Six Husband From Hell

Six Husband From Hell
Episode 30


__ADS_3

Sakura yang kini berada di dunia manusia menatap bingung mansion yang berada di hadapannya. Cukup sederhana tetapi berkesan mewah, dinding berwarna hitam dengan garis berwarna emas terkesan elegan. Sebastian membuka pintu yang bercorak bunga mawar di hadapannya. Gadis itu masuk bersamaan dengan Sebastian, dilihatnya interior yang terkesan klasik itu menenangkan hatinya. Setidaknya di sini terlihat lebih manusiawi daripada di Kerajaan milik Sebastian yang sangat mewah.


"Bagaimana? Apa kau suka?" tanya Sebastian lembut sambil tersenyum dengan gaya khasnya.


"Sepertinya aku akan suka tinggal di sini, meski di Kerajaan akan lebih aman untukku," jawab Sakura sambil tersenyum menatap manik rubi Sebastian.


"Tentu, kita akan berlibur beberapa hari di sini." Sebastian tersenyum penuh arti ke arah Sakura.


Mereka berdua mengelilingi mansion milik Sebastian di dunia manusia, dalam senyumannya yang lembut tersimpan penuh dengan seringaian. Sakura tidak mengingat apa yang terjadi, karena Sebastian membuat ingatan palsu pada Sakura. Tidak semua palsu, hanya saja ada yang dibuat berbeda. Sakura mati dengan mengubur semua ingatan dan hidup kembali dengan ingatan baru dan status baru. Meski yang ia tahu alasan ia menjadi Iblis karena ia mencintai Sebastian, tetapi ingatan itu adalah ingatan palsu yang dibuat Sebastian untuk keamanan Sakura.


Tentunya Sebastian ingin menjadikan Sakura sebagai Ratunya. Sebastian tidak ingin memberikan Ratunya pada Iblis lain. Jika diharuskan berperang, ia akan siap untuk berperang. Nico yang baru saja sampai entah dari mana kini berada di belakang Sebastian dan Sakura. Sakura yang sedang asik melihat-melihat membiarkan Sebastian berbicara berdua dengan Nico. Sakura yang sekarang tidak terlalu suka urusan bisnis antara Sebastian dan Nico, sebenarnya Sakura ingin sekali pulang ke mansion miliknya akan tetapi, Sebastian melarangnya keras. Dengan alasan, Sebastian belum menunjukan mansion miliknya.


"Semua sudah beres, My Lord." Nico memberikan laporan pada Sebastian ketika Sakura sudah menjauh dari mereka berdua.


"Pastikan mereka bertemu dengan Ratuku, rencana ini akan sukses jika mereka sedikit terguncang." Sebastian menyeringai membuat Nico sedikit bergidik ngeri.


Pasalnya Sebastian akhir-akhir ini begitu menyeramkan, entah apa yang dilakukan Ratunya hingga membuat sisi gelap tuannya itu bangkit kembali, tetapi Nico sangat senang jika tuan yang dianggapnya sahabatnya itu bahagia bersama Ratu barunya. Akhirnya setelah sekian lama, Sebastian mendapatkan cintanya lagi.


"Yes, My Lord. Apa Anda membutuhkan sesuatu di sini?" jawab Nico masih bersikap tenang.


"Tidak ada, besok laksanakan rencana itu. Dan pastikan mereka berkumpul, saat ini aku hanya ingin berdua saja dengan Ratuku," jawab Sebastian sambil berlalu menyusul Sakura, Nico hanya mengangguk dan menunduk hormat lalu menghilang begitu saja.


Sebastian menghampiri Sakura yang saat ini ada di belakang mansion, memikirkan sesuatu hingga ia tidak sadar dengan keberadaan Sebastian yang kini memeluk dirinya dari belakang. Sakura tersenyum dengan perlakuan hangat Sebastian, Sakura menyender di dada bidang Sebastian. Senyum manis tergambar di raut wajahnya yang cantik.


"Apa yang kau rencanakan?" tanya Sakura tiba-tiba, Sebastian terkekeh mendengar pertanyaan yang dilontarkan Ratunya itu.


"Sepertinya aku tidak bisa menyembunyikan itu darimu, My Queen," jawab Sebastian di sela kekehannya.


"Tentu saja, jadi apa kau mau mengatakannya atau tidak?" Sakura berbalik menghadap Sebastian, dengan cepat Sebastian menyambar bibir manis Sakura.


