
Saat waktu pulang sekolah tiba, Chandra lebih buru-buru memasukkan beberapa buku ke dalam tas laptopnya. Di luar, mobil Shila sudah terparkir, dan membiarkan perempuan itu menunggu adalah salah satu dosa besar yang sebaiknya Chandra hindari sebelum mendapat amukan dari sang istri. Bahkan, lembaran-lembaran kertas yang tidak sempat ia masukkan, langsung dibawa begitu saja oleh Chandra. Meski resleting tasnya belum sepenuhnya tertutup. Atau, meski ia disapa dan diajak bicara oleh sesama rekan guru.
Tidak bisa. Chandra tidak boleh membuang lebih banyak waktunya untuk hal yang bisa membuat Shila menunggu lebih lama. Ia bahkan ingin berlari agar bisa segera menghampiri sang istri, tetapi tuntutan sebagai guru berkharisma mencegahnya untuk melakukan itu. Sebagai gantinya, tiap-tiap langkah yang Chandra ambil begitu lebar dan terbilang cepat dibandingkan rerata manusia. Sesekali pula, ia melirik jam tangan, memastikan bahwa masih ada tiga menit sebelum Shila benar-benar mengamuk.
Pria itu akhirnya sampai di samping body mobil yang terbuka pintunya. Sebelum masuk, ekor mata Chandra menangkap sosok—memancingnya menoleh yang kurang dua detik agar tidak menarik perhatian Shila. Chandra hanya ingin memastikan bahwa siswi khususnya itu baik-baik saja.
Dan, memang begitu keadaannya. Mishall baik-baik saja. Perasaan Chandra saja yang berlebihan karena sikap dingin Mishall tadi.
Pria itu lalu menyelipkan tubuhnya di kursi belakang mobil. Supir yang sedari tadi menunggu di luar, menutup pintu dengan hati-hati, lalu memutari mobil agar sampai di bagian kemudi. Mobil bergerak.
“Kayaknya, besok-besok kamu nggak usah antar-jemput lagi, Shila.”
Pembuka obrolan itu sontak memancing mata perempuan yang sibuk pada layar tablet itu memicing tajam.
“Pertama, kamu terbebani karena harus berangkat-pulang di luar jadwal kamu. Kedua, saya biasanya pulang telat karena harus mengurus beberapa masalah. Misalnya, berbicara dengan beberapa siswa-siswi yang kebetulan siangnya selalu sibuk. Jadi ....”
Shilla menurunkan kacamata ovalnya yang semula bertengger di hidung mancung sempurnanya. Meletakkan benda seharga 5 jutaan itu di dalam kotak, sebelum mendarat di tas merk Dior miliknya.
“Pertama,” Shila menjawab dengan suara anggunnya yang entah mengapa terasa mencekik Chandra. “Aku sama sekali nggak terbebani. Aku berangkat ke kantor juga cuman melakukan observasi, nggak kerja kayak orang lain. Jadi ... santai. Kedua, aku nggak pernah minta kamu buru-buru, anyway.”
Aku nggak pernah minta kamu buru-buru.
Chandra menurunkan volume decakan lidahnya akibat jawaban sang istri. Beruntung, Shila masih sibuk dengan iPad di tangannya sehingga tidak memedulikan ekspresi sang suami.
Shila memang tidak pernah meminta untuk buru-buru, tetapi perempuan itu akan langsung menyindir setajam-tajamnya ketika ada orang lain yang membuatnya menunggu lebih dari 10 menit.
“Om Ergan mau mengadakan acara pekan depan. Kamu ikut?”
Shila yang masih menunduk, mengeluarkan sebuah pertanyaan yang Chandra tangkap malah berupa perintah. Sama seperti sebelumnya. Cara perempuan ini bicara selayaknya meminta persetujuan, tetapi ketika ada yang menolaknya, dia akan mengamuk.
__ADS_1
Jadi, pasrah saja.
“Boleh. Aku juga lagi free pekan depan,” jawab Chandra.
“Okey.” Shila meninggalkan data-data yang ditampilan di layar iPad-nya, berpindah ke aplikasi perpesanan untuk memberitahu salah satu bawahan kepercayaannya yang akan membuat acara tersebut.
“Kamu mau makan sesuatu? aku sudah pesan ayam bakar bumbu rujak kesukaan kamu. Tapi, manatau kamu mau makan sesuatu?” tanya Shila, lagi.
“Nggak. Udah cukup.” Chandra menjawab seadanya, dan ingin segera mengakhiri obrolan dengan melihat ke luar.
Puluhan menit berikutnya, sampai mereka di depan gerbang rumah, ketika mobil akan berbelok, bisik-bisik tetangga dari rumah sebelah terdengar. Shila yang awalnya nyaris tidak pernah meninggalkan layar iPad, cukup terusik dengan sindiran tiga ibu-ibu yang berada di depan rumah Shila.
“Kasihan, ya, Pak Chandra? Udah ngurus istrinya yang gila, dijadiin babu lagi.”
