Siswiku Canduku

Siswiku Canduku
Bab 19


__ADS_3

Jika kemarin-kemarin ibu Mishall bisa memaklumi keberadaan Chandra di hari sekolah, maka di hari minggu ini, dia tidak bisa menyembunyikan raut tidak nyamannya sejak Chandra turun dari motor.


"Hari minggu, masih harus awasi Mishall, Pak Chandra?" tanya perempuan itu, bahkan mengabaikan sapaan dari Chandra.


Chandra berhenti sebentar di teras rumah. Tersenyum memaklumi.


"Iya, Bu. Maaf sebelumnya, tapi ... Mishall memang sudah melampaui batas anak bawah umur. Saya harus pastikan bahwa dia tidak kembali lagi ke pekerjaan lamanya."


"Harus Pak Chandra langsung gitu, yang awasi?"


"Ibu bahkan tidak bisa melawan ucapan Mishall, bagaimana saya bisa berikan tugas ini ke Ibu?" balas Chandra, telak. Namun, ekspresinya tetap tenang dengan senyum di bibir.


Bukannya Chandra tidak tahu, perempuan itu sebetulnya ingin mempekerjakan Mishall agar bisa memenuhi kebutuhan mereka, tetapi tetap mempertahankan image ibu yang baik pada dirinya. Ck. Chandra mendadak merasa geram pada ibu seperti ini.


Perempuan itu jelas menunjukkan ketidaksukaan kentara atas ucapan Chandra, tetapi sudut bibirnya diangkat secara paksa.


"Silakan masuk, Pak." Ia mempersilakan, sembari duduk di kursi. "Seperti di rumah sendiri," lanjutnya dengan penuh penekanan seolah ingin menyinggung tindakan Chandra yang tanpa segan menjelajahi seisi rumah sebelum dipersilakan.


"Terima kasih." Chandra tidak mau terlalu peduli. Ia melangkah masuk, melewati pintu, dan langsung menuju pintu kamar Mishall untuk mengetuk beberapa kali.


Pintu terbuka, menampilkan Mishall yang mengenakan kaus dengan luaran berupa jaket denim biru tua, serta celana dengan bahan yang sama. Ada satu hal yang membuat Chandra sedikit terkejut. Rambutnya.


"Kok bisa cepet panjangnya?" tanya Chandra. Ia meraih sejumput rambut Mishall, untuk memastikannya. Padahal, kemarin masih pendek, karena rencananya, hari ini mereka akan ke salon untuk memperbaiki potongan rambutnya.


"Pak Tristan nggak suka rambut saya pendek." Mishall menepuk kasar tangan Chandra dari rambutnya. "Makanya, kemarin Pak Tristan ngajakin saya buat nyambung rambut."


Chandra mendengkus, tampak kesal. Tangannya berada di pinggang, untuk memperjelas kejengkelannya. "Jadi, kalau yang minta Tristan, kamu langsung penuhi gitu?"


Mishall mengangkat bahunya sekali. "Hm. Dia bos saya."


"Itulah kenapa, saya paling nggak suka kamu deket sama dia. Jangan sampai baper, dia itu playboy. Cuman mainin perempuan, terus buang. Dia nggak suka terikat sama siapa pun," ucap Chandra memberi peringatan. Ia tidak membutuhkan balasan berupa pengiyaan atau penolakan atas penjelasannya, dan langsung meraih tangan Mishall untuk digenggam lembut, ditarik keluar dari rumah.


"Kalian mau ke mana?" tanya ibu Mishall, dengan mata memicing curiga. "Bukannya tadi cuman mau ngawasi Mishall, Pak Chandra?"


"Saya perlu mencarikan dia kegiatan yang bermanfaat, supaya tidak kembali lagi ke pekerjaan lamanya."


"Harus seperti itu, Pak Chandra?" Perempuan tua itu semakin menantang, sembari melirik ke lengan Mishall yang masih digenggam Chandra.


"Harus seperti ini, kecuali Ibu sendiri yang mau dukung Mishall buat berubah? Tapi saya katakan dengan jelas, ngasih perintah, ngasih larangan saja—itu bukan mendukung namanya. Kalau usaha Ibu cuman dua hal itu, saya pun bisa lakukan di sekolah. Ibu harus bekerja, agar Mishall tidak jual diri lagi. Ibu harus memberikan dia hobi baru, harus mencarikan dia teman-teman yang baik, dan selalu teliti mengawasi ke mana pun dia pergi, dan dengan siapa saja. Bisa, Ibu?"


