Siswiku Canduku

Siswiku Canduku
Bab 31


__ADS_3

Semalaman penuh, Chandra tidak bisa terlelap lebih dari satu jam. Ketika ia bahkan baru saja memejam, ucapan Widya terus terngiang dalam benaknya, merenggut ketenangan Chandra karena dilema tak berujung.


Istri ... atau siswinya?


Seharusnya tidak ada alasan untuk memilih Mishall, karena Chandra merasa niatnya murni ingin membantu, tetapi ... ia mulai ragu setelah mendengar penjelasan Widya.


Semalaman suntuk dihabiskan Chandra untuk mencari tahu arti sebuah kata ‘Cinta’.


Apa cinta hanya sebatas: saat jantungmu berdebar terhadap seseorang, maka kamu jatuh cinta.


Jika iya, maka Chandra sebenarnya berdebar untuk dua perempuan ini. Debaran khusus, di mana jantungnya memompa darah terlalu keras dibanding biasanya ketika Chandra bercinta dengan Mishall pertama kali, saat ditawarkan ‘Ramyeon meokgo gallae’ oleh siswinya, atau ... ketika ia mengantar Mishall ke sekolah dan perempuan itu memeluknya agar tidak jatuh. Chandra juga merasakan debaran sama ketika mereka menghabiskan waktu saat memotong rambut Mishall, menjelajah mall, bahkan di apartemen Tristan.


Namun di sisi lain, Chandra juga merasakan hal sama ketika bersama Shila. Debaran lebih kuat ketika mereka memadu kasih, dan apalagi saat istrinya memberikan kue untuk merayakan anniversary mereka. Pun ketika ia pertama kali melihat wanita ini tidak bisa menggerakkan kakinya, Chandra juga berdebar karena hal itu.


Jadi, apa itu cinta?


Dari posisi berbaring, Chandra mengubah bentukannya menjadi duduk karena tidak menemukan ketenangan sama sekali. Ia menatap Shila yang belum terbangun sejak sore tadi. Terlihat sangat lelap dalam tidurnya, dan ini ... cukup mengejutkan. Jujur saja. Perempuan itu biasanya tidak pernah tenang ketika sedang marah. Ia hanya akan memikirkan pelampiasan, kemarahan, dan kebencian.


Meski mengejutkan, ini melegakan bagi Chandra. Ia tersenyum memperhatikan sang istri, hampir tanpa kedipan. Lalu, berjalan meninggalkan sofa untuk duduk di kursi samping tempat tidur. Hati-hati, ia mengambil tangan Shila untuk digenggam. Kelembutan kulitnya begitu memanjakan indera peraba. Chandra betah melakukan hal ini.


Tangan Chandra yang bebas mencoba menyentuh lembut wajah Shila. Kulit bersih milik istrinya ini masih sangat cantik, bahkan meski tidak ada satu pun bahan kimia dari make up menghiasinya. Shila sudah sangat cantik.


Keheningan ruangan membuat Chandra mengingat kembali semua memori yang sudah dibuat bersama sang istri, sejak pertama kali bertemu, hingga sekarang ini. Jujur, kecantikan Shila adalah hal pertama yang menarik perhatian Chandra. Wajah yang tidak membosankan ini, selalu menjadi objek kekaguman pria itu. Lalu, semakin mencari tahu dengan Shila, ia kian tertarik. Wanita ini selalu mencari kebahagiaannya sendiri, yang sudah direnggut oleh keluarganya sendiri.


Semakin Chandra membantu Shila, semakin ia merasa bahwa dirinya jatuh hati pada perempuan ini. Pada akhirnya, ia memberanikan diri melamar, dengan mengabaikan semua saran dari sahabat-sahabatnya.


Saat mengatakan perasaan, Chandra disambut baik oleh Shila yang mengaku mulai menyukainya juga. Namun, perempuan itu memberikan peringatan tegas sebelum mereka menjalin hubungan: bahwa Shila tidak suka pengkhianatan, dan segala sesuatu yang mengarah ke sana. Perempuan ini mengatakan secara jelas, bahwa ia tidak akan segan mengirim Chandra ke orang tuanya jika pria itu melanggar janji hubungan mereka, dan Chandra ingat betul, ia menyetujuinya. Karena berpikir ... tidak ada seorang wanita selain Shila yang membuatnya merasakan nano-nano istimewa.


