Six Husband From Hell

Six Husband From Hell
Episode 21


__ADS_3

WARNING 21+ !!!


Sebastian yang berteleport dengan membawa Sakura kini telah sampai pada tujuannya. Sakura hanya bisa memejamkan matanya saat dirinya tengah dibawa pergi oleh lelaki tampan itu. Merasa kakinya sudah menapak tanah, gadis itu perlahan-lahan membuka matanya. Sedikit terkejut saat melihat wajah Sebastian sudah berada di depan wajahnya.


"Apa perlu aku menciummu agar kau membuka matamu?" ucap Sebastian.


Detik itu juga Sakura melebarkan matanya. Dijauhkannya wajahnya dari wajah Sebastian. Lelaki itu hanya terkekeh geli melihat tingkah gadisnya itu.


"Jangan tertawa, sekarang jelaskan padaku!" ucap Sakura sambil menoleh ke arah lain.


"Hahaha... baiklah," jawab Sebastian lalu melepas pelukannya.


"Selamat datang di Kerajaanku," lanjut Sebastian sambil merentangkan tangannya ke samping.


Sakura melihat sekelilingnya, merasa takjub dengan sekitarnya yang bagaikan seperti di surga. Walaupun ia tidak tahu surga itu seperti apa. Mereka saat ini berada di gerbang perbatasan kerajaan. Terlihat dari tempatnya berdiri, sebuah kota dan desa yang saling berdampingan dan beberapa air terjun. Gerbang perbatasan kerajaan berada di dataran tinggi, sedangkan untuk kota, dan desa berada di dataran rendah. Sedangkan kerajaan berada di dalam sebuah gunung yang non aktif.


"Apa kau malaikat?" tanya Sakura dengan suara lirih.


"Sayangnya bukan, aku adalah seorang ... Iblis," jawab Sebastian dengan nada sedih.


Sakura menoleh ke arah Sebastian. Tidak ada tatapan terkejut atau apa pun. Raut wajah Sakura terlihat ... datar.


"Sekarang pasti kau sangat membenciku," lanjut Sebastian sambil terkekeh.


Sakura terdiam tidak bisa menjawab, sekelabatan ingatan selama ini bersama Sebastian berputar kembali di otaknya.


"Apa kau percaya tentang jatuh cinta pada pandangan pertama?"


"Jangan bercanda."


"Jangan katakan hal itu dengan mudah," jawab Sakura dingin.


"Tentu, ini sangat sulit untukku, jika kau ingin tahu. Tetapi, aku tidak pernah berbohong. Lagipula aku tidak akan mendapatkan apa pun jika berbohong padamu," jawab Sebastian santai.


"Bagaimana jika aku memang seperti para Suamimu? Yang seperti mereka bilang aku bukan manusia," tanya Sebastian lagi.


"Kau tentu bukan iblis seperti mereka, iblis tidak bisa mencintai manusia."


"Benci? Sebastian, aku bukanlah orang yang tidak komitmen akan perkataanku. Dan aku bukanlah orang yang naif," jawab Sakura setelah berpikir lama.


"Apa maksudmu?" tanya Sebastian tidak mengerti.


"Aku sudah tahu kau adalah Iblis, tetapi aku hanya diam sampai kau jujur padaku," jawab Sakura sambil tersenyum melihat langit.


Sebastian terdiam beberapa saat, mengamati raut wajah cantik gadis itu dengan tangan bergetar Iblis itu langsung saja memeluk tubuh Sakura erat-erat.


"Kau harus menceritakan yang sebenarnya, dan tentang dirimu," kata Sakura sambil membalas pelukan Sebastian.


"Pasti," jawab Sebastian mantap.


"Ehem, maafkan aku yang mengganggu keromantisan kalian. Tapi sebentar lagi akan gelap," ucap seseorang menginterupsi aktifitas Sebastian dan Sakura.


"Nico," jawab Sebastian terkejut dengan kehadiran tangan kanannya itu.


"Selamat datang kembali, Lord Sebastian Lacretia Phanthom dan Lady Sakura Michaelis," sambut Nico dengan senyuman hangatnya.


"Sepertinya aku pernah melihatmu," gumam Sakura.


"Dia adalah tangan kananku, Nico selalu mengawasimu di manapun dan mungkin tanpa sadar kau pernah melihatnya sekilas di sekitarmu," jawab Sebastian.


"Perkenalkan, nama saya Nico Esmer, Milady." Nico memperkenalkan diri.


