Six Husband From Hell

Six Husband From Hell
Episode 20


__ADS_3

Seminggu sebelumnya...


Di dunia bawah, tempat berkumpulnya anggota The Kings. Viper, Lazark, dan Shin terduduk lemas di kursi mereka. Sedangkan Shine, Rozenth dan Mysth mondar mandir tidak jelas memikirkan sesuatu.


"Apa yang kalian lakukan sebenarnya?" tanya Mysth geram.


"Kami hanya ingin membuat Hime cemburu, tetapi ia malah tidak menggubris kami," jawab Shin.


"Apa kalian tidak melihat sama sekali? Apa kalian buta? Hime-sama sudah hampir mempercayai kita. Tapi apa yang kalian lakukan? Kalian membuatnya makin tidak percaya akan cinta kita padanya,"


"Apa kau bilang?!" Viper menatap Mysth tidak percaya.


"Ternyata benar kalian buta," gerutu Mysth.


"Mysth, berhenti berbicara. Kepalaku sudah pusing mendengar suaramu," jawab Lazark sambil memegang keningnya.


"Kau sudah tahu siapa Iblis itu, Shin?" tanya Viper.


"Nihil, ini menjengkelkan. Aku sudah mendapatkan fotonya, kau bisa tanyakan pada Lord Orlando," jawab Shin.


"Baiklah, aku tanyakan nanti," jawab Viper.


Mereka terdiam kembali, memikirkan nasib mereka masing-masing ke depannya. Shine terlihat sangat suram di banding Mysth. Lazark yang menyadari hal itu langsung menegur Shine.


"Shine, kau baik-baik saja?" tanya Lazark.


"Bagian mananya jika aku baik-baik saja? Hime-chan pasti sangat membenciku sekarang ini," jawab Shine mulai gelisah.


"Mysth, apa Hime akan semakin membenci kita?" tanya Lazark, karena Mysth lah yang paling mengerti tentang Sakura.


Mysth diam tidak menjawab dan mengacuhkan pertanyaan Lazark.


"Aku bertanya padamu," ucap Lazark menaikan suaranya 1 oktaf.


"Kau yang menyuruhku untuk diam," jawab Mysth enteng.


"Sudah jawab saja," jawab Lazark kesal.


"Aku tidak yakin, untuk sekarang ini lebih baik kita tidak bertemu dengan Hime-sama," jawab Mysth lalu diam kembali.


Mereka terdiam kembali berpikir masing-masing, Mysth bangkit dari duduknya dan pergi dari tempat itu. Seperti biasa ia lebih suka menenangkan diri di tempat sepi dibanding bersama teman-temannya.


"Baiklah, untuk seminggu ini jangan perlihatkan diri kalian pada Hime, tetapi kalian terus mengawasinya. Mungkin besok aku akan menghadap Lord Orlando untuk menanyakan Iblis itu," kata Viper lalu menghilang dari kursinya.


Mereka pun satu persatu menghilang dari tempat itu dan hanya tertinggal Rozenth.


"Sial, untuk mendapatkan kekuatan besar itu aku harus melakukan hal-hal di luar jangkauanku dan harus tunduk pada gadis kecil itu? Memang dia sangat sempurna, tetapi aku tidak mau tunduk begitu saja,"gumam Rozenth.


"Setelah mendapatkan kekuatan itu, akanku pastikan dia hidup menderita," lanjut Rozenth lalu menghilang dari kursinya.



Keesokan harinya...


Mysth dan Shin yang mengawasi Sakura, terlihat Sakura yang sedang duduk sambil mendengarkan lagu kesukaannya melalui earphone miliknya di perpustakaan.


"Tidak ada pergerakan dari iblis itu, mungkin hari ini ia tidak datang," bisik Shin pada Mysth.


Mysth hanya diam tidak merespon, yang ia pikirkan hanyalah Sakura yang terlihat baik-baik saja. Padahal yang ia pikir, Sakura akan terlihat sedikit bersedih.


Tiba-tiba Sean masuk dan menaruh secangkir teh untuk Sakura. Sakura yang tersadar dengan kedatangan Sean langsung merubah posisi yang berbaring menjadi duduk.


"Terima kasih," ucap Sakura, Sean mengangguk lalu duduk di kursi lainnya.


