Six Husband From Hell

Six Husband From Hell
Episode 31


__ADS_3

Sudah lama sekali Sebastian tidak pernah mengotori tangannya sendiri untuk membunuh iblis ataupun manusia. Tetapi iblis tetaplah iblis, sebaik-baiknya seorang iblis ia akan tetap menghasut, menjerumuskan bahkan hingga membunuh. Keserakahan, keegoisan, bahkan hingga keinginan yang tak terbatas akan terus membayangi langkahnya.


Setiap hal yang membuatnya menekan kekuatannya untuk terus tetap menjadi iblis yang baik akan berdampak buruk pada akhirnya. Di mana tubuhnya akan lelah dengan semua beban yang ia tanggung, di mana tubuhnya akan meronta dan meminta dibebaskan akan siksaan yang membelenggu sisi jahatnya. Iblis tetaplah iblis dan akan sulit menjadi malaikat, yang pada akhirnya ia harus mengeluarkan sisi iblisnya untuk kembali menjadi malaikat berwujud iblis.


Sebastian melewati lorong istana miliknya dengan wajah kesal. Sesaat ia berhenti dikarenakan sesuatu, suara-suara yang selama ini menghantui dirinya. Sudah beberapa ribu tahun ia tidak membunuh siapapun, bahkan semut pun tidak ia ganggu. Sesaat melihat bayangan dirinya, bayangan itu menyeringai padanya.


"Ini tidak baik, 'dia' sangat ingin keluar ternyata." Sebastian terkekeh saat melihat bayangan dirinya sendiri menyeringai padanya.


"Sepertinya aku harus menyingkirkan mereka. Untuk menekan sisi Iblisku ini." Sebastian menyeringai.


"Tidak akan kuserahkan Ratuku pada mereka," lanjutnya sambil berjalan dan menghilang di kegelapan.


Tanpa Sebastian sadari, Sakura berada tak jauh dari dirinya dengan menyembunyikan keberadaannya. Mendengar semua apa yang dikatakan iblis itu, Sakura hanya diam dengan raut wajahnya yang tidak terbaca.


'Iblis tetaplah iblis.' batin Sakura sambil tersenyum. Sakura membalikkan tubuhnya dan ikut pergi hilang dalam kegelapan.


 


***


Di sisi lain Kerajaan Lucifer, Orlando Raja dari para Raja Iblis itu terlihat putus asa. Di hadapannya kini para petinggi dan tetua kerajaan tak luput juga para Raja dan Pangeran yang diincar Kerajaan Phanthom. Orlando berpikir lebih keras lagi untuk melunakkan hati Raja Kerajaan Phanthom itu. Bahkan saat ini, surat apa pun dari Orlando tidak diterima di Kerajaan Phanthom.


"Bagaimana mungkin Hime juga istri dari Lord Phanthom itu?" Viper mulai bersuara.


"Mungkin Beliau juga memberikan darahnya pada manusia itu," jawab Lord Orlando menutup matanya dengan sebelah tangannya.


"Maaf saja Hime kini bukanlah manusia. Ia sudah menjadi Iblis seperti kita," jawab Shine santai.


"Apa kau bilang?!" Lord Orlando bangkit dari duduknya.


"Ini berbahaya, ramalan itu akan terjadi," jawab salah satu tetua yang panik.


"Bahkan Hime tidak mengingat siapa kami, Lord Phanthom itu terlalu licik untuk ukuran malaikat berwujud Iblis." kini Lazark yang berbicara.


"Hanya Sakura yang bisa menghentikan perang itu," ujar Lord Orlando.


"Apa maksud Anda, My Lord?" tanya para tetua.


"Lord Phanthom itu sangat menyayangi Sakura, kemungkinan ia akan mengikuti permintaan dari Sakura. Yang aku tahu Raja Phanthom itu tidak suka berbagi, kemungkinan besar ia ingin memusnahkan kalian karena ia tidak ingin berbagi Sakura dengan kalian," jawab Lord Orlando sambil duduk kembali di singgasananya.


"Untuk apa ia ingin menguasai Sakura? Bukankah ia sendiri sudah kuat? Mengapa ia ingin sekali kekuatan besar itu?" tanya Rozenth.


"Lord Phanthom tidak ingin kekuatan, Lord Rozenth," jawab tangan kanan Lord Orlando, Rozenth menatap balik ke arah iblis itu.


"Lord Phanthom sudah mencintai Sakura sejak lama," ujar Lord Orlando.


"Sejak lama?" Viper mengernyitkan dahinya.


"Aku tidak tahu cerita detailnya, Lord Phanthom hanya menceritakannya sebatas itu," jawab Lord Orlando.


Mysth mengepalkan kedua tangannya, teringat saat ia bertemu dengan Sakura beberapa hari lalu. Sakura tidak mengingatnya, dan kemungkinan besar ingatannya dihapus dengan kata lain Sakura tidak akan pernah mengingatnya lagi.


Mysth yang masih melamun memikirkan Sakura hingga tidak mendengar panggilan Lord Orlando, mendapat sikutan keras dari Shine yang duduk di sebelahnya. Mysth memohon maaf dengan tatapan matanya pada Lord Orlando.


"Aku tahu kau memikirkan Istrimu, Lord Mysth. Tetapi, bisakah kau fokus terlebih dahulu pada pertemuan kali ini?" ujar Lord Orlando menatap tajam ke arah Mysth.


Shine mengisyaratkan pada yang lain untuk memakai earphone, dengan cepat mereka semua memakai earphone kecuali Lord Orlando. Ia layaknya Sakura yang kebal dengan suara Mysth.


"Maafkan hamba, My Lord. Hamba tidak akan mengulanginya lagi," jawab Mysth sambil menunduk meminta maaf.


"Baiklah, kau carilah pengganti Shinterious untuk menggantikanmu berbicara." Mysth mengangguk, Shine melepaskan earphone miliknya diikuti yang lainnya.


Pertemuan selesai dan semua iblis keluar dari ruangan itu. Mysth dan Raja lainnya menghilang begitu saja menyisakan Viper dengan Orlando di dalam ruangan.


"Ini tidak baik, Viper." Lord Orlando mulai percakapan.

__ADS_1


"Aku tahu, Paman. Aku tidak mengetahui tentang kekuatannya. Apa Paman mengetahui tentangnya?"


"Menurutmu sebesar apa kekuatan yang dimiliki oleh Iblis yang berusia 40.000 tahun?" Lord Orlando berbalik bertanya.


"Jangan bercanda, Paman. Itu tidak lucu, 40.000 tahun? Tidak mungkin ia hidup selama itu," sanggah Viper.


"Tetapi, itulah kenyataannya. ‘Ia akan menjadi teman baikmu jika kau menganggapnya teman. Tapi jangan pernah menjadikannya musuh jika kau ingin selamat' itulah yang dikatakan Nico padaku," jawab Lord Orlando.


"Nico?" Viper mengangkat satu alisnya.


"Dia adalah tangan kanan Lord Phanthom," jelas Lord Orlando.


"Tidak ada rencana yang bagus untuk mengalahkannya, satu-satunya cara adalah dengan Sakura. Berdoalah Sakura mengingat siapa kalian dan menghentikan Lord Phanthom," lanjut Lord Orlando lalu menghilang begitu saja.


Viper bangkit sambil berlalu, memikirkan rencana-rencana dan harus memberitahukan Sakura tentang para suaminya dan kelicikan Sebastian. Tetapi saat ini, ia tidak tahu di mana Sakura berada. Jika Sakura kembali ke Kerajaan Phanthom, itu akan membuatnya sulit bertemu.


"Semoga saja," gumam Viper lalu menghilang ditelan kegelapan.


 


***


 


Keesokan harinya Sakura yang kini berada di dunia manusia sedang duduk di taman Mansion milik Sebastian bersama Nico yang berdiri di sebelah Sakura. Semalam Sebastian tidak kembali, tidak ada yang tahu keberadaan Sebastian saat ini. Nico pun tidak mengetahui di mana tuannya itu. Ia hanya mendapat perintah untuk terus berada di sisi sang Ratu selama ia tidak ada.


"Kakek tua itu ke mana saja, sejak kemarin meninggalkankanku di taman hiburan ia menghilang bersama para Raja iblis itu," gerutu Sakura sambil memainkan bunga mawar di tangannya.


"Maafkan hamba, My Lady. Lord Sebastian tidak memberitahukan di mana saat ini Beliau berada," jawab Nico sambil menunduk meminta maaf.


"Berhenti bersikap formal saat kita hanya berdua," pinta Sakura tanpa menoleh.


"Baiklah, My Lady." Nico tersenyum lembut meski Sakura tidak melihatnya.


"Kau tahu mengapa mereka memanggilku 'Hime'?" tanya Sakura, Nico terdiam tidak bisa menjawab.


"Jika kau tidak bisa mengatakannya, lupakan saja pertanyaanku," ujar Sakura sambil membuang muka.


"Maafkan hamba, tetapi Lord Sebastian memerintahkan hamba untuk tidak membahas mereka," jawab Nico sambil menundukkan wajahnya.


'Tidak mungkin juga aku membeberkan rencana Lord Sebastian, kepalaku bisa menjadi pajangan di singgasananya.' lanjut Nico dalam hati.


Nico belum pernah melihat Sebastian mengamuk, yang ia dengar jika Sebastian mengamuk bisa meratakan Kerajaan Phanthom yang sangat luas itu. Dan lagipula akhir-akhir ini aura iblis Sebastian begitu menguar, hingga membuatnya merinding begitu Sebastian menatapnya.


Hingga akhirnya menjelang malam hari Sakura tidak berbicara sedikit pun padanya lagi. Sakura bangkit lalu memasuki mansion diikuti Nico. Saat Nico mengantar Sakura ke kamarnya saat itu juga ia melihat Sebastian dengan seringaian menghiasi wajah tampannya. Sakura membeku di tempat saat melihat Sebastian di depannya.


"Tinggalkan kami berdua," ucap Sebastian pada Nico.


"Yes, My Lord," jawab Nico langsung menghilang ditelan kegelapan.


Sakura menatap Sebastian ngeri, karena merasakan aura iblis Sebastian yang menguar-nguar hingga membuatnya merinding.


"Sakura, mendekatlah," pinta Sebastian.


'Sial, di saat-saat seperti ini mengapa ia terlihat sexy.' batin Sakura tidak beranjak dari tempatnya.


"Ada apa? Mengapa wajahmu ketakutan seperti itu? Kemarilah." Sakura semakin membeku di tempat saat ia melihat seringaian Sebastian.


Dengan tiba-tiba tubuh Sakura sudah berada di pelukan Sebastian. Sakura terkejut bukan main, ia sedikit mendorong tubuh Sebastian karena terlalu menempel pada tubuhnya.


"Sebastian...," bisik Sakura menyadarkan Sebastian.


"Aku tidak akan membiarkanmu kembali lagi bersama mereka. Tubuhmu dan jiwamu adalah milikku," bisik Sebastian di telinga Sakura.


"Ada apa denganmu?" Sakura mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Aku hanya terlalu mencintaimu," jawab Sebastian sambil membenamkan wajahnya di leher Sakura.


"Sebastian ... akh..., "Sebastian langsung saja menggigit leher Sakura dan meminum darahnya.


Sakura berpegangan pada tubuh Sebastian, kedua kakinya yang terasa lemas membuatnya hampir terjatuh. Dengan sigap Sebastian menahan tubuh Sakura sambil menghisap darah sang Ratu. Beberapa menit berlalu Sebastian melepaskan gigi taringnya yang menancap di leher Sakura. Matanya berkilat merah seperti darah sambil menatap manik gadis itu


"Ingatlah kau hanya milikku seorang." Sebastian langsung menggendong Sakura dan menurunkannya di ranjang.


Sebastian membuka kasar gaun yang dipakai Sakura. Dengan cepat Sakura mencegah Sebastian dengan menahan tangannya.