"Aku tidak terlalu yakin dengan wujud aslimu itu, tetapi auramu mengatakan aku pernah merasakannya," jawab Sakura tidak peduli dengan perkenalan Nico.


"Tentu saja, Nico memakai wujud manusia ketika di sekitarmu. Dan hanya dirimu yang dapat merasakannya," jawab Sebastian.


"Kenapa begitu?" tanya Sakura tidak mengerti.


"Nico sekuat para suamimu itu," jawab Sebastian dengan senyum meremehkan.


"Kita akan ke istana, saat ini sudah hampir gelap. Besok perayaan kedatanganmu akan diumumkan. Kita akan beristirahat sekarang," lanjut Sebastian, Sakura hanya mengangguk.

__ADS_1


Mereka pun berjalan melewati kota untuk mencapai istana. Tidak ada iringan seperti biasanya. Sebastian tidak menyukai yang terlalu mewah di hadapan rakyatnya. Bahkan pengawal hanya 4 Iblis saja di belakang Nico. Dengan Sebastian yang berada di depan dan Sakura yang di sebelahnya, tubuhnya kini di tutupi jubah Kerajaan Sebastian dan wajahnya ditutupi dengan sebuah cadar.


Sebastian tidak memerlukan penjaga karena dirinya tidak memerlukannya, selama ini tidak ada yang bisa menandinginya. Hidup selama 40.000 tahun membuatnya memiliki pengalaman yang sangat banyak dan kekuatan yang menakjubkan.


Raja terdahulu hidup hingga usia 140.000 tahun. Sebastian dinobatkan menjadi Raja saat dirinya berusia 10.000 tahun, tepat saat Raja terdahulu mati karena termakan usia. Sang Ratu, yang seorang malaikat mati setelah melahirkan Sebastian, dikarenakan energi kehidupannya diambil oleh Sebastian.


Para rakyat melihat sang Raja membawa seorang gadis manusia, yang ditutupi wajah dan tubuhnya dengan jubah Kerajaan milik Sebastian. Para rakyat bersorak gembira dengan kedatangan Ratu mereka. Meskipun begitu tidak ada yang berani mendekat karena aura intimidasi dari Nico.


Tidak membutuhkan waktu yang lama mencapai gerbang istana. Sebastian memerintahkan beberapa pelayan untuk mengurus Sakura di kediaman miliknya. Sedangkan Sebastian kini duduk di singgasananya dengan gagahnya. Nico yang di dekatnya tersenyum bahagia melihat Sebastian yang terlihat bahagia.


"My Lord, Lord Orlando menghubungi kita beberapa waktu lalu. Beliau bertanya apakah diperbolehkan mengunjungi Anda, karena ada sesuatu yang harus beliau bicarakan," kata Nico melaporkan.


"Pasti tentang Sakura, beritahu dirinya aku sedikit sibuk menyambut kedatangan Ratuku," jawab Sebastian dan Nico mengangguk mengerti.


"Yes, My Lord." jawab Nico patuh.


Sakura yang kini di kamar barunya duduk termenung tidak mengerti. Sewaktu tadi ia datang, ia diberitahukan untuk istirahat malam ini karena besok adalah hari perayaan untuknya. Padahal ia tidak terlalu mengerti perayaan macam apa yang menantinya besok.


Para pelayan yang tadi melayaninya pun selalu tersenyum bahagia saat melayaninya tadi. Merasakan tubuhnya yang agak lelah, Sakura memutuskan untuk merendam tubuhnya dengan air hangat yang sudah disediakan pelayan tadi.


Kamar yang besar, tiga kali lipat dari kamar miliknya. Dan saat memasuki kamar mandi, betapa terkejutnya dirinya.


"Ohh my...," ucap Sakura sambil menutup mulutnya dengan tangannya.


"Apa aku salah masuk ruangan? Aku masih ingat, pelayan itu masuk pintu ini dan menyiapkan air panas untukku mandi," gumam Sakura sambil menatap takjub pemandangan indah di hadapannya.


Saat Sakura masih menatap tidak percaya, Sebastian yang sudah berada tepat di belakangnya kini memeluk tubuh Sakura.


"Ada apa, Ratuku?" tanya Sebastian lembut.


"Aku ingin menyegarkan tubuhku, tapi saat kubuka pintu ini, aku malah melihat pemandangan indah ini," jawab Sakura dengan polosnya.


"Hey, ini memang kamar mandi kita. Apa kau tidak suka?" tanya Sebastian.


"Aku suka, hanya saja ini terlalu berlebihan," jawab Sakura sedikit tidak enak membicarakan tempat kediaman Sebastian.


