Siswiku Canduku

Siswiku Canduku
Bab 29


__ADS_3

Chandra sangat kesulitan walau hanya sekadar mencapai ranjang pasien tempat sang istri berada. Semakin ia melangkah, pandangannya terasa kian menggelap. Sehingga ketika ia berhasil mencapai besi pembatas tempat tidur, pria itu menunduk dalam guna mengembalikan fokusnya. Namun, selalu gagal.


Semua hal yang ia lihat berputar. Sekarang, Chandra tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak khawatir pada diri sendiri. Mengenai ancaman bahwa otaknya mungkin sedikit bermasalah setelah perkelahian semalam, dan pasti itulah yang menyebabkan Chandra tidak bisa melihat dengan baik sekarang.


Pria itu sesekali menggelengkan kepala. Ia tidak bisa berpikir dengan baik, karena semakin lama, kondisinya kian memburuk. Chandra mengambil posisi jongkok, dengan kedua tangan masih berpegangan pada logam dingin pinggiran ranjang pasien.


"Kamu kenapa?"


Pertanyaan itu membuat Chandra langsung diam. Itu suara Shila, dan Chandra tidak bisa bersikap berlebihan sekarang. Cepat, Chandra langsung berdiri. Matanya benar-benar buram sekarang untuk mendeteksi apa yang istrinya lakukan. Hanya bisa menampilkan senyum, pada posisi yang Chandra yakini tempat bantal yang digunakan Shila menaruh kepala.


"Nggak papa. Cuman pusing dikit."


"Kurang tidur karena ... ngapelin pacar kamu ... hah?" tanya Shila dengan nada menuduh. Suaranya tidak bisa menutupi gemetar kentara. Ia langsung memalingkan wajah ke arah lain, sementara cengkeraman di logam bersudut tajam dalam genggamannya—hasil selundupan Tristan semalam—kian menguat.


"Aku semalaman penuh tidur di ruang rawat, Shila," jawab Chandra. Ia tetap mempertahankan senyumnya, berharap bahwa sang istri akan semakin luluh. "Kamu apa kabar hari ini?"


"Seperti kemarin," kata Shila dingin dengan suara penuh penegasan, yang Chandra tahu bahwa itu adalah usaha sang istri agar suaranya tidak lagi bergetar. "Masih mau bunuh kamu," lanjut Shila, "tapi ... nggak seru kalau kamu langsung mati."


"Kamu harus sembuh dulu buat lakuin itu." Chandra tanggapi dengan santai ancaman istrinya. Ia mengulurkan tangan hendak menyentuh wajah Shila, tetapi hanya ada kain lembut nan empuk di bawah telapak tangannya. Ketika Chandra meremas ingin mencari tahu, ia menyadari bahwa hanya ada bantal di atas tempat tidur. "Shila?" panggil Chandra, sembari menggerakkan tangannya ke arah lain hingga menabrak tubuh sang istri. Pria itu meraba, dan bisa membaca posisi Shila yang sekarang ini dalam kondisi duduk.


"Kamu buta, Chandra?" Shila bertanya, ketika tangan Chandra dibiarkan menyentuh seluruh tubuhnya. Ia awalnya melihat pergerakan dari tangan pria itu, lalu melirik suaminya dengan tajam. "Kenapa bisa? Luka kamu juga ... kelihatannya makin parah." Shila menyentuh pelipis, tulang pipi, serta kening Chandra secara bergantian, seolah mengabsen semua jejak merah di sana. Terutama di bagian kening suaminya, jemari Shila lepas kendali hingga gemetar tanpa diminta.


"Tadi malam ...." Chandra menunda sejenak ucapannya untuk menimbang apalah masalah kemarin harus ia katakan atau lebih baik bungkam. Mengingat bahwa Tristan sudah banyak membantu, serta sebagian besar rahasia Chandra diketahui sahabatnya itu. Namun, atas alasan ingin membuat sang istri waspada pada Tristan sehingga ia bisa membuat jarak, Chandra berpikir akan lebih baik jika mengatakannya. "Aku sama Tristan nyelesaiin masalah. Dia ... secara terang-terangan mengaku suka kamu. Aku jelas nggak bisa biarin dia ganggu kamu, jadi ... aku coba lawan dia, tapi karena kondisi fisik aku yang memang lagi turun, aku nggak bisa lawan dan akhirnya ... aku bangun di ruang rawat beberapa menit lalu."


"Tristan pengertian dan baik," kata Shila yang segera membuat Chandra melebarkan mata karena terkejut. Mengabaikan respons sang suami, Shila memilih bergeser agar bisa membuka laci nakas untuk memasukkan gunting kuku dengan bagian yang biasa digunakan untuk mengikis, tengah terbuka menunjukkan ujungnya yang tajam. Setelah menutup laci, Shila kembali fokus pada sang suami yang menuntut penjelasan. Perempuan itu lebih dulu membaringkan tubuh, kemudian menarik selimut. "Dia sudah cerita semuanya ke aku. Semuanya ... Chandra. Tanpa tersisa. Awalnya, dia nawarin buat wakili aku untuk bunuh kamu, tapi karena aku nggak bakalan merasa puas kalau diwakili, jadi ... dia nggak bakalan nyakiti kamu terlalu parah, dan ternyata ... Tristan beneran memenuhi janjinya. Kamu masih hidup, dalam kondisi payah ... yang gampang banget buat aku siksa."


