, tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Hanya merenggang beberapa kali ketika ia harus memencet tombol dan saat memutar kenop pintu tanpa perlu mengetuknya lebih dulu.
"Chandra? Lo ke sini? Kok nggak ngabarin?" tanya Arfan basa-basi, yang membuat Chandra kian muak.
Tiga titik sumber sakit di tubuh Chandra sama sekali bukan penghalang ketika ia melayangkan tinjunya ke pipi Arfan. Membuat sang sahabat yang semula berdiri dari kursinya sebagai bentuk penyambutan, langsung ambruk ke lantai.
"Lo apa-apaan anjir?" hardik Arfan tidak terima. Hanya butuh waktu sesaat untuk menunjukkan amarah di matanya.
__ADS_1
Chandra tidak peduli, karena ia sudah menduga ini. Ia terlebih dahulu menginjak dada Arfan menggunakan sebelah kaki sebelum sahabatnya sempat bangkit. Ia berlutut, memegang kerah baju sahabatnya dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya memamerkan kepalan tangan di samping kepala.
"Lo bilang yang sejujurnya, sebelum gue tambah muak sama sahabat yang suka main tusuk di belakang! Lo ... yang kirim video ke Shila buat hancurin hubungan gue, 'kan? Supaya lo bisa dapatin Shila, kan? JAWAB!"
"Apaan maksud lo anjing?! Gue nggak pernah ngirim apa pun ke Shila! Nomornya aja gue nggak tau, asu!"
Chandra yang tersulit emosi sama sekali tidak bisa mempercayai jawaban panik dari Arfan. Sekali lagi, sebuah pukulan ia daratkan di wajah temannya itu. Mengabaikan bahaya yang mengancam, karena ia menyerang pemilik restoran di kediamannya.
"Lo harus bilang semua kebenaran ke Shila, kalau lo yang coba jebak gue."
"Eh, kampret!" Di sela-sela napas Arfan yang mulai memburu, ia tetap memaki temannya dengan nada tinggi. "Jebak apaan, anjing? Jebak apaan? Gue nggak paham lo bilang apaan, asu! Gue nggak bisa napas! Lepasin, atau gue penjarain lo sekarang!"
Chandra diam sebentar, dengan bibir menipis dan gigi-gigi saling menekan. Ia menarik dasi Arfan dengan sekali gerakan hingga terlepas. Lalu menurunkan kakinya ke lantai, membiarkan sahabatnya mengambil napas sebanyak mungkin. Ia awalnya membantu Arfan untuk duduk, tetapi itu dilakukan Chandra agar bisa mengikat kedua tangan Arfan di belakang punggungnya.
"Oke ... mari kita lihat, barang penting apa saja yang ada di meja ...." Chandra berujar, ketika meninggalkan Arfan, dan beralih ke dekat meja. Mengambil sebuah map yang di atasnya ada beberapa lembar kertas perjanjian. Ia turut mengangkat sebuah cangkir kopi yang masih terisi setengah.
"Lo jangan macem-macem, Chandra!" ucap Arfan memperingatkan, ketika isi map semua dikeluarkan hingga berserak di lantai, sementara cangkir diangkat tinggi-tinggi di atas kertas. "Itu semua lebih mahal dari nyawa lo, asu!"
"Jawab pertanyaan gue. Kalau lo jujur, gue bakalan amanin beberapa kertas dari kopi. Kalau lo coba bohongin gue ... dadah-dadah sama berkas-berkas lo ini," ancam Chandra. Ia menarik kursi kursi Arfan agar diposisikan ke depan sahabatnya itu. Chandra duduk santai, seolah ia adalah bos di sini.
"Ada yang kirimkan video ke Shila, yang isinya ... tentang gue dan Mishall." Chandra terlebih dahulu menceritakan semua masalahnya. "Mishall sendiri ngaku, HP-nya nggak ada yang pernah pegang, tapi malam itu ... kami ketiduran di mobil, dan orang pertama yang ke mobil pasti yang otak-atik HP Mishall—"
"Lo berdua anjing! Kalian yang nge-***, gue yang ikutan sial! Anjing emang!"
Chandra tidak terlalu peduli dengan setiap maki yang Arfan katakan. Ia lebih fokus dengan tujuan utamanya. "Lo yang pertama kali ke mobilnya Tristan, 'kan?"