"Kau akan merasa lebih tenang jika di tengah alam. Mau mencoba?" jawab Sebastian.


"Ehm... baiklah," jawab Sakura setelah berpikir sebentar, Sebastian langsung saja mengangkat tubuh Sakura ala bridal.


"Tidak akan, aku akan memandikanmu sekarang," jawab Sebastian, wajah Sakura merona seketika.


Lalu dengan pakaian yang masih lengkap, Sebastian memasuki air sambil tetap menggendong Sakura. Sakura mengalungkan tangannya di leher Sebastian. Tubuh Sakura menegang terkena air hangat yang menyentuh kulitnya. Tapi, menit berikutnya tubuhnya berubah menjadi lebih santai.


Sebastian dengan cekatan tetapi masih bersikap lembut membuka seluruh baju Sakura. Dan entah sejak kapan Sebastian sudah tidak memakai sehelai benang pun. Sakura memalingkan wajahnya ke arah lain, ia yakin wajahnya sudah semerah tomat.


Keheningan menyelimuti mereka, hanya suara air yang terjun yang menghiasi keheningan di antara mereka. Sakura yang menyandarkan tubuhnya ke bebatuan terlihat menikmati suasana di sekitarnya. Bahkan ia sempat lupa jika ada Sebastian di dekatnya.


Sebastian yang melihat itu hanya tersenyum simpul, penantian selama ini akhirnya membuahkan hasil. Ia dapat membawa Ratunya ke dalam Kerajaannya. Dan mulai saat ini, tidak ada yang bisa mengganggu miliknya. Tidak ada tangan Iblis lain yang menyentuh tubuh indah Sakura.


Sebastian menarik tubuh Sakura untuk mendekat padanya. Sakura yang terkejut, tiba-tiba tubuhnya menegang. Sakura merasakan sesuatu di bawah air itu. Ya, lebih tepatnya kini di belakang tubuhnya. Mengetahui apa itu yang di bawah air wajahnya kian merona merah. Sebastian yang tampak terlihat biasa saja hanya tersenyum jahil.


"Kemarilah, apa kepalamu sakit? Wajahmu memerah," tanya Sebastian pura-pura cemas.


"Tidak ... tidak apa-apa, hanya saja ... aaarghh, lupakan," jawab Sakura gugup lalu sedikit menjauh dari Sebastian.


Tetapi dengan cepat, Sebastian menarik tubuh Sakura dan memutarnya hingga kini mereka berdua berhadap-hadapan. Dengan posisi Sebastian kini duduk dan di antara kedua kaki Sakura. Ditariknya lengan Sakura mengalungkan di lehernya. Didekatkannya tubuh Sakura pada tubuhnya hingga Sebastian memeluk tubuh Sakura erat-erat.


'Ohh...tidak... miliknya tepat di depan milikku.' Sakura membatin.


"Ada apa?" tanya Sakura sedikit gugup.


"Aku hanya merindukanmu," jawab Sebastian lalu menyibakkan rambut Sakura ke belakang dan ia mulai mengecup leher jenjang Sakura.


"Sebastian... ahh...," desah Sakura membuat milik Sebastian kini menegang.


"Sudah saatnya," bisik Sebastian di telinga Sakura.


"Ehm...," Sakura menahan desahannya.


Tanpa berpikir panjang lagi, Sebastian memasukkan kejantanannya ke dalam liang milik Sakura. Sakura terkejut dan sedikit berteriak karena hentakan yang tiba-tiba dan tepat mengenai titik sensitifnya.

__ADS_1


"Sebastian, apa yang kau lakukan?" tanya Sakura panik.


"Bercinta tentunya," jawab Sebastian santai dan ia belum menggerakkan tubuhnya.


Sebastian ingin Sakura terbiasa dengan kejantanannya. Napasnya tertahan dan tentu saja, Sebastian menahan gairahnya.


"Sebastian, ini tidak benar. Aku memang mencintaimu, tapi ini-"


"Ini benar, Sakura. Ini benar, karena kau sudah menjadi Istriku, pengantinku, dan milikku," potong Sebastian meyakinkan.


"Apa maksudmu aku Istrimu? kita bahkan belum-"


"Kita sudah menikah," potong Sebastian lagi.


"Apa kau ingat berapa kali darah itu menghujam jantungmu?" tanya Sebastian.


"Dan mengapa darah itu tidak menghancurkan jantungmu saat bersamaku?" lanjutnya.


"Tujuh kali dan aku tidak tahu apa sebabnya," jawab Sakura menahan rasa geli di bawahnya.


