
"Sebastian," panggil Sakura yang saat ini berada di taman melihat Sebastian datang menghampirinya.
"Menikmati pagi hari?" tanyanya, Sakura mengangguk sambil tersenyum.
"Lebih tepatnya menikmati hari yang damai sebelum dimulainya perang," jawab Sakura sinis, Sebastian menatap tajam gadis yang sudah menjadi iblis itu.
"Sejauh mana Ratuku ini mengetahui rencanaku?" tanya Sebastian kini tersenyum simpul.
"Semuanya," jawab Sakura membalas senyuman Sebastian.
"Tidak ada pilihan lain kau tahu itu, aku tidak ingin membagimu dengan mereka." Sebastian mengecup pipi Sakura.
"Apa maksudmu dengan membagiku?" Sakura menatap tajam Sebastian.
Iblis tampan itu terkekeh, "Kau tidak perlu memikirkannya." jawabnya sambil mengelus pipi Sakura.
"Sebastian~"
"Aku bisa meratakan mereka semua tanpa bantuan orang lain jadi, tenanglah kau dan semua rakyatku akan aman," potong Sebastian.
"Kau menyembunyikan sesuatu." Sebastian kembali terkekeh, dengan cepat ia melumat bibir manis Sakura.
Sakura mendorong tubuh Sebastian hingga aktifitas mereka berhenti. Gadis itu menatap Sebastian meminta penjelasan lebih, tetapi Sebastian hanya menggelengkan kepalanya.
"Jangan memaksaku untuk mengikat dan kembali memasuki dirimu di atas ranjang. Dengan senang hati aku akan melakukannya, tetapi kali ini tanpa ampun," ujar Sebastian sambil tersenyum simpul.
"Kau menyebalkan!" Sakura beranjak berdiri lalu menghilang dari hadapan Sebastian.
Iblis tampan itu kembali terkekeh,"Sepertinya Ratuku mulai bertingkah." gumam Sebastian, beberapa saat kemudian tiba-tiba saja ia mendapat firasat buruk.
"Nico!" panggilnya.
"Ada yang bisa saya bantu, My Lord?." Nico sudah berada di belakang Sebastian.
"Cari Ratuku, dan bawa ia kembali ke mansion," titah Sebastian kini ia terlihat panik.
"Daulat, My Lord," jawab Nico langsung mencari ke mana Sakura pergi.
Sakura memilih kembali ke mansion milik orang tuanya saat ini, menyembunyikan aura miliknya agar Sebastian tidak menemukannya. Mansion itu masih terurus, meski sang pemilik sudah tiada. Para maid dan bodyguard masih di pekerjakan untuk melindungi aset keluarga Michaelis tidak jatuh pada tangan yang salah. Sesampainya Sakura di pintu masuk ia di sambut dengan baik oleh para maid dan bodyguard yang bekerja di sana.
"Apakah Nona akan menginap?" tanya salah satu maid.
"Sepertinya tidak aku akan kembali nanti malam," jawab Sakura dan para maid hanya tertunduk lesu.
"Oh ya, jangan lakukan sesuatu yang spesial untukku. Berlakulah seperti biasa aku tidak mau kakek muda itu menemukanku, kalian mengerti?!"
"Baiklah, Nona Sakura," jawab mereka serentak meski mereka tidak mengerti apa yang dimaksud majikannya dengan 'kakek muda' itu.
Sakura lantas pergi memasuki kamarnya, ia tidak tahu jika para maid dan bodyguard itu adalah pekerja baru. Karena yang sebelumnya mereka telah mati karena amukan para Raja iblis itu.
Memasuki area kamarnya yang dulu, Sakura merasakan kehadiran seorang iblis. Gadis itu mulai mewaspadai sekitar, ia tidak tahu aura iblis apa yang sedang berada di dalam kamarnya. Yang jelas bukan Sebastian ataupun Nico, aura mereka berdua tipis tetapi sangatlah kuat. Dibukanya pintu kamar di hadapannya.
"Suatu kehormatan akan kedatangan Anda di mansion keluarga Michaelis, Lord Viper Lucifer," sapa Sakura berjalan dengan anggunnya lalu membungkuk hormat pada Viper.
"Akhirnya aku menemukanmu," jawab Viper sambil memperlihatkan evil smirk miliknya.
"Apa yang membuat Anda datang ke kediamanku, Lord Lucifer?" tanya Sakura masih dengan nada formalnya.
"Menjemput Ratuku tentunya," jawab Viper kini tersenyum lembut.
"Ratu?" Sakura menatap bingung Viper.
"Ya, kaulah Ratuku," jawab Viper sambil berjalan mendekati Sakura.
"Apa maksudmu?" Sakura mulai waspada.
"Ini adalah buktinya." tiba-tiba saja Viper sudah di belakang Sakura, dengan cepat iblis itu memeluk tubuh Sakura sambil mencium leher gadis itu.
"Apa yang kau~"
"Tidak sakit, bukan?" potong Viper.
__ADS_1
Sakura mengernyitkan dahinya, mencerna kalimat Viper. 'Sakit' Sakura baru mengingatnya, bagi iblis yang sudah menikah dan jika ia berselingkuh jantungnya akan hancur dalam detik itu juga. Karena itu, para wanita kaum iblis tidak pernah berselingkuh ketika sudah menikah.
Viper menjauh lalu memutar tubuh Sakura agar menghadapnya. Gadis itu masih diam tidak bersuara, ia masih memikirkan apa yang terjadi. Sepertinya loading di kepalanya saat ini sangat lama hingga ia tidak sadar dengan apa yang dilakukan Viper saat ini.
Viper menangkup wajah Sakura lalu mencium kening Sakura dengan lembut. Sakura merasakan kehangatan akan kecupan ringan Viper. Ia dapat merasakannya, Sakura dapat merasakannya jika Raja Iblis di depannya saat ini benar-benar mencintainya. Dan ketika kesadarannya kembali, Sakura menjauhkan dirinya dari Viper.
"Jika kau adalah Suamiku, bagaimana mungkin aku tidak mengingatmu?" tanya Sakura, ia tidak dapat memungkiri kejadian saat Viper mencium lehernya.
Tetapi ia tidak akan percaya begitu saja, lagipula itu hanyalah sebuah kecupan di lehernya saja. Teringat perkataan Sebastian jika mereka ingin memilikinya, mereka pasti akan memakai cara apa pun untuk mendapatkannya.
"Karena Lord Phanthom itu," jawab Viper ambigu.
"Yang perlu kau ingat adalah kau memiliki tujuh suami, tetapi salah satu dari kami telah mati. Saat kau pergi bersama Lord Phanthom, kami tidak mengetahui apa yang sebenarnya ia lakukan padamu. Kami mencarimu kemanapun dan akhirnya kami menemukanmu di dunia manusia. Lalu kau tidak mengingat kami. Apa yang sebenarnya Lord Phanthom lakukan padamu, Hime?" Sakura tidak bisa menjawab, ia terlihat linglung.
'Apa yang dilakukan Sebastian? Aku tidak tahu, aku tidak ingat, aku tidak dapat mengingatnya.' batin Sakura.
"Kami hanya menginginkan kau kembali ke sisi kami, kau adalah Ratu kami tetapi mengapa Lord Phanthom ingin mengusaimu sendirian? Itu tidak adil." Viper berjalan mendekat secara perlahan.
"Perang akan terjadi, kau tahu kami pasti akan mati. Apa kau akan membiarkan para suamimu mati seperti Shin? Shin adalah salah satu suamimu dan ia mati di tangan Pangeran Bagatto, Pangeran dari dunia kartu," jelas Viper, Sakura jatuh terduduk mendengar penjelasan Raja Iblis di depannya.