Tidak ada lagi balasan setelah Chandra memberikan penjelasan panjangnya, jadi ia pikir bahwa ibu Mishall sudah selesai membantah. Ia menyeret lembut tangan Mishall agar mengikuti langkahnya, menuju motor yang terparkir di halaman.


Chandra memberikan salah satu helm pada Mishall terlebih dahulu, baru memakai satu lagi untuk dirinya sendiri. Motor dinyalakan, meninggalkan halaman rumah Mishall.


...***...


Setelah Mishall berdiri dari kursinya sejak setengah jam yang lalu demi merapikan potongan rambut yang kemarin, Chandra juga ikut berdiri dari bangku tunggunya. Ia mengulurkan tangan, yang segera perempuan itu raih.


"Begini bagus, kamu kelihatan beda." Chandra setengah memuji. "Kalau misalnya Tristan masih ngotot suka kamu yang pake rambut panjang, kamu bisa pake lagi itu, rambut sambung kamu. Tapi, kalau keseharian, kayak gini aja, ya? Biar kalau nggak sengaja ketemu Shila, kamu nggak terlalu cepat dia kenali."


"Oke, Pak."


"Selanjutnya, kamu mau ke mana?"


"Emang Pak Chandra nggak bakalan dicariin sama istri Bapak?"


"Nggak. Dia lagi ke rumah temen papanya. Kemungkinan, pulangnya malam."


Mishall mengangguk, dengan sedikit menunduk untuk meninggalkan wajah Chandra. Tatapnya menerawang, mengarah ke depan.


"Kok ... aku kayak selingkuhannya Pak Chandra?"


Chandra mendengkus terlebih dahulu mendengar itu. Mereka sudah keluar dari area salon, hendak menuju parkiran di samping bangunan.


"Saya, sama tujuh turunan ke atas, nggak ada yang suka selingkuh, Mishall. Apalagi, Shila nggak kurang apa pun. Dia cantik, lebih daripada kamu. Langsing. Setia juga. Kenapa saya harus selingkuh? Bahkan, kalau memang saya harus selingkuh, saya nggak bakalan pilih anak di bawah umur kayak kamu." Dengan penuh rasa bangga, Chandra menjelaskan. "Omong-omong, kemarin kamu dua kali sok tahu masalah perasaan saya." Chandra berhenti melangkah karena sudah tiba di samping motornya. "Kenapa bisa kepikiran begitu?" tanyanya, menuntut. Jujur, ia sangat tidak nyaman dengan ucapan Mishall kemarin, saat di rumah sakit, dan yang di rumah Tristan.


Mishall mengangkat kedua bahunya, tidak acuh. "Cuman nebak aja. Soalnya istri Bapak gila, kenapa masih bertahan?"


"Kalau kamu jatuh cinta nanti, kamu bakalan nggak peduli sama keadaan buruk orang yang kamu cintai," jawab Chandra. Ia terlebih dahulu naik ke motornya, sebelum mengajukan pertanyaan. "Mau ke mall? Saya traktir."

__ADS_1


"Ayo, Pak!" Mishall begitu antusias naik ke motor, dengan senyum lebarnya.


"Tapi ada syarat dan ketentuannya," ucap Chandra. "Saya cuman bayarin kalau kamu beli buku, itu pun bukunya harus tentang siksa kubur."


"Pak Chandra pernah ditinju murid, nggak?"


"Belum, tapi kamu—"


Tinju Mishall sudah mendarat di punggung Chandra sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya. Bukannya marah, pria itu malah terbahak ringan, lalu melanjutkan bicaranya.


"—Bakalan jadi murid pertama yang pukul saya."


"Ketemu Pak Chandra aja udah jadi siksa dunia buat saya. Nggak usah ditambah baca-baca siksa kubur lagi," balas Mishall.


"Masa, sih?" Chandra meragu, tetapi ia tidak butuh jawaban Mishall. "Ke gramed, abis itu makan siang, ya?"


Chandra memberikan penawaran, tetapi ia bahkan tidak mau mendengarkan saran dari Mishall. Setelah Mishall mengenakan helm, motor langsung bergerak meninggalkan pekarangan salon.


...***...


Chandra tampak kesulitan memilih buku. Jemarinya mengabsen judul-judul sampul buku, tetapi hanya sekadar menyentuhnya, kemudian berpindah ke rak lain. Sementara Mishall, memilih secara asal, lalu dibawa ke mana pun Chandra pergi.


