
Spirit hitam yang menyelubungi tubuh Sebastian yang langsung menjadi puluhan duri tajam yang menusuk dan menembus lengan naga yang menggenggam tubuhnya.
ROOAARR
Rozenth mengaum seraya melepaskan genggamannya. Kini Sebastian terlihat berada di balik punggung naga itu setelah ia melancarkan beberapa kali serangan. Kedua tangan Sebastian menggenggam erat kedua sisi sayap naga perubahan Rozenth itu dan mulai mengerahkan sedikit tenaganya untuk mencabut sepasang sayap itu.
"Matilah kau iblis sialan!!!" desis Sebastian disambut dengan naga yang meronta berusaha meraih tubuh Sebastian yang berada di punggungnya namun, tangannya yang tidak terlalu panjang itu sulit untuk meraih tubuh Sebastian.
Naga yang meronta itu tidak berhasil menjatuhkan Sebastian dari punggungnya hingga sayap lebar naga itu akhirnya tercabut. Darah segar keluar dari sobekan otot punggung yang sudah tidak bersayap lagi dan Naga itu pun melayang jatuh ke tanah.
Sebastian tidak menyaksikan begitu saja saat naga itu terjatuh. Dirinya mengeluarkan tombak-tombak besar dari spirit hitam miliknya dan melemparkannya ke arah sang naga sembari terbang meluncur mengikuti arah jatuh naga itu.
Semakin tombak itu menghujami tubuh sang naga maka kecepatan terjatuhnya naga itu semakin cepat hingga akhirnya naga itu jatuh menyentuh tanah.
DUMMMM
Tanah yang menahan jatuhnya sang naga pun seketika hancur dengan gelombang angin yang muncul setelahnya
"Sialan!!! Nampaknya Rozenth sudah kalah!" umpat Shine.
Sebastian terlihat turun dari langit dengan perlahan.
"Ada lagi yang ingin melawanku?" tanya Sebastian dengan angkuh.
DUUUMM
Sebuah serangan yang tiba-tiba ditembakan oleh Shine langsung ditangkis dengan mudah. Bola api yang cukup besar bertubi-tubi ditembakan oleh Pangeran Iblis itu. Sebastian hanya bisa tertawa dengan sesekali dia mengelak menghindari api itu.
"Api neraka, huh?!" tanya Sebastian.
"Kau takut?" desis Shine sembari menyerang Sebastian.
Shine berlari dengan semburan api yang keluar dari tangannya membentuk sebuah pedang.
SRETT
Akar-akar besar menjalar ke arah Sebastian yang dikeluarkan dari tangan Lazark. Sebastian melompat vertikal saat hunusan pedang dan akar yang menjalar ke arahnya dengan kedua kaki yang siap menendang kedua tubuh iblis yang menyerangnya itu.
BUGH
BUGH
Tendangan itu berhasil mendarat di dada kedua iblis itu dan terpental sangat jauh. Belum sempat Lazark terjatuh ke tanah, Sebastian sudah berteleportasi ke arahnya dan menusukan tusukan sebuah tombak yang dibuat dari spirit hitam miliknya.
BUUUGH
Lazark terhempas ke tanah dengan tombak yang menancap pada tubuhnya. Begitupun dengan Shine yang tubuhnya ditendang ke langit dan kembali dihempaskan ke tanah dengan sangat keras oleh Sebastian.
Saat Shine sudah terbujur pasrah di tanah dengan luka yang cukup parah, Sebastian perlahan menusukan tombak pada dada Shine. Pangeran Iblis itu berteriak merasakan rasa sakit yang perlahan menusuk jantungnya.
"Nikmatilah rasa sakit kematianmu ini!! Hahaha..." Sebastian sangat senang dengan apa yang dia lakukan.
NGIIINGG
Gelombang suara itu terasa sangat memekakkan telinga Sebastian bahkan, para pasukan iblis yang tidak jauh berada di sekitarnya dan tengah dilawan oleh Nico itu pun mati karena suara yang dibuat oleh Mysth.
Mysth terlihat membuka mulutnya dan mengarahkan suara itu pada Sebastian. Suara itu sangat mengganggu Sebastian hingga ia menghentikan tusukan tombak pada dada Shine.
WUSHHHH
Sebuah tombak dilemparkan ke arah Mysth oleh Sebastian. Dengan sigap tombak itu diraih oleh Mysth sebelum mata pisaunya menusuk mata Mysth.
"Kau berisik sekali!!" Sebastian mendengus kesal.
"Datang dan lawanlah aku!!" ucap Mysth menantang.