Masih mencerna dengan apa yang terjadi Sakura hanya diam menatap lantai. Viper menghampiri lalu berjongkok di depan Sakura yang terduduk di lantai.
'Shin? Pangeran Bagatto? Siapa mereka? Mengapa aku tidak bisa mengingatnya?' batin Sakura.
"Tak apa jika kau tidak mengingat kami, tetapi kau harus tahu kami sangat mencintaimu," kata Viper sambil mengangkat wajah Sakura dengan memegang dagu gadis itu.
Wajah Viper semakin mendekat dan ia langsung saja melumat bibir Sakura.
Sakura membalas ciuman Viper, setelah beberapa menit Viper melepaskan rindunya lewat ciuman panas yang baru saja dilakukannya. Dipeluknya Sakura dengan erat, gadis itu hanya diam dalam pemikirannya sendiri.
'Jika benar, seharusnya aku mati jika membalas ciumannya.' batin Sakura.
"Aku merindukanmu," bisik Viper di telinga Sakura.
Sakura masih diam hingga Viper pergi dari hadapannya.
"Aku tahu kau akan memikirkannya, jadi beristirahatlah sebelum Iblis itu menemukanmu," bisik Viper lalu menghilang dari hadapan Sakura.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumam Sakura, ia menutup matanya merasakan semilir angin yang berhembus masuk dalam jendela kamarnya.
"Aku mencarimu," bisik seseorang hingga membuat Sakura membuka matanya, terlihat Sebastian sudah mengurung dirinya dengan kedua tangan iblis itu.
"Kau mengagetkanku," jawab Sakura kembali menutup matanya, Sebastian memincingkan matanya.
Ia bangkit lalu melihat sekelilingnya seperti mencari sesuatu setelah merasa ada sesuatu yang aneh ia mengendus tubuh Sakura.
"Mencari sesuatu?" tanya Sakura tanpa membuka matanya, Sebastian menatap tajam Sakura.
"Raja Iblis itu sudah pergi," lanjutnya.
"Apa yang mereka lakukan padamu?" tanya Sebastian, ia mulai panik.
"Hanya mengecup keningku," jawab Sakura sambil terkekeh, Sebastian langsung menghampiri Sakura dan langsung mengukungnya kembali.
"Apa yang mereka katakan?!"
"Mengapa kau sepanik itu?" Sakura balik bertanya masih dengan matanya yang tertutup.
"Tentu saja aku akan menjadi panik jika kau diambil lagi oleh mereka!" jawab Sebastian menahan geramannya.
Gadis itu membuka kedua matanya, tangannya terulur mengelus lembut pipi Sebastian. Ia tidak menjawab hanya diam lalu menarik tubuh Sebastian dan memeluknya. Dibisikan sesuatu ke telinga Sebastian, saat itu juga tubuh Sebastian menegang. Dilepasnya tubuh Sebastian lalu beranjak pergi dari kamar itu.
Sebastian duduk di atas ranjang sambil menahan amarahnya, menarik napas lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Sudah ku katakan untuk cepat membunuh mereka, bukan?!" Sebastian tersenyum sambil melihat bayangannya yang kini tengah menyeringai ke arahnya.
Bayangan hitam itu muncul dari lantai dan berbentuk menyerupai dirinya dan memeluk Sebastian dari belakang.
"Biarkan aku yang melakukannya, kau bisa duduk tenang di sana," ucapnya, Sebastian hanya terkekeh.
"Diamlah, aku tidak sedang dalam mood untuk berbicara denganmu," jawab Sebastian sinis.
__ADS_1
"Jangan lupakan satu hal, kau harus melakukannya untuk mengurungku kembali." Bayangan itu menyeringai lalu kembali masuk ke dalam lantai dan menjadi bayangan Sebastian.