Namun, setelah pernikahan, ketika mereka bertemu selama 24 jam, hingga saling menemani ke tempat mana pun, Chandra mulai merasa tertekan.


Ketika Chandra hanya disapa oleh seorang perempuan, atau dimintai tolong oleh kaum Hawa—berapapun usianya—Chandra pasti langsung menjadi sasaran amukan Shila. Tuduhan selingkuh selalu sang istri jeritkan pada setiap pertengkaran.


Sayangnya, bagi seorang guru seperti Chandra, berinteraksi dengan wanita adalah hal yang sudah pasti ia temui dalam keseharian. Sehingga ... jadilah, setiap hari mereka selalu menemukan topik pertengkaran yang membuat Chandra semakin muak. Puncaknya, malam sialan itu.


Namun, bukan tentang Mishall yang ingin Chandra ingat malam ini.


Tentang pernikahan mereka ... Anniversary satu tahun baru saja mereka rayakan. Selama ratusan hari yang lalu, kapan perasaan nano-nano istimewa kembali Chandra rasakan pada perempuan ini?


Sepertinya hampir tidak pernah lagi. Ah, pernah sekali, saat Shila tersenyum limited edition ketika menyebutkan permintaan sederhananya: bayi.


Sialnya, Chandra kembali merasakan nano-nano itu ketika ia bersama Mishall.


Setiap kali mereka bersama, Chandra berdebar. Meski obrolan mereka lebih sering diisi perdebatan, hinaan, serta pertentangan, tetapi Chandra tidak merasa keberatan sama sekali. Malah menganggap hal itu sebagai pelengkap interaksi mereka.


Chandra tidak bisa melepaskan Mishall begitu saja, dan entah kapan ia siap membiarkan perempuan itu menjalani hidup mandirinya. Chandra sendiri tidak tahu. Ia meragu, bisa membebaskan perempuan itu.


Inginnya Chandra adalah egois. Ia masih sangat menyayangi Shila, sehingga semua kesedihan dan keterpurukan perempuan ini begitu berarti padanya. Namun di sisi lain, Chandra juga tidak bisa meninggalkan siswinya begitu saja. Ia tidak bisa.


Lalu, teringat ucapan Widya. Chandra tanpa sadar menjatuhkan tangan Shila.


"Seseorang, saat mencintai dua perempuan sekaligus, ia harus melepas wanita pertamanya. Karena jika memang masih mencintai si wanita pertama ... cinta pada perempuan kedua itu tidak seharusnya ada."


Shila membuka mata, memaksa Chandra menghentikan kebimbangan pikirannya.


"Kamu bangun? Mau makan sama aku?" tawar Chandra, yang perempuan itu terima dengan mudah.


Sekali lagi ... ini mencurigakan.


...***...


Daniel bukan sahabat terdekat Chandra, karena perbedaan hobi di antara mereka. Namun, kali ini Chandra menemui pria yang selalu dijuluki DJ itu, sebab dua teman lainnya tidak lagi bisa dipercayai.


"Menurut lo, cinta itu apa, sih?" tanya Chandra, sekali lagi, pertanyaan yang membingungkannya sepanjang malam, diungkapkan pada sang sahabat.


Daniel tampak mengantuk. Ia beberapa kali mengusap wajah agar tetap fokus. Kopi yang sudah dipesan, belum sepenuhnya membantu untuk terlihat segar.

__ADS_1


"Pertanyaan basi macam apa itu, Chandra?" balas Daniel, malas. "Lo ngajak gue ketemuan cuman nanya hal kayak gitu doang? Umur lo berapa?"


"Bukan gitu." Chandra mengusap rambutnya secara kasar karena bingung pada diri sendiri. "Gue sekarang terjepit di antara dua perempuan—"


"Anjir, jepitan jenis apa tuh?"


Chandra memasang wajah malas. Merasa bahwa keputusannya bertanya hal umum pada Daniel hanyalah sia-sia.