SWIIIING
Tiba-tiba Sebastian berada di balik pandangan Mysth. Namun, nampaknya Mysth tidak bergidik takut sekalipun saat Sebastian berbisik ditelinganya.
"Jangan menantangku!" desis Sebastian.
"AAAAARRRGGGGG!!!" Mysth kembali berteriak, tapi kini bukan suara sonar yang ia keluarkan namun amarah yang membuatnya mengeluarkan elemen angin dari dalam tubuhnya.
Saat elemen itu keluar Sebastian terpental hingga sangat jauh. Tubuh Sebastian yang masih melayang itu siap menerima tendangan dari Viper yang ternyata sudah berada di belakangnya.
Viper menendang namun berhasil ditepis oleh Sebastian dengan kedua tangannya. Pukulan dan tangkisan terjadi dengan sengit dan gerakan yang cepat hingga sulit terlihat apa saja yang mereka berdua lakukan, hingga akhirnya Sebastian dan Viper saling menjauh lalu saling melemparkan serangan kembali.
Mysth yang terlihat tengah berlari mendekati Sebastian seketika membuat sebuah tornado dengan ujung pusaran yang terlihat seperti puluhan bilah pisau yang berputar. Pasukan iblis miliknya pun ikut terbawa ke dalam pusaran tornado itu dan seketika berubah menjadi daging cincang yang berhamburan lalu menjadi debu yang berterbangan.
Sebuah perisai dibuat oleh Sebastian ketika tornado itu mulai mencoba menyentuhnya. Perisai yang terbuat dari spirit hitam miliknya itu cukup kuat untuk menahan putaran tornado yang sangat tajam itu.
Percikan bunga api terlihat menyala-nyala saat tornado milik Mysth berusaha menyayat setiap inchi tubuh Sebastian. Putaran itu semakin kencang dan ratusan pasukan iblis pun semakin banyak yang terhisap hingga membuat tornado itu semakin tajam, karena ratusan senjata tajam yang terhisap ikut berputar seperti baling-baling.
"Sial!!! Iblis macam apa dia? Kekuatannya cukup membuatku harus bersusah payah melawannya!!" dengus Sebastian kesal.
'Aku harus masuk ke dalam inti pusaran dan membunuh Mysth yang berada di dalamnya!' pikir Sebastian dalam hatinya.
"Tapi hal itu akan sangat beresiko!!" dengan wajah yang meringis Sebastian terus berpikir bagaimana cara mengalahkan Mysth dengan tornadonya yang semakin membesar dan menguat.
"HIAAATTT!!!" Viper terlihat menyerang dengan pedang Frostfourny miliknya, pedang itu dapat menyerap jiwa iblis dan manusia juga dapat menyerap kekuatan lawannya, pedang yang membuat pemiliknya semakin kuat saat dia memakan korban 1 nyawa orang mati sama dengan 1 nyawa tambahan untuk pemiliknya.
Sebastian berusaha bertahan dari hisapan angin tornado di tengah serangan yang diberikan oleh Viper. Sebastian menahan serangan Viper dengan hanya satu tangan, begitupun tornado yang mencoba menelannya.
Situasi yang sangat berbahaya dan mengancam Sebastian yang sejauh ini belum meneteskan darah setetes pun. Hantaman pedang Viper terus berulang kali mencabik perisai yang dibuat Sebastian. Saat itu Sebastian merasa heran, semua benda dan makhluk termasuk dirinya terhisap ke arah tornado, tetapi Viper dengan santai terbang tanpa terlihat bersusah payah agar tidak terhisap.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang akan hal yang sulit dipikirkan itu, Sebastian langsung melesat cepat ke arah Viper dengan berusaha agar tornado itu tidak menghisapnya saat membuka perisai yang cukup besar itu.
Sebastian berhasil meraih tubuh Viper dan mulai membabi buta menyerangnya dengan pukulan, Viper tidak tinggal diam ia melesatkan beberapa serangan hingga akhirnya Viper sadar, Sebastian hanya berusaha mengorbankan dirinya untuk melindungi diri Sebastian, Lord Phanthom itu mencoba masuk ke dalam inti tornado itu.
Seketika Sebastian dan Viper masuk ke dalam inti pusat tornado dengan memasuki portal yang sepertinya dibuat oleh Viper. Viper tidak ingin mengambil resiko jika ratusan pedang dari putaran tornado itu menusuk tubuhnya.
Keduanya masih bertarung di dalam inti pusat tornado itu, Viper yang berhasil lepas dari pukulan Sebastian seketika melesat menuju posisi Mysth berada.