"Nona, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Sean tiba-tiba.


Sakura tidak menjawab, bukan karena ia tidak dengar pertanyaan Sean. Tetapi, ia hanya tidak merasa sanggup membicarakan kejadian itu. Mysth dan Shin yang sudah memasang telinga apa yang akan dikatakan Sakura kini terlihat sangat antusias.


"Aku tidak tahu, Sean. Aku melihat mereka menggandeng wanita lain. Aku tidak ingin kembali mencintai mereka tetapi, sepertinya ... aku kalah," jawab Sakura pada akhirnya sambil melempar asal earphone miliknya.


"Aku kalah...," ucap Sakura lirih.


Mysth dan Shin membeku mendengar jawaban Sakura. Mereka berdua seakan diterbangkan ke langit tertinggi mendengarnya. Shin mengusap wajahnya dengan kasar, tetapi wajahnya terlihat bahagia.


"Nona, Anda tidak perlu merasa jatuh cinta pada mereka lagi. Tuan Lacretia sudah sangat cocok menggantikan mereka semua. Anda hanya perlu jatuh cinta pada Tuan Lacretia," jawab Sean.

__ADS_1


Mendengar itu Mysth hampir saja beranjak maju untuk melepaskan kepala Sean dari tempatnya, tetapi Shin mencegahnya. Tidak hanya Mysth, Shin pun ingin melepaskan kepala Sean yang sudah sangat kurang ajar mengatakan itu pada Sakura. Tetapi, Shin lebih harus berpikir jernih untuk saat ini.


"Begitukah? Yah, sepertinya mereka memang hanya mempermainkanku. Berbeda dengan Sebastian. Apa kau pikir Sebastian serius mencintaiku, Sean?" Sakura menjadi terlihat lebih baik saat ini, ia tidak lagi memikirkan para suaminya lagi.


"Tuan Lacretia sangatlah baik, saya melihatnya jika Tuan Lacretia sangat serius mencintai Anda," jawab Sean sambil tersenyum terpaksa.


Senyum yang dipaksakan, ia tahu hari ini mungkin akan menjadi hari terakhir melihat sang Nona. Dan terpaksa karena ia pun mencintai sang Nona. Terdengar suara ponsel membuat Sakura mengalihkan wajahnya dan mengambil ponsel miliknya. Dilihatnya layar ponsel miliknya yang kini membuat iris hijau tosca milik Sakura berbinar-binar. Siapa lagi kalau bukan Sebastian yang meneleponnya.


"Aku akan angkat telepon dulu," ucap Sakura sambil meninggalkan Sean.


Sean tersenyum tenang, lalu sedetik kemudian,


CRAAASHHH !!!


Darah berlumuran di lantai, tanpa ada teriakan, tanpa ada perlawanan. Hanya sekali sentakan, kepala Sean terlepas dari tubuhnya.


"Dasar manusia tidak tahu diri. Harusnya kubunuh saja kau sedari dulu," ucap Shin sambil membersihkan jemarinya yang habis menebas leher Sean.


"Kau yang membunuhnya, jadi kau bereskan sendiri. Dan carilah Iblis yang pandai menyamar untuk menjadi Sean," kata Mysth langsung menghilang untuk kembali mengawasi Sakura.


"Jadi, kau masih hidup walaupun kepalamu sudah terpisah dengan tubuhmu? Ini menarik," bisik Shin sambil mencengkram kepala Sean.


"Se..tid...aknya a..ku su..dah ber..pe..san pa..da..nya," ucap Sean terbata-bata.


"Kare..na.. a..ku men..cintai Sakura. Me..lebihi ka..lian," kata terakhir Sean sebelum kepalanya dihancurkan oleh Shin.


"Berani-beraninya kau mencintai Hime. Pelayan tidak tahu diri," ucap Shin menahan amarahnya.


Dengan jentikan jarinya semua kembali seperti semula, mayat Sean sudah menjadi abu dan menghilang. Shin memanggil iblis bawahannya untuk menggantikan Sean.


"Doffy, menyamarlah menjadi Sean, dan terus awasi Hime," titah Shin pada bawahannya.


"Yes, My Lord," jawab Doffy.


