Siswiku Canduku

Siswiku Canduku
Bab 22


__ADS_3

Pegal sudah menghampiri kaki Chandra, setelah beberapa menit ia berdiri di depan pintu rumah Shila dengan penuh kebimbangan. Sesekali tangannya terangkat berniat mendorong gagang pintu, tetapi setiap kali menyentuh besi dingin tersebut, ia mendadak saja ragu sehingga membawa kembali kepalan tangannya ke samping tubuh.


Kejutan apa yang Shila maksud? Perempuan itu benar-benar tidak terbaca. Sementara ucapan Ibunya Mishall seolah memberikan ancaman tersendiri bagi Chandra. Sedikit berharap, bahwa perempuan tua itu belum memperkenalkan Mishall remaja pada Shila, atau ... istri Chandra itu akan mengenali siswinya.


Rasa nyeri sudah menghampiri leher pria itu akibat ketegangan sejak satu jam yang lalu. Melakukan peregangan otot sembari meyakinkan diri, pria itu malah melangkah mundur ketika pintu rumah tiba-tiba saja dibuka. Sepasang mata bulat menyorot kaget, hampir sama dengan dirinya sekarang ini.


"Kirain kamu pulang telat. Baru mau aku samperin ke rumahnya Tristan," ucap Shila sesaat setelah mengurangi ekspresi terkejutnya. Ia mengerucutkan bibir tipisnya, untuk membuat tampilan perempuan ganas ini menjadi lebih menggemaskan. "Kenapa nggak langsung masuk? Ayo!"


Chandra masih tidak tahu harus memberikan reaksi apa, ketika ia hanya bisa memasrahkan diri saat tangannya digenggam lembut, dan ditarik oleh Shila memasuki rumah. Kewaspadaannya masih dipertahankan, karena terakhir kali perempuan ini bersikap selembut ini, Chandra berakhir dengan mendapatkan lemparan piring.


Debar cemas dalam dada Chandra kian bertambah ketika ia dibawa duduk ke sofa, menghadap televisi. Benar-benar mirip saat ia akan dihadiahkan tontonan videonya bersama Mishall. Tanpa diminta, pria itu langsung berkeringat dingin di tempatnya. Ketika Shila akan meninggalkannya, Chandra menahan sebentar tangan perempuan itu. Langsung mendapat senyum tipis tanpa bisa terbaca dari Shila.


"K—kamu ...." Chandra berdeham singkat demi melegakan tenggorokan. Sialnya, sikap gugup tadi berhasil memicu kerutan penasaran di wajah Shila. Segera, pria itu memperbaiki sikapnya agar tidak mencurigakan. "Kamu mau ke mana?" tanya Chandra, dengan berani menatap lurus pada sang istri.


"Kamu kenapa?"


Sialnya, Shila tidak bisa mengabaikan kegugupan sedetik Chandra tadi. Ia langsung mempertanyakannya dengan kecurigaan kentara. Pria itu harus memeras otak agar bekerja lebih cepat untuk menghindari rasa penasaran Shila. Lalu, Chandra menemukan cara—dengan menarik lembut tangan Shila sekadar untuk membuat perempuan itu kehilangan keseimbangan, lalu menangkapnya dengan sempurna di pangkuan. Segera, pria itu merangkul erat pinggang Shila agar tidak bergerak leluasa.


Perempuan ini pasti akan langsung mengamuk jika memang sifat manisnya sekarang hanyalah sandiwara, karena Shila benci dimanfaatkan oleh orang yang mengkhianatinya. Ini juga pilihan terbaik, untuk mencegah Shila mencapai benda-benda berbahaya, sembari Chandra berusaha menenangkannya.


Untuk sesaat, pria itu bertaruh dengan detak jantungnya yang semakin mengeras ketika ia merasa bahwa Shila mencoba melepaskan rangkulan. Semakin perempuan itu mengelak, Chandra juga semakin mengeratkan pelukannya guna mencegah Shila semakin meledak.


"Chandra, kamu bau! Mandi dulu, sana!" pinta Shila, sembari menunjukkan raut marah yang dibuat-buat.


Chandra masih mencerna selama beberapa saat, lalu melepaskan kaitan tangannya di pinggang Shila. Sesaat setelah perempuan itu turun dari pangkuan Chandra, pria itu langsung merasakan kelegaan hingga lehernya langsung melemas sampai tidak bisa menopang kepala. Chandra menunduk dalam, demi merasai dengan jelas bagaimana bulir keringat menetes di pelipisnya.