"Lanjutin," kata Daniel, setelah mengerti perubahan ekspresi sahabatnya.


"Gue lagi bingung gara-gara dua perempuan. Satu istri gue, satu lagi ... perempuan yang gue peduliin. Mau bilang cinta, gue merasa belum cinta sama perempuan kedua itu, tapi ... tapi .... Gue merasakan hal yang pernah gue rasain saat PDKT sama Shila, ke perempuan kedua ini." Karena Daniel sepertinya belum tahu permasalahan Chandra sekarang, jadi ia berusaha menjaga nama baik Mishall, agar tidak semakin tersebar buruk.


"Udah setua ini, tapi lo belum bisa milih, Chandra? Serius?" Daniel berdecak takjub. Ia mengulurkan tangan ke atas meja untuk dijadikan bantalan nyaman. "Coba lo pergi selama beberapa hari. Minimal tiga hari. Abis itu, coba lo fokus ke pikiran lo sendiri. Lo sering mikirin siapa selama tiga hari itu. Nanti, bisa lo putusin, siapa yang ternyata lo cintai."


"Gitu?" tanya Chandra, kagum dengan penyelesaian yang Daniel sampaikan.


Si DJ, yang masih mengantuk itu mengangguk malas. Ia memejamkan mata karena posisinya saat ini sangat nyaman.


"Oke, makasih, Dan. Gue yang bayarin kopi lo. Gue pamit dulu kalau gitu. Mau langsung ngilang buat mikirin ini matang-matang."


Daniel mengangguk setengah sadar. "Selama itu, jangan pernah hubungi dua perempuan yang bikin lo pusing itu. Biar lo nggak terganggu konsentrasinya pas milih salah satu dari mereka." Daniel berujar dengan suara berat. "Good ... luck!"


...***...


Shila dijaga oleh Widya, dan Mishall punya kartu debit Chandra. Pria itu bisa menghilang sebentar untuk menanyakan perasaannya ini. Tentang pada siapa sebenarnya hati Chandra berlabuh sekarang.


Istrinya ... atau siswinya?


Chandra pulang ke kampung halamannya, dan tentu saja mendapat tatap kebingungan dari ayah dan adik perempuannya. Karena Chandra tidak membawa sang istri ikut serta. Mereka dengan cepat mengenali Shila sebagai perempuan posesif, sehingga kedatangan Chandra tanpa perempuan itu jelas menimbulkan pikiran negatif.


"Kamu belum cerai dari istri kamu, 'kan?" tanya ayah Chandra ketika itu. "Eva masih lanjutin sekolah, masih bergantung sama istri kamu, Chandra."


"Loh, sejak kapan, Yah? Aku kan juga kirimin uang ke kalian," kata Chandra. Ia baru saja mendudukkan diri di sofa, dan langsung dihadiahi kalimat mengejutkan.


"Pemberian kamu mana cukup! Lagian, uang yang istri kamu kasih nggak bakalan bikin dia miskin. Dia sendiri yang nawarin, kok, bukan kita yang minta. Emang dia nggak pernah cerita?"


"Pokoknya, Chandra, kamu jangan buat masalah apa pun sama istrimu itu. Dia baik ke keluarga kita. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan yang mengancam pernikahan kalian!"


"Ayah udah!" Eva yang baru saja keluar kamar menengahi obrolan mereka. "Ayah emang nggak kasihan sama Kak Chandra yang luka-luka kayak gini karena istrinya itu? Royal berbagi bukan berarti baik, Yah. Dia itu iblis. Lihat sendiri keadaan Kak Chandra ...." Eva susah payah menahan tangisnya ketika mengabsen tempat-tempat di mana luka sang kakak berada.


"Halah, luka dikit doang! Dia anak laki-laki, nggak mungkin cuman gitu bikin dia lembek! Kalaupun Shila yang nyakitin dia, berarti Chandra yang abis bikin masalah!" gerutu ayah Chandra, kemudian berlalu dari ruang tengah.