Iblis bernama Doffy itu langsung mengubah wujudnya menjadi Sean. Tidak lupa menhubah suara dan sikapnya semirip mungkin dengan Sean.


"Jangan sampai terbongkar penyamaranmu, mengerti?!"


"Of course, My Lord," jawab Doffy yang kini sudah menjadi Sean.



Viper yang baru saja bisa bertemu dengan Maharaja Iblis, Orlando Dimitri Lucifer. Kini berjalan menuju singgasana sang Maharaja. Banyaknya pengawal di setiap sudut lorong dan juga pelayan iblis yang menunduk hormat pada Viper.


"My Lord, Tuan Viper sudah hadir dan menunggu izin masuk dari Anda," ucap tangan kanan Orlando.


"Izinkan dia," jawab Orlando.


Pintu besar itu langsung terbuka dengan penjagaan ketat di tiap sisinya. Viper dengan angkuh berjalan maju menghampiri sang Maharaja.


"Hormat hamba pada Yang Mulia Orlando Dimitri Lucifer," ucap Viper sambil bersujud.


"Apa kabarmu, Keponakanku?" sapa Orlando.


"Hamba sangat baik, Yang Mulia. Bagaimana dengan Anda, hamba dengar Anda sedang kurang sehat?" jawab Viper.


"Ya, sepertinya aku harus bertemu dengan teman lama, tetapi ia selalu sibuk saat ini. Lalu, apa keperluanmu? Aku tahu kau tidak suka berbasa-basi bertemu denganku hanya untuk menanyakan keadaanku," jawab Orlando.


"Anda sangat pengertian sekali, Yang Mulia," jawab Viper sambil tersenyum.


"Hamba ingin menanyakan sesuatu, mungkin Yang Mulia mengetahui seseorang yang tidak hamba ketahui. Hamba hanya memiliki foto dan sedikit mengetahui nama iblis itu," lanjut Viper lalu memberi sebuah foto kepada tangan kanan Orlando.


Orlando membulatkan matanya saat melihat seorang iblis dari foto yang diberikan ponakannya itu. Pria Iblis itu terkekeh dan kembali menatap Viper.


"Dari mana kau mendapatkan foto iblis ini?" tanya Orlando.


"Di dunia manusia, Yang Mulia. Apakah Anda mengetahui iblis ini?" jawab Viper sedikit terganggu dengan kekehan sang Maharaja di depannya.


"Dunia manusia? Apa yang ia lakukan di sana?" gumam Orlando.


"Dia mendekati Istriku, Yang Mulia," jawab Viper sedikit kesal karena tidak dijawab pertanyaannya.


"Benarkah? Apa yang sudah kamu lakukan sampai iblis itu mengincar Istrimu?" tanya Orlando.


"Jujur saja, aku tidak tahu. Bahkan aku tidak mengenal Iblis itu," jawab Viper kesal.

__ADS_1


"Sepertinya Yang Mulia mengetahui iblis itu. Siapa iblis itu, Yang Mulia?" lanjut Viper.


"Aku melarangmu untuk berurusan dengannya. Ini perintahku dan kau harus mematuhinya, bahkan semua kerajaan tidak boleh menggangunya," jawab Orlando kini berwajah serius.


Wajah Viper memucat, tidak biasanya Orlando memerintahkannya untuk tidak berurusan dengan iblis manapun. Jika sudah melarang seperti ini berarti kemungkinan ada sesuatu yang tidak bisa diatasi olehnya sekalipun.


"Baiklah, tetapi apa Anda bisa memberitahuku tentang Iblis itu?" jawab Viper setengah hati.


"Dia..." Raja Orlando tidak melanjutkan kalimatnya.


"Kau tidak perlu mengetahuinya, karena percuma saja. Biarkan dia melakukan apa pun yang ia mau. Dan kau cukup melihatnya saja, jangan turun tangan ataupun membuatnya marah," sambung Orlando.


"Kau boleh pergi," lanjutnya.


Viper menggertakkan giginya menahan amarah, ia menunduk hormat dan pergi dengan mengepalkan jemarinya hingga berdarah.


"Jadi, dia sudah mendapatkan Ratunya?!" kata Raja Orlando sambil menatap langit-langit.


"Apakah Anda ingin berkunjung ke sana, My Lord?" tanya tangan kanan Orlando.