Pria itu masih dalam posisi yang sama, meski ia sudah mendengar suara langkah Shila menjauh. Selama beberapa menit, mencoba menetralkan perasaannya yang kacau akibat ancaman tidak langsung dari ibu Mishall, lalu menghadapi sikap aneh istrinya. Barulah, pria itu bisa meyakinkan diri sendiri, bahwa sekarang dirinya masih dalam kondisi baik-baik saja. Agar keadaan normal ini tetap bertahan, Chandra harus melakukan dua hal; menemukan pelaku pengirim video, dan menghentikan kedekatannya bersama Mishall.


Chandra memandang lurus penuh optimis ketika ia bangkit dari sofa. Pria itu menuju kamar di lantai dua untuk membersihkan dirinya. Kali ini, cukup lama karena benar-benar ingin mendinginkan kepalanya di bawah pancuran air. Diam berdiri, sembari menunduk dalam.


Ia benar-benar tidak tahu lagi arti sebuah ketenangan setelah malam itu. Sekarang, tambahan beban lainnya adalah pernyataan ibu Mishall yang seolah menjadi bom waktu bagi Chandra. Perempuan tua itu, cepat atau lambat pasti akan memperkenalkan Mishall pada Shila. Jika Chandra telat mengambil tindakan, maka ... selesai. Kisah rumitnya akan langsung berakhir dengan kematian Chandra di tangan istrinya sendiri.


Pria itu mengacak rambutnya. Lalu mengusap wajah secara kasar. Matanya telah perih, karena beberapa kali dialiri oleh tetesan air, tetapi ia tetap enggan beranjak dari tempatnya berdiri sekarang ini. Hingga dua ketukan pelan pada pintu kaca terdengar. Chandra menoleh panik, bersama detak jantungnya yang memburu cepat. Ia mematung sesaat, karena otaknya mendadak beku, sulit berpikir dengan baik jika berurusan dengan sang istri.


"Chandra? Kamu belum selesai?"


"B—" Chandra mengusap wajahnya secara kasar, untuk mengurangi air yang menghalangi pandangan. Ia mematikan shower, lalu menjawab. "Sebentar, Sayang."


Tidak membuang waktu lebih banyak, ia mengambil handuk untuk dililitkan di pinggang, lalu keluar dari kamar mandi. Terlebih dahulu, mengeringkan tubuh dan berpakaian secepat kilat di walk in closet. Ia masih harus mengeringkan rambut dengan handuk, ketika keluar dari ruang ganti, dan menemukan istrinya tengah duduk di pinggiran tempat tidur sembari memangku kue bertingkat dua. Lilin angka satu di atasnya kini tersisa setengah, menunjukkan betapa lama api telah menyala, dan sudah terlalu lama bagi Shila menunggu.


Berpikir cepat, pria itu langsung mendekat. Menjatuhkan lututnya tanpa perhitungan di lantai, di depan kaki sang istri. Ia menengadah dengan senyum terbaik di wajahnya saat Shila berekspresi datar juga melihat padanya. Chandra melarikan pandangannya sekilas ke tulisan di atas kue. Happy Anniversary, dengan ukiran khas yang Chandra hafal di luar kepala. Ini tulisan Shila, dan kue ini mungkin juga buatan sang istri.


Namun, apa Chandra bisa mempercayai tangan yang sebelumnya menusukkan pisau ke perutnya itu dalam pembuatan kue cantik ini?


"Aku tebak," ucap Shila, yang langsung menarik perhatian Chandra. "Kamu bahkan nggak inget sama sekali kalau hari ini 20 Februari," lanjutnya dengan sorot mata memerah dengan cairan bening sebagai lapisannya.


Chandra meneguk ludah secara kasar. Ia bahkan terlalu sibuk memikirkan Mishall dan ibunya hingga melupakan hari penting ini. Bahkan, ia sudah menyiksa diri sendiri selama satu jam setengah hanya karena 'kejutan' manis dari istrinya ini.


Sikap tegang Chandra segera dicairkan. Ia tersenyum tenang, sembari menggenggam lembut tangan Shila yang memegang nampan datar tempat kue berada.


"Coba buat permintaan, Sayang. Mungkin ... itu bakalan jadi kejutan dari aku buat kamu nanti malam," kata Chandra penuh percaya diri, tidak lupa mengedipkan sebelah matanya menggoda.