Sekarang, Chandra mulai melangkah mundur.


"Tapi, Shila ... dia playboy ...."


"Dia siap melakukan perjanjian hubungan: kalau dia selingkuh, aku bebas ambil semua kekayaan dia. Semuanya, dan berhak membunuh dia tanpa pihak Tristan melakukan tuntutan apa pun. Dia tobat jadi playboy, asal aku terima dia. Dan ... Tristan jauh lebih meyakinkan daripada kamu, Chandra."


"Sayang ... aku juga bisa lakuin hal yang sama kayak Tristan. Aku ... aku bahkan datang kunjungi kamu di sini, dalam kondisi selemah apa pun tubuh aku. Aku ... sama sekali nggak masalah kalau misal kamu mau siksa aku lagi. Iya ... Shila?"


Perempuan itu menunjukkan senyum angkuh yang gemetar. Untuk sesaat, membiarkan kekhawatiran menghiasi ekspresi Chandra saat ini. Lalu, diawali sebuah decakan, Shila akhirnya membalas.


"Tunggu ... dan lihat nanti."


...***...

__ADS_1


Semuanya kian rumit, hingga membuat Chandra merasa benar-benar terjebak. Keadaan memaksanya untuk terlepas dari Shila, tetapi ... sejauh apa pun Chandra memikirkannya, ia tidak bisa memutus hubungan pernikahan ini begitu saja.


Tidak bisa.


Penglihatan Chandra berangsur membaik di sore harinya. Setelah pria itu memperbanyak waktu istirahat di sofa dalam ruang rawat Shila. Setelah pandangannya sudah kembali normal, pria itu malah sering beradu tatap dengan sang istri, dalam suasana yang tidak bersahabat sama sekali.


"Kamu nggak mau makan sesuatu, Shila?" Chandra memutuskan tatap permusuhan dari istrinya itu. "Ke luar ke halaman, yuk?" ajaknya.


Shila tidak menjawab. Perempuan itu mungkin akan dianggap patung oleh siapapun yang melihatnya, karena Shila hampir tidak pernah bergerak selama beberapa jam. Hanya karena perempuan itu bernapas dan mengedip setiap dua menit sekali, sehingga ia masih dianggap sebagai manusia.


"Nggak." Shila memalingkan wajah dari Chandra, mungkin karena jenuh. Ia mengusap rambutnya dengan penekanan kuat menggunakan kedua tangan yang terkepal kuat. Kepalan itu hampir tidak pernah luruh sebentar pun, sejak Shila mengubah posisinya menjadi berbaring beberapa jam yang lalu.


"Aku ambil kursi roda dulu ya, Sayang?" tanya Chandra, dan ia sama sekali tidak menunggu Shila menjawab. Langsung ke luar dari ruangan, dan muncul tidak lama kemudian dengan barang yang tadi ia sebutkan.


Chandra mengabaikan penolakan kecil dari Shila. Begitu lamcar menyusupkan tangannya di bawah punggung dan bawah lutut sang istri, kemudian dalam sekali gerak, tubuh ringan itu sudah ia angkat dipindahkan ke kursi roda. Chandra memaksakan senyum, padahal lengannya masih terasa sakit.


"Seharusnya kamu nggak maksa," kata Shila dingin. Ia tetap tidak menolak ketika Chandra memberikan infusnya. "Karena percuma saja, Chandra."


"Kamu mau dengar cerita versi lengkap dari aku, Shila?"


Perempuan itu melirik sebentar. Tampak tajam dengan ketidaktertarikan sama sekali. "Yakin cerita kamu bukan seputar 'editan' lagi?" tanya Shila, menantang.


Bahkan, ia hanya mengisi perut dengan beberapa roti sebelum ke rumah sakit kemarin. Meski demikian, Chandra sama sekali tidak mengeluh mengenai kondisinya. Tetap mendorong sang istri ke lift, agar bisa dibawa ke halaman.


Sayangnya, keramaian di tempat ini sulit membuat Shila merasa nyaman. Jadi, kursi roda didorong ke sudut halaman, di bawah sebuah pohon yang cukup jauh dari kerumunan orang kebanyakan.


Chandra memposisikan diri duduk di depan Shila. Berpegangan pada kedua lutut perempuan itu. Selain membuat tampilannya seperti penyembah istri, posisi ini ia gunakan sebagai bentuk jaga-jaga jika seandainya Shila menyerang mendadak.