"Gue emang yang paling duluan keluar abis lo, monyet, tapi gue nggak ke mobilnya Tristan karena gue bawa mobil sendiri! Gue orang sibuk! Malam itu pulang cepet gara-gara ada masalah di sini! Lo pe'a! Gue bahkan pulang duluan sebelum lo selesai nge-***!"
Chandra diam sebentar. Entah kenapa, kemarahan Arfan seperti mendeskripsikan kejujurannya. Namun, Chandra masih merasa janggal. Ia tidak bisa menerima jawaban sahabatnya begitu saja.
"Lo kenapa nggak tanya Tristan? Dia yang ngantar lo ke kelab, pesenin lo cewek, dan lo juga pake mobilnya dia juga sampe ketiduran! Dia kali yang mau nyari masalah sama bini lo. Tau sendiri, tuh anak nggak bisa akur sebentar sama Shila."
Chandra memejam kuat. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi ....
"Lepasin gue, anying! Lo kira gue kayak lo yang pengangguran? Kerjaan gue banyak asu!"
Chandra berdecak. Turun dari kursinya. Terlebih dahulu meletakkan cangkir kopi di atas meja, lalu menuruti permintaan Arfan.
"Lo temen gue, Fan, tapi jangan lewatin batas!" ucap Chandra penuh penekanan ketika ia melepas ikatannya di belakang punggung Arfan. "Shila istri gue. Selamanya gitu. Gue nggak bakalan lepasin dia dengan mudah."
"Gue nggak bakalan lepasin dia dengan mudah, hilih bacot lo asu! Bilang aja pengangguran, dan lo suka hidup lo ditanggung istri! Sana, balik ke bini lo itu!" hardik Arfan. Ia berdiri, hendak memberikan tinju balasan, tetapi Chandra sudah berbalik tanpa mau memedulikan Arfan sedikitpun.
Kontrakan Mishall.
...***...
Chandra sendiri tidak tahu alasannya datang ke tempat ini. Tahu-tahu, mobil sudah terparkir di depan kontrakan Mishall, sementara dirinya terdiam berpikir di kursi kemudi. Tangannya meremas kuat stir mobil, ketika ia berpikir untuk pergi dari tempat ini, tetapi ... tubuhnya berkhianat lagi. Chandra tidak bisa menghentikan dirinya sendiri membuka pintu mobil, lalu turun. Ia memperhatikan sekitar sebentar, barulah melangkah mendekat ke arah tempat Mishall tinggal.
Hanya butuh dua ketukan, pintu segera terbuka. Entah perempuan ini memang sudah melihat Chandra datang tadi, atau memang bersemangat karena kunjungan pria ini.
"Pak Chandra ... kenapa ...?" Mishall menggantung ucapannya, merasa segan untuk menanyakan alasan keberadaan pria ini.
Chandra sendiri, tidak punya alasan khusus kenapa berdiri di tempatnya sekarang ini. Pria itu mengusap tengkuknya, kesal pada diri sendiri.
"Mau masuk, Pak? Kebetulan, saya baru masak juga buat makan," tawar Mishall. Ia tidak menunggu jawaban dari gurunya lebih dulu. Cukup dengan menggenggam lengan Chandra dengan kedua tangan, kemudian sedikit memberikan tarikan masuk ke rumah, pria itu sudah pasrah mengikuti Mishall.
"Rebus mi instan kamu sebut 'masak'?" tanya Chandra mencibir Mishall setelah pintu ditutup. Ia melihat ke arah lantai, tempat cup styrofoam berisi mi panas berada.
"Males gerak, Pak. Saya juga nggak bisa masak," jawab Mishall, lalu duduk di samping mi. "Semangkuk berdua, aja ya, Pak? Soalnya nggak ada kompor. Tadi cuman minta air panas sama tetangga."
"Oke." Chandra mengiyakan. Ia sebenarnya tidak memiliki minat makan, tetapi entah kenapa Chandra tidak bisa memberikan penolakan pada perempuan satu ini. Ia duduk di hadapan Mishall, ketika perempuan itu celingak-celinguk mencari tempat lain untuk memindahkan setengah mi, tetapi tidak ada. Belum ada barang-barang perlengkapan di sini. "Kamu makan aja. Saya belum lapar," kata Chandra memberikan solusi. "Nanti abis ini, ikut saya ke rumah kamu. Ambil beberapa pakaian sama keperluan kamu."
