Six Husband From Hell

Six Husband From Hell
Episode 28


__ADS_3

Sudah beberapa hari Sakura tidak melihat Sebastian, bahkan untuk kembali ke kamar pun tidak. Sakura yang sedang duduk di kamar melihat ke luar jendela, taman bunga yang indah tersaji di luar sana. Ketukan pintu dengan kerasnya tidak membuat Sakura menoleh.


Seorang pelayan masuk dengan raut wajah pucatnya dan berlari tergesa-gesa. Pelayan wanita itu bersujud di dekat Sakura, tetapi gadis itu tetap tidak menoleh.


"My Lady, Lord Sebastian ... Lord Sebastian ... jatuh sakit," ujar pelayan itu sukses membuat Sakura menoleh meskipun tatapannya masih saja datar.


Sakura bangkit berdiri dari duduknya lalu memandang pelayan itu hampa.


"Hamba akan mengantarkan Anda, My Lady," jawab pelayan itu mengerti.


Pelayan itu berjalan di depan Sakura yang kini seperti boneka. Sesampainya di sebuah ruangan pelayan itu membuka pintu besar di hadapannya dan terlihatlah ruangan besar dengan kingsize di tengah ruangan. Gadis itu berjalan masuk mendekat dan berdiri tepat di samping kanan ranjang. Terlihat Sebastian terbaring lemah di atas ranjang dan mata yang masih tertutup.


Sakura mendekati Sebastian dan duduk di ranjang sambil memegang tangan Sebastian. Perlahan mata Sebastian terbuka, mata mereka pun kini saling beradu. Entah apa yang dipikirkan Sakura, tetapi air matanya kini mulai terjatuh.


"My Queen, mengapa kau menangis? Berhentilah menangis," ucap Sebastian sambil mengusap air mata Sakura


"Se..bas..ti..an," jawab Sakura terbata-bata.


Dilihatnya manik gadis itu, terlihat sinar kehidupannya kembali meski sedikit. Sebastian **** senyum hangat, lblis tampan itu bangkit dan langsung saja memeluk Sakura.


"Ja..ngan per..gi," kata Sakura masih terbata.


"Sakura, aku merindukan suara indahmu," jawab Sebastian mengelus rambut Sakura.


"Ma..afkan aku," bisik Sakura.


"Maafkan aku juga, aku tidak punya pilihan lain," jawab Sebastian dan tiba-tiba saja Sakura memuntahkan darah dari bibirnya.


Sakura melepaskan pelukannya dan melihat sebuah pedang menembus tubuh dan tepat di jantungnya. Gadis itu memandang Sebastian dengan tersenyum sendu. Sakura menahan rasa sakit itu, rasa sakit saat kematian sudah menghampirinya.


'Sakit ... apa ini rasanya mati? Apa ini yang dirasakan Ayah dan Ibu? Seakan seluruh tubuhku lemas dan jantungku hancur. Ahh ... aku akan bertemu dengan Ayah dan Ibu jika aku mati. Terima kasih Sebastian, kau telah membunuhku. Dengan ini aku bisa bertemu dengan Ayah dan Ibu lebih cepat. Aku sangat mencintaimu ... Sebastian.'


Tidak ada penyesalan saat mengetahui Sebastian menusuknya. Mengkhianatinya dengan begitu Sakura merasa jalan untuk menemui ayah dan ibunya sudah terlihat. Di sela-sela gelapnya penglihatannya, Sakura melihat Sebastian ... menyeringai.


Sebastian menahan tubuh Sakura saat gadis itu sudah tidak sadarkan diri. Pedang yang tertancap mulai menghilang dan masuk ke dalam tubuh Sakura. Iblis tampan itu langsung saja memeluk tubuh Sakura dengan erat.


"Dengan ini kau akan menjadi milikku seutuhnya, My Queen," gumam Sebastian sambil menyeringai.


"My Lord, persiapan telah selesai. Anda bisa membawa tubuh Lady Sakura ke altar," ujar Nico yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.


"Bagus, kita lakukan sekarang. Upacara kebangkitan sang Ratu Iblis," jawab Sebastian menyeringai.


Nico hanya tersenyum senang melihat rencana Tuannya telah berhasil. Ternyata rencana konyol itu berhasil dengan sempurna. Memang sangat tidak disangka-sangka.


