Six Husband From Hell

Six Husband From Hell
Episode 14


__ADS_3

"Aku ingin pulang ke mansion Ayahku, aku merindukannya," ucapku.


Sungguh, aku tidak tahan kali ini dengan mereka para petinggi gila. Ohh... Tuhan keluarkan aku dari neraka ini.


"Hime, kau tahu persis keadaan saat ini. Jika kau kembali, kau akan dalam keadaan bahaya," tolak Shine halus.


Ahh... ayolah cepat keluarkan aku dari sini. Di sini lebih berbahaya jika mereka tidak tahu.


"Hei, aku masih memikirkan sekolahku dan Ayahku. Asal kau tahu, di sini mereka memperlakukanku dengan buruk. Pulangkan aku atau aku yang akan pulang sendiri?!" ancamku.


Lebih baik aku mengancam mereka sekarang, itu pun jika berguna.


"Siapa yang berani memperlakukan buruk seorang Ratu Iblis di sini?" tanya Viper menatap tidak percaya padaku.


"Kau tidak akan percaya padaku," jawabku jengah.


"Aku akan percaya padamu, Hime. Jadi katakanlah."


"Baiklah...," jawabku pada akhirnya.


 


~Flashback On~


Setelah pesta pernikahan yang mengesalkan itu, aku tinggal di istana Viper. Dan yang paling kubenci adalah saat iblis itu dibebaskan oleh Viper. Ya, Adik kesayangannya, Vivian Lucifer.


Wanita iblis yang tidak tahu diri itu dibebaskan Viper. Jika kuingat saat itu, saat aku berusia 6 tahun. Vivian menyiksaku hingga sekarat. Aku hampir saja mati jika tidak ditolong Mysth. Ingatan kuhilang karena gadis itu, entah apa yang membuat gadis itu datang dan langsung menyeretku, menginjak perutku, memukul kepalaku dengan batu. Dan menusuk perutku dengan tangannya. Saat itu juga aku ingin mati agar tidak merasakan sakit itu, tetapi ketika aku mengingatnya rasa sakit di perutku mulai terasa lagi.


Gadis itu menamparku, lalu memakiku saat ia datang ke kamarku dan Viper. Beruntung aku menahan tangan kotornya itu. Kulihat dirinya tidak secantik dulu, saat ini ia terlihat sangat kacau dan berantakan. Aku bersyukur dia jauh lebih buruk saat ini.


Aku jahat? Ohh tentu, dia bahkan lebih jahat daripada diriku.


"Dasar wanita jalang, beraninya kau menikah dengan Kakakku!" makinya.


"Hmmm... diamlah, aku sedang tidak bersemangat untuk mencincangmu saat ini," jawabku santai.


"Berani-beraninya kau..." Vivian maju dan hampir menarik rambutku.


Kutepis tangannya dengan gerakan cepat tanganku mencengkram lehernya.


"Dengarkan aku, Iblis kecil. Iblis sepertimu tidak pantas menyentuhku. Kini aku menjadi Ratu di sini, jika kau macam-macam kupastikan diriku sendiri yang menghanguskanmu. Jika kau mengerti pasti kau ingat aku menikah dengan enam iblis sekaligus. Jika aku tergores sedikit saja, Raja yang lain pasti akan memusnahkanmu. Jadi, aku sarankan kau pergi dari kamarku dan jangan pernah menampakkan dirimu lagi. Jika kau ketahuan ingin membunuhku, aku tidak akan menjamin kehidupanmu setelah ini. Sekarang pergilah, sebelum aku berubah pikiran," kataku panjang lebar.


Jangan pikir iblis bisa memperbudak manusia sepertiku. Walaupun aku di dunia iblis, akan kubuktikan manusia tidaklah lemah. Setelah aku berkata seperti itu, Iblis itu langsung pergi sambil sedikit mengancamku. Dan tentunya aku tidak peduli.


Keesokan harinya berbagai serangan muncul, dari sarapan sampai aku ingin tidur pun mereka tetap tak gentar untuk membunuhku. Dimulai dari pagi hari yang tetap saja terlihat gelap.


Tok tok tok


"Yang Mulia Ratu, hamba mengirimkan sarapan untuk Anda," ucap seorang pelayan.


"Masuklah," jawabku yang selesai merias sedikit wajahku.