"Oke, Pak." Mishall mengangkat cup mi-nya untuk dimakan. Terlebih dahulu ditiup, baru dimasukkan ke dalam mulut. Dikunyah secara hati-hati, kemudian menelannya. Mishall merasa jenuh karena pria di depannya ini memperhatikan semua tindakannya. "Pak Chandra jangan liatin saya kayak gitu!"
Chandra berdecak, kemudian membuang tatapnya ke arah lain. Pria itu mundur hingga punggungnya menempel pada dinding. Keduanya saling diam, sehingga hanya suara makan Mishall yang terdengar.
"Istri Pak Chandra gimana?" tanya Mishall hati-hati dengan suara lirih.
"Masih seperti biasa," jawab Chandra enteng.
"Pak Chandra ... nggak bisa lepasin aja istri Pak Chandra itu? Dia ... bahaya."
"Nggak. Dia masih bisa saya yakinkan, kamu nggak perlu khawatir. Pikirin diri kamu sendiri. Setelah ini, mau ngapain? Kerja di rumah Tristan, cari kerjaan lain, atau apa? Asal jangan jual diri lagi."
Mishall menipiskan bibir mendengar jawaban Chandra. "Saya nggak punya keahlian khusus, Pak. Susah dapat kerjaan selain 'pelayan'."
"Padahal, kamu pinter loh."
__ADS_1
"Gunanya kepintaran itu buat apa, Pak? Apa ada kerjaan sekarang ini yang asal pinter aja?" balas Mishall. "Kalau kaya sih, enak."
"Ya ... harus cari sendiri. Kamu itu bukannya nggak bisa dapat kerjaan. Kamu terlalu batasi diri dengan fokus nyari kerjaan mudah yang bayarannya melimpah. Padahal, kerjaan banyak kok. Buka usaha jualan apa gitu misalnya. Buka jasa apa gitu, kayak guru les buat anak kecil gitu—bisa juga. Apalagi kamu ... ehm, lumayan cantik ... kenapa nggak nyoba jadi model? Tipe kamu ini pastinya banyak yang nyari."
Mishall tidak fokus dengan panjangnya penjelasan Chandra. Hanya menanamkan dua kata dalam memori otaknya, bahwa Chandra menyebutnya 'lumayan cantik', dan meski sudah mendapatkan pujian seperti itu dari banyak pria ... Mishall malah merasakan keistimewaan sendiri karena Chandra yang mengatakan itu.
"Pak Chandra ... mau bantuin saya?"
Pria itu langsung tersenyum puas. "Tentu. Mau kerja apa? Soalnya saya juga nggak bisa biarin kamu kerja sama Tristan. Mau bawa kamu ke Arfan, saya udah nggak percaya sama dia."
"Pak Chandra maunya saya jadi apa?"
Mendengar itu, Chandra langsung tertegun. Pertama kalinya ... perempuan ini mengatakan hal itu: menanyakan pendapat Chandra. Padahal sebelumnya, harus pria itu yang memaksa agar Mishall memilih pekerjaan baik-baik.
Sepertinya, usaha Chandra selama ini tidak berakhir sia-sia.
...***...
Barang terakhir sudah diletakkan Chandra di dalam kontrakan Mishall. Saat perempuan di depannya sibuk mengatur barang yang baru saja dimigrasikan dari rumah Mishall, Chandra malah bergeming menatap perempuan itu.
"Nggak nyesel tinggal di sini?" tanya Chandra.
Mishall yang berada dalam posisi membungkuk membawa rambutnya ke belakang telinga agar bisa melihat pria itu secara jelas.
"Nggak, Pak, kenapa?" Mishall balas bertanya.
"Ibu kamu tinggal sendirian di rumah kamu," kata Chandra.
"Biarin aja, Pak. Ibu saya aja nggak nelpon apa pun seharian tadi. Saya sempet khawatir sama dia, tapi setelah tahu dia baik-baik aja di rumah, saya sekarang bodo amat. Nanti dia bakalan urusin diri sendiri." Mishall menjawab tidak acuh. Ia berusaha mengangkat sebuah tas besar, tetapi gagal. Chandra bergegas mengambil alih, membawanya ke sudut yang ditunjuk Mishall.
"Mau beli lemari?" Chandra menawarkan. Semua barang sudah dibawa menepi, tetapi tidak bisa dikatakan rapi sepenuhnya.
"Nggak usah, Pak. Ini udah lebih dari cukup," kata Mishall. "Saya juga pemales. Terserah aja lah bentuk ruangannya mau kayak gimana."