Sebastian menggendong tubuh Sakura yang sudah tidak bernyawa. Setelah beberapa menit Sebastian sampai di atas altar dan meletakkannya di sebuah batu persegi panjang. Di batu itu terdapat ukiran-ukiran tulisan kuno dan ukiran berbentuk naga.


Sebastian menyayat pergelangan tangannya dan menyiram darahnya ke seluruh tubuh Sakura. Sampai terasa cukup Sebastian menutup luka tangannya dengan hanya menyentuhnya. Sebastian melangkah mundur lalu mulai merapalkan mantra.


"Yos hemnos salavi quart devon mosqu vor nyosi van zen fluash ten somfi xent gualto farandes warsh ben sotifa zuarnes Sakura."


Setelah Sebastian selesai merapalkan mantranya, sinar cahaya dari altar bersinar terang menyelimuti tubuh Sakura. Sebastian mendekat lalu merentangkan tangannya ke samping.


"Bangkitlah wahai Dewi kegelapan yang menyelimuti alam semesta dengan terangnya sinar bulan menyinari setiap langkah kakimu. Aku ... Sebastian Lacretia Phanthom dengan ini membangkitkan sang Ratu di dunia Iblis dari seorang manusia," ucap Sebastian.


Tubuh Sakura terangkat dengan sendirinya, melayang dan kemudian bersinar. Sebastian mendekat dan memeluk tubuh Sakura. Perlahan namun pasti Sakura membuka matanya.


Sebastian tersenyum senang ketika Sakura membuka kedua manik indahnya. Iblis tampan itu menurunkan tubuh Sakura sampai menginjak lantai altar. Sebastian mundur beberapa langkah lalu berlutut di depan Sakura.

__ADS_1


"Selamat datang kembali, My Queen," ucap Sebastian sambil menyeringai.


Nico dan para Iblis lainnya yang mengikuti proses kebangkitan sang Ratu Iblis pun ikut berlutut.


"Selamat datang kembali, Lady Sakura," ucap mereka.


Sakura mengedarkan matanya sekeliling, lalu sedikit tersenyum sambil melihat ke arah Sebastian.


"Sebastian," panggil Sakura lirih.


Sebastian berdiri lalu menghampiri Sakura dan langsung saja memeluk tubuh gadis itu.


"Kau mengingatku?" bisik Sebastian.


"Tentu saja, kau adalah Suamiku," jawab Sakura.


"Kau mengingat mereka?" tanya Sebastian.


"Siapa yang kau sebut 'mereka'?" jawab Sakura terlihat bingung.


"Tidak ada. Kau ingin beristirahat?" jawab Sebastian sambil tersenyum simpul.


"Ya, dipelukanmu, " jawab Sakura lalu memeluk Sebastian.


Sebastian tersenyum senang lalu menghilang bersama dengan Sakura. Sebastian membawa Sakura ke dalam kamar milik mereka berdua lalu merebahkan Sakura di atas kingsize miliknya.


Betapa senangnya Sebastian, rencananya berjalan dengan mulus dan sempurna. Menjadikan Sakura seorang Iblis dan menghapus ingatan Sakura tentang para suaminya yang lain. Sakura tidak akan pernah mengingat mereka kembali.


"Aku sudah menahannya beberapa hari ini, My Queen. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi," kata Sebastian sambil membuka gaun Sakura dengan kasar.


"Aku milikmu, My Lord," jawab Sakura yang langsung disambar dengan ciuman panas dari Sebastian.


"Ahhh ... Sebastian...," desah Sakura.


"Sayang ... aku menginginkan keturunan secepatnya. Karena itu, kita akan setiap hari membuatnya," kata Sebastian sambil menyeringai.


"Ahh ... apa kau ingin membunuhku? Akh ... kau terlalu cepat...," desah Sakura.


"Tentu saja tidak, My Queen. Setelah ini kau pasti akan meminta lebih dan lebih. Aku tidak akan membiarkanmu beristirahat sejenak saja untuk malam ini," jawab Sebastian sambil mempercepat temponya.


"Kau membuatku gila ... ahh...," desah Sakura saat Sebastian membenamkan miliknya lebih dalam.


"Tentu saja aku akan membuatmu tergila-gila pada tubuhku. Sepertiku yang tergila-gila padamu," jawab Sebastian mempercepat temponya.


"Akhh ... Sebastian...."