Malam ini aku tidur bersama Shin dan saat ini ia masih tengah tertidur. Sungguh aku lebih menyukai wujud aslinya. Setiap harinya aku tidur dengan Raja yang berbeda-beda. Viper, Lazark, Shin, Rozenth, dan Mysth kini telah menjadi Raja setelah menikah denganku. Tetapi, Shine tetap menjadi Pangeran karena ia bukan seorang Putra Mahkota.


Pelayan itu menaruh sarapan pagiku dengan Shin di atas meja. Saat pelayan itu ingin pergi aku menghentikannya.


"Tunggu," ucapku.


"Apa ada yang kurang, Yang Mulia Ratu?" tanya pelayan itu.


"Cicipi semua makanan ini," titahku.


"Tetapi, Yang Mulia-"


"Cepat," potongku, pelayan itu lalu mencicipi semuanya dan setelah itu ia menjadi abu.


"Ok, dia mati. Huft... sudah kuduga mereka memberiku racun. Ini mengesalkan," rutukku, setelah itu aku memanggil pelayan lainnya untuk membersihkan debu iblis itu dan membuang makanan yang baru saja diantarkan.


"Shin, bangunlah ini sudah pagi." aku membangunkan Shin, sejak kapan Iblis membutuhkan tidur, huh?!


"Umh ... selamat pagi, Hime," jawabnya sambil bangkit dan menyisir surai hitamnya yang sedikit panjang.

__ADS_1


"Shin, bisakah kau membuatkanku sarapan? Aku lapar," pintaku, ia tersenyum sambil mengecup bibirku sekilas.


Shin menjentikkan jarinya dan terciptalah beberapa hidangan. Aku langsung saja memakan makanan itu, tetapi tetap dengan gerakan yang anggun. Aku mengucapkan terima kasih padanya, ia hanya tersenyum sambil berlalu masuki kamar mandi.


Siang harinya, kurasa ini siang karena hanya ada sedikit sinar dari langit. Aku berjalan-jalan sendiri tanpa pengawal. Para Raja itu entah sedang di mana dan aku tidak mau tahu. Ada teras yang lumayan besar mengelilingi istana dan aku berdiri di sana melihat sebuah kota yang besar dari sini. Tiba-tiba lantai yang kupijaki bergetar dan terpotong. Aku hampir saja jatuh kalau tidak memegang pinggiran lantai. Ini sangat tinggi jika kalian ingin tahu. Aku mencoba naik ke atas dan syukurlah aku bisa.


"Ini yang kedua kalinya aku ingin dibunuh. Apa lagi setelah ini?!" gerutuku.


Aku langsung pergi ke dalam kamar dan menguncinya. Aku membuka jendela kamar, tetapi ada anak panah melesat dengan cepat dan hampir saja mengenai kepalaku. Kumiringkan sedikit kepalaku dan anak panah itu lolos begitu saja.


"Ok, ini yang ketiga, apa lagi setelah ini?!" rutukku.


"Di mana para Raja Iblis bodoh itu di saat aku hampir saja mati?!" ucapku kesal.


Setiap hari semakin sulit menghadapi mereka. Aku terus menyelidiki mereka yang ingin membunuhku. Beruntung aku sering membunuh jadi, aku tidak terlalu takut menghadapi ini semua. Aku melihat pola serangan Iblis-Iblis yang selalu ingin membunuhku. Padahal aku Ratu mereka, tetapi mereka saja yang bodoh tidak mau menerimaku.


Kususun rencana untuk menjebak para iblis itu, selama seminggu aku menunggu dan menahan serangan mereka dan akhirnya aku menemukan siapa saja pelakunya.


Tanpa sengaja saat berjalan-jalan di istana tanpa pengawal seperti biasanya. Kalian mencari Raja iblis itu? Mereka sedang sibuk entah apa pun itu aku tidak mengerti. Tanpa sengaja aku melewati ruangan pertemuan dan sedikit mendengar keributan. Kupikir itu para Raja Iblis yang sedang mengadakan pertemuan akan tetapi, saat kuintip pintu itu tidak ada mereka. Di sana hanyalah Ibu Viper, Vivian dan petinggi lainnya.


"Sudah berpuluh-puluh kali kita mencoba membunuh sang Ratu akan tetapi, ia terus saja selamat. Apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang iblis yang kuketahui petinggi dari Kerajaan Asmodeus.