"Pak Chandra nyari buku apa?" tanya Mishall. Ia memposisikan diri menghadap ke rak, sembari sesekali mencuri pandang pada gurunya itu. "Siksa kubur beneran, ya?"


"Kamu sendiri yang nyari siksa kuburnya," jawab Chandra. "Itu buku buat kamu. Saya cuman mau nambah-nambah koleksi bukunya Shila, tapi ... kayaknya hampir semua buku yang sesuai sama dia, sudah ada di perpustakaan."


"Pak Chandra ... tergila-gila banget ya, sama istri Bapak? Emang kelebihannya apa?"


"Serius, kamu tanya itu lagi, Mishall? Yang tadi, belum cukup penjelasan saya?" Chandra melirik sebentar pada perempuan itu. Ia menarik sebuah buku untuk ia baca sekilas, lalu menarik lagi satu untuk dibandingkan isinya. "Shila cerdas, walaupun susah kontrol emosinya. Dia cantik, dan saya hampir nggak pernah nemu perempuan lebih cantik daripada dia. Dia peduli, walaupun kelihatan galak. Dia sempurna."


"Tapi gila," ucap Mishall, yang sama seperti sebelumnya ketika di area salon; tidak suka ketika Chandra memuji istrinya. Namun, perempuan ini sendiri yang terus memancing.


Chandra menghadap Mishall secara sempurna, dengan wajah malas kentara. Perempuan itu segera mengangkat buku di tangannya untuk menyembunyikan setengah wajahnya, dengan harapan bisa terhindar dari amukan pria itu.


"Udah ada bukunya? Ayo, makan siang!" ajak Chandra, seolah tidak memedulikan sikap Mishall tadi. Ia mengambil sebuah novel, lalu membawanya pergi bersama. Mendahului Mishall. Mereka membayar buku, lalu meninggalkan tempat tersebut, menuju restoran.


"Tapi, Pak," kata Mishall, ketika ia berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Chandra. "Munafik banget kalau menurut Bapak nggak ada yang lebih cantik dari istri Bapak? Mukanya biasa aja tuh. Sekarang tuh, banyak cewek-cewek blasteran yang cakep banget—"


"Ya ... nggak cuman saya yang blasteran, Pak."


"Tapi perempuan blasteran yang saya kenal cuman kamu."


"Ya tapi ... anu—"


Chandra mengibaskan tangannya sekilas, seolah ingin meninggalkan obrolan barusan. "Mau makan apa? Saya traktir, tapi saya juga yang pesenin, biar kamu nggak pesen yang mahal-mahal."


"Niat nanya nggak, sih, Pak?"


"Kamu sebagai manusia yang ditraktir, kenapa nggak ada sadar dirinya? Gaji saya di bawah kamu. Jangan ngelunjak! Ayo!"


Chandra menarik tangan Mishall dengan mudah tanpa perlu berbalik untuk mengetahui posisi perempuan itu. Segera menyeret, mengikuti langkahnya.


Pria itu benar-benar yang memesankan makanan, sementara Mishall hanya perlu duduk diam memperhatikan sekitar. Sedikit keresahan muncul di wajahnya, lalu menunduk untuk mengeluarkan ponsel dari tas.


"Kenapa?" tanya Chandra setelah datang. Ia duduk berseberangan dengan Mishall, menyandarkan punggungnya dengan nyaman pada kursi.


"Nggak. Cuman ...." Mishall menggantung ucapannya, sembari memutar-mutar ponselnya. "Bentar lagi, rilis ponsel merek ini, tapi ... uang aku belum cukup."


"Cuman gara-gara itu?"


"Cuman gara-gara itu?" Mishall meniru ucapan Chandra dengan nada malas. "Ya iyalah, Pak. Image saya bisa rusak kalau ketinggalan tren!"


"Oke. Saya punya solusi buat masalah kamu itu." Chandra memajukan tubuhnya, dengan lengan berada di atas meja. Tatapnya begitu serius pada Mishall, memancing perempuan di depannya untuk melakukan hal yang sama.


"Apa, Pak?"


"Saya bakalan ... ajari kamu supaya bisa terbiasa hidup miskin!"


"Pak ...."

__ADS_1


"Udah, nggak usah protes." Chandra mengibaskan tangan depan wajahnya. "Ini gratis, kok. Saya ajarin kamu buat hidup hemat, disiplin, dan punya karakter yang ... mahal." Chandra menutup ucapannya dengan senyum manis, meyakinkan.