Seketika putaran tornado itu tiba-tiba melambat entah mengapa hal itu bisa terjadi. Saat tornado itu benar-benar berhenti, terlihat hal yang sangat mengejutkan. Viper terlihat mencekik Mysth di hadapan Sebastian.
"Ada apa dengan dia!" Sebastian terlihat benar-benar heran dengan apa yang sedang terjadi.
"Maafkan aku! Tapi aku harus meminjam kekuatanmu, Mysth!" wajah Mysth yang diangkat itu terlihat berusaha melepaskan tangan Viper yang mencekiknya, Mysth meronta hingga Viper menatap mata Mysth tajam.
Mulut Mysth terlihat menganga saat seberkas cahaya keluar dari mulutnya dan masuk ke dalam mulut Viper.
"Apa mungkin?!" Nico bergidik takut melihat apa yang dia lihat.
"My Lord!!! Dia menyerap jiwa dan kekuatan Mysth, jangan biarkan dia menyerap yang lainnya juga, atau kau tidak akan bisa mengalahkannya!!" teriak Nico pada tuannya.
"Hmm ... seperti itu rupanya!" desis Sebastian yang saat menyadari hal itu terlihat Viper sudah selesai menyerap kekuatan Shine dengan api neraka abadinya.
"Sialan!!" dengus Sebastian seraya berlari menuju Viper.
Viper terlihat menjulurkan tangannya dan dari tangan itu keluar sebuah angin tornado yang berputar vertikal seperti mata bor. Tornado itu bukan tornado bisa namun, diselubungi oleh api abadi neraka yang kini terlihat sebuah putaran angin yang bercampur dengan api.
Sebastian dengan cekatan menghindari tembakan-tembakan itu, ia berbelok dan melompat berusaha agar menghindari serangan hingga salah satunya sulit untuk dihindari. Sebuah tornado api sudah berada beberapa senti meter di hadapannya.
"Menyusahkan!!" Sebastian mendengus kasar saat kedua tangannya dan sepasang tangan lain yang dibuat dari spirit hitam miliknya berusaha menahan putaran angin itu agar tidak menembus tubuhnya.
Tangannya terlihat mengeluarkan asap saat masih berusaha keras menahan putaran angin itu namun, kekuatan angin itu bertambah dan membuat Sebastian terpental.
Terlihat Sebastian yang masih terduduk dari jatuhnya meringis, kedua telapak tangannya hangus terbakar hingga sarung tangan yang dia kenakan pun sudah tidak berbentuk lagi.
"Lord!! Dia hingga terpental seperti itu! Bagaimana denganku!!" Nico terkesima melihat kekuatan Sebastian, dirinya masih disibukan dengan ribuan iblis yang terus mencoba masuk ke dalam wilayah kerajaan namun, kekuatan Nico memang tidak layak untuk diremehkan.
"Kekuatan macam apa ini!!" desis Sebastian.
"Hanya itu saja kekuatanmu?" kini suara Viper terdengar parau karena bersatu dengan suara Mysth dan Shine.
"Oh! Jadi, sekarang kau benar-benar akan membunuhku?" tukas Sebastian, "walaupun kau menyerap seluruh energi pasukanmu hal itu tidak akan membuatku takut!!" lanjut Sebastian.
"Sialan!! Kau meremehkanku?!" ucap Viper yang terlihat murka.
Viper menghunuskan pedangnya ke angkasa membuat langit di atasnya menjadi berwarna merah darah dengan awan yang berkumpul di satu tempat. Petir-petir saling menyambar dengan suara yang menggelegar.
Sebastian pun tidak ingin diremehkan karena tidak mengeluarkan kekuatannya, sebuah pedang ditancapkannya pada tanah dan seketika terasa guncangan hebat dari dalam bawah tanah. Tanah tempat mereka berpijak kini retak dengan retakan yang besar dan sangat dalam.
Dari retakan tanah itu muncul api hitam yang berkobar di setiap retakan tanah. Sebastian tersungkur merasakan sesuatu yang menyakitkan berusaha keluar dari tubuhnya.
"Jangan-jangan ia mengeluarkan seluruh kekuatannya! Apakah iblis itu sangat hebat hingga membuat Lord mengeluarkan kekuatannya?"
PRANKK
Sebuah tangkisan berhasil menahan serangan iblis yang menyerang Nico saat dirinya sedang lengah.
"AAARRRGGH!!!!" teriakan Sebastian itu mampu membuat semua makhluk yang mendengarnya bergidik ngeri seraya melemparkan pandangannya ke arah Sebastian yang kini terlihat berbeda, sepasang randung keluar dari kepalanya, surai hitamnya memanjang dengan beberapa tanduk di kepalanya. Sebastian terduduk sambil menopang dagu dan tersenyum ke arah Viper.
