
"Aku punya permintaan...," jawab Sakura tanpa menoleh ke arah Sebastian.
"Kau mengerti konsekuensinya, bukan?" tanya Sebastian, Sakura hanya terdiam.
"Jika itu yang kau mau, kau harus menetap di kerajaan dan dalam pengawasanku," lanjut Sebastian.
"Aku belum mengatakan apa pun," jawab Sakura kini kepalanya menengadah ke atas. Memejamkan matanya sejenak lalu tertawa hambar.
"Hahahahaha ... kau lihat mereka yang tidak berbelas kasih?" kata Sakura sambil tertawa, Sebastian menatap khawatir.
"Aku juga melakukan hal seperti itu. Apa itu karma untukku?" tanya Sakura dengan lirihnya.
"My Queen, apa yang kau minta?" tanya Sebastian khawatir.
"Hapus jejakku," jawab Sakura sambil menyeringai.
"Jejakmu?" tanya Sebastian sambil memiringkan kepalanya tidak mengerti.
Sakura mengeluarkan aura miliknya, Sebastian bergerak sedikit menjauh. Angin dan aura hitam mengelilingi Sakura. Sebastian khawatir melihat Sakura yang kini memakai kekuatan Iblisnya.
"Secepat inikah?" gumam Sebastian.
Seperti yang sudah-sudah, Sakura mengeluarkan kartu yang entah dari mana datang mengelilingi tubuhnya. Dengan sedikit menjernihkan pikirannya Sakura lalu mengambil salah satu kartu di depannya. Dan saat ia membuka kartu itu.
Sakura melempar kartu itu di depannya dan keluarlah seorang seperti Pangeran berambut abu-abu dengan eyepatch di mata kanannya.
"My Lady," ucap orang itu sambil berlutut di depan Sakura.
"Pangeran Bagatto, aku butuh pertolonganmu," jawab Sakura.
"Dengan senang hati, hamba akan lakukan apa pun untuk Anda, My Lady," jawab Pangeran itu.
"Bunuh mereka, tetapi jika kau sudah tidak sanggup mundurlah," titah Sakura.
"Sesuai perintah Anda, My Lady. Senang bisa melayani Anda," jawab Pangeran itu lalu menghilang ditelan angin.
Sebastian tidak percaya Sakura memakai kekuatannya untuk membunuh para Raja Iblis, kini ia tahu apa yang dimaksud dengan "menghapus jejak". Konsekuensi jika Raja iblis dibunuh oleh manusia adalah manusia itu akan disiksa sampai mati. Bagaimanapun caranya, siksaannya akan membuatnya menderita seumur hidup, karena saat sudah sekarat manusia itu akan dipulihkan lalu disiksa kembali, seperti di neraka.
Sakura jatuh terduduk lemas di lantai, Sebastian menghampiri Sakura lalu menggendong tubuh gadis itu. Wajah Sakura sedikit memucat, seperti kehabisan tenaga bahkan Sakura tidak kuat mengangkat tangannya.
"Siapa lelaki itu? Dia bukan Iblis ataupun manusia," tanya Sebastian.
"Aku tidak tahu pasti, tetapi mereka yang hidup dalam dunia kartu menuruti perintahku," jawab Sakura lemah.
"Kekuatan itu menghabiskan tenagamu, My Queen?" tanya Sebastian lagi.
"Biasanya tidak, tetapi aku tidak menyangka bahwa Pangeran dunia kartulah yang akan turun tangan langsung dan menguras tenagaku," jawab Sakura lemas dan langsung tertidur.
"Pangeran, huh? Apa dia mampu mengalahkan para Raja Iblis itu," gumam Sebastian langsung mengeratkan gendongannya.
Tiba-tiba pintu perpustakaan terbuka, Sean palsu itu masuk tergesa-gesa. Sedikit terlihat keterkejutannya melihat Sakura yang tidak sadarkan diri digendongan Sebastian.
