
Setelah berhari-hari tidak sadarkan diri Sakura kini membuka matanya. Pangeran Bagatto yang berada di sampingnya memainkan rambut gadis itu sambil tersenyum melihat Sakura yang telah sadarkan diri.
"Akhirnya Anda sadar, My Lady," kata Bagatto sambil tersenyum.
Sakura mengerjapkan matanya, membiasakan cahaya masuk ke dalam matanya. Gadis itu meringis sakit saat mencoba menggerakkan tubuhnya.
"Sebaiknya Anda tidak banyak bergerak terlebih dahulu, My Lady. Tubuh Anda sedang mengalami kerusakan karena telah memanggilku. Tunggu sebentar, hamba akan memanggil Lord Sebastian," ujar Bagatto lalu meninggalkan Sakura.
"Rasanya tubuhku hancur," gumam Sakura sambil memejamkan kedua matanya mencoba menetralkan rasa sakit di tubuhnya.
Beberapa menit kemudian Bagatto datang bersama Sebastian. Sebastian langsung saja memeluk tubuh Sakura.
"Ugh … tubuhku," ringis Sakura merasakan sakit saat dipeluk Sebastian.
"Ahh, maafkan aku, My Queen. Aku akan menyembuhkanmu," jawab Sebastian lalu melumat bibir Sakura.
Sakura mngerjapkan matanya saat bibir dingin itu melumat bibir mungilnya. Tidak membutuhkan waktu lama tubuh Sakura kembali pulih meski tenaganya belum pulih sepenuhnya.
"My Lady, hamba ingin memberitahumu tentang tugas yang Anda berikan," ucap Bagatto sambil berlutut.
"Katakan," jawab Sakura.
"Hamba hanya bisa membunuh Raja Shintorious," jawab Bagatto bohong.
Bagatto bisa saja menghabisi mereka semua akan tetapi, Bagatto hanya diperintah untuk membunuh Shin dan hanya mereka berdua saja yang mengetahuinya. Bahkan, Sebastian tidak diberitahu Sakura. Gadis itu menyeringai tanpa sepengetahuan Sebastian.
"Baiklah, kau bisa kembali ke duniamu. Terima kasih atas bantuanmu," jawab Sakura lalu melempar kartu sihirnya ke depan Bagatto.
"Terima kasih sudah mempercayakan hamba untuk mengemban tugas itu, My Lady," jawab Bagatto lalu tubuhnya masuk ke dalam kartu sihir.
"Lalu, apa tugasku?" tanya Sebastian sambil menoleh ke arah Sakura.
Sakura berpikir sejenak, ia tidak mungkin kembali lagi ke dunia manusia. Pasti dengan mudah para Raja Iblis itu mencari dirinya. Beberapa menit berpikir akhirnya Sakura memutuskannya.
"Buatlah berita jika keluargaku menghilang tanpa jejak. Aku ingin Ayah tinggal di sini bersamaku. Dan soal asset perusahaan, aku ingin dibekukan dahulu. Atau kau saja yang mengaturnya menjadi perusahaan milikmu," jawab Sakura sambil menatap lurus manik mata Sebastian.
Sebastian tersenyum lucu mendengar penjelasan Ratunya.
"Apa aku salah bicara?" tanya Sakura.
"Tidak, My Queen. Aku tidak tahu kau sangat cerdas dalam memahami keadaan," jawab Sebastian tersenyum simpul.
"Jangan meremehkanku, aku bukanlah seperti kebanyakan gadis yang hanya memiliki setengah otak karena Ayahnya sangat kaya," dengus Sakura sambil mengerucutkan bibirnya.
"Jangan bertingkah seperti itu, membuatku ingin melumat bibir manismu saja. Sebaiknya kau membersihkan tubuh indahmu itu, aku ingin mencicipinya," ujar Sebastian membuat pipi Sakura merona.
Sakura hanya mengangguk dan berjalan ke pemandian air panas di kamar miliknya.
"Mengapa kau ikut masuk?" tanya Sakura saat melihat Sebastian mengikutinya.
"Aku ingin menggosok tubuh indahmu," jawab Sebastian dengan polosnya.
"Dasar iblis mesum, sebaiknya kau lakukan permintaanku tadi dan cepat keluar dari sini," jawab Sakura sambil menggembungkan pipinya.
"Kenapa kau menjadi malu-malu seperti itu? Kau menjadi sangat imut jika seperti itu," jawab Sebastian sambil terkekeh.
"SE-BAS-TI-AN...,"
"Baiklah, baiklah aku akan pergi, tetapi saat aku kembali aku ingin kau sudah memakan makananmu di meja. Mengerti?" jawab Sebatian.
__ADS_1
"Baiklah," jawab Sakura sambil menyenderkan tubuhnya di bebatuan.
Sebastian keluar dari pemandian dan membuka portal menuju dunia manusia. Berita besar di dunia iblis sudah merebak. Kabar itu mengatakan, Sakura selaku Ratu dari beberapa kerajaan tengah diculik dan dibawa ke kabut terlarang. Dan kematian Raja dari Kerajaan Astaroth menggemparkan seluruh kerajaan, dikatakan Raja Astaroth telah dibunuh oleh sang penculik.
Sakura menatap langit-langit pemandian yang seperti langit di dunia manusia, langit biru yang cerah den pepohonan yang sedikit menutupi indahnya langit dan hembusan angin yang menenangkan. Sejenak Sakura berpikir, ia tidak pernah merasakan kedamaian seperti ini. Setiap harinya Sakura harus membunuh orang dalam perusahaannya yang nakal bermain dengan uang perusahaan.
Rasanya ia ingin berhenti dari semua kejahatan yang ia lakukan. Teringat kembali dengan Sean yang selalu berada di sisinya, senyumnya, tawanya masih terngiang jelas di telinga Sakura. Sakura merasa pelindung dan orang kepercayaannya kini menghilang.
"Sean ... sekarang kau bisa tenang di alam sana," gumam Sakura sambil menutup matanya dan menengadahkan kepalanya ke atas.
Rasa sakit di tubuhnya berangsur-angsur menghilang. Sakura tidak tahu sudah berapa lama ia berendam. Kenyamanan berada di sana membuatnya lupa akan pesan Sebastian untuk makan makanannya di atas meja.
Tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh dan melumat bibirnya tidak sabaran. Gadis itu tersentak dan sontak membuka matanya dan mendapati Sebastian dengan senyum simpul di wajahnya.
"Kepalamu bisa sakit jika terlalu lama di sini, dan lihat kulit jemarimu sampai keriput seperti ini," ujar Sebastian sambil mengangkat tubuh Sakura.
"Sebastian, pakaianmu bisa basah," pekik Sakura saat tubuhnya diangkat meskipun, memang sudah basah.
"Itu tidak penting, yang terpenting adalah dirimu. Kau belum makan beberapa hari. Aku tidak ingin kau jatuh sakit," jawab Sebastian sambil menyipitkan matanya.
"Uhm, maafkan aku. Di sana membuatku nyaman," jawab Sakura gugup.
"Andai saja Ayahmu tidak sedang ingin bertemu denganmu, saat ini juga aku akan membuatmu lemas kembali di atas ranjang," goda Sebastian sambil tersenyum jahil.
"Dasar iblis mesum! Tunggu, Ayah ingin bertemu denganku?"
"Ya, berpakaianlah dan makanlah makananmu," jawab Sebastian lalu beranjak keluar kamar.
"Aku akan menemani Leonardo di kamarnya, pelayan akan mengantarmu nanti," jawab Sebastian lalu menutup pintu kamar gadis itu.
"Hmmm ... ada yang aneh dengan dirinya," gumam Sakura lalu mencari pakaian yang akan ia kenakan ditambah dengan memakan makanan di atas meja.
"Mari saya antarkan Anda, My Lady," ucap pelayan itu sambil membungkuk.
Sakura mengangguk dan mengikuti langkah pelayan itu. Setelah sampai pelayan itu membuka pintu kamar dan mempersilahkan Sakura masuk. Sakura melangkahkan kakinya dan seketika pintu kamar itu tertutup. Sakura mengedarkan pandangannya dan tubuhnya kembali menegang kala ia melihat kondisi Leonardo.
Selang infus terlihat di pergelangan tangan Leonardo, dan alat bantu pernapasan menghiasi wajah Leonardo. Perban pun tak luput menghiasi kepala Leonardo. Sakura membeku di tempat, ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Apa yang terjadi?" tanya Sakura lirih, Sebastian menghampiri Sakura dan berdiri tepat di belakang sambil memegang kedua pundak gadis itu.