"Kalau butuh sesuatu, kabarin aja, oke?" Chandra memberi tawaran lain. Merasa belum cukup, ia merogoh saku celananya untuk mengeluarkan dompet di sana, kemudian dapatkan kartu debit, dipindahkan ke telapak tangan Mishall. "Pake aja, sampai kamu dapat gaji dari tempat kerja kamu nanti."
"Pak Chandra gimana?" Mishall balik bertanya. Ia memaksa telapak tangan Chandra terbuka agar bisa mengembalikan kartu, tetapi pria itu lebih kuat mengepalkan tangan. "Nggak usah, Pak. Saya masih punya bayaran dari Pak Arfan yang belum keambil. Sama Pak Tristan juga masih ada. Nanti saya resign dari Pak Tristan kalau udah dapat kerjaan baru."
"Nggak," tolak Chandra tegas. Hanya sekali tarik, tangannya sudah lepas dari cengkeraman Mishall. "Kamu keluar dari rumah Tristan hari ini juga! Saya masih punya uang cash, buat keperluan saya yang nggak banyak."
"Tapi, Pak ... saya nggak suka ngutang!" balas Mishall tegas. Beberapa kerutan tercetak jelas di keningnya, memperjelas apa yang ia katakan. "Saya paling benci ngutang karena ... selalu bayarannya selalu tinggi dari yang saya utangin."
"Saya nggak gitu, kok. Jangan anggap utang. Itu ambil aja."
"Nggak bisa!" Mishall balas semakin tegas. Bahkan mengentakkan kakinya di lantai. "Saya ... nggak suka dikasihani kayak gini. Saya nggak suka disedekahin!"
"Nggak gitu, Mishall ...."
"Nggak suka, Pak!" Mishall meraih paksa tangan Chandra, tetapi sekali lagi, pria itu mengelak.
"Oke ... oke!" Chandra mundur demi bisa menghindar sedikit dari perempuan di depannya ini. Ia kalah dari keras kepala Mishall, jadi, pria itu mencoba mencari alternatif lain. "Kamu bisa pakai berapa pun dari situ ... yang menurut kamu sesuai buat bayaran kamu, untuk ...." Chandra berdeham pelan ketika ia salah tingkah, "yang semalam. Ambil sesuai bayaran kamu untuk apa yang kamu kasih ke saya yang semalam, dan ... yang tadi pagi juga."
Mishall langsung diam. Sementara Chandra semakin bingung bersikap.
"Seharusnya ... itu gratis buat Pak Chandra. Tapi ... oke deh. Saya ambil dua juta buat yang kemarin malam sama yang tadi pagi," kata Mishall lirih. "Kalau gitu ...." Mishall mengambil sebuah langkah lebar hingga ujung sepatunya bertemu dengan sepatu milik Chandra. Sedikit berjinjit, menelengkan sedikit kepalanya, lalu memejam ketika bibirnya sudah menempel pas di bibir Chandra. Tidak memberikan kesempatan pada Chandra untuk mencerna apa yang terjadi, Mishall sudah menurunkan kedua kakinya di lantai. Tersenyum puas melihat gurunya mematung di tempat. ".... Bonus buat Pak Chandra. Makasih ... buat bantuannya selama ini."
"Kamu ... jangan godain saya lagi!" ucap Chandra tegas setelah ia tersadar beberapa menit kemudian.
Sama sekali tidak tersinggung, Mishall malah menunjukkan senyumnya. "Kalau Pak Chandra mau coba di kasur tipis saya—"
"Gila kamu!" maki Chandra kesal. "Saya pulang!"
Mishall terkikik setelah Chandra membanting pintu kontrakannya dengan kasar. Senyumnya masih bertahan hingga mobil yang pria bawa itu telah menjauh dari area kontrakan. Segera, kedua sudut bibirnya mengerut menghilangkan sebuah jejak kebahagiaan beberapa saat yang lalu.
...Dari angka 1 - 10, berapa nilai yang bakalan kamu kasih untuk bab ini? Beritahu aku di kolom komentar📌...
...Oh ya, akan ada banyak lagi cerita seru di akun @Es Pucil , follow supaya nggak ketinggalan info! ...
...***...
...Mari kenalan :...
...Instagram : es.pucil...
...Facebook : Es Pucil III ...
__ADS_1
...🔺🔺🔺...
...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku....