
Setelah kembalinya Sakura ke dunia manusia, Sakura dikejutkan dengan beberapa hal. Seperti ia telah diluluskan dari sekolahnya dan perusahaan miliknya mengalami sedikit penurunan pendapatan.
Sepulang dirinya bahkan langsung dihadapi dengan berkas-berkas pekerjaan yang menumpuk dan perlu tanda tangan dirinya. Sean yang juga menjabat menjadi CEO salah satu perusahaan milik Sakura saat ini sedang di ruang kerjanya menggeluti berkas-berkas yang menggunung.
"Ahhhh ... hilang sudah masa mudaku yang masih ingin bermain-main dan memiliki teman," keluh Sakura setelah selesai menyelesaikan beberapa pekerjaannya.
Saat ini Sakura sedang berada di ruang kerjanya di salah satu kantor miliknya. Bersama dengan Lazark yang saat ini mendampingi Sakura kemanapun. Kini para Raja itu membuat peraturan di mana setiap hari Sakura harus ditemani salah satu dari mereka. Dan memiliki satu hari bebas tanpa mereka dengan hanya berdiam diri dalam mansion miliknya.
"Apakah kau mau kembali ke sekolah, Hime?" tanya Lazark tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah dewasa yang ia baca.
"Tidak juga," jawab Sakura lalu melirik ke arah Lazark yang sedang asik membaca.
"Hey Raja mesum, untuk apa kau membeli majalah tidak berguna itu?!" Sakura memincingkan matanya pada Lazark.
"Untuk mencari gaya yang bisa kugunakan saat di ranjang nanti," jawab Lazark wajah mesumnya.
"Mati saja sana!" rutuk Sakura kesal.
Lazark hanya terkekeh lalu melanjutkan aktifitasnya sambil sesekali melirik Sakura yang sekarang tampak serius melihat laptop miliknya. Hingga suara ketukan pintu terdengar membuat Sakura menoleh ke arah pintu.
Pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita muda yang terlihat sexy membawa berkas, wanita itu berjalan masuk dan berdiri di depan meja kerja Sakura.
"Nona, saya sudah mendapatkan laporan yang Anda inginkan. Seperti dugaan Anda, ada beberapa orang yang mengambil keuntungan dari perusahaan. Dengan kata lain, mereka mengambil sejumlah uang yang sangat besar dari perusahaan," ucap wanita sexy itu.
"Baiklah, aku minta bukti-bukti itu dan aku yang akan mengurusnya nanti," jawab Sakura dingin dengan wajah angkuhnya.
"Nona, ahh ... maaf saya tidak melihat ada tamu sedari tadi. Maafkan saya," ucap wanita sexy itu.
"Abaikan saja dia, ia hanya seseorang yang tidak penting," jawab Sakura.
"Sayang ... kau jahat sekali, aku ini Suami tercintamu," gerutu Lazark.
"Ahh ... ya, siapa namamu, Cantik? Aku adalah Lazark Asmodeus," lanjut Lazark sambil memegang sedikit jemari wanita itu.
"Nama saya Shima Kawazaki, saya adalah sekretaris Nona Sakura, Tuan Asmodeus," jawab wanita itu sedikit gugup.
"Lazark, jangan berbuat mesum dengan orang kantorku, pergi sana," ucap Sakura tanpa menoleh dari layar laptopnya.
"Ahh ... Istriku yang manis, kau bisa cemburu ternyata. Apa kau sudah mulai mencintaiku, Sayang?" ledek Lazark, Sakura hanya memberi tatapan membunuhnya.
Lelaki iblis itu hanya terkekeh lalu berjalan keluar ruangan sebelum barang antik yang terpajang di dekat Sakura melayang bebas ke arahnya.
"Baiklah, aku yang akan mengurus para koruptor itu. Kau cukup menerima hasilnya," jawab Lazark di ambang pintu.
"Jangan keluar dari ruanganmu jika aku belum kembali," lanjut Lazark kini dengan tatapannya yang tajam.
Sakura menghembuskan napasnya berat melihat tingkah laku suaminya itu. Shima, sekretaris Sakura hanya bisa mengerjapkan matanya tidak mengerti apa yang terjadi.
"Nona, apa benar lelaki tadi Suami Anda?" tanya Shima menatap tidak percaya.
"Yah ... belum lama ini kami menikah. Dan asal kau tahu saja, aku menikah dengan enam orang sekaligus. Itu yang membuatku selama ini hilang. Dan tidak bisa merayakan pernikahanku," jawab Sakura frustrasi.
"Nona, Anda bercanda? Enam orang? Oh my...," jawab Shima.
"Yah ... kau tahu kan betapa stressnya diriku sekarang saat ini. Usiaku masih sangat muda, aku baru saja berusia 18 tahun. Dan sekarang sudah menikah, jika perjodohan itu tidak ada, pasti hidupku bahagia," jawabnya sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Bersabarlah, Nona. Saya tahu, Anda adalah orang yang sangat kuat dan tegas. Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya untuk mengerjakan tugas saya. Dan saya ingatkan kembali 4 jam lagi Anda akan ada pertemuan di Hotel Grand Tokyo. Apakah Anda akan bersama Suami Anda nanti?"
"Ya, Lazark tidak akan melepaskanku sama sekali. Shima, tolong buatkan aku Earl Grey Tea," jawab Sakura.
"Baiklah, Nona," jawab Shima lalu keluar ruangan.
Di kantor, Sakura tidak memakai nama aslinya. Sakura kerap kali dipanggil dengan 'Nona' ia tidak mau ayahnya mengetahui bahwa Sakura memiliki 5 perusahaan besar dari bidang periklanan, perdagangan, permodelan, design, dan alat tranportasi seperti, pesawat perang, helikopter, kapal pesiar, kereta, bus, pesawat komersial, dan banyak lagi.
Dan lagi Sakura sudah memasuki Underworld. Ayahnya pasti tidak akan setuju dengan dirinya yang terjun ke dunia penuh kejahatan itu. Dan hanya Sean yang tahu, jika Sakura memiliki beberapa perusahaan. Dan Sean menjadi CEO untuk perusahaan di bidang transportasi. Tetapi Sean tidak tahu, jika Sakura sudah memasuki Underworld, di mana para penjahat berkumpul. Sakura tidak melakukan tindakan kejahatan seperti para penjahat lakukan di Underworld. Di mana mereka menjual senjata, organ manusia, hewan langka, obat terlarang, manusia hidup, mayat dan lain-lain. Sakura hanya mengamati lawannya yang juga masuk Underworld itu.
Dua jam berlalu, Lazark baru saja kembali. Ia masuk ruangan Sakura bersama Shima.
"Nona, semua kerugian kita sudah tertutupi saat ini. Saya baru saja mendapatkan laporannya," ucap Shima terkejut.
"Sesuai perhitunganku. Lazark, kau apa kan mereka?" jawab Sakura sambil menatap tajam ke arah Raja Iblis itu.
"Sedikit mengancam, lalu memasukkan ke dalam ruang siksaanmu. Itu kan yang setiap kali kau lakukan pada mereka yang bersalah?!" jawab Lazark sambil menyeringai.
"Bagus, asalkan kau tidak bunuh mereka cukup masukan mereka saja ke dalam sana. Aku tidak sabar bermain dengan mereka," jawab Sakura menyeringai bagai iblis memperlihatkan aura kelamnya.
"Ini baru Ratuku," ucap Lazark lalu mengelus kepala Sakura.
Shima bergidik ngeri, ia baru saja mengetahui satu kebenaran tentang bosnya itu, bahwa bosnya itu seorang yang sangat berbahaya. Apalagi ketika Lazark berkata 'setiap kali kau lakukan' membuat Shima takut jika berbuat kesalahan.
"Tenangkan dirimu, Shima. Aku tidak melakukan itu pada seorang yang tidak mungkin melakukan tindakan kotor seperti mereka," ucap Sakura menenangkan sekretarisnya itu.
"Ahh ... i-iya, Nona. Kalau begitu saya akan melanjutkan pekerjaan saya," jawab Shima sedikit merasa lega.
Sakura hanya sedikit mengangguk sambil menyeruput tehnya. Lazark memeluk Sakura dari belakang. Sambil membisikkan sesuatu.
"Aku yang akan menjadi senjata untukmu, Hime. Kau tidak perlu mengotori tanganmu lagi untuk mengurus mereka," bisik Lazark, Sakura hanya memandang tidak suka.
"Diamlah, aku ingin konsentrasi dengan pekerjaanku. Ahh ya, satu setengah jam lagi kita akan pergi di Hotel Grand Tokyo bertemu dengan klienku. Setengah jam lagi kita akan berangkat," jawab Sakura tidak menghiraukan perkataan Lazark.
"Baiklah," jawab Lazark dengan nada malas.
__ADS_1
***
Hari ini Sakura di dampingi oleh Shin, tidak seperti Lazark yang selalu saja mesum di mana pun ia berada. Setidaknya Shin lebih romantis dari mereka berenam.
"Hime, untuk makan siang hari ini aku sudah menyiapkannya di restoran kesukaanmu," ucap Shin sedikit berbisik karena ia sedang memangku Sakura saat ini.
"Shin, kau tidak jauh berbeda dengan Lazark. Duduklah di sofa sana." gadis itu mulai risih dengan Shin yang memeluk dirinya sedari ia mulai bekerja.
"Hime, jangan bandingkan aku dengan Lazark, Lazark selalu bernafsu ketika melihat wanita cantik dan sexy. Sedangkan aku hanya bernafsu kepadamu," jawab Shin enteng.
"Ingatkan aku kalau kau tidak mencintaiku," gumam Sakura sambil kembali mencoba fokus pada pekerjaannya, Shin hanya terkekeh mendengarnya.
Suara ketukan pintu terdengar, Sakura mempersilahkan masuk. Shima membawa berkas di tangannya lalu menghampiri meja kerja Sakura.
"Uhm ... Nona, maafkan jika aku mengganggu aktifitas Anda," ucap Shima sedikit gugup.
"Aktifitas? Memangnya aku sedang apa?" tanya Sakura tidak mengerti.
"Pfffttt ... hahhaaha ... Sayang, kadang kau telat berpikir atau apa?" jawab Shin sambil tertawa.
"Memangnya apa?" tanya Sakura lagi sambil menatap Shin.
"Sadarkah kau dengan posisi kita saat ini?" jawab Shin sambil menahan tawa.
Wajah gadis itu memerah, posisi mereka memang hanya memangku, tetapi Shin kini tengah bertelanjang dada.
"SHIIINNNN!!!! PAKAI BAJUMU," teriak Sakura lalu berdiri dari pangkuan Shin.
Shin hanya tertawa terbahak-bahak, sedangkan Shima menutup wajahnya dengan berkas yang ia pegang.
"Kami tidak melakukan apa pun di sini, aku hanya mengerjakan pekerjaanku. Jadi jangan pasang wajah bersalahmu itu," ucap Sakura, Shima mengangguk pasti.
"Jadi, ada apa Shima?" tanya Sakura mengalihkan pembicaraan.
"Saya ingin memberikan berkas-berkas yang perlu Anda tanda tangani," jawab Shima sambil menyerahkan berkas-berkasnya.
"Akanku pelajari dulu, setelah aku tanda tangani aku akan memanggilmu," jawab Sakura, wanita itu hanya mengangguk lucu.
"Ahh ... ya, Shima, dia adalah Shin. Suami ketigaku," lanjut Sakura sambil menunjuk Shin yang telah selesai memasang jas hitamnya.
"Nona, Suami Anda tampan-tampan sekali," bisik Shima.
"Sayangnya mereka tidak mencintaiku," balas Sakura dengan berbisik.
"Kalau begitu saya permisi, Nona," pamit Shima, Sakura hanya mengangguk.
Sakura kembali ke kursinya lalu mengecek berkas-berkas yang diberikan Shima tadi.
"Mengapa kau katakan itu?" tanya Shin tiba-tiba.
"Apa?" tanya Sakura tidak mengerti tanpa menoleh ke arah Shin.
"Mengapa kau katakan bahwa aku tidak mencintaimu?" tanya Shin lagi.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, lalu kenapa kau marah?" jawab Sakura acuh dan masih tetap tidak menoleh ke arah Shin.
"Lalu bagaimana jika aku mencintaimu?" tanya Shin dengan mata sayu.
"Tidak akan mengubah apa pun," jawab Sakura tanpa mempedulikan raut wajah Shin yang mulai mengeras.
Shin membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar ruangan tanpa sepatah kata pun. Sakura mengernyitkan dahinya, ia tidak mengerti dengan lelaki iblis yang beberapa saat lalu bersamanya.
“Ada apa dengannya? Akhir-akhir ini mereka sensitif sekali dengan kalimat 'tidak mencintaiku', apa mereka tersinggung?" gumam Sakura merasa tidak peduli, Sakura pun melanjutkan aktifitasnya.
Jam makan siang sudah berlalu, tetapi Shin tidak kunjung datang. Gadis itu sudah merasa lapar dan memilih keluar kantor menuju sebuah restoran sendiri.
Sedih? jangan harap, hati Sakura sudah dikubur olehnya. Jika mereka menyakiti hati Sakura, itu tidak berpengaruh padanya. Gadis itu duduk di sudut restoran dan ia memesan beberapa sushi dan green tea coffee kesukaannya. Tiba-tiba seseorang datang dan duduk tepat di hadapan Sakura.
"Selamat siang, Nona," ucap lelaki itu.
Sakura terkejut melihat seorang lelaki yang sudah duduk manis di hadapannya. Beruntung Sakura tidak tersedak makanannya yang baru saja ia telan. Sakura yang merasakan aura aneh di sekitar lelaki itu, mengernyitkan dahinya. Semenit ia terpesona dengan pria itu karena ketampanannya yang memukau.
"Apa yang kau inginkan? Jika kau ingin membunuhku, nanti saja setelah aku menyelesaikan makananku," jawab Sakura sinis.
"Untuk apa aku lakukan itu? Aku di sini hanya ingin berkenalan denganmu," jawab lelaki itu sambil terkekeh.
"Berkenalan? Apa kau bercanda? Orang sepertimu jika tidak ingin membunuhku lalu untuk apa?" balas Sakura dingin.
"Apa kau percaya tentang jatuh cinta pada pandangan pertama?" tanya lelaki itu sambil memamerkan senyuman manisnya.
"Jangan bercanda," jawab Sakura mengerti maksud ucapan lelaki tampan itu.
"Aku tidak bercanda. Perkenalkan, namaku Sebastian Lacretia," jawab lelaki itu sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Sakura Michaelis," jawab Sakura sambil menjabat tangan pria itu.
Sakura merasa sengatan hangat di telapak tangannya, dengan cepat gadis itu menarik tangannya kembali. Entah mengapa wajahnya menjadi merona.
__ADS_1
"Umh ... Tuan Lacretia, ada apa sebenarnya yang membuatmu datang padaku?" tanya Sakura hati-hati.
"Jangan memanggilku seperti itu," jawab Sebastian yang masih tersenyum cerah.
"Jadi, aku harus memanggilmu apa?" tanya Sakura sedikit gugup.
"Kau bisa memanggilku Sebby, atau Sayang," gurau Sebastian.
"Ok, 'Tuan Sebastian' kurasa itu lebih baik," jawab Sakura, Sebastian hanya tertawa.
"Jangan memanggilku Sakura atau Michaelis, jika sedang di daerah sini. Cukup memanggilku Nona," lanjut Sakura sambil berbisik.
Sebastian mengangguk paham sambil tersenyum simpul. Seketika wajah Sakura merona melihat senyum Sebastian.
'Imutnya...,' batin Sakura.
"Jadi, apa yang kau inginkan?" tanya Sakura kini mengalihkan pandangannya.
"Tentu saja dirimu," jawab Sebastian masih saja tersenyum simpul.
"Aku serius," jawab Sakura yang mulai kesal.
"Hahaha ... aku ingin dekat denganmu. Apakah boleh?" jawab Sebastian pada akhirnya.
"Apa karena kau jatuh cinta pada pandangan pertama padaku?" tanya Sakura kini menatap Sebastian dengan raut kesalnya.
"Ya, kau benar. Aku terpesona dengan keindahan aura yang kau miliki. Seperti melihat seorang ... Dewi," jawab Sebastian sambil menatap iris tosca gadis itu dalam-dalam.
'Kau yang terlihat seperti Dewa.' teriak Sakura dalam pikirannya.
"Aku tidak mempercayaimu," jawab Sakura mengalihkan pandangannya.