Chandra tidak terlalu peduli. Ia mengobrol sebentar dengan sang adik, sekadar basa-basi, sekaligus menenangkan Eva bahwa ia baik-baik saja. Setelah itu, Chandra merasa perlu membersihkan tubuh di kamarnya. Demi mengikuti saran Daniel, ia menaruh ponselnya di lemari, dan berniat tidak akan memeriksanya sebelum tiga hari.


Apa pun yang terjadi.


...***...


Hari pertama berjalan lancar. Chandra tidak memikirkan siapapun, karena sibuk juga berjalan-jalan di desa ini demi menyapa sahabat lamanya, sekaligus beberapa orang yang ia kenali. Hanya ketika ia bersama orang lain, ia bisa mengalihkan pikiran dari rumitnya hubungan yang Chandra jalani sekarang.


Namun, ketika malam tiba, terutama saat pria itu sedang berbaring di kasur sempitnya, ia mulai menerawang ke depan.


Awalnya, Chandra berusaha membayangkan Shila. Mengenai keanehan sikapnya, tetapi ... dia tidak bisa lama memikirkan sang istri. Sebaliknya, sebagian besar pikiran Chandra dengan mudah diakuisisi oleh Mishall. Karena pria itu teringat dengan janjinya untuk membantu Mishall mencari pekerjaan baru, dan memintanya untuk resign. Bahkan, siswinya itu terpaksa berhenti sekolah sebelum waktunya.


Bukankah Mishall seharusnya butuh dukungan sekarang? Bagaimana jika perempuan itu merasa patah hati, karena ia tidak mendapatkan dukungan dari siapapun.


Shila masih beruntung, setidaknya. Karena ada Widya yang menjaganya setiap waktu, serta Anwar selalu siaga 24/7 hari.


Namun untuk Mishall?


Sial! Kenapa Chandra malah memikirkan siswinya itu sekarang? Ini masih hari pertama!


...***...


Hari kedua tidak bisa Chandra sebut baik-baik saja. Setelah mandi, ia tiba-tiba memikirkan sebuah bahaya yang mungkin mengincar Mishall. Bahwa perempuan itu tinggal sendiri sekarang di kontrakannya. Sementara Shila masih belum menyatakan berhenti berperang dari Mishall.

__ADS_1


Memang, kemarin Shila tampak lebih melunak dari yang Chandra prediksi, tetapi ... sifat Shila tidak bisa diprediksi oleh siapapun. Jadi ... bagaimana kondisi Mishall di sana?


Terhitung puluhan kali Chandra berusaha membuka lemarinya hanya demi ingin mengeluarkan ponsel dari sana, yang dengan Itu, ia bisa menghubungi Mishall. Menanyakan kabarnya, tetapi ... ia merasa tanggung. Sisa besok saja, dan Jika Chandra berhasil, ia akan tahu dengan siapa ia ingin menghabiskan sisa hidup.


Namun, hingga di hari kedua ini, mengapa hanya Mishall yang Chandra pikirkan? Sementara pria itu masih mengelak bahwa ia mencintai Mishall.


...***...


Hari ketiga adalah hari sabtu, di mana Eva lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Saat itulah, Chandra berusaha mengalihkan perhatian dengan mengobrol bersama adiknya.


"Kamu ... udah jatuh cinta, Eva?" tanya Chandra hati-hati.


Segera, pipi bersemu adiknya sudah menjawab pertanyaan tersebut. Diam-diam, Chandra ikut tersenyum melihat tingkah malu-malu dari sang adik.


"Kakak nggak bakalan tanya siapa orangnya, dan kenapa kamu suka dia. Tenang aja. Kakak nggak bakalan bilangin ke Ayah, tapi ... Kakak boleh tanya, Va? Pas kamu mencintai gebetan kamu itu ... apa yang kamu rasakan, dan apa yang kamu harapkan."


"Kak Chandra kenapa nanya kek gitu? Kayak orang baru jatuh cinta. Emang Kakak baru cinta sama istri Kakak sekarang?"


Chandra mengeram kecil, sekadar menunjukkan marah yang pura-pura pada sang adik. "Ditanyain, malah nanya balik."


"Abisnya, pertanyaan Kakak kayak bego banget! Jelas lah pas jatuh cinta, yang dirasakan itu cuman kebahagiaan, kenyamanan, impian menghabiskan waktu bersama-sama, kemauan untuk membuat pasangan bahagia ... dan semua hal-hal baik lainnya."