"Musnahkan saja langsung dirinya. Setelah dia mati, aku yang akan menjadi Ratu dari enam Kerajaan. Hahahaha...," jawab Vivian dengan lengkingan tawanya.


Aku langsung masuk ke tempat pertemuan itu dan menghadapi mereka secara langsung. Mereka terkejut dengan kedatanganku dan langsung bergerak mundur. Aku menatap mereka tajam lalu tertawa.


"Hahaha ... kalian sungguh sangat lucu. Ingin menghabisiku dan mengganti posisiku menjadi Ratu? Jangan terlalu berharap!" sesuai dugaanku.


"Di-dia," salah seorang Iblis tergagap melihatku.


Mencoba peruntungan, aku mencoba untuk memanggil kartu-kartu itu kembali.


Dan berhasil, kekuatan ini yang pernah kugunakan dulu. Aku sedikit terkejut, aku sangat bersyukur karena Tuhan belum menginginkan aku mati. Kartu hitam itu terus berputar mengelilingiku, kuambil satu kartu di hadapanku.


Kubuka kartu itu dan di sana tertulis La Routa, kulemparkan kartu itu ke depan dan kartu itu mulai bersinar dan muncullah sosok dewi seperti di kartu.


Dewi itu membawa ular putih di pundaknya. Para Iblis itu bergerak mundur, takut dengan apa yang mereka lihat. Tanpa kuperintah dewi itu menyerang iblis dengan ularnya. Ular itu membesar dan menelan iblis itu hidup-hidup. Hingga menyisakan Ibu Viper dan Vivian yang tersisa.


Ular itu menurut dan kembali ke pundak sang dewi. Dewi itu menatapku sambil tersenyum lalu kembali ke dalam kartu.


"Terima kasih," bisikku pada kartu itu lalu menghilang.


"Kalian ... mengapa aku tidak membunuh kalian berdua saja dari dulu," rutukku sambil menunjuk kedua iblis itu.


"Sebagai Ratu kau tidak pantas mengatakan hal itu," jawab ibu Viper sambil memeluk Vivian.


"Aku tidak perlu nasihat darimu," jawabku sinis.


Aku tidak ingin durhaka akan tetapi, Iblis itu sendiri yang ingin membunuhku.


"Ini terakhir kalinya aku membebaskan kalian, jika kalian masih saja ingin membunuhku, lakukanlah dengan CERDAS." lanjutku dengan menekan kata di akhir kalimat.


Aku keluar dari ruangan, lalu pergi ke kamar dan merebahkan tubuhku. Jangan tanya malam ini aku tidur dengan siapa. Siapapun itu selagi ia sang suami, aku tidak masalah. Dan tentunya aku tidak peduli.


Keesokan harinya, lagi-lagi mereka mengincar nyawaku. Air di dalam kamar mandi menjadi beracun. Tidak bisakah aku beristirahat satu hari saja tanpa ada yang ingin membunuhku.


Lagi dan lagi, sayangnya aku tidak menemukan 2 Iblis sialan itu. Sampai batas kesabaranku habis untuk tinggal di dunia ini.


~Flashback Off~


 


 


"Mengapa kau tidak memberitahukan kami?!" tanya Shin.


"Di mana kalian saat aku hampir terus terbunuh?! Di mana kalian?!" bentakku.


Tidak ada yang menjawab, mereka hanya menunduk merutuki kebodohan mereka sendiri. Aku mengusap wajahku kasar, mencoba meredakan emosiku yang meluap-luap.


"Pulangkan aku," pintaku lagi

__ADS_1


Dengan amat sangat terpaksa akhirnya mereka mengangguk. Lazark, Shin, Shine, Rozenth dan Mysth saja yang mengantarku pulang. Sedangkan Viper, ia tidak ikut karena ada sedikit urusan. Aku tidak peduli, yang terpenting adalah aku pergi dari dunia iblis ini.


 


***


 


Aku tidak ikut mengantar Ratuku ke dunia manusia, karena akhirnya aku memiliki alasan untuk membunuh mereka berdua. Tidak kusangka, Hime akan bertahan selama ini. Sampai bisa mengancam Vivian, Hime benar-benar bersikap sebagai Ratu Iblis sejati. Kulangkahkan kakiku menuju ruang rapat yang sudah kuatur saat ini. Rapat untuk hukuman mati Ibu dan Adikku.