"Akanku selesaikan semua ini sekarang juga!!" ucap Sebastian seraya bangkit lalu terbang ke arah Viper
Viper tidak tinggal diam dia pun berlari dengan menyeret pedangnya yang merobek tanah.
"HHIIAATTT!!" teriak Viper.
DUMM
Ledakan kecil terdengar saat Sebastian menahan ayunan pedang hanya dengan tangannya.
BRAAKK
Sebuah pukulan yang sangat keras bersarang di wajah Viper. Viper membalas pukulan itu dengan tendangannya, dengan cepat Sebastian menghalau serangan itu.
Keduanya bertempur dengan kecepatan yang luar biasa. Sebastian terlihat memukul keras lambung lawannya hingga terpental namun, sebelum Viper sempat terpental tangan Sebastian dengan cepat meraih kaki Viper dan seketika Sebastian menghempaskan tubuh Viper hingga ke dalam tanah. Viper memuntahkan darah dari mulutnya akibat hantaman keras yang mengenai dada dan juga wajahnya.
Saat Viper masih tersungkur di tanah yang retak itu. Sebastian dengan keras menginjak Raja Iblis itu.
"Kembalilah kau ke dasar neraka!!!" desis Sebastian sambil merapalkan mantra untuk membukakan pintu neraka.
GRRRRR
Gretak gretak krak
Seketika tanah yang retak dan mengeluarkan api itu runtuh dengan membawa tubuh Viper masuk ke dalamnya. Namun, Viper cukup sigap dengan melilitkan sebuah akar yang ia keluarkan dari pergelangan tangannya dan melilitkannya di kaki Sebastian.
Sebastian pun terbawa masuk ke dalam tanah yang memang terlihat seperti neraka. Iblis tampan itu mencoba melepaskan jeratan akar, tetapi tidak berhasil dan tetap menyeretnya ke dalam neraka.
Tangan-tangan iblis terlihat meronta dari setiap dinding tanah.
Api neraka yang berkobar membakar hangus jiwa-jiwa yang berdosa.
BUUGHH
Mereka berdua tersungkur di dasar neraka itu di sebuah dataran lava yang membeku dengan hanya sedikit mengorbankan api-api kecil pada bekuan lava itu, keduanya bangkit dan mulai bertarung di arena kerak neraka.
"Matilah kau iblis sialan!!" dengus Sebastian dengan mendaratkan sebuah pukulan yang diselubungi oleh spirit hitam yang terlihat seperti bor di lengannya.
__ADS_1
BRAAKK
Viper terpental hingga ke dinding neraka. Dirinya langsung bangkit menyerang Sebastian, beberapa tebasan pedang bisa dihindari oleh Sebastian
"HIAAATT!!!" seru Viper.
BUGGHH
Sebastian tidak bisa menghindari hantaman pedang itu, dirinya terpental namun tidak terlihat ada darah pada goresan pedang milik Viper. Sebastian menerjang Viper dan membuatnya menembus dinding-dinding neraka itu, sekitar 5 dinding roboh karena ulah Sebastian yang terbang melayang membawa tubuh Viper.
Hingga Sebastian menemukan lava panas yang mengalir seperti air, tubuh Viper yang masih dibawanya langsung dia bawa menuju lava itu.
Sebastian memukul Viper beberapa kali hingga Viper lemas dan seketika wajah Viper dicelupkan ke dalam lelehan lava panas itu. Viper meronta berusaha mengeluarkan setengah wajahnya yang dicelupkan ke dalam lelehan lava.
Sebuah hembusan angin keluar dari tangan Viper hingga membuat Sebastian terpental. Seolah tanpa rasa sakit Viper kembali bangkit, setengah wajahnya kini terlihat menjadi setengah tengkorak dengan sebelah tanduknya terlihat meleleh.
Tidak menunggu lama, wajah yang hancur itu terlihat kembali tumbuh secara perlahan mengingat dia adalah iblis, regenerasi tubuhnya cukup cepat dari iblis lain.
"Iblis sialan!!" dengus Viper.
"Wajahmu lebih tampan jika dilihat tanpa selembar daging yang melekat pada tengkorakmu!" ucap Sebastian dengan sarkasme.
"Hime, tidak akan suka melihatku yang seperti ini." Viper yang terlihat marah langsung melemparkan pedangnya ke arah Sebastian yang berhasil menghindar.
Viper dan Sebastian saling berlari, dengan tangan yang mengepal.
BUGH
BUGH
BUGH
Entah siapa yang lebih banyak terkena pukulan, tapi kedua iblis itu saling menyerang tanpa belas kasihan. Sebuah pedang api keluar dari tangan Viper, dan Sebastian membalasnya dengan pedang yang terbuat dari aura kegelapannya.