Shila mendengkus geli. Senyumnya perlahan muncul, dan berusaha perempuan itu tahan, tetapi gagal. Sebagai gantinya agar tetap terlihat marah, Shila merotasi bola matanya, lalu menggeleng lemah.


"Mustahil," ucap Shila pesimis. Kepalanya sedikit lunglai, tetapi Chandra langsung memegang kedua pipinya agar kembali menegak.


"Coba aja dulu. Tutup mata." Chandra memberi arahan, dengan suara rendahnya yang sulit ditolak oleh Shila.


Perempuan itu akhirnya memejam, lalu Chandra ikut menyusul melakukan hal yang sama. Satu harapan yang tiba-tiba terbesit di benak Chandra adalah, ingin mengakhiri semua permasalahan ini sesegera mungkin.


Lalu, ketika ia mengangkat kelopak mata, istrinya ternyata sudah melakukan hal yang sama terlebih dahulu. Binar mata Shila begitu lembut ketika mengarah langsung pada Chandra. Pria itu seolah kembali ke masa lalu, ketika ia pertama kali melihat perempuan ini, dan teringat alasan utama mengapa ia terikat pada hubungan berbahaya ini. Sorot mata Shila inilah yang menghipnotisnya.


"Tiup lilin. Satu ... dua ... tiga." Dipimpin oleh Shila yang tersenyum lebar hingga tatanan gigi putih rapinya tampak; keduanya lalu meniup lilin.


Bahkan, setelah api padam, senyum cerah Shila sama sekali tidak pudar sedikit pun. Terbaca berlebihan memang, tetapi Chandra memang semudah itu menjatuhkan hati hanya karena senyum limited edition Shila.


"Aku ... punya kejutan buat kamu nanti malam." Chandra memberitahu, dengan bisikan pelan. Memancing Shila memudarkan sedikit senyum, tetapi tetap terlihat berseri dengan wajah bahagianya.


"Apa?" Shila bertanya penasaran.


Chandra melepaskan tangannya dari wajah Shila, untuk mencolek puncak hidung istrinya. Senyum kemenangan ia tunjukkan, karena merasa sudah membalas sikap istrinya tadi siang.


"Rahasia," balas Chandra. Sedetik berikutnya, ia terjebak oleh ucapannya sendiri.


Chandra tidak menyiapkan apa pun, sialnya! Namun, ia tetap mempertahankan senyum bangganya.

__ADS_1


"Mungkin ... sesuai dengan harapan kamu tadi?" lanjut Chandra.


Menurut Chandra, Shila mustahil mengharapkan sesuatu yang bisa dibeli uang seperti barang branded atau benda mewah karena ia bisa mendapatkannya dengan mudah. Pria itu lalu ingat, ketika kencan pertama mereka, Shila mengaku bahwa malam itu adalah waktu kedua terbaik dalam hidupnya. Yang pertama, saat Shila mengenal Chandra di pertemuan perdana mereka.


Jadi, Chandra perlahan menemukan jalan untuk kejutan yang ia ucapkan tadi.


"Nggak mungkin," ucap Shila. Kali ini, sama pesimisnya dengan beberapa saat lalu. Ia bahkan menunduk dalam selama beberapa saat, kemudian melirik sendi pada Chandra. "Aku mau bayi."


Chandra membeku. Ketika otaknya mulai memproses ucapan Shila, ia mengerjap perlahan. "B—bayi?"


Shila mengangguk lemah. "Ini udah satu tahun sejak kita menikah, Chandra. Kenapa aku masih belum hamil?" Ia menunduk lagi, dengan wajah kecewa kentara ketika salah satu tangan menyentuh perutnya yang ditutupi gaun berwarna biru gelap. "Kayaknya ... bermasalah di aku deh. Widya bilang, aku yang gampang stres bisa aja kesulitan punya anak. Apalagi, riwayat Mama Papa yang juga susah punya anak dulu." Ketika Shila sekali lagi menatap Chandra, matanya benar-benar menyiratkan kepedihan kentara. Alisnya yang sedikit mengerut memperjelas hal itu. "Kamu nggak bakalan tinggalin aku gara-gara nggak punya anak, 'kan? Kamu nggak bakalan pergi walaupun aku mandul, 'kan?"