"Kayak ... sia-sia yang terakhir, Pak. Gimana pun saya ke depannya, nggak bisa nutup diri saya yang kemarin. Saya udah nggak perawan, saya—"


"Sst!" Chandra mendesis pelan, yang sialnya bisa didengar oleh telinga sensitif Mishall di saat mereka berada di keramaian, dan itu langsung menghipnotis Mishall agar tidak berkedip ketika melihat pria di depannya. "Sia-sia kalau kamu nggak mau berubah. Kalau kamu berubah jadi lebih baik ... kamu bisa jadi berharga. Please ... selaput dara cuman kulit tipis perempuan. Walaupun ya ... itu juga masuk bukti penjagaan si perempuan pada dirinya sendiri, tapi ... nggak masalah. Yang bikin masa depan cerah itu karakter, bukan selaput dara. Apalagi pernikahan nantinya. Mau kamu perawan atau enggak, tapi karakter kamu buruk ... tetep aja ditinggalin."


"Pak ...." Mishall entah mendengar atau tidak nasehat gurunya, karena ia benar-benar tidak berkedip untuk membasahi mata sendunya saat ini. "Pak Chandra punya duplikat di dunia ini?"


Chandra menipiskan senyumnya. "Nggak harus duplikat saya. Masih banyak kok, laki-laki yang nerima perempuan karena karakternya, dan bisa mengabaikan masa lalu si perempuan."


Mishall masih terjebak pada perasaannya, sampai pelayan datang untuk mengantarkan makanan pesanan Chandra; dua piring pasta, dan dua gelas lemon tea.


"Kamu nggak keberatan sama makanannya, kan?"


Mishall tidak menjawab saat ia menunduk menarik sedikit piring ke depannya. Hanya perlu menggeleng, agar Chandra tidak merasa bersalah.


"Yakin?" Chandra penasaran, karena mendadak saja, sifat aktif Mishall menghilang. Ia bahkan harus merendahkan wajahnya agar bisa melihat ekspresi perempuan itu.


"Saya suka kok," jawab Mishall pada akhirnya.


Chandra mulai melahap makanannya, sementara Mishall masih memutar-mutar garpu di atas piring. Kadang mengangkat garpu, hanya melihat tekstur pasta di depannya. Ia meneguk ludah secara kasar, lalu menurunkan garpu agar bisa melihat Chandra tanpa penghalang.


"Pak Chandra nanti anterin aku pulang, kan?"


Chandra mengangguk.


"Mau mampir sebentar, nggak?"


Pria itu menatap aneh, ditunjukkan dengan matanya yang sedikit menyipit bingung. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menunggu Mishall melanjutkan ucapannya.


Perempuan itu tersenyum—mengerikan di mata Chandra, yang membuat Chandra harus memundurkan punggungnya hingga menempel pada kursi.  Tingkat kewaspadaan Chandra kian meningkat ketika Mishall melanjutkan ucapannya.


"Ramyeon meokgo gallae?"


Buku dari meja segera mengenai kepala Mishall, membuat perempuan itu mengaduh kesakitan, sementara pelaku kekerasan: Chandra, tampak tidak merasa bersalah.


"Baru juga! Baru juga saya ngasih nasehat! Baru juga, Mishall! Kita belum ninggalin kursi, kamu udah kumat lagi!" bentak Chandra, dengan suara ditekan agar tidak memancing perhatian orang-orang. Sementara itu, tangannya mengepal—gemetar, dan kakinya bergoyang cepat.


"Ya ... mana saya tau Pak Chandra tau artinya."


"Udah, makan! Abis itu pulang. Kamu tidur siang, atau cuci baju. Besok sekolah." Chandra segera mengalihkan obrolan. Ia memaksa keadaan kembali ke seperti sebelumnya.


Walau, itu sulit. Chandra kesulitan memungkiri ... bahwa ia gemetar karena maksud perempuan di depannya ini.


...Mishall yang iseng nanya👇...



...Pak Chandra yang berusaha diraih👇...



...Hai, ini Es Pucil!...


...Aku boleh baca pendapatmu mengenai bab ini? ...


...Jangan lupa berikan komentar/ulasan ya❤️...


...Itu sangat mendukung aku untuk semakin semangat update bab baru. ...


...Ada kesalahan, typo, dan lainnya? Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau membantu melaporkannya. ...


...***...


...Mari kenalan :...


...Instagram : es.pucil...


...Facebook : Es Pucil III ...

__ADS_1


...🔺🔺🔺...


...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku. ...


__ADS_2