"Seharusnya hanya enam kali darah itu menghujam jantungmu, dan rasa sakit itu akan membuatmu trauma akan menikah lagi dengan Iblis lain. Aku menaruh darahku di sana dan menghujam jantungmu pertama kali agar kau tidak merasakan sakit saat darah-darah lain menghujam jantungmu. Jantungmu tidak hancur saat bersamaku karena aku adalah salah satu suamimu," jelas Sebastian dengan sedikit tegas.


"Jadi, kau sudah merencanakan itu?" tanya Sakura menatap tidak percaya.


"Ya, karena aku mencintaimu, Sakura Michaelis," jawab Sebastian sambil memegang pundak Sakura.


Tidak ada kebohongan di mata Sebastian, Sakura melihat tatapan yang tulus dari manik ruby milik Sebastian. Sakura semakin tersentuh dengan tiba-tiba Sebastian mengecup keningnya, menandakan Sebastian menyayangi Sakura.


"Sebesar itukah kau mencintaiku?" gumam Sakura.


Sebastian tidak menjawab, ia menggerakkan pinggulnya untuk memasuki Sakura lebih dalam


"Ahh... Sebastian," desah Sakura.


Hentakannya kini makin menggebu dan terbilang cukup kasar. Sebastian melumat bibir mungil Sakura, memeluknya sambil terus menghentak-hentakkan pinggulnya. Sakura melingkarkan tangannya ke leher Sebastian. Sebastian yang sudah tidak bisa menahan lagi, terus menghentakkan miliknya ke bagian paling sensitif di dalam milik Sakura.


Tangannya tidak tinggal diam, diremasnya dengan gemas gundukan milik Sakura yang cukup lumayan besar. Sakura kembali mendesah, mereka berdua seakan lupa berada di mana. Hingga Sakura merasa kelelahan, Sebastian mengangkat tubuh Sakura keluar dan menuju ranjang milik mereka berdua.


"Sebastian...," panggil Sakura lirih.


"Aku sudah menahan lama nafsuku, dan menunggumu sekian lama," jawab Sebastian.


"Ceritakan tentang dirimu," kata Sakura lalu memeluk Sebastian yang sudah berbaring di sampingnya.


"Baiklah, besok. Setelah perayaan, akanku ceritakan semuanya," jawab Sebastian sambil mengelus rambut Sakura yang basah.


Dan akhirnya Sakura jatuh tertidur.



Viper dan anggota The Kings yang lainnya mencari Sakura di dunia iblis akan tetapi, mereka menemukan jalan buntu dari pencarian Sakura. Kini mereka sedang berkumpul di istana milik Viper.


"Aku tidak bisa mendeteksinya lagi. Aku hanya bisa mengikutinya sampai kabut putih terlarang itu," kata Shin sambil menutup wajahnya pasrah.


BRAAKKK


"Sial, sekali saja masuk kau tidak akan bisa keluar dan akan mati karena tidak bisa berteleport ataupun pergi dari kabut terlarang itu," umpat Lazark sambil menggebrak meja.


"Dia ingin bunuh diri bersama Hime dengan memasuki kabut terlarang itu. Bahkan Lord Orlando tidak mampu keluar dari kabut itu jika saja ia tidak ditolong oleh Raja Phanthom," sambung Rozenth.


"Kita harus menghubungi Raja Phanthom untuk menemukan Hime dan iblis sialan itu," usul Shine.


"Hanya Lord Orlando saja yang bisa menghubungi Raja Phanthom. Kita harus bertemu Lord Orlando terlebih dahulu untuk meminta bantuannya," jawab Viper, yang lain hanya mengangguk lemah.


"Aku akan mengatur pertemuan dengan Lord Orlando terlebih dahulu," lanjut Viper lalu menghilang dari kursinya.


"Semoga saja kita sempat, sebelum menemukan mayat Hime," ucap Lazark.


Mysth keluar ruangan dan memasuki kamarnya, Mysth lebih suka berjalan daripada main menghilang dari pandangan orang dengan memakai kekuatannya. Mysth berjalan ke arah balkon dan menatap langit yang gelap dengan halilintar yang menghiasi kelamnya langit di dunia Iblis.


Merutuki semua kebodohannya dengan gamblang jika sebenarnya ia tidak mencintai Hime. Semata-mata hanya untuk kekuatan mutlak yang bisa ia terima. Seandainya dulu memang ia mencintai Sakura, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya.

__ADS_1


"Apa yang harus kami lakukan, Hime-sama?"



__ADS_2