"Sayang, nggak bakalan." Chandra mengambil alih kue dari pangkuan Shila untuk dipindahkan ke atas nakas, lalu berdiri menjulang di hadapan istrinya. "Kita bisa coba ... program kehamilan kalau kamu mau. Atau ... bayi tabung. Atau ... adopsi sekalian. Aku nggak bakalan tinggalin kamu cuman karena masalah sepele kayak gitu." Pria itu sedikit membungkuk, agar wajahnya bisa sejajar dengan sang istri. Tersenyum tipis, lalu melanjutkan, "kenapa mendadak bahas bayi? Ada sesuatu yang ganggu kamu? Ada yang ngata-ngatain kamu?"


Shila menggeleng lemah, jelas bahwa ia menyembunyikan sesuatu. Namun, Chandra tidak dibiarkan untuk bertanya lebih lanjut karena perempuan itu segera mengambil kembali kue dari atas nakas dengan sedikit menggeser posisi tubuhnya.


"Ini kue buatan aku yang pertama. Rasanya mungkin nggak seenak buatan di toko-toko, tapi aku harap nggak terlalu buruk." Shila memotong-motong bagian kue menjadi bagian kecil dengan pisau plastik yang sudah tersedia di samping kue. "A!"


Chandra membuka mulutnya dengan antusias, menerima suapan dari Shila. Rasanya terlalu hambar, tetapi tetap pria itu paksa agar potongan kue tadi lolos di tenggorokannya.


"Nggak enak," kata Shila memberitahu. Ia mendapatkan potongan sama besarnya dengan Chandra, tetapi hanya menggigit setengahnya, lalu meletakkan bagian yang lain di atas nampan, lalu menepuk-nepuk tangannya agar bersih dari remahan bolu.


Chandra tersenyum geli. Ia mengambil potongan kue yang diletakkan Shila tadi. Begitu cepat, dimasukkan ke mulutnya. Tidak membiarkan Shila mengeluarkan protes mencegah, pria itu segera memindahkan nampan kue kembali ke atas nakas, lalu meraih tengkuk Shila untuk ia dongakkan menghadap padanya. Menggunakan tangan lainnya untuk menahan dagu Shila, Chandra lalu menanamkan ciumannya pada perempuan itu.


Pertama-tama, Chandra harus menidurkan istrinya, barulah ia bebas memutar otak untuk kejutan dadakan yang bahkan baru akan ia siapkan.


...***...


Ini sudah hampir pukul lima, ketika Chandra mendengar bel rumah berbunyi. Ia yang sudah menunggu gelisah sejak beberapa jam lalu, langsung bangkit dari sofa ruang tengah. Membuka pintu, lalu menerima paket yang sudah dipesan dadakan, berisi gaun merah satin. Chandra harus berterimakasih pada Tristan yang dengan cepat membantunya mengurus pakaian ini walaupun sahabatnya itu sering adu mulut dengan sang istri.


Chandra menuju kamar mereka, di mana Shila masih tidur pulas di bawah selimut tebal. Ia berhati-hati meletakkan kotak gaun itu di sudut ranjang. Lalu menambahkan notes romantis di atas kotak tadi.


Setelah itu, Chandra membawa setelan jas, kemeja, celana bahan, dan dasi ke lantai bawah, di perpustakaan. Ia hanya perlu menunggu di sini setidaknya satu setengah jam, sembari memastikan bahwa Arfan memenuhi permintaannya agar menyisihkan salah satu ruang VIP dari restorannya untuk makan malam nanti. Sialnya, ruang VIP sudah habis dipesan oleh orang lain jauh hari.


Meski bersahabat, bisnis tetap hal utama bagi seorang Arfan. Bahkan, Chandra sudah membujuknya sebelum konsultasi pakaian pada pakarnya perempuan: Tristan, tetapi hingga sekarang, sahabatnya itu masih belum luluh juga. Chandra bingung harus mengiba bagaimana lagi.


Sampai, Tristan yang sedari tadi hanya menyimak grup obrolan, turun tangan memberikan penawaran.


Tristan :


Tidak butuh lebih dari lima detik, sebuah balasan langsung muncul di panel obrolan.


Arfan :


Oke, asal beneran 99% mau investasi di bisnis gue. Gimana, Chandra?


Chandra menyisir rambutnya secara kasar. Ia tidak memiliki pilihan lain, selain ....


^^^Chandramawa Ahtar :^^^


^^^Oke-_-^^^


...***...


Armony Restaurant.


Tulisan itu menyala dengan indahnya di bagian paling atas gedung berlantai tiga itu. Di halamannya, Chandra memarkirkan Lexus LS 500, lalu turun lebih dahulu dari mobil agar bisa membukakan pintu sebelahnya untuk Shila.