"Apa yang kau rencanakan, Sebastian?" tanya Sakura dengan raut wajahnya yang serius.


"Dan siapa mereka yang memanggilku 'Hime'?" lanjut Sakura.


Wajah Sebastian mendekat hingga beberapa senti dari wajah Sakura.


"Kau tidak perlu mengetahui mereka, Ratuku. Mereka hanya iblis yang ingin merebutmu dariku." Sebastian langsung melumat bibir Sakura.


Sakura yang sudah berniat ingin memberontak membuat Sebastian tidak membiarkan gadis itu bergerak, Iblis tampan itu langsung saja mengikat tangan Sakura ke sisi ranjang.


"Kau terlalu memberontak hari ini," ujar Sebastian sambil membuka kemeja yang ia pakai dengan posisi menindih tubuh Sakura.


"Sebastian, ada apa denganmu?" tanya Sakura sedikit takut melihat tingkah iblis tampan itu.


"Aku?" tunjuk Sebastian pada dirinya sendiri, ia mendekatkan lagi wajahnya pada Sakura.


"Aku sedang tidak baik, lebih baik kita cepat memiliki keturunan. Itu pun jika kau memang mencintaiku," bisik Sebastian lalu menjauhkan wajahnya dari Sakura.


"Ada apa sebenarnya denganmu, Sebastian?" bentak Sakura, karena ia mulai takut dengan tingkah sang Raja.


Sebastian yang terkejut langsung saja merobek paksa gaun Sakura hingga memperlihatkan tubuh indah Sakura.


"Maafkan aku, aku tidak bisa menahannya lagi," jawab Sebastian membuat Sakura merasa aneh.


'Menahan? Apa maksudnya dengan menahan?' pikir Sakura.


"Jangan katakan kau selama ini menahannya?" tanya Sakura tajam.


"Yah, aku menahannya agar kau tidak mengandung terlalu cepat. Aku tahu kau belum siap, Sakura," jawab Sebastian menutupi seringaiannya.


'Tunggu, bukan itu. Ada yang aneh dengan sikapnya kali ini.' batin Sakura mulai waspada.


Sebastian langsung saja melumat bibir Sakura kembali, tangannya meremas kencang dada Sakura. Ciumannya turun dan membuat tanda kepemilikan di sekitar leher dan di dada Sakura. Berbeda dengan hari-hari kemarin, Sebastian terlihat lebih agresif.


Sebastian memasukkan jarinya ke dalam milik Sakura, hingga gadis itu kembali mendesah. Iblis itu terus saja mempermainkan Sakura dengan jari-jari handalnya.


"Akh ... Sebastian...." Iblis tampan itu menyeringai hingga akhirnya ia memasukkan miliknya ke dalam milik Sakura.


"Kau masih saja tetap nikmat meski sering aku masuki," bisik Sebastian di telinga Sakura, sukses membuat Sakura merona merah.


Dengan cepat Sebastian menggerakkan pinggulnya dengan tempo yang cepat, hingga beberapa menit kemudian mereka berdua mencapai puncak kenikmatan. Sebastian tidak berhenti di situ saja, ia kembali terus menggerakkan pinggulnya sambil melumat bibir Sakura. Hingga beberapa ronde Sebastian akhirnya melepas ikatan di tangan Sakura. Iblis itu mengecup bekas ikatan yang tertera jelas di lengan Sakura.


"Sebastian...," bisik Sakura di tengah kelelahannya.


"Tidak cukup, kau harus mengandung setelah ini." Sebastian kembali menghentakkan miliknya lebih dalam lagi membuat Sakura meringis kesakitan.


Hingga malam berganti pagi, Sebastian baru melepaskan Sakura. Sebastian memeluk tubuh Sakura yang sudah tidak bertenaga. Mengecup kepala Sakura dengan perasaan bersalah. Ia telah lalai membiarkan sisi iblisnya mengambil alih tubuhnya.


"Maafkan aku, Sakura," bisik Sebastian.


 


 


***

__ADS_1


 


 


__ADS_2