Chandra mengangguk-angguk menerima jawaban sang adik.


"Saat Kakak merasakan sebuah kebahagiaan bersama seseorang, dan ingin memberikan kebahagiaan yang sama pada orang itu tanpa memikirkan diri sendiri ... berarti Kakak mencintai orang itu."


Dari penjelasan Eva, Chandra semakin bingung. Ia ingin memberikan kebahagiaan pada Shila, terutama setelah masalah ini muncul. Namun, di sisi lain ... ia bahkan tidak menemukan kenyamanan, kebahagiaan selama bersama Shila. Sebaliknya ... Chandra tertekan, terkurung, terkunci dari dunia luar selama pernikahan.


Pemberi kenyamanan itu malah datang dari Mishall, dan bagaimana Chandra merelakan sisa uangnya diberikan pada sang mantan siswi, serta menghadapi banyak risiko demi memperbaiki hidup Mishall agar menjauh dari kehidupan kupu-kupu malam .... Chandra tiba-tiba tertegun.


Sepertinya ia tahu sekarang, kesimpulan yang bisa ia ambil dari pelarian kali ini.


Chandra buru-buru masuk kamar, mengecek ponsel, karena keinginannya untuk bertanya keadaan Mishall kian menggebu, dan sangat sulit untuk dihentikan sekarang. Chandra harus memastikan bahwa Shila tidak memberikan ancaman lagi.


Namun, ketika baru saja menyalakan data, Chandra terkejut mendapati sederet pesan dari Mishall. Sayangnya, dari 32 pesan, hanya satu pesan suara yang tersisa. 31 lainnya sudah dihapus oleh Mishall. Chandra tidak bisa membuang waktu lagi untuk mendengarkan pesan dari siswinya itu.


"Saya dijemput Ibu kandung saya, Pak. Ibu bakalan penuhi semua kebutuhan dan keperluan saya, jadi ... Pak Chandra nggak usah khawatir. Maaf, kalau usaha Pak Chandra kemarin sia-sia, tapi ... ini sudah takdir saya. Saya nggak bisa lepas, karena ... orang miskin kayak saya nggak punya pilihan. Pak Chandra ... makasih buat yang kemarin-kemarin. Kartu debit Pak Chandra belum saya pakai. Saya udah titip ke Pak Tristan. Pak Chandra juga nggak usah khawatir masalah saya. Pak Tristan udah gaji saya, dan Pak Arfan juga udah kasih bayaran saya. Sekali lagi ... makasih buat yang kemarin. Saya yang murahan ini ... merasa tersanjung dengan cara Pak Chandra yang berusaha menunjukkan betapa berharganya saya—" Mishall terdengar terkekeh garing, yang sialnya memberikan satu tusukan di lubuk hati Chandra, apalagi suara perempuan itu terdengar parau, "—Walaupun ... akhirnya gagal, karena saya memang semurahan itu."


Voice note dimatikan.


Chandra tidak lagi membuang waktunya hanya sekadar pamit, atau mengumpulkan beberapa pakaian yang ia bawa ke sini. Hanya menyeret dompet dan ponsel, pria itu segera meninggalkan rumah ayahnya.


Berharap ... waktu masih memberinya kesempatan untuk berbicara pada Mishall, untuk memberitahu perempuan itu, bahwa ... tuduhannya kemarin ternyata benar.



...Dari angka 1 - 10, berapa nilai yang bakalan kamu kasih untuk bab ini? Beritahu aku di kolom komentar📌...


...Oh ya, akan ada banyak lagi cerita seru di akun @Es Pucil , follow supaya nggak ketinggalan info! Plus, jadwal update cerita bisa kamu cek di deskripsi akun!...


...***...


...Kalau kamu nggak sabaran, kamu bisa baca cerita ini secara lengkap di :...


...Ka Be eM App : Es_Pucil...


...***...


...Mari kenalan :...


...Instagram : es.pucil...


...Facebook : Es Pucil III ...


...🔺🔺🔺...

__ADS_1


...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku. ...


__ADS_2