"Nona Sakura, Tuan Sebastian. Apa kalian baik-baik saja?" tanya Sean itu mendekat.
"Kau ... menyingkirlah dari hadapanku, Iblis busuk," desis Sebastian tajam, tiba-tiba saja Sean palsu itu hangus terbakar.
Hanya dengan tatapan Sebastian, Iblis itu langsung terbakar menjadi abu. Sebastian membuka portal untuk kembali ke Kerajaan Phanthom. Di sisi lain Pangeran Bagatto kini berhasil menemukan para Raja iblis itu.
Di mana mereka berkumpul seperti biasa para Raja baru itu, Viper, Lazark, Shin, Shine, Rozenth, dan Mysth dikejutkan dengan kedatangan seseorang, bukan iblis dan bukan manusia.
"Selamat malam, para Raja Iblis."
"Siapa kau? Dan bagaimana bisa kau menemukan tempat ini?" tanya Lazark berdiri dari tempat duduknya.
"Tenanglah, Lazark," kata Viper kini mulai ikut berdiri dari tempat duduknya.
"Bisa kau katakan siapa dirimu? Dan apa urusanmu datang kemari?" tanya Viper.
"Perkenalkan, aku adalah Pangeran Bagatto dari dunia kartu." Bagatto memperkenalkan diri.
"Untuk apa seorang Pangeran sampai datang bertemu dengan kami di sini?Apalagi dari dunia kartu di mana tidak ada satu pun yang bisa memasukinya," tanya Viper.
__ADS_1
"Aku hanya melaksanakan tugasku," jawab Bagatto sambil mengeluarkan pedang miliknya.
"Tugas?" tanya Shine bingung.
Bagatto menyeringai lalu berkata, "Sepertinya tugas ini sedikit menyusahkan, Tuanku benar-benar buruk dalam hal memilih lawan."
"Sebenarnya apa yang kalian lakukan sampai Tuanku memanggilku untuk membunuh kalian?" tanya Bagatto.
"Apa maksudmu? Dan siapa Tuanmu?" tanya Viper kini mulai bersiaga.
"Apa lelaki itu yang memanggilmu?" tanya Shine.
"Lelaki? Siapa yang kalian maksud? Tuanku adalah seorang gadis cantik dan lumayan kuat bisa sampai memanggilku," jawab Bagatto.
"Gadis?" desis Viper geram.
"Kalian tidak perlu tahu," jawab Bagatto sambil menyeringai.
Kini Bagatto melayang di udara, air, tanah, api dan angin yang mengelilingi dirinya. Bagatto melancarkan serangan hanya dengan mengibaskan pedangnya ke arah para Raja. Viper dan lainnya menghindar dengan sempurna, sedangkan serangan itu menyerang istana itu sampai hancur. Mereka pun keluar dari istana kecil itu.
"Sial, serangannya kuat sekali sampai menghancurkan sebagian istana," rutuk Lazark yang kini tengah melayang di udara dengan yang lainnya.
Bagatto kembali menyerang kini dengan serangan angin dan air, serangan itu dapat dihindari dengan mudah oleh para Raja. Seakan sedang bermain, Bagatto hanya terkekeh melihat para Raja yang terus menghindar tanpa menyerang dirinya. Seperti memiliki jiwa serangan yang dilancarkan Bagatto mengejar kemanapun para Raja itu menghindar. Viper yang lelah dipermainkan oleh Bagatto menghilangkan serangan itu dengan kibasan pedang miliknya.
"Jadi, apakah kalian mulai serius?" tanya Bagatto yang melayang di udara.
"Kau salah memilih lawan, Pangeran kecil," jawab Lazark.
"Tuanku yang salah memilih lawan. Aku tidak sudi menyerang kalian yang sangat merepotkan ini, tetapi perintahnya adalah mutlak, aku tidak bisa menghindarinya. Jadi, bisa kita permudah saja? Biarkan aku membunuh kalian dengan tenang setelah itu aku akan kembali dan mengabarkannya pada Tuanku dengan cepat," jawab Bagatto menatap remeh para Raja.
Bagatto tahu, dirinya tidak mudah melawan keenam Raja iblis sekaligus, tetapi perintah yang diberikan adalah mutlak dan harus dilaksanakan. Jika saja yang dipanggil adalah Tredici atau Grim Reaper, pasti akan jauh lebih mudah membunuh para Raja Iblis itu.
Tetapi mengapa dirinya yang terpanggil? Bagatto masih memikirkan hal itu sedari dirinya diperintahkan untuk membunuh para Raja iblis itu.
"Merepotkan," gumam Bagatto sambil menangkis semua serangan yang dilancarkan para Raja iblis itu.
"Katakan pada kami, siapa Tuanmu itu?" tanya Viper.
"Baiklah, aku hanya akan memberikan petunjuknya saja," jawab Bagatto tersenyum sinis.
"Sialan! Akanku bunuh kau," umpat Lazark menyerang Bagatto.
"Kalian tidak perlu bersusah payah menyerangku, apakah kalian tidak menyadarinya?" jawab Bagatto sambil terkekeh.
"Berhenti," teriak Viper membuat yang lain berhenti menyerang Begatto.
"Apalagi?" tanya Lazark kesal.
"Kita tidak bisa melukainya," jawab Viper sambil mengeluarkan auranya.
"Apa maksudmu?" tanya Lazark tidak paham.
"Dia ... semua yang berasal dari dunia kartu tidak bisa diserang. Dunia mereka berbeda, tetapi mereka bisa menyerang kita. Kita mendapat lawan yang sangat merepotkan," jawab Viper kembali ke wujud iblisnya.
"Khikhikhi..." Bagatto menyeringai sambil terkekeh.
"Kalian hanya bisa menyentuhku, tetapi tidak bisa melukaiku. Karena itu sudah kukatakan untuk diam dan nikmatilah kematian kalian sehingga tidak membuatku repot," lanjut Bagatto.
"Sial, lalu apa yang harus kita lakukan, Viper?" tanya Lazark yang juga kembali ke wujud Iblisnya.
"Hanya satu cara ... yaitu mengembalikannya ke dalam dunia kartu, atau membunuh si pemanggil," jawab Viper menghindari serangan Bagatto yang tiba-tiba.
"Hey kalian...," panggil Bagatto.
Mereka berhenti saat Bagatto memanggil dan berhenti menyerang, tiba-tiba Bagatto menyeringai dan terkekeh.
"Apa dia gila?" tanya Shine.
"Ada yang aneh," kata Viper.
"Tugasku sudah selesai," jawab Bagatto menyeringai.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Viper.
Tiba-Tiba Shin terjatuh dan tubuhnya menjadi kaku.
"Shin!!!" teriak Mysth.
Para Raja yang sedang terbang di udara turun menghampir Shin, sedangkan Bagatto dengan terkekeh turun dengan santainya meski tetap berada di udara. Dengan panik Mysth membalikkan tubuh Shin yang kaku. Wajah Shin seperti porselen yang memiliki keretakan karena terjatuh, tubuhnya kaku dan kegelapan di matanya telah sirna. Shin telah mati dengan luka yang tiba-tiba muncul di dadanya.
"Shin, apa kau baik-baik saja? Katakan sesuatu, Shin!!" kata Mysth sambil mengguncang-guncangkan tubuh Shin.
"Apa yang kau lakuan?" tanya Viper geram.
"Membunuhnya," jawab Bagatto singkat.
"Bagaimana mungkin ... sejak kapan?" tanya Mysth setengah berteriak membuat para Raja menutup telinga mereka.
"Kau memiliki suara yang menyakitkan ternyata," jawab Bagatto acuh sambil menutup telinganya.
"Katakan!" bentak Mysth.
"Baiklah akanku katakan sebagai hadiah perpisahan," jawab Bagatto.
"Tugasku hanyalah membunuh Shinterious. Itulah perintah yang sebenarnya diberikan padaku. Aku sudah membunuhnya saat Viper bertanya padaku, siapa Tuanku. Tanpa kalian sadari, dan itu lumayan sulit karena harus mengalihkan perhatian kalian dari buruanku yang sebenarnya," jawab Bagatto dengan wajah serius.
~Flashback On~
"My Lady," ucap Bagatto sambil berlutut di depan Sakura.
"Pangeran Bagatto, aku butuh pertolonganmu," jawab Sakura.
"Dengan senang hati, hamba akan lakukan apa pun untuk Anda, My Lady," jawab Bagatto.
"Bunuh Raja Shinterious Astaroth," titah Sakura lewat mindlink kepada Bagatto.
"Bunuh mereka, tetapi jika kau sudah tidak sanggup mundurlah," lanjut titah Sakura kini tidak lewat mindlink.
"Sesuai perintah Anda, My Lady. Senang bisa melayani Anda."
~Flashback off~
"Siapa Tuanmu?" tanya Mysth wajahnya tertunduk.
"Apa kalian yakin mau mendengarnya?" tanya Bagatto.
"Ya, kami akan membunuhnya," jawab Mysth yakin.
"Aku tidak yakin kau akan membunuhnya, jika kau tahu siapa dirinya," jawab Bagatto terkekeh.
"Memangnya siapa dirinya? Bahkan orangtuaku pun aku membunuhnya," jawab Viper geram.
"Apa kau yakin bisa membunuh orang yang kau cintai?" tanya Bagatto, seketika mereka diam membeku.
"Sudahku duga, kalian tidak bisa membunuhnya," jawab Bagatto terkekeh.
"Apa maksudmu? Tidak mungkin dia membunuh Shin," bantah Shine.
"Apa kau yakin setelah apa yang dilakukan Lord Astaroth, Tuanku bisa dengan mudah memaafkannya?" tanya Bagatto.
Mereka terdiam membeku sekaligus terkejut dengan kebenaran siapa yang membunuh Shin. Bagatto yang melihat raut wajah tidak percaya para Raja hanya terkekeh geli, seorang manusia membunuh Raja iblis. Itu membuat Bagatto merasa lucu, baru kali ini dirinya dipanggil oleh seorang manusia.
"Baiklah, sampai jumpa lagi. Aku akan menantikan tugasku yang berikutnya. Siapa lagi yang akan dibunuhnya?! Aku sangat menantikannya," kata Bagatto sambil terkekeh lalu menghilang.
"Tidak mungkin Hime melakukan itu." Shine berkata setelah beberapa menit mereka terdiam.
"Adakan pemakaman yang semestinya untuk Shin," jawab Viper lalu pergi diikuti Lazark dan Rozenth.
Mysth masih terus memeluk tubuh Shin yang kaku, Shin telah mati. Shin bagaikan seperti kakak bagi seorang Mysth, Shin yang selalu membelanya, Shin yang selalu ada di dekatnya, Shin yang selalu menenangkan dirinya saat dirinya murka, Shin yang menolongnya dari keterpurukan seorang Putra Mahkota dan Shin adalah orang yang paling berharga bagi Mysth. Mysth tidak menyangka Sakura akan membunuh Shin. Pasti ada satu hal yang mempengaruhinya, Sebastian. Iblis itu pasti mempengaruhi Sakura, itulah yang dipikirkan Mysth.
Mysth bersumpah akan membunuh Sebastian tepat di depan makam Shin, Mysth bersumpah akan mengambil Sakura kembali dari Sebastian. Sebastian Lacretia, nama itu sudah ditanamkan di dasar alam bawah sadar Mysth.
‘Sebastian Lacretia harus mati.’
__ADS_1
"Akanku balas semuanya, Shin. Jadi, tenanglah di sana."