Ketika tangan Chandra terulur, sang istri langsung menyambutnya dengan genggaman lembut. Shila tersenyum dengan bibir merahnya, yang memancing Chandra untuk melakukan hal sama. Tangan Shila dipersilakan untuk memeluk lengan Chandra, sementara tangan lain pria itu menutup pintu, lalu menguncinya.


Keduanya berjalan mantap memasuki restoran. Tatap pengunjung langsung mengganggu Shila ketika ia baru saja menginjak lantai restoran. Senyumnya langsung pudar, berganti dengan kerut tidak nyaman.


"Lihat aku aja, Sayang." Chandra memberi arahan, dan perempuan itu langsung mematuhi. Pria itu melebarkan senyumnya, yang sedikit membantu Shila untuk abai dengan sekitarnya.


Keduanya disambut oleh salah seorang pelayan perempuan, lalu dituntun menuju lift yang memang hanya diperuntukkan oleh orang-orang penting. Hanya Chandra dan Shila yang masuk dalam kotak baja itu, sementara si pelayan hanya memberikan hormat setelah sebelumnya memberitahu Chandra bahwa semuanya sudah siap di lantai paling atas.


Karena Arfan juga tidak bisa membatalkan pesanan orang lain begitu saja, maka sahabat Chandra itu akhirnya memilih menyulap atap agar bisa digunakan untuk makan malam mereka berdua.


Setelah pintu lift terbuka, Chandra bisa memamerkan senyum kemenangannya ketika melihat bagaimana Shila membulatkan mata karena takjub dengan desain sederhana, tetapi elegan di atap ini. Dihiasi beberapa ornamen berwarna merah, seolah isyarat untuk mengingatkan mereka bahwa keduanya kembali ke masa-masa awal percintaan. Tambahan beberapa campuran warna putih, atap benar-benar tampil begitu sempurna, padahal sebelumnya, area ini cukup terabaikan.


"Cuma kita berdua, di sini," ucap Chandra, yang semakin menambah binar bahagia di mata Shila.


Perempuan itu dipersilakan berjalan lebih dahulu. Sementara Chandra menyusul beberapa langkah di belakangnya. Pria itu baru mempercepat ayunan kakinya, ketika Shila hampir mencapai kursi yang berada di tengah atap. Ia begitu sigap menarik sebuah kursi, untuk sang istri, baru berpindah ke kursi seberang untuk diduduki.


"Gimana menurut kamu? Suka?"

__ADS_1


Shila secara mantap menganggukkan kepala. Meski rambutnya berkibar oleh terpaan angin malam, ia tetap tidak memudarkan senyum di bibirnya.


"Aku sempet ... pesimis, pas kamu parkir mobil tadi. Ini Armony, incaran banyak orang kelas atas buat makan, apalagi ini malam minggu. Tapi ... aku beneran terkejut sama kejutan kamu di sini. Melebihi ekspektasi aku," ucap Shila. Ia masih mengedarkan pandangannya di sekitar, dan hanya ada senyum bahagia di wajahnya.


"Aku kenal kamu, dan jelas nggak bakalan kecewain kamu." Chandra berujar yakin.


Pria itu melirik jam tangannya sebentar, lalu melirik ke arah lift yang kembali terbuka. Pun Shila, turut melarikan pandangan ke arah kedatangan seorang perempuan dan pria yang membawa makanan. Namun, Chandra tidak bisa memutus tatapnya dari perempuan berambut sebahu mengenakan masker hitam itu. Ia bahkan memicingkan mata demi meneliti perempuan yang menunduk itu.


"Kamu kenapa lihatin dia sampai begitunya?" tanya Shila, yang sontak membuat Chandra langsung panik. Keadaan ini semakin rumit ketika Chandra mendapatkan tatap tidak suka dari sang istri, sehingga ia langsung memperbaiki sikapnya. Sayangnya terlambat, Shila sudah menunjukkan raut kecewa.


"Bukannya apa, Sayang. Aku tadi minta Arfan buat minta pekerjanya yang layani kita itu harus laki-laki, tapi ... dasar dianya yang bandel banget. Aku nggak suka kalau pelayannya perempuan, karena aku tahu banget ... kamu pasti nggak suka juga. Aku cuman ... nggak mau bikin kamu kecewa, walau sedikitpun."