Bukan hanya Shila yang tersinggung atas ucapan itu, Chandra juga ikutan panik. Jangan sampai, perempuan ini malah melampiaskan kekesalannya pada Chandra saat masuk rumah nanti.
“Berhenti sebentar, Anwar!” pinta Shila, tanpa peduli jika posisi mobil sedang memotong jalan, dan beberapa kendaraan roda dua beberapa kali melewati mereka. “Nanti kamu tolong, catat berapa rumah di kompleks ini. Sogok siapapun itu, supaya semua ... rumah di kompleks ini bisa saya beli! Saya alergi dengan gosip tidak berbobot dari manusia-manusia bodoh yang sekolah hanya untuk dapat kertas ijazah saja.”
Sementara, sambutan cibiran dari tetangga semakin bertambah. Chandra bingung harus melakukan apa, karena membujuk sang istri dalam keadaan panas seperti ini sama saja bunuh diri. Namun, membiarkan mereka terus saling adu sindiran, malah bisa berimbas buruk padanya nanti.
“Pak Anwar, tolong cepat masuk, ya! Saya sudah lapar!” Maka, inilah jalan yang dipilih oleh Chandra agar bisa mengurangi masalah nanti.
Mobil segera masuk ke pekarangan rumah, hingga tiba di depan teras. Chandra lebih dahulu turun, memberikan isyarat pada Anwar agar tidak perlu membukakan pintu untuk istrinya. Dia berinisiatif untuk memperlakukan Shila lebih manis sekarang. Setelah sang istri turun, dan melangkah hendak memasuki rumah, Chandra memberikan isyarat pada si supir agar ke garasi secepat mungkin, dan jangan mendekati rumah sebelum keadaan aman.
Istrinya akan meledak.
Terbukti dari bagaimana perempuan ini mengepalkan tangan erat seolah menggenggam bom waktu, yang ketika terbuka, habis semuanya.
Dan, terjadi. Tepat setelah pintu Chandra tutup kembali. Sebelum pria itu berbalik, suara benda berjatuhan dari salah satu meja sudut ruangan terdengar nyaring. Belum cukup, Shila menggeram seperti harimau secara beruntun. Memaki-maki dengan segala kalimat kasar yang ia pelajari dari orang tuanya. Menghampiri setiap barang yang semula rapi, untuk ia banting dengan keras di lantai sebagai emosi yang coba perempuan itu buang.
__ADS_1
Chandra hanya bisa diam membeku di dekat pintu, memperhatikan perempuan itu terus mengeluarkan kekesalannya, setidaknya sampai tenaganya terkuras habis. Barulah, Chandra bisa bergerak maju. Itu membutuhkan setidaknya nyaris satu jam, sampai Shila terduduk lemas dan kepala tertunduk dalam di sudut ruangan. Pandangannya kosong mengarah ke ubin putih, dengan mata yang terus berkaca-kaca, tetapi tidak ada yang berhasil jatuh.
Dengan diawali sebuah tarikan napas panjang, lalu diembuskan secara pelan, Chandra memberanikan diri untuk mendekati sang istri. Tidak mengatakan apa pun, atau memberikan respons apa pun, selain berlutut untuk memudahkannya memeluk Shila.
Chandra merasakan kerapuhan dari perempuan ini, seperti ia pertama kali mengenalnya di salah satu taman setelah mendapat ejekan orang gila dari semua orang yang berpapasan dengan Shila.
Perempuan ini rapuh, yang berusaha Shila sembunyikan dengan segala kegalakan dan sikap dinginnya.
Perempuan ini rapuh, yang baru saja menemukan sebatang kayu untuk menopangnya, lalu Chandra patahkan kemarin.
Perempuan ini sangat rapuh, dan Chandra nyaris melupakan perasaannya karena terlalu sibuk dengan urusan sekolah—yang terkhusus pada si siswi istimewa.
Meski serapuh itu, Shila mungkin menjadi perempuan terkuat yang pernah Chandra temui. Sekalipun. Sekalipun, siapa pun tidak akan pernah menemukan perempuan ini mengeluh atas hidupnya. Tidak akan mendengar perempuan ini pernah memarahi Tuhan atas takdirnya.
Shila menerimanya, meski dengan kedua tangan lemah yang selalunya gemetar tanpa bisa dikendalikan.
Chandra tidak bisa memberikan bantuan pada perempuan yang sempurna secara finansial ini, kecuali sebuah pelukan. Karena, Shila nyaris tidak pernah merasakannya dari orang lain.
Maka, Chandra membiarkan menit-menitnya berlalu begitu saja dengan istrinya dalam dekapan. Membiarkan perutnya berbunyi karena lapar, demi meluluhkan semua kemarahan Shila. Menepuk-nepuk punggung Shila, dengan harapan perempuan ini mengerti, Chandra akan selalu di sampingnya.
Walau kemarin sempat tersesat pada siswinya.
...***...
...Rashila Ghana...
...Chandramawa Ahtar...
__ADS_1