Six Husband From Hell

Six Husband From Hell
Episode 16


__ADS_3

WARNING 21+ !!!



Pertengkaran antara Sakura dengan Shin telah diketahui kelima suaminya dan juga Leonardo. Sayangnya Leonardo tidak ingin ikut campur dalam masalah anak semata wayangnya. Leonardo berpikir tidaklah baik mencampuri urusan rumah tangga Sakura. Kini Sakura memiliki keluarga sendiri dan masalah pribadi dengan sang suami harus ia selesaikan sendiri tanpa campur tangan orang lain.


Sakura pun tidak mempermasalahkan Leonardo yang tidak ingin ikut campur dengan masalahnya. Semenjak menikah dengan para Pangeran Iblis, Sakura selalu menyalahkan Leonardo karena telah menjerumuskan dirinya ke dalam lingkaran Iblis.


~Flashback On~


Kerajaan Lucifer, Sean tengah berjalan sendiri memperhatikan tatapan membunuh dari para iblis yang bertemu dengannya di sepanjang perjalanan menuju kediaman sang Nona. Diketuknya pintu kamar Sakura hingga suara merdu itu terdengar.


"Masuklah," Sean membuka pintu dan mendapati Sakura yang tengah duduk di sebuah kursi yang terlihat seperti singgasana.


"Nona, maafkan saya yang tidak bisa menolong Anda," ucap Sean sambil bersujud di depan Sakura.


"Apa yang kau lakukan? Cepat angkat kepalamu dan jelaskan apa maksudmu datang ke dunia Iblis?" jawab Sakura sambil menatap aneh ke arah Sean, bagaimana bisa manusia dengan bebasnya bisa masuk ke dunia iblis.


"Saya akan menceritakan semuanya pada Anda , Nona," jawab Sean lalu berdiri menatap Sakura dengan tatapan bersalah.


"Itu yang ingin kudengar. Duduklah," jawab Sakura kembali menatap tajam Sean.


"Ini tentang Tuan Leonardo, mohon Anda tidak mencela saat saya menjelaskan," kata Sean sambil menatap Sakura dengan serius, Sakura hanya mengangguk.


"Dulu, saat Tuan Leonardo dan Nyonya Lily baru saja menikah, mereka berdua adalah orang yang serba kekurangan dengan kata lain, mereka berdua hidup dalam kemiskinan. Tuan Leonardo membangun usahanya, tetapi selalu gagal dan selalu dijebak orang lain. Hingga mereka menuju titik keputusasaan. Saat itulah Tuan dan Nyonya membuat perjanjian dengan Iblis. Dan yang dipanggil oleh Tuan dan Nyonya adalah para iblis The Kings, Enam Pangeran Iblis yang bisa mengabulkan apa pun dengan tumbal dua nyawa manusia.


Dan Tuan Leonardo memilih Nyonya Lily dan anaknya nanti. Dan itu adalah Anda, Nona Sakura. Tetapi setelah mengambil jiwa Nyonya Lily, mereka berubah pikiran. Pada awalnya mereka ingin mengambil jiwa Anda, tetapi mereka berubah pikiran dan menjadikan Anda sebagai pengantin mereka kelak. Dan saat saya ingin menolong Anda, saya tertangkap dan dipaksa membuat perjanjian dengan Pangeran Shin, di mana saya akan mati jika membantu Anda kabur. Dan Anda juga akan mati jika saya memberitahu hal ini pada Anda. Dan kini selepas Anda menikah, saya pun terlepas dari perjanjian itu. Maafkan saya, saya hanya tidak ingin Anda mati di tangan mereka," jelas Sean dengan raut wajah yang sedih.


"Hanya demi kekayaan yang berlimpah," Sakura tertawa miris, "apakah ketika mati ia ingin membawa uangnya ke alam sana?!"lanjut Sakura lirih, Sean hanya memandang Sakura dengan sayu.


"Kau boleh pergi," ucap Sakura dingin, gadis itu bangkit berdiri berjalan menghampiri jendela besar tak jauh darinya.


"Sampai jumpa lagi, Nona Sakura," ucap Sean menunduk hormat dan berlalu begitu saja.


~Flashback Off~


Semenjak Sean memberitahukan rahasia tentang Leonardo, sikapnya menjadi dingin tak tersentuh saat bertemu dengan Leonardo. Hari ini Shine yang menemani Sakura akan tetapi, Shine belum menemui Sakura entah apa yang dilakukan sang Pangeran kecil itu. Waktu sarapan pagi pun Sakura tidak bertemu dengan keenam suami Iblisnya itu. Akhirnya Sakura memilih untuk pergi ke salah satu perusahaan miliknya untuk mengecek pekerjaan yang diambil alih oleh Akarima Shiwaze tangan kanan lain gadis itu setelah Sean.


"Selamat pagi, Nona," ucap para pekerja yang bertemu Sakura dan Sean saat masuk ke dalam kantor milik gadis itu.


Sakura hanya memberikan wajah dinginnya. Terlihat beberapa para office boy yang sedang bekerja dan melihat Sakura, mereka menyingkir dan memberi hormat kepada Sakura. Seorang office girl paruh baya baru saja keluar dari ruangan staff.


"Selamat Pagi, Nona," sapa wanita paruh baya itu, Sakura berhenti tepat di depan wanita pekerja itu dengan tatapan datarnya.


Gadis itu menatap wanita paruh baya di hadapannya dengan teliti, yang dilihat mendadak ketakutan dan kini berwajah pucat. Takut melakukan kesalahan yang membuat pemilik perusahaan itu kesal atau marah.


"Siapa namamu?" tanya Sakura.


"Na-nama saya Kimiya Akihito, Nona," jawab wanita itu gugup.


"Ohh, Nyonya Akihito, bagaimana rasanya bekerja di sini?" tanya Sakura langsung, tidak mempedulikan sekeliling yang melihat dirinya dengan raut wajah ketakutan.


"Sungguh menyenangkan, Nona. Saya bangga bekerja di sini. Perusahaan besar yang menjamin seluruh karyawannya," jawab wanita itu dengan senang.


"Bagaimana dