
Sakura yang sedang menunggu Sebastian kini duduk di sebuah kursi panjang di taman bersama Nico. Suara ponsel terdengar dari saku gaun yang dikenakan Sakura. Sakura melihat layar ponselnya dan tertera nama ayahnya. Dengan malas Sakura menjawab telepon tersebut.
"Hallo," jawab Sakura.
"Sakura, ada berita buruk. Tetapi, Ayah mohon kau bersikap tenang dan jangan gegabah," jawab Leonardo tanpa basa basi.
"Baiklah, katakan," jawab Sakura kini raut wajahnya sedikit menegang.
"Sean...,"
"Ada apa dengan Sean?" Sakura mengernyitkan dahinya.
"Apa kau merasakan hal aneh beberapa hari ini dengannya?" tanya Leonardo.
"Yah, sedikit," jawab Sakura singkat.
"Sudah ku duga," jawab Leonardo suaranya melemah.
"Apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu, Sean yang sekarang bukanlah Sean yang asli. Sean bisa saja menghilang atau lebih buruknya lagi Sean sudah mati saat ini. Saat kau pergi bersama Sebastian, 'mereka' kembali. Dan Ayah keluar ruangan itu, tetapi Ayah terus mendengarkan pembicaraan 'mereka' dari luar ruangan," jawab Leonardo.
"Apa Ayah serius?" tanya Sakura kini suaranya bergetar.
Nico yang menyadari perubahan raut wajah Sakura dan suaranya yang bergetar mendekati Sakura dan menunggu Sakura menyelesaikan pembicaraannya dengan ayahnya.
"Ayah serius, Sakura. Ayah telah mengambil buku harian Sean. Dan setiap harinya ia selalu menuliskan kejadian apa pun di buku itu, tetapi tidak ada yang tertulis lagi setelah tanggal 24 Juni 2030," jawab Leonardo.
"Hari itu...," gumam Sakura.
"Kau mengetahui sesuatu, Sakura?" tanya Leonardo.
"Itu adalah hari di mana Sean memberikan nasehatnya untuk meninggalkan 'mereka'. Apa mereka mendengar ucapan Sean? Ya Tuhan...," jawab Sakura lalu menutup wajahnya dengan satu tangan.
"Kalau begitu pantas saja. Sakura, kau harus membaca buku hariannya. Ayah tidak ingin kau menyesal di kemudian hari, jika Sean yang sebenarnya sudah tiada. Kau harus tahu semuanya," jawab Leonardo dan sambungan telepon itu terputus.
Sakura terdiam, menangis tanpa mengeluarkan air mata. Gadis itu menahan tangisannya. Sakura menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan emosinya, kesedihannya, pikirannya dan hatinya.
Sean bukanlah hanya pelayan biasa, Sean berasal dari keluarga bangsawan. Dan jika ia lulus dari penilaian sang majikan, ia bisa menikah dengan putri atau kerabat majikannya yang seorang bangsawan juga.
Bahkan sebenarnya Sakura tidak pernah menganggapnya sebagai pelayan. Melainkan seorang kakak yang selalu melindungi dirinya, mengajarinya, menasehatinya dan memanjakannya. Karena dirinya anak tunggal dan ayahnya selalu bekerja. Para pelayan pun tidak ada yang berani mengajaknya berbicara karena Leonardo yang melarang. Di sekolahnya pun jarang ada yang berbicara dengannya, mereka seperti merasa takut akan suatu hal.
Yang kini ia baru mengetahuinya, teman-temannya takut akan 'mereka' yang selalu menjadi bayang-bayang Sakura. Nico yang sedari tadi diam kini mulai bertanya.
"My Lady, Anda baik-baik saja?" tanya Nico.
Sakura tidak menjawab, Sakura terus mencoba menetralkan emosinya. Beberapa menit kemudian barulah ia membuka suara.
"Bisakah, aku melewatkan perayaan ini?" tanya Sakura.
"Maksud Anda?" jawab Nico.
"Aku ingin pulang. Ada sesuatu yang harus aku lakukan," jawab Sakura lirih.