 


***


 


Nico mendengar apa yang terjadi di dalam kamar sialan itu. Sedikit kesal karena kamar itu ternyata sedikit terbuka, membuatnya mendengar desahan-desahan erotis milik sang Ratu. Wajah Nico kini memerah dan menahan sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya. Dengan teramat kesal Nico menutup pintu kamar sialan itu dan pergi menjauh.


"Raja sialan itu benar-benar membuatku kesal. Aku tahu ia sengaja tidak menutup pintunya agar aku mendengarnya. Jangan pikir karena aku tidak memiliki kekasih, ia ingin membuatku iri. Menyebalkan!" rutuk Nico sepanjang jalan.


"Tuan Esmer," panggil seseorang dari belakang Nico.

__ADS_1


Nico menoleh kepada iblis itu dan melihat iblis kepercayaannya mendekat lalu membungkuk hormat.


"Persiapan sudah selesai?" tanya Nico pada Iblis itu.


"Saya mohon maaf, Tuan. Ada sedikit masalah di perbatasan, tidak memungkinkan melanjutkannya," jawab iblis itu takut.


"Selesaikan dalam beberapa hari, aku tidak ingin Lord Sebastian memenggal kepalaku," jawab Nico sambil berlalu.


"Baik, Tuan," jawab iblis itu lalu menghilang.


Nico kembali berjalan menuju balkon istana. Tercium aroma bunga yang memanjakan hidung. Iblis itu menikmati waktu santainya kali ini, biasanya Nico akan berada terus di sisi Sebastian memastikan beliau tidak kerepotan. Dengan sekarang sudah ada Sakura di sisi Sebastian dan yang saat ini sedang berehem-ehem ria itu, Nico menjadi memiliki waktu untuk berpikir sejenak tentang statusnya yang masih lajang.


Nico terkekeh saat ia baru menyadari selama ia hidup, ia tidak pernah melirik lawan jenisnya. Meski di kerajaan banyak iblis wanita cantik, tetapi tidak ada yang bisa menyentuh hatinya. Padahal usianya kalau dipikir-pikir sudah lumayan tua. Meskipun lebih tua Sebastian. Banyak wanita dari kerajaan yang menggodanya, kecuali kerabat dekat Sebastian.


Semua orang tahu, para kerabat dekat Sebastian itu takut jika keluar dari Kerajaan Phanthom. Karena di luar sana tidak ada perlindungan dari Sebastian. Dan Sebastian tidak mau melindungi mereka yang berada di luar kerajaannya meskipun itu adiknya sendiri.


Tidak sedikit keluarga kerajaan malah menjadi pelayan istana. Mungkin Sebastian masih dendam pada keluarga kerajaan karena menyebabkan kematian sang Ibu.


Teringat kembali saat Nico pertama kali bertemu dengan Sebastian.


 


~Flashback On~


Dalam pesta kerajaan Sebastian mengadakan pesta untuk kemakmuran rakyatnya. Ayah Nico, selaku tangan kanan Sebastian datang bersama Nico yang saat itu masih sangat belia, di usianya yang 120 tahun bertemu dengan Sebastian.


"My Lord, perkenalkan dia adalah anakku Nico Esmer," kata Ayah Nico pada Sebastian.


"Hormat hamba pada, Lord Sebastian," ucap Nico membungkuk hormat.


"Jadi kau yang sering diceritakan Zofune. Kau terlihat kuat," jawab Sebastian sambil tersenyum simpul.


"Yes, My Lord. Semoga kelak anak hamba bisa menggantikan hamba untuk melayani Anda," jawab Zofune Esmer.


"Tentu saja, aku bisa melihatnya," jawab Sebastian sambil melihat manik hitam kelam milik Nico.


"Kau akan menjadi tangan kananku kelak. Dan kau akan menjadi teman berhargaku," lanjut Sebastian.


"Bersenang-senanglah," kata Sebastian menyudahi pembicaraan.


"Terima kasih, My Lord," jawab Zofune Esmer senang mendengar bahwa anaknya akan menjadi teman berharga Sebastian.


~Flashback Off~


 


"Teman berharga ya?" gumam Nico sambil tersenyum.


"Akanku pastikan mereka semua mati. Ini untuk kebahagiaan teman berhargaku," lanjut Nico sambil berlalu meninggalkan balkon.


 


 


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2