"Oke ... salah aku memang karena bohong kemarin. Itu karena ... aku nggak tau solusi apa lagi supaya bisa lepas dari kesalahan itu, dan bisa menjalani pernikahan dengan tenang lagi sama kamu. Yang kemarin ... beneran kecelakaan, Sayang. Itu di luar kemauan aku," kata Chandra dengan tatap memelas. Meski Shila sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan, Chandra tidak banyak peduli. "Aku ceritain versi lengkapnya, tanpa ada satu pun yang aku sembunyikan. Kamu mau dengar?"


Shila tidak memberikan jawaban apa pun, dan Chandra memanfaatkan kebungkaman sang istri untuk bercerita. Semuanya ia ceritakan dengan baik. Alasan kenapa ia datang ke kelab, hingga berakhir meniduri perempuan yang esok harinya ia tahu adalah siswi sendiri. Lalu, beberapa riwayat hidup Mishall, serta penyebab mengapa Chandra mau peduli dengan perempuan itu.


"Kamu denger aku ngasih uang ke dia, itu nggak sepenuhnya bener, Shila. Aku emang ngasih dia uang kemarin, dengan niatan mau sewa dia sebulan, biar dia nggak tidur lagi sama pria lain—"


"Satu bulan?" Shila mengulang dua kata itu, dengan kepala sedikit teleng.


"Nggak jadi, Sayang. Dia nggak mau terima pemberian aku, dan balik lagi jual diri. Aku ... terpaksa nyariin dia kerjaan. Pertama sama Arfan, tapi nggak cocok. Terus jadi pelayan 'normal'nya Tristan."


Chandra kemudian menjelaskan perubahan baik dalam diri Mishall. "Aku beneran berniat lepas dari dia setelah dia beneran mandiri, dan nggak perlu jual diri lagi. Tinggal dikit lagi, Sayang, dikit aja lagi, tapi ... kamu malah lihat semuanya kemarin."

__ADS_1


Shila mengangguk-angguk kecil mendengar penjelasan Chandra, sehingga pria itu percaya diri mengambil kedua tangan kecil Shila untuk digenggam dalam kedua tangannya.


"Terus, di apartemen Tristan kemarin?" tanya Shila, yang segera membuat Chandra melotot.


Bagaimana istrinya tahu masalah di apartemen—Tristan! Dari awal, pasti Tristan yang menyebarkan video itu pada Shila, dan kemarin ia dipergoki sedang mencicipi tubuh Mishall—di luar kesengajaan.


"I—itu, aku ...."


"Kamu kelihatan menikmati, Chandra. Sangat menikmati ... sampai keberadaan Tristan yang merekam kalian, nggak kamu sadari sama sekali."


Rekam lagi? Sial!


Chandra sekarang membenci semua 'rekam' yang membuatnya dalam posisi terkutuk ini.


"Di tubuh ****** kamu, banyak lebamnya. Terlalu banyak ... sampai aku nggak bisa prediksi, sepanas apa malam yang sudah kalian lalui." Shila melanjutkan ucapannya, kali ini nada tegasnya dihiasi dengan gemetar yang sulit dielak. "Jadi ... kenapa nggak sekalian cerita proses percintaan kalian, Chandra?"


Pria itu kebingungan. Ia melirik ke kanan-kiri memcari alasan lain, tetapi otaknya yang belum diberi asupan energi dari makanan, tidak bisa bekerja dengan baik. Chandra hanya bisa memberikan respons otomatis untuk menghindar saat Shila berhasil meloloskan kedua tangannya dari genggaman Chandra. Ia mengibaskan tangan hendak mencakar Chandra, tetapi suaminya sangat lincah untuk bergerak mundur. Shila yang tidak sabaran hanya bisa menjatuhkan diri ke depan, pada rumput yang setinggi mata kaki. Dalam posisi lesehan itu, Shila berusaha mencapai suaminya tetapi ... gagal.


Gagal karena kedua kaki perempuan itu tidak bisa bergerak sama sekali. Hanya tangannya yang terus mengibas di udara, sementara tangisan putus asanya mulai keluar, kemudian berakhir dalam sebuah teriakan memilukan.


Chandra yang kini dalam posisi berdiri, tertegun sesaat. Ia menyimak ketidakberdayaan Shila. Chandra mengabaikan semua tatap penasaran dari orang lain, karena tidak bisa mengalihkan pandangan dari istrinya yang tampak putus asa.


"Shila?" panggil Chandra gemetar. Ia berlutut di depan sang istri, masih tercengang. "Kaki kamu ...?" Pria itu menggantung ucapannya, lalu tidak menunggu apa pun lagi, ia segera menenggelamkan kepala perempuan itu di dadanya.



...Dari angka 1 - 10, berapa nilai yang bakalan kamu kasih untuk bab ini? Beritahu aku di kolom komentar📌...


...Oh ya, akan ada banyak lagi cerita seru di akun @Es Pucil , follow supaya nggak ketinggalan info! ...


...***...


...Mari kenalan :...


...Instagram : es.pucil...


...Facebook : Es Pucil III ...


...🔺🔺🔺...

__ADS_1


...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku. ...


__ADS_2