"Anda bisa lakukan itu setelah perayaan, My Lady," jawab Nico.
"Berarti aku tidak boleh pulang?" tanya Sakura.
"Hamba tidak menjawab seperti itu, keputusan berada di tangan Lord Sebastian, My Lady," jawab Nico menjelaskan.
"Ahh, My Queen... aku mencarimu ke mana-mana." tiba-tiba Sebastian datang bersama Lord Orlando di sebelahnya.
Sakura memberikan senyum manisnya kepada Sebastian dan Lord Orlando untuk menutupi rasa gelisah di hatinya.
__ADS_1
"Apa pembicaraan kalian sudah selesai?" tanya Sakura mencoba menyapa.
"Yah, setidaknya begitu. Baiklah kita rayakan sekarang perayaan ini," jawab Sebastian lalu menarik lembut tangan Sakura.
Sakura hanya tersenyum, walaupun dalam pikirannya sedang memikirkan Sean. Ia tidak bisa meminta Sebastian begitu saja karena ini adalah perayaannya. Gadis itu tidak ingin merusak hari bahagia Sebastian. Meski begitu, Sebastian mengetahui ada yang tidak beres dengan Sakura. Tangan gadisnya itu terasa dingin dan gemetar, meski tidak terlalu terasa.
"Ada apa, Queen?" tanya Sebastian berbisik sambil mendekatkan tubuhnya dengan Sakura.
"Tidak ada, jangan pikirkan. Ayo kita bersenang-senang hari ini," jawab Sakura tanpa ragu sambil menyembunyikan kegelisahannya.
Tiba-tiba Sebastian berhenti, pandangannya lurus ke manik mata Sakura. Mencari keraguan, kebohongan, kegelisahan di mata Sakura. Sayangnya Sakura tidak bisa menyembunyikannya.
"Katakan atau aku akan batalkan perayaan ini," ucap Sebastian, kini Nico dan Lord Orlando bisa mendengarnya dengan jelas.
"Aku tahu, kau hanya tidak ingin mengganggu hari bahagiaku saat ini. Tapi, asal kau tahu. Aku lebih mementingkan dirimu daripada diriku, jadi katakan padaku, Queen?" lanjut Sebastian.
Sakura benar-benar terkejut, gadis itu tidak tahu harus menjawab apa. Sakura hanya membuka mulutnya lalu menutupnya lagi. Tidak ada kata-kata yang keluar, Sakura tidak berani mengatakannya secara langsung di depan banyak orang seperti itu.
"NICO!!!" Teriak Sebastian membuat semua orang yang berada di sana tersentak kaget, karena baru kali ini Sang Raja mengeluarkan amarahnya.
"Hamba di sini, My Lord," jawab Nico sedikit takut.
"Batalkan semua perayaan hari ini," titah Sebastian sambil menarik lengan Sakura dengan kasar.
"Sebastian, tunggu. Aku akan bicara, tetapi setelah perayaan ini selesai. Kumohon," jawab Sakura cepat.
Sebastian menghela napas kasar, ia tahu Sakura berkata jujur kali ini. Sebastian lalu menatap Nico yang kini tengah kebingungan.
"Aku mengganti tugasmu, buatlah perayaan ini semeriah mungkin," ucap Sebastian lalu menarik lengan Sakura kini dengan lembut.
"Yes, My Lord," jawab Nico cepat lalu menghilang entah ke mana.
Lord Orlando yang menyaksikan drama itu sedikit terkekeh bercampur dengan rasa takut. Baru kali ia melihat Sebastian bisa semarah itu dengan mengeluarkan aura yang membuat seketika dirinya merinding. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana saat Sebastian berada di medan perang.
Terlihat dari tingkah laku Sebastian yang saat ini membuat Lord Orlando yakin seyakin yakinnya, bahwa Sebastian tidak akan melepas Sakura. Bagaimanapun Lord Orlando menyayangi Viper sehingga ia akan membantu keponakan tersayangnya itu, tetapi akan berbeda jika menyangkut dengan Sebastian. Sang Maharaja tidak bisa membantu Viper sama sekali.