Satu-satunya Iblis yang ke dunia manusia memiliki bayangan hanyalah dirinya, sehingga dari awal Sakura bertemu pun, iya tidak yakin sepenuhnya jika Sebastian adalah seorang Iblis. Anggota istana Phanthom yang berdarah murni juga memiliki bayangan seperti dirinya, mengapa mereka memiliki bayangan? Tidak ada yang tahu pasti, hanya Phanthom berdarah murni seperti Sebastian yang mengetahui hal besar tersebut. Sejarah tentang Kerajaan besar Phanthom.
Sebastian tidak memungkiri takdirnya, mau tidak mau ia harus membunuh iblis ataupun manusia untuk kembali menyegel bayangan hitam itu. Karena jika sampai bayangan hitam itu menguasai dirinya, sudah dipastikan akan terjadi perang besar karena bayangan hitam itu adalah sosok Iblis miliknya. Sangat menyukai hal seperti membunuh, menyiksa, menghancurkan apapun yang dilihatnya menarik.
"Sakura benar-benar terlalu cerdik untuk aku kelabui," gumam Sebastian.
***
Viper kembali dengan wajah tersenyum bahagianya, akhirnya ia menyatakan dirinya bahwa ia mencintai Sakura. Keuntungan besar untuknya dari dihapusnya ingatan Sakura, Sakura tidak dapat mengingat kejadian pahit selama ini bersama mereka.
"Ada apa kau mengumpulkan kami?" tanya Lazark.
"Aku membawakan berita baik," jawab Viper sambil tersenyum, mereka semua kini siap mendengarkan.
"Ada aroma tubuh Hime-sama di tubuhmu," ucap Mysth yang kini mendapat sorotan dari yang lainnya.
"Kau benar, aku baru saja bertemu dengannya. Tidak sia-sia aku menunggunya dan ia datang dengan sendirinya," jawab Viper sambil tersenyum miring.
"Lalu, apa yang kau lakukan?" tanya Shine sambil bersidekap.
"Memberitahunya apa yang seharusnya ia ketahui, tetapi apa yang kita lakukan padanya dan pada Leonardo tidak perlu kukatakan," jawab Viper, Rozenth berdecih tidak suka.
"Zen, ada apa denganmu? Apa kau tidak mencintai Hime? Jika tidak sebaiknya kau mundur. Kau bisa menggagalkan rencana kami," kata Lazark sinis.
"Dia sudah sangat menyusahkan, mencampakkan kita dan yang lebih parahnya lagi gadis tidak tahu diri itu membunuh Shin," jawab Rozenth kesal.
"Kalau begitu mundurlah, dengan begitu pesaing kita akan berkurang satu. Dengan kondisi Hime yang sekarang, ia pasti akan kembali belajar mencintai kita," jawab Viper santai, Rozenth terdiam tidak bisa menjawab.
"Aku sudah tidak tertarik dengan kekuatan yang nanti kita dapatkan, aku hanya ingin bersama Hime layaknya manusia," kata Shine sambil tersenyum lembut.
Rozenth menggebrak meja lalu menghilang dari pandangan mereka semua.
"Dia tidak bisa menyangkalnya," kata Lazark tersenyum sinis.
"Benci tetapi cinta." Shine terkekeh.
"Dasar iblis labil," ejek Viper dan mereka semua tertawa, kecuali Mysth yang hanya tenang dalam diamnya.
"Lalu rencana selanjutnya apa yang akan kita lakukan?" tanya Lazark.
Shine memberitahukan mereka langkah selanjutnya. Setelah selesai menjabarkan rencana yang telah ia susun matang-matang, mereka tersenyum puas.
"Tidak sia-sia kau lebih tua dariku," ucap Viper senang.
"Diamlah," jawab Shine ketus, Viper dan Lazark hanya tertawa.
"Lalu bagaimana menggantikan posisi Shin?" tanya Lazark.
"Kita akan bicarakan itu setelah semua masalah telah usai," jawab Viper sedang menimbang-ninbang calon anggota baru untuk menggantikan Shin.
"Sesuai rencana kita." Mysth tersenyum misterius.
***
__ADS_1