Sakura melepasnya lalu memukul lengan Sebastian, matanya menatap gemas Sebastian yang hanya terkekeh melihat tingkah Ratunya.


"Kau akan tahu besok, My Queen," jawab Sebastian sambil kembali menjahili Sakura.


"Lalu ke mana kita hari ini?" tanya Sakura sambil menjauhkan wajahnya dari Sebastian.


"Baiklah karena hari ini sudah menjelang siang hari, apa yang ingin Ratuku lakukan?" Sebastian kembali menarik tubuh Sakura yang sempat menjauh dari tubuhnya.


"Karena kau tidak mengizinkanku untuk kembali ke mansion milikku, bisakah aku pergi ke makam Ibuku?" jawab Sakura, Sebastian tersenyum penuh arti.


Iblis tampan itu dengan cepat menggendong tubuh Sakura.


"Sebastian, apa yang kau lakukan?" pekik Sakura.


"Kita akan pergi ke makam Ibumu, lalu malamnya aku ingin kau melakukan tugasmu," jawab Sebastian sambil tersenyum penuh arti.


"Kau benar-benar ingin aku memiliki anak saat usiaku yang masih muda ini?" Sakura memijat pelipisnya sambil menggeleng pelan.


"Jangan lupakan usiaku saat ini, My Queen," jawab Sebastian sambil terkekeh.


"Ahh ... aku lupa, aku menikah dengan seorang kakek-kakek, dasar pedhopil," balas Sakura sambil menyikut dada Sebastian.


"Ya, dan kau mencintaiku," balas Sebastian, Sakura hanya bisa menutup wajahnya yang mulai merona.


Sebastian menurunkan Sakura di depan mobil hitam miliknya, dibukanya pintu mobil penumpang depan Sakura masuk dengan cepat lalu Sebastian menutupnya dan masuk ke pintu pengemudi. Dinyalakan mobil itu lalu melesat dengan cepatnya, Nico keluar dari belakang pohon melihat kepergian Raja dan Ratunya. Dengan cepat ia menghubungi bawahannya.


"Amankan rute perjalanan Lord Sebastian seperti biasa," titah Nico.


"Laksanakan, Tuan Esmer."


 


***


 

__ADS_1


Keesokan harinya, Sakura selesai membersihkan dirinya setelah beristirahat karena kelelahan menghadapi Sebastian. Sebastian yang masih bergelung manja di atas ranjang membuat Sakura tertawa pelan. Sakura kembali menaiki ranjang lalu mencolek-colek hidung Sebastian dengan jahilnya.


"Ehm ... Sayang, apa kau memintaku untuk kembali menerkammu?" ucap Sebastian yang masih menutup matanya.


"Iblis tidak perlu tidur, cepat bangun dan bersihkan tubuhmu," jawab Sakura sambil menuruni ranjang dan duduk di depan meja rias.


Menyisir rambutnya yang belum sempat ia rapikan setelah mandi, tiba-tiba saja Sebastian sudah berada di belakangnya dengan pakaian kasualnya. Sakura mendengus kasar, karena ia belum terbiasa menjadi Iblis dan menghadapi Iblis yang satu itu. Ia lupa satu hal, Iblis bisa melakukan apa pun dengan jentikan jarinya, tetapi Sakura melupakan hal itu


"Baiklah, kita akan pergi hari ini," kata Sebastian sambil menyisir rambut Sakura.


"Ke mana kita akan pergi?" tanya Sakura bersemangat.


"Bagaimana jika taman hiburan?" Sebastian memberikan usul.


"Ehm ... aku tidak terlalu suka dengan tempat ramai, tapi jika kau memang ingin ke sana aku akan ikut bersamamu," jawab Sakura sambil tersenyum.


"Nice." Sebastian mengecup pipi Sakura dan menggandeng tangan Sakura.


Mereka berdua pergi dengan Nico yang sudah berada di depan mobil milik Sebastian.


"Nico, apa kau ikut dengan kami?" tanya Sakura menatap Nico sambil.


"Tentu, My Lady," jawab Nico sambil membalas senyum Sakura.


"Ahh aku senang sekali, aku tidak ingin si kakek muda itu mendapat lirikan dari gadis lain. Jika ada kau mungkin mereka akan melirikmu," jawab Sakura tanpa bersalah, Sebastian menatap kesal pada Sakura karena menyangkutkan usianya.