"Maafkan atas keributan yang terjadi, Lord Orlando," ucap salah satu pelayan.
"Tidak masalah, terkadang aku ingin melihat drama sesekali," jawab Lord Orlando sambil tersenyum, pelayan itu mengangguk lalu berjalan di belakang Lord Orlando.
Lord Orlando kembali mengikuti langkah Sebastian yang kini sedang menuju ke keluar istana untuk merayakan perayaan hari ini.
"Lord Sebastian tidak pernah marah sebelumnya, selama 30.000 tahun kami tidak pernah melihat Beliau marah sedikit pun. Beliau penuh canda dan tawa, kesalahan besar pun Beliau hanya tertawa geli, tetapi kami baru saja melihat Beliau bisa semarah itu dengan Lady Sakura. Dan mungkin hanya Lady Sakura yang bisa menenangkan Beliau," jelas pelayan itu.
"Lord Sebastian tidak pernah marah sedikit pun?" tanya Lord Orlando yang terkejut bukan main.
"Benar, My Lord. Semoga saja tidak terjadi seperti 30.000 tahun lalu. Terakhir kali Lord Sebastian menampakan wujud aslinya dan amarahnya yang sedang memuncak, seluruh kerajaan habis terbakar. Dan semua rakyatnya mati tidak tersisa," jawab pelayan itu dan raut wajahnya terlihat ketakutan.
"Apa yang membuatnya marah?" tanya Lord Orlando kini memperlambat langkahnya.
"Wanita Iblis yang ditunangkan dengan Lord Sebastian oleh Lord Phanthom terdahulu tertangkap basah selingkuh dengan Pangeran kerajaan lain. Dan wanita itu mencoba membunuh Lord Phanthom terdahulu karena telah membocorkan perselingkuhannya. Dan dalam waktu 1 jam saja, seluruh kerajaan Phanthom terbakar habis, berserta wanita itu dan kerajaan pangeran yang berselingkuh dengan wanita itu," jelas pelayan itu.
"Banyak hal yang belum aku ketahui ... aku ingin mengetahui sesuatu. Berapa usiamu saat ini?" ujar Lord Orlando sambil menatap sang pelayan.
"Nama hamba Sliterin Linova Phanthom, dan usia hamba saat ini 53.000 tahun. Hamba adalah anak dari Adik Lord Phanthom generasi ke 3, dengan kata lain hamba adalah sepupu Lord Sebastian," jawab pelayan itu.
"Kau, sepupunya? Mengapa kau menjadi pelayan?" tanya sang Maharaja terlihat heran.
"Karena dengan menjadi pelayannya, hamba terlindungi dari Iblis luar Kerajaan Phanthom," jawab Sliterin sambil tersenyum simpul.
"Bukankah seharusnya kau menjadi bangsawan?" ujar Lord Orlando.
"Tidak semudah itu, My Lord. Semua kerabat Lord Sebastian berada di luar Kerajaan Phanthom. Dan mereka diperbolehkan masuk jika ada perayaan tertentu," jelas Sliterin.
__ADS_1
"Alasannya, karena Beliau tidak menginginkan adanya pemberontakan dari pihak keluarga," lanjut Sliterin mengetahui keterkejutan Lord Orlando.
Lord Orlando mengangguk mengerti, tetapi masih terpikir aneh dengan sepupu Sebastian yang ingin menjadi pelayan, tetapi itu adalah urusan pribadi sang pelayan.
Perayaan berlangsung dengan meriah, para rakyat bersuka cita menyambut sang Ratu. Pesta diadakan 7 hari 7 malam. Akan tetapi, kehadiran Sang Raja dan Ratu hanya akan datang saat di hari pertama.
Perayaan hari pertama sudah selesai, saat ini Sakura sedang duduk di kursi dekat dengan jendela di kamar miliknya dengan Sebastian. Sebastian mengganti pakaiannya dengan pakaian casual miliknya lalu membawa nampan yang berisikan satu set teapot.
"Sebastian, itu tugas pelayan. Untuk apa kau lakukan itu?" ucap Sakura tanpa menoleh.
"Aku hanya melayani Istriku," jawab Sebastian sambil tersenyum simpul.
"Jadi ... katakanlah apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Sebastian.
"Bolehkah aku pulang ke mansion Ayahku? Ada sesuatu yang harus kuperiksa," jawab Sakura dengan wajah serius berpikir.
"Hanya itu?" tanya Sebastian kini menaikan kedua alisnya.
"Ada tetapi, nanti saja aku memintanya. Aku harus memastikan satu hal," jawab Sakura kini matanya tertuju pada Sebastian.
"Mengapa kau tidak mengatakannya dari tadi? Tentu saja kau boleh pulang, untuk apa aku menahanmu di sini," jawab Sebastian tidak mengerti tingkah Sakura.
"Aku menahannya karena tadi ada Lord Orlando, dia bisa saja sedang mengawasi diriku di sini dan menginformasikannya pada Viper," jawab Sakura sambil mengambil cangkir tehnya yang diberikan Sebastian.
"Hooo ... aku tidak menyangka kau sepintar itu, My Queen," jawab Sebastian sambil menyeringai.
"Seringaianmu membuatku takut," jawab Sakura bergidik ngeri.
"Hahaha... baiklah, kita akan kembali sekarang. Aku tahu kau sudah tidak bisa menahan keingintahuanmu itu lagi," jawab Sebastian sambil mengulurkan tangannya ke arah Sakura.
Sakura menerima uluran tangan Sebastian sambil bangkit dari duduknya. Terlihat lingkaran sihir di bawah kaki Sakura dan Sebastian semakin berpendar. Cahaya itu semakin terang kala saat itu juga mereka berdua menghilang.
Sesampainya mereka di kamar Sakura di mansion milik Leonardo, Sakura langsung berlari menuju ke ruang kerja Ayahnya itu. Dengan tergesa-gesa Sakura membuka pintu di depannya dan mendapati Leonardo sedang duduk di kursinya sambil mempelajari berkas-berkas yang menggunung di depannya.
"Ayah!!!" teriak Sakura sukses membuat Leonardo terkejut.
"Sakura...," jawab Leonardo dan langsung berlari dan memeluk Sakura.
"Kau baik-baik saja?" tanya Leonardo sambil mempererat dekapannya.
"Tentu saja, aku tidak akan menyakiti Ratuku," jawab Sebastian yang tiba-tiba sudah di belakang Sakura.
"Terima kasih," jawab Leonardo lirih.
"Ayah, waktuku tidak banyak. 'Mereka' bisa menemukanku di sini. Jadi, cepatlah katakan apa yang terjadi," kata Sakura sambil melepas pelukan ayahnya.
Leonardo langsung saja cepat-cepat mengambil sebuah buku yang terletak di rak buku sebelah kanan dan memberikan buku itu pada Sakura.
"Bacalah dan pahamilah. Kau harus melakukan sesuatu, Sakura." Leonardo berkata sambil memberikan buku itu pada Sakura.
Sakura hanya mengangguk lalu berjalan ke sofa ruang kerja Leonardo. Sakura mulai membaca lembar demi lembar buku itu. Dan sampai lembar terakhir yang berisikan tulisan terakhir, lembar berikutnya tidak ada lagi tulisan di buku itu. Sakura menutup buku itu, matanya tertutup seperti menahan sesuatu. Sebastian hanya memperhatikan Sakura dalam diamnya.
"Sebastian, tolong antarkan aku ke mansionku. Aku ingin memastikan sesuatu," kata Sakura lalu berdiri dari duduknya.
"Tentu saja," jawab Sebastian sambil tersenyum mengulurkan tangannya dan diterima oleh sang Ratu.
"Akanku pastikan mereka mendapat ganjarannya."
***
__ADS_1
Ditunggu 100 likenya di episode 1-10 untuk next dobel chapter terbaru :*