"Mereka menyiksanya," jawab Sebastian singkat.Hanya dua kata itu saja Sakura tahu apa yang terjadi, hanya dua kata itu saja membuat amarah Sakura tidak bisa dibendung lagi. Lutut Sakura terasa lemas dan tubuhnya jatuh terduduk di lantai.
"Sa ... ku ... ra," panggil Leonardo.
"Ayah," pekik Sakura bangkit lalu menghampiri Leonardo, memegang tangan Leonardo lembut.
"Ayah, aku di sini. Aku di sini, sekarang kau aman. Tenang saja aku pasti melindungimu," lanjut Sakura yang kini matanya mulai berkaca-kaca.
“Sepertinya kau baik-baik saja di sini,” ujar Leonardo memberikan senyum hangatnya.
“Tentu saja aku baik-baik saja,” jawab Sakura juga ikut tersenyum.
"Maafkan Ayah, Ayah benar-benar menyesal," kata Leonardo menahan sakitnya.
"Aku memaafkanmu Ayah, sudahlah sekarang lebih baik Ayah istirahat," jawab Sakura menahan air matanya.
"Berbahagialah bersama Sebastian, jangan simpan dendammu pada mereka. Inilah harga yang harus Ayah bayar. Terimakasih karena kau telah memaafkanku, Sakura. Ayah mengantuk, apa Ayah boleh istirahat sejenak?" jawab Leonardo lirih.
"Ayah … tidurlah dengan tenang," jawab Sakura kini air matanya turun dari mata indahnya.
__ADS_1
"Terima ka...sih, aku sangat mencintaimu, Sa..ku..ra," jawab Leonardo sambil tersenyum pedih, perlahan pria paruh baya itu menutup matanya.
Genggaman lembutnya sudah melonggar, Sakura menatap wajah ayahnya yang kini tidak bernyawa. Air matanya masih terus mengalir, tetapi tidak ada isakan dalam tangisnya.
~Flashback On~
"Selamat pagi, Ayah. Apakah hari ini bekerja?" tanya Sakura saat kecil.
"Ya, Sakura. Ada client yang harusku temui saat ini," jawab Leonardo sambil memakan sarapannya.
"Tapi ... hari ini hari Natal, tidak bisakah Ayah libur sehari saja untuk menemaniku?" rengek Sakura.
"Baiklah, kita berdua akan merayakan Natal bersama," jawab Leonardo sambil tersenyum, Sakura berlari dan memeluk Leonardo.
Musim gugur...
"Ayah ... aku rindu Ibu," kata Sakura murung.
"Ayah di sini untukmu, kita akan bertemu Ibu suatu saat nanti. Apa kau menyayangi Ibumu meski tidak pernah melihat langsung?" jawab Leonardo sambil bertanya pada anak perempuannya itu.
"Ya, aku menyayanginya," jawab Sakura bersemangat.
"Kita akan bertemu dengannya bersama, Ayah juga merindukan Ibumu," ujar Leonardo.
"Ayah janji kita akan pergi bersama menemui Ibu?" tanya Sakura sambil memeluk Leonardo.
"Ayah berjanji," jawab Leonardo yakin sambil mencium kening Sakura dengan sayang.
~Flashback off~
Kenangan itu terputar kembali, janji Leonardo pada Sakura, bahwa mereka berdua akan menemui ibunya bersama-sama. Sebastian menghampiri Sakura dan memeluk Sakura dari belakang.
"Aku di sini untukmu," bisik Sebastian.
"Apa yang harus aku lakukan, Sebastian? Apa yang harus aku lakukan?" jawab Sakura dengan suara lirih.
"Tetap berada di sisiku dan kita hadapi mereka nanti. Setelah kita memiliki keturunan," jawab Sebastian sambil mengelus-elus kepala Sakura.
Sakura hanya mengangguk pasrah, mulai saat itu juga, Sakura hanya menuruti perintah Sebastian, tanpa ada perlawanan. Tidak ada senyum tulus lagi di wajah cantiknya. Tatapan matanya pun kosong, kini Sakura terlihat seperti ... boneka hidup.
***
__ADS_1