"Mungkin nanti, hubungi Nico dan katakan aku akan berkunjung jika diperbolehkan," jawab Orlando.


"Yes, My Lord."



Empat hari telah berlalu dari saat Viper bertemu dengan Orlando. Viper sewaktu kembali menceritakan apa yang terjadi, mendapat respon beragam dari anggota The Kings lainnya.


Mereka memutuskan untuk kembali dan bertemu dengan Sakura untuk menjauhkannya dari iblis bernama Sebastian itu. Akan tetapi, mereka terlambat. Saat mereka kembali Sakura sedang dipeluk oleh Iblis itu dan berada dalam lingkaran sihir. Sedikit Sebastian melirik ke arah mereka dan menyeringai. Saat Mysth ingin menghampiri Sakura, sayangnya Sebastian menghilang terlebih dahulu bersama dengan Sakura.


"Kenapa kau melepas Hime, Leonardo?" tanya Viper geram.


Leonardo membalikan tubuhnya dan menatap mereka berenam dengan tajam. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Leonardo. Ia hanya berjalan melewati para Raja Iblis itu menuju pintu keluar, membukanya lalu menutupnya kembali.


"Doffy, kenapa kau tidak mencegah mereka berdua?" tanya Shin geram.


"Kalau hamba bertindak, penyamaran hamba akan terbongkar dan Anda akan dalam masalah lebih besar lagi, My Lord," jawab Doffy.


"Shin hentikan itu, dia benar," kata Lazark menenangkan Shin.


"Akanku bunuh ... akanku bunuh Iblis sialan itu," kata Mysth jatuh terduduk.


"Kita akan membunuhnya. Pasti," terang Viper.


"Kembali ke dunia Iblis dan deteksi keberadaan Hime," perintah Viper yang lain mengangguk.


Mereka pun menghilang untuk kembali ke dunia iblis. Viper, Shine, Lazark, Rozenth sudah diberitahu bahwa Shin telah membunuh Sean dan menyuruh bawahannya untuk menjaga Sakura.


Tetapi di saat seperti itu, Doffy tidak bisa berbuat banyak karena lingkaran sihir yang dibuat Sebastian mengandung anti Iblis selain sang pembuat. Jika Doffy masuk selangkah saja maka ia akan menjadi abu. Dan penyamarannya akan ketahuan dan masalah akan bertambah besar.


Leonardo yang ternyata menguping di balik pintu kini tahu, Sean yang di dalam adalah bukan Sean yang ia kenal. Leonardo diam-diam pergi ke kamar Sean dan memasukinya. Berharap Sean palsu itu tidak masuk ke kamar Sean asli. Leonardo mencari sesuatu untuk membuktikan bahwa iblis yang menyamar Sean itu bukanlah Sean asli.


Beberapa menit mencari dan Leonardo menemukan buku catatan di bawah bantal milik Sean. Diambilnya buku itu lalu disimpannya di balik jas yang ia kenakan.


"Tuan, apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Sean.


"Ahh ... aku menunggumu. Karena kau tidak kunjung keluar dari ruangan itu, aku pun menunggumu di sini," jawab Leonardo menutupi keterkejutannya.


"Apa yang Anda butuhkan, Tuan Leonardo?" tanya Sean.


"Aku akan pulang, bisakah kau menyiapkanku mobil?" jawab Leonardo.


"Tentu saja, silahkan ikuti saya," jawab Sean.


Leonardo pun mengikuti Sean palsu itu sampai halaman depan dan Sean memberi beberapa intruksi kepada sopir bahwa Leonardo akan kembali ke mansionnya.


"Baiklah, sampai jumpa Sean. Jika Sakura kembali, kabari aku," kata Leonardo untuk berbasa basi.


"Tentu saja, Tuan. Selamat jalan," jawab Sean lalu menutup pintu mobil.


Mobil pun menjauh dari mansion, Leonardo melihat Sean palsu itu memasuki mansion Sakura.


"Sean ... di mana dirimu sebenarnya?"


__ADS_1


Jangan lupa baca karya Thory yang lain ya, ada Princess of Mafia, Brothers Conflict, The Curse of Esmelth, The Great Husband, dan masih banyak karya Thory yang lain belum di update. Nantikan kelanjutannya :*


__ADS_2