
Chandra sedang—dipaksa—tidur siang ketika sebuah suara asing menginterupsinya. Membuka mata, ia melihat Shila yang duduk di sampingnya, turut menoleh ke arah pintu, di mana seorang perempuan tambun dengan setelan batik, serta jilbab cokelat masuk. Wakil kepala sekolah datang menjenguk, dengan senyum canggungnya.
"Permisi, Bu Shila, Pak Chandra. Izin menjenguk ...." Perempuan itu belum dipersilakan masuk, tetapi sudah menyelipkan tubuhnya di celah pintu yang dibuka lebar.
Di belakang si perempuan, disusul lima siswa-siswi, yang salah satunya langsung membuat Chandra mengambil posisi duduk—tegang—sembari meneguk ludah secara kasar. Ia melirik cemas pada Shila yang sama sekali tidak beranjak dari tempatnya duduk, malah memeriksa setiap tamu yang datang.
Dan perempuan yang menjadi sumber ketakutan Chandra itu mengerti. Beruntung, rambut panjangnya bisa membatasi pandangan Shila, sehingga ia bisa langsung mengenakan masker, serta berlindung di sisi tubuh Aksa yang tinggi.
"Pak Chandra apa kabar? Duh ... semoga cepet sembuh, ya? Ini kenapa bisa ketusuk pisau? Aduh ... kena begal, ya, Pak? Ck ... ck. Parah memang jaman sekarang tukang begal ya, Pak?" Lastri—si wakil kepala sekolah bertanya secara beruntun, kemudian menoleh pada siswa-siswinya. "Ini nih, anak-anak, ya! Kalian jangan sembarang keluyuran malam-malam! Apalagi yang perempuan ... ini, Mishall! Sering keluyuran, tiap malam, 'kan? Makanya sering datang telat! Waspada kalian semua! Begal makin bahaya sekarang!"
Huh. Chandra membuang pandangan ke arah lain, ketika Lastri membahas Mishall, yang membuat semua pandangan mengarah padanya. Perempuan itu segera menunduk dalam, memanfaatkan rambutnya untuk terurai ke depan demi bersembunyi dari tatap lurus Shila.
"Kamu!"
Suasana mendadak tegang ketika telunjuk lentik Shila mengarah lurus pada Mishall. Seluruh orang—terutama Chandra, langsung menanti tindakan Shila yang sigap berdiri dark kursinya. Chandra bingung harus menahan bagaimana, agar Shila tidak terlalu mencari tahu mengenai Mishall, tetapi ... sikapnya pasti akan dipertanyakan.
"Kamu keluar!" pinta Shila. "Bawa virus. Saya alergi sama orang penyakitan seperti kamu."
Napas Chandra sontak berembus lega. Ia melirik pada Mishall yang masih membulatkan mata—efek terkejut—ketika Lastri sudah mendorongnya keluar.
"Kamu pulang duluan ya, Mishall? Kamu juga 'kan nggak ada urusan sama Pak Chandra. Lagian, Pak Chandra yang lagi lemah ini, rentan terinfeksi virus kalau kamu ada di sini." Lastri terus mendorong, karena Mishall masih enggan beranjak. Bahkan, menambah tenaganya ketika ia tersenyum pada Shila, seolah ingin menunjukkan segenap kemampuan terbaiknya.
Setelah berhasil menyingkirkan Mishall, Lastri datang lagi ke posisinya semula, di samping tempat tidur Chandra.
"Pak Chandra udah baikan?" tanya Lastri.
Meski masih memikirkan Mishall dan ancaman buruk yang ia bawa, Chandra tetap menampilkan ekspresi tenang di wajahnya. Apalagi ketika Shila sudah kembali duduk, dan menyibukkan diri dengan ponselnya.
"Sudah, Bu. Tinggal pemulihan aja ini," jawab Chandra. Ia memanfaatkan keadaan ketika semua orang lengah, untuk melirik ke arah pintu kaca yang gordennya terbuka.
Mishall masih berdiri di sana, menatap dalam pada Chandra, entah untuk maksud apa. Bahkan, meski Chandra sudah menggelengkan kepalanya ringan, sebagai isyarat agar ia segera menyingkir dari sana.
Perempuan itu menunjuk Shila, kemudian menunjuk perut Chandra, sebagai isyarat 'apa istri Bapak yang baru begal Pak Chandra?'
Chandra tenang, mengangguk kecil. Sehingga Mishall segera menurunkan tangannya yang semula menunjuk ke dalam ruangan. Ia menunduk, kemudian menyingkir dari depan pintu.
__ADS_1
Sekarang, Chandra bisa bernapas lega. Hanya perlu memperbanyak stok sabar menghadapi pertanyaan Lastri, serta beberapa ucapan penyemangat dari Aksa, dan dua siswa lainnya.
Setelah pengunjung itu pergi, Shila juga secara otomatis memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia mendesah berat, menunjukkan lelahnya secara kentara.
"Kamu capek?" tanya Chandra. Ia mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Shila, bersama senyum terbaik yang ia tampilkan pada sang istri. "Pulang, ya? Istirahat. Besok bisa datang ke sini lagi."
Shila diam sebentar, melirik ke luar, entah mencari apa, kemudian mengarahkan tatapnya pada Chandra.
"Keadaan aku masih belum pulih, Sayang. Otot perut aku masih sakit kalau gerak dikit. Aku nggak bakalan bisa keluar dari sini. Lagian, suster sama dokter bakalan laporan ke kamu, kalau aku keluar dari sini." Chandra dengan sigap membaca kegelisahan Shila, sehingga perempuan itu mengangguk tenang.
"Aku balik lagi besok pagi, ya?" Shila menarik kedua sudut bibirnya. Ikut menyisir lembut rambut Chandra. Ia diam sebentar, menikmati sentuhan di jemarinya, sampai ia berdiri. Menarik tangan dari rambut Chandra, hanya untuk membuatnya sebagai penopang tubuh. Merunduk dalam, demi memberikan kecupan singkat di kening, dan bibir Chandra. "Cepat sembuh, oke?" bisiknya lirih.
Shila menegakkan punggung. Mengambil tas tangannya, kemudian pamit pergi. Perempuan dalam balutan dress selutut warna hitam itu terus menjadi objek pandangan Chandra, hingga ia menghilang dari pandangan.
Pria itu baru lega sepenuhnya. Ia menyempurnakan posisi duduknya, sembari membuka mulut demi menahan sakit di perutnya. Setelah merasa nyaman, ia mengambil ponselnya dari nakas, untuk memeriksa perpesanan. Beberapa pesan datang sebagai ucapan ikut prihatin atas apa yang menimpa Chandra, dan semuanya di-skip olehnya. Pria itu fokus pada satu kontak, yang tidak mengirim pesan apa pun.
Chandra baru saja mematikan layarnya, ketika pintu kembali terbuka. Tergesa, ia meletakkan ponsel ke atas nakas kemudian memperbaiki sikap ketika menengadah ke arah pintu. Beruntung, bukan istrinya yang datang lagi.
"Mishall?" panggil Chandra dengan suara ditekan.
"Shila sudah beneran pergi tadi?" tanyanya panik. Ia masih merasa terancam jika sang istri masih berada di sekitarnya.
Mishall dengan tenang mengangkat kedua bahunya tak acuh, sembari membuka masker. "Nggak tau, Pak. Nggak saya perhatiin."
"Mishall ...." Chandra memanggil lesu. "Kamu lihat sendiri keadaan saya. Ini karena semalam saya pulang telat. Cuma ... pulang ... telat! Kamu bisa tebak kalau Shila tahu kamu di sini? Hanya berdua dalam satu ruangan. Dia nggak bakalan pikir panjang buat bunuh kita berdua!" ucap Chandra serius, bersama pelototan matanya untuk memperjelas keadaan yang mengancam mereka.
Namun, perempuan di depannya malah terkikik geli. "Psycho." Ia mengomentari. "Terus, kenapa nikah sama dia, Pak? Hartanya, ya?" Mishall menjeda sejenak, tetapi langsung lanjut bicara ketika Chandra sudah membuka mulut. "Dia layak disebut ... brand berjalan, sih. Gila! Dari ujung kaki, bahkan ikat rambutnya ... semua bermerek."
"Saya cinta istri saya, Mishall." Chandra segera membantah. "Kalau cuman hartanya, saya bisa dengan mudah rusak dia melalui mentalnya, demi dapatkan semua hartanya."
"Tapi, yang saya lihat, Pak Chandra nggak kayak lagi sama orang yang Bapak cintai." Mishall menarik sudut bibirnya. "Mirip babu. Dikit-dikit takut istri ... istrinya semena-mena .... Gila tau, Pak! Kenapa nggak cerai aja? Pak Chandra bisa temukan perempuan yang lebih baik ... lebih manusiawi daripada istri Pak Chandra yang setengah waras itu."
"Apa saya terlalu kegeeran di sini? Kamu niatnya menawarkan diri?"
"Kegeeran banget, Pak!" balas Mishall. "Tapi emang iya." Dia terkikik geli yang malah memancing dengkusan Chandra.
__ADS_1
"Sekolah kamu saja nggak keurus, Mishall. Jangan mikir yang nikah-nikah dulu. Urusan nikah, bukan cuman masalah ranjang doang. Seumur hidup ... kamu harus bisa mengatasi masalah dengan seseorang yang bisa saja nggak sejalan sama pikiran kamu, dan ... itu nggak mudah."
"Bapak curhat?"
"Iya." Chandra mengiyakan dengan mudah. "Tapi saya nggak nyesel, karena memang ... saya sudah pertimbangkan hal ini, saya terima ... dan saya sekarang menghadapi konsekuensi dari pilihan saya."
Senyum Mishall hilang, ketika menyadari bahwa keseriusan gurunya benar-benar kentara sekarang. Ia mengulurkan jemarinya menyentuh perut Chandra yang tertutupi seragam pasien, kemudian melirik sang guru dengan tatap sama seriusnya.
"Pak Chandra tadi bilang ... kalau Pak Chandra beneran incar hartanya istri Bapak ... Pak Chandra bakalan bunuh dia melalui perusakan mental secara perlahan." Mishall sedikit menelengkan kepalanya ke samping, bersama sebuah senyum sinis. "Berhubungan dengan saya secara pribadi—walaupun hanya sebatas 'kemanusiaan' yang berlebihan—itu sama aja artinya Pak Chandra main api ... dan perlahan bunuh istri Bapak dengan merusak mentalnya." Mishall memindahkan tangannya ke lengan Chandra untuk memberikan usapan lembut, yang memancing bulu kuduk pria itu untuk berdiri. "Pak Chandra ... nggak cinta sama istri Bapak, 'kan?"
"KELUAR!"
Mishall tersenyum. Tampak senang hati memenuhi arahan dari sang guru.
...Hai, ini Es Pucil!...
...Aku boleh baca pendapatmu mengenai bab ini? ...
...Jangan lupa berikan komentar/ulasan ya❤️...
...Itu sangat mendukung aku untuk semakin semangat update bab baru. ...
...Ada kesalahan, typo, dan lainnya? Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau membantu melaporkannya. ...
...***...
...Mari kenalan :...
...Instagram : es.pucil...
...Facebook : Es Pucil III ...
...🔺🔺🔺...
__ADS_1
...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku. ...