Chandra merasakan bahwa pelipisnya kembali lembap ketika ia baru saja menyelesaikan penjelasannya, padahal tempat ini cukup dingin karena berangin. Ia tegang menunggu respons. Namun, hingga dua pelayan itu secara bergantian meletakkan makanan di atas meja, Shila masih belum menanggapi. Sehingga Chandra ekstra hati-hati menilik teliti perempuan pelayan ini.


Seketika, Chandra sudah mengetahui dengan yakin bahwa perempuan di balik masker ini sungguhan Mishall. Tangannya langsung mengepal di atas meja tanpa disadari. Amarahnya benar-benar terkumpul sekarang. Perempuan sialan ini, seolah ingin menguji kesabaran Chandra dengan selalu bermain-main di sekitaran Shila. Apa Mishall tidak tahu seberapa besar usahanya untuk meluluhkan sang istri?


Chandra berniat memperkarakan masalah ini besok, tetapi urung saat ia mencoba menunduk untuk menenangkan amarah, tetapi malah menyadari bahwa ujung rok sepaha Mishall bergetar. Jelas bukan efek angin, karena getarannya kecil, tetapi cepat. Chandra melarikan pandangan ke jemari Mishall yang masih menata piring serapi mungkin.


Perempuan ini sungguhan gemetar.


Chandra mulai menebak; apa Mishall ketakutan? Tetapi, jika sungguh takut, kenapa memunculkan diri di sini, di saat genting seperti sekarang ini?


Seketika, benak Chandra hanya memunculkan satu jawaban. Pemilik restoran ini.


Arfan.


Tiba-tiba saja, pikiran negatif memenuhi pikiran Chandra tanpa bisa pria itu kendalikan mengenai sahabatnya sendiri. Mendadak, pikiran Chandra berkelana jauh ke malam itu, saat ia berniat melegakan beban pikiran, tetapi malah menambah beban hidup saat ia mengenal Mishall.


Jika malam itu Tristan sibuk dengan perempuannya, dan Daniel hampir tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai pengatur musik di kelab, maka Arfan ... punya potensi masuk ke mobil, dan entah melakukan apa dengan ponsel Mishall, 'kan?


Chandra setengah menunduk ketika sibuk memikirkan hal itu, hingga baru tersadar saat lengannya diguncang ringan.


"Chandra!" tegur Shila dengan lembut.


Ketika Chandra sudah menengadah, ia tidak lagi menemukan dua pengantar makanan tadi. Merasa sikapnya aneh, ia segera mengalihkan fokusnya yang kebingungan pada Shila lagi.


"Iya, aku maafin. Aku nggak mau ngerusak malam kita ini, cuman karena kemarahan aku. Udah, nggak usah dipikirin," kata Shila, yang seketika sulit dicerna Chandra.


Barulah, ketika ia teringat obrolan terakhir mereka, Chandra langsung memperbaiki sikap.


"Makasih, Sayang," ucap Chandra.


Shila tersenyum tipis, sembari memotong steak di piring, lalu menyuapkan potongan tadi pada Chandra menggunakan garpu. Lalu, tersenyum senang saat Chandra menerimanya.


Sementara Shila sibuk dengan kebahagiaannya, Chandra tetap mempertahankan senyumnya sembari menyambung-nyambungkan teka-teki ini. Awalnya, ia ragu bahwa sahabatnya selama puluhan tahun itu adalah pelaku pengirim video, tetapi ... saat Chandra melihat sang istri; Shila yang begitu indah dalam balutan gaun mewahnya—tampak seperti uang berjalan.


Lalu, kembali ke masalah utama yang selalu Arfan bahas. Bisnis. Keuangan. Kesuksesan. Kekayaan.


Bukankah mudah bagi Arfan untuk mencapainya ... jika memiliki Rashila Ghana?


Chandra tiba-tiba meneguk ludah secara kasar.



...Cinta segi apa ini?:v...


...Hai, ini Es Pucil!...


...Aku boleh baca pendapatmu mengenai bab ini? ...


...Jangan lupa berikan komentar/ulasan ya❤️...


...Itu sangat mendukung aku untuk semakin semangat update bab baru. ...


...Ada kesalahan, typo, dan lainnya? Aku akan sangat berterima kasih jika kamu mau membantu melaporkannya. ...


...***...


...Mari kenalan :...


...Instagram : es.pucil...


...Facebook : Es Pucil III ...


...🔺🔺🔺...

__ADS_1


...Tolong dengan sangat, jangan buat aku merasa menyesal/kapok bikin cerita; jangan plagiat dan upload ceritaku di mana pun itu, tanpa dapat izin dariku. ...


__ADS_2