"Matilah kau!!!!" Viper menyeringai kasar.
"Mati? Kau bahkan belum membuatku mengeluarkan darah," jawab Sebastian sambil menyeringai.
Ayunan kedua pedang itu saling menghantam satu sama lain hingga membuat ledakan besar. Keduanya terpental jauh akibat ledakan itu, bumi kembali berguncang dan sepertinya lubang neraka itu akan runtuh tertindih oleh reruntuhan tanah.
Sebastian yang menyadari hal itu langsung menyerang Viper, ia mengangkat tubuh iblis itu dengan mencekiknya seraya terbang melayang di atas kubangan lava panas.
"Aku masih ingin bermain denganmu. Tapi sepertinya ... kau akan lebih betah di dalam sini."
Viper hanya mendengus kasar dengan sorot mata yang benar-benar emosi, tapi dirinya sadar jika dia tidak akan bisa mengalahkan Sebastian.
"Matilah kau!!" Sebastian melemparkan tubuh Viper masuk ke dalam lava pijar yang sangat panas.
"AAAAARRRGGGGG" Viper meronta saat tangan-tangan jiwa iblis-iblis yang berada di dalam kubangan lava itu menyeretnya tenggelam.
"Hehhh...." Sebastian tersenyum kecut saat melihat ujung jemari Viper yang terlihat setelah seluruh tubuhnya hanyut.
Sebastian langsung terbang berusaha kembali. Dia terbang meliuk-liuk menghindari reruntuhan.
Saat Sebastian berhasil keluar dari lubang neraka itu, dia menjulurkan tangannya dan merapalkan mantra untuk menutup lubang neraka itu. Tanah itu perlahan kembali menutup, retakan tanah mulai terlihat kembali normal dan lubang neraka sedikit lagi tertutup sempurna sebelum akhirnya hancur kembali karena Viper yang berhasil keluar dari lubang neraka itu.
"Terima ini sialan!!!" dengus Viper yang masih terlihat sedikit meleleh dengan tetesan lava yang berjatuhan dari tubuhnya saat dia terbang.
BUGGHH
Sebastian terpental oleh pukulan Viper.
"Shit!! Rupanya dia masih bisa bertahan!" desis Sebastian.
Viper perlahan turun ke tanah dan berjalan mendekati Sebastian.
"Well! Terimakasih karena kau sudah menambahkan energiku! Kau melemparku ke dalam kubangan lava yang dipenuhi jiwa iblis-iblis, itu sama saja kau mengisi kekuatanku hingga penuh, ahahahaha!!" ucap Viper yang membuat Sebastian mengetahui sesuatu.
"Jadi begitu rupanya!" ucap Sebastian yang bangkit dari jatuhnya dan kini mereka saling berhadapan.
"Jika kau mampu menyerap energi dan jiwa terkutuk apa jadinya jika kau menyerap energiku?" tanya Sebastian.
"Itulah yang akan aku lakukan saat ini!" Viper menyeringai kasar.
"Baiklah!" tukas Sebastian sambil merentangkan kedua tangannya ke samping.
"Apa? Apa kau bodoh!!"
"Mungkin kau yang bodoh!"
Tiba-tiba Sebastian mencekik Viper dengan erat.
"Jika kau menyerap energi dan jiwaku kau hanya bisa membayangkan sebuah balon kecil menampung air sebanyak satu lautan! Itu sama saja dengan bunuh diri, kau hanya berumur beberapa ratus tahun! Sedangkan aku? Wadahmu tidak akan kuat untuk menampung energi dan jiwaku yang sebanyak 40.000 tahun!!!" di akhir kalimatnya itu Sebastian berteriak seraya memberikan energi miliknya kepada Viper.
Aura kegelapan Sebastian berpindah dari tubuhnya masuk ke tubuh Viper melalui mulut Viper.
"AAAAARRRGGGGG!!!!" teriak Viper.
"Ini terlalu berlebihan!!"
"Terima seluruh energiku Iblis sialan!!!" dengus Sebastian.
Tubuh Viper kini terlihat menyala, otot-ototnya terus membesar, dengan kulitnya yang seperti tertanam lampu karena menyala-nyala seperti Lava. Matanya memutih dengan urat nadi yang memerah hingga terlihat jelas di balik kulitnya.
Baju zirah yang dikenakan oleh Viper pun pecah karena tidak kuat menahan tubuh Viper yang semakin membesar seperti monster. Sudah dipastikan ini adalah akhir kehidupan bagi Viper.
__ADS_1