"Kita bisa memulai dari awal, perkenalan singkat lalu kencan," jawab Sebastian memberi saran.
"Aku sudah memiliki suami, maafkan aku," jawab Sakura menundukkan wajahnya.
"Tetapi ia tidak mencintaimu, bahkan kau sudah mengubur hatimu," jelas Sebastian kini berwajah serius.
"Dari mana kau tahu?" Sakura terkejut, Sebastian mengetahui dirinya.
"Hanya menebak, terlihat di wajahmu, tidak ada sinar cinta di wajahmu," jawabnya sambil menyentuh pipi Sakura.
Lagi-lagi wajah Sakura merona.
'Ada apa denganku? Mengapa wajahku terasa panas?!' batin Sakura.
Tiba-tiba tangan lelaki itu dicekal seseorang, Sakura menoleh dan mendapati Shin dengan wajah murkanya.
"Jangan sentuh Istriku," ucap Shin dingin.
"Shin?! Apa yang kau lakukan? Lepaskan tangan lelaki itu," bentak Sakura, kini seluruh pengunjung melihat ke arah mereka bertiga.
"Tidak akan, berani-beraninya dia menyentuhmu. Dan kau, Hime. Apa yang kau lakukan di sini?" jawab Shin geram.
Sakura menarik lengan Shin dan menjauhi Sebastian. Gadis itu mengambil kartu namanya dan memberikan kepada Sebastian.
"Maafkan aku, Tuan Sebastian. Kita bicara lagi nanti. Kau bisa menghubungiku di nomor yang tertera di sana. Baiklah, aku akan urus Suamiku dulu. Sampai jumpa," ucap Sakura masih bersikap setenang mungkin.
Sebastian hanya melambaikan tangan dengan senyum di wajahnya, Sakura sedikit senang melihat respon lelaki bernama Sebastian itu. Gadis itu menarik Shin masuk ke dalam mobil hitam milik Sakura yang terparkir. Sakura masuk diikuti oleh Shin, sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam tidak membuka suara. Sesampainya mereka berdua di gedung yang menjulang tinggi itu, gadis cantik itu menarik tangan iblis tampan itu. Hingga sampai di ruang kerjanya, Sakura melepas tangannya dan menutup kembali pintu ruangan kerjanya.
"Demi Zeus yang menikahi Poseidon, kau membuatku malu, Shin," bentak Sakura.
"Hime!!! Ingat posisimu. Kau adalah Istri Raja dan Pangeran. Jangan pernah membuat malu Kerajaan," Shin tidak kalah membentak Sakura.
"Pikirlah sendiri, kau sudah mempermalukanku di dunia iblis dengan mereka tahu bahwa kalian tidak mencintaiku. Karena itu, mereka berani maju untuk membunuhku. Jadi sekarang aku tanya, siapa di sini yang dipermalukan?!" jawab Sakura tidak kalah membentak.
Ruangan Sakura memang kedap akan suara. Akan tetapi, kali ini terdengar bahwa Sakura sedang marah besar walaupun tidak jelas Sakura berbicara apa. Shima yang ruangannya bersebelahan dengan Sakura mendengar bentakan Sakura bergidik ngeri dan tidak berani masuk ruangan Sakura.
"Sakura, maafkan aku ... aku ... aku tidak bermaksud untuk-"
"Cukup! Malam ini aku ingin tidur sendiri dan jangan menggangguku," potong Sakura lalu keluar ruangannya dan menghampiri Shima.
"Nona...," wanita itu bangun dari kursinya lalu menunduk hormat pada gadis di depannya.
"Shima, kau atur pekerjaan di sini. Mulai besok aku akan pergi ke perusahaanku yang lain," Sakura berkata sambil menahan amarahnya.
"Baiklah, Nona."
"Hari ini aku ingin pulang, kau urus sisanya di mejaku, Selamat siang," lanjut Sakura dan pergi meninggalkan Shima yang masih terdiam mematung.
Shin hanya bisa diam sambil mengikuti Sakura. Kesalahan besar yang ia lakukan di dunia iblis, membuatnya kini tidak berdaya.
Di kejauhan seseorang dengan pakaian serba hitam dan memakai tudung menyeringai dan menghilang begitu saja.
***
__ADS_1