Nico hanya terkekeh mendengar celotehan Sakura. Selama perjalanan Sakura hanya menatap luar jendela dengan menyender pada tubuh Sebastian. Seperti biasa ia tidak terlalu banyak bicara dan Sebastian sudah mengetahui kebiasaannya itu. Sesampainya mereka di taman hiburan, mereka bertiga menaiki beberapa wahana yang membuat mereka bertiga terlihat bersenang-senang. Dan tanpa disadari mereka bertiga, seseorang telah memantau kegiatan mereka.


"Your Highness, hamba telah menemukan mereka bertiga. Hamba akan mengirimi Anda koordinat mereka saat ini," lapor orang itu.


Telepon itu ditutup begitu saja dan orang itu langsung menghilang setelah mendapatkan perintah. Nico akhirnya berpisah karena ada urusan mendadak, sedangkan Sebastian pergi membelikan ice cream pesanan Sakura. Kini Sakura duduk sendiri di bangku taman, semua wahana terlihat dari tempat gadis itu duduk. Merasakan aura Iblis yang sangat kuat, Sakura mulai berjaga-jaga. Meski dirinya terlihat santai, tetapi ia tetap mengawasi sekitarnya dengan baik. Instingnya semakin tajam setelah menjadi Iblis. Tersenyum santai meski hatinya merasa tidak nyaman dengan aura beberapa Iblis yang mendekatinya.


"1 ... 2 ... 3... hmm ... 5," gumam Sakura tersenyum sinis.


Saat itu juga seseorang memeluk Sakura dari belakang, Sakura hanya diam menunggu waktu yang tepat. Baru satu orang yang datang tersisa 4 orang lagi yang masih mengawasi. Dan ia tahu Sebastian sedang mengawasinya, apa yang direncanakan Sebastian sebenarnya?


Sakura dengan cepat menghilang dari pelukan lelaki itu dan kini berada di hadapan lelaki itu. Lelaki itu terkejut lalu menatap tajam Sakura, setelah itu 4 orang lainnya sudah berada di belakang lelaki itu. Ada yang bertubuh pendek dari yang lain, ada yang kacamata dan ada juga yang memakai eyepatch. Mereka semua menatap tajam Sakura dan yang ditatap hanya melihat tidak mengerti. Lelaki dengan eyepatch itu maju beberapa langkah hingga berdiri tak jauh dari Sakura.


"Akhirnya kami menemukanmu, Hime," ucap lelaki itu, Sakura memiringkan kepalanya sedikit.


"Siapa kalian?" tanya Sakura, mereka menatap terkejut dengan apa yang dikatakan Sakura.


"Jangan bercanda, Hime-chan. Itu tidak lucu," kata lelaki yang sedikit pendek dari yang lainnya.


"Tunggu," lelaki yang memakai kacamata itu maju dan mengendus tubuh Sakura. "dia bukan manusia."


Sakura tertawa dengan merdunya, gadis iblis itu menatap remeh ke arah mereka berlima. Memang aura iblisnya tidak terlalu ketara saat ini, karena ia baru saja menjadi Iblis.


"Aku memang bukan lagi manusia," jawab Sakura,"lalu siapa kalian?"


"Apa kau Iblis yang mengubah wujudmu menjadi Hime?"tanya lelaki berkacamata.


"Hime? Siapa Hime? Ini memang wujudku, apa ada masalah?" jawab Sakura ketus.


"Siapa namamu?" tanya lelaki yang memakai eyepatch di matanya.


"Sakura Michaelis," jawab Sakura bingung.


"Yang benar saja," jawab lelaki berkacamata tidak terima.


Lelaki berkacamata itu menebas Sakura, tetapi gadis Iblis itu melompat menghindari tebasan lelaki itu.


"Ada apa dengan kalian? Aku tidak mengenal kalian dan kalian tiba-tiba saja menyerangku,"desis Sakura kesal.


"Siapa kau sebenarnya?" lelaki memakai eyepatch itu kembali bertanya.

__ADS_1


"Aku sudah menjawabnya, lalu apa mau kalian?" jawab Sakura sengit saat lagi-lagi lelaki berkacamata itu menyerangnya.


"Jika kau adalah Sakura Michaelis, seharusnya kau mengingat kami. Dan kau seharusnya bukanlah seorang Iblis," jawab lelaki memakai eyepatch itu dingin.


"Apa maksud kalian aku mengingat kalian? Aku dulu memang manusia, tetapi aku sudah menjadi Iblis," jawab Sakura sambil menghindari serangan demi serangan.


Lelaki berkacamata itu berhenti menyerang dan menatap manik Sakura. Dan detik berikutnya mereka berlima bersamaan menyerang Sakura. Tidak sempat menghindar, Sakura menutup matanya.