"Tetapi Your Highness, itu terlalu berlebihan jika hukumannya adalah hukuman mati." tolak beberapa petinggi yang ikut andil dalam rencana membunuh Hime.


"BERLEBIHAN KATAMU?! RATU KITA HAMPIR MATI SETIAP HARINYA DAN KAU BILANG ITU BERLEBIHAN?!" jawabku kesal, seluruh istana bergetar karena kemarahanku.


Mereka hanya menunduk takut di tambah Vivian dan Ibu yang sudah memucat wajahnya. Kubakar petinggi bodoh itu di depan mereka semua.


"Ingatlah, jika kalian melakukan hal bodoh itu lagi untuk membunuh Ratu kalian ... akan aku hanguskan kalian hingga seluruh keturunan kalian," ucapku tenang sambil meredakan amarahku.


"Yes, Your Highness," jawab mereka serentak.


"Cepat bawa mereka berdua ke alun-alun tengah kota," lanjutku.


"Kakak, wanita jalang itu berbohong. Jangan percaya padanya, kumohon," ucap Vivian yang membuatku melayangkan sebuah tamparan panas di wajah cantiknya.


"Jaga bicaramu, Jalang kecil. Kau bukan Adikku lagi sekarang. Selama ini aku mencari cara agar kau mati tanpa dilindungi Ayah. Dan sekaranglah saat yang tepat untuk membunuhmu," jawabku sambil menarik keras surai putihnya.


"Mengapa Kakak selalu membela Jalang itu?" tanyanya sambil sesenggukan.


"Tentu saja agar dia mencintaiku. Hime berkata dari dulu, jika aku membunuhmu Hime akan mencintaiku," jawabku sambil menyeringai.


"Cepat bawa dia," titahku dan dituruti oleh pengawalku.


Ibu dan Vivian hanya menangis dan meminta maaf padaku saat mereka sudah diikat di tiang. Seluruh rakyat menyaksikan hari besar ini di alun-alun kota.


"Wahai rakyatku, di depan kalian saat ini adalah hukuman bagi mereka yang mengancam keselamatan Ratu kita," kataku dan melihat dari raut wajah mereka yang menahan amarah.


"Setiap harinya Ratu hampir saja mati oleh ulah mereka. Sekarang, sebagai Raja Iblis Kerajaan Lucifer aku bertanya pada kalian. Hukuman apa yang pantas untuk mereka yang ingin membunuh sang Ratu?!" lanjutku.


"Mati ... mati ... mati ... mati ... mereka pantas mati ... siapapun yang ingin membunuh Yang Mulia Ratu harus Mati," sorakan para iblis Kerajaan Lucifer.


Ku naikan telapak tanganku untuk memberhentikan sorakan mereka.


"Ya, kalian benar. Siapapun harus mati," jawabku lalu aku mendekati Ibu dan Vivian yang menangis.


"Akhirnya aku bisa membunuh kalian," bisikku lalu membakar mereka dengan api hitam yang hanya dimiliki keturunan Lucifer.


Saat itu juga rintihan dan tangisan terdengar dari mulut Ibu dan Vivian. Rakyat bersorak senang, sedangkan para petinggi Kerajaan Lucifer, Asmodeus, Astaroth, Leviathan, Cimeries, dan Azazel yang datang saat itu karena undangan dari Viper terlihat pucat melihat apa yang terjadi.


"Dengarkan aku baik-baik. Ini hanyalah salah satu hukumanku. Aku tidak tahu Raja kalian akan menghukum kalian seperti apa, jika kalian benar-benar siap mati. Berpikir ulanglah jika kalian ingin membunuh Ratu," ucapku langsung pergi dari alun-alun kota, sorakan para Iblis masih terdengar dengan jelas.


"Apa Tuan menyesal?" tanya Jack, berjalan di belakang tubuhku.


"Tidak, aku bahkan sangat bahagia. Dengan ini Hime akan bisa mencintaiku," jawabku enteng.


"Hamba belum yakin, Your Highness. Hamba melihat kebencian Yang Mulia Ratu sangat dalam kepada Anda," jawab Jack sambil menunduk.


"Akanku pastikan. Aku akan tinggal di dunia manusia untuk sementara ini. Sementara kau urus semua pekerjaanku di sini," titahku


"Yes, Your Highness," jawab Jack langsung menghilang saat itu juga.


"Kurasa, aku memang sudah mencintai Hime. Apa ini sebuah karma untukku?"


 


 


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2