TRAAANG


Suara tangkisan terdengar, Sakura membuka matanya dan mendapati Sebastian menahan semua serangan mereka. Mereka berlima mundur begitu melihat Sebastian menangkis serangan mereka berlima.


"Ahh ... para Raja berkumpul di sini. Apa yang kalian lakukan dengan Ratuku?" ujar Sebastian sambil tersenyum simpul.


"Kau ... siapa gadis itu?" jawab lelaki berkacamata itu.


"Sebastian," panggil Sakura saat Sebastian ingin menjawab pertanyaan lelaki itu, Sebastian berbalik dan menatap manik mata Sakura.


"Sakura, perkenalkan mereka adalah Raja di dunia Iblis. Viper Lucifer, Lazark Asmodeus, Shine Leviathan, Rozenth Cimeries, dan Mysth Azazel," jawab Sebastian lalu memperkenalkan mereka berlima.


"Dan perkenalkan Ratuku, Sakura Michaelis," ucap Sebastian menyeringai ke arah para Raja itu.


Mereka berlima menatap geram pada Sebastian, Sebastian tahu tidak akan baik jika mereka bertarung di dunia manusia. Karena itu ia langsung memanggil Nico.


"Queen, pergilah bersama Nico, aku akan berbicara dengan mereka sebentar," ucap Sebastian sambil tersenyum simpul, dan Nico tiba-tiba sudah di belakang Sakura.


"Baiklah," jawab Sakura lalu menghilang bersama Nico.


Sebastian kembali menyeringai melihat para Raja di depannya, memberikan isyarat untuk pergi ke dunia Iblis dengan tangannya. Mereka pun pergi ke dunia Iblis, sesampainya mereka di dunia Iblis Sebastian mengambil jarak dari mereka berlima.


"Jelaskan pada kami!" ujar Viper kembali pada wujud aslinya, Sebastian kini semakin tersenyum.


"Dia memang Sakura Michaelis. Dan aku membuatnya menjadi Iblis, tidak lihatkah kalian ia semakin cantik saat menjadi Iblis?" jawab Sebastian enteng.


"Sial, apa yang kau lakukan padanya?!" kini Viper sudah mulai emosi.


"Hanya membuatnya menjadi Iblis dan...," Sebastian menggantung ucapannya, "… menghilangkan ingatan tentang kalian." lanjutnya sambil menyeringai.


"KAAAAUU!!!" mereka berlima langsung menyerang Sebastian bersamaan.


Sebastian hanya menahan dengan telunjuk jarinya saja, rencananya telah berhasil dengan mengumplkan lima Raja pendamping Sakura. Rencana dirinya ingin melenyapkan mereka langsung, tetapi tiba-tiba saja Lord Orlando datang dengan membawa pasukan.


"Lord Phanthom, mohon maafkan kelancangan mereka," ujar Lord Land sambil berlutut hormat.


"Tidak, tidak, kali ini bukan kesalahan mereka," jawab Sebastian sambil tersenyum simpul, "aku memang ingin menghabisi mereka berlima." lanjut Sebastian santai.


"Tetapi kau malah datang mengganggu." raut wajah Sebastian kini berubah menjadi kesal.


"Maafkan hamba, Lord Phanthom. Tolong ampuni mereka untuk saat ini, hamba mohon dengan sangat," jawab Lord Orlando semakin dalam berlutut.


Sebastian berdecih kesal, rencananya telah gagal dikarenakan kehadiran sang Maharaja Iblis di depannya.


"Aku bisa saja memusnahkan kalian semua dalam beberapa detik, tetapi aku juga tidak mau menjadi Maharaja Iblis menggantikan dirimu. Kali ini kalian aku lepaskan, selanjutnya aku menantikan perang besar terjadi. Dan jangan lupa satu hal, Sakura adalah Istriku juga," desis Sebastian lalu menghilang begitu saja.


Tangan Lord Orlando gemetar, ia sangat takut dengan aura yang ia rasakan saat perubahan raut wajah Sebastian. Ia bisa saja mati saat itu juga jika Sebastian tidak berbaik hati, menghembuskan napasnya perlahan mencoba menghilangkan rasa takut yang menyelimutinya, kini Lord Orlando berdiri dari posisi berlututnya.


"Kalian...," Lord Orlando menatap para Raja itu, "... kalian sudah menemui ajal kalian."


 


 


***


 

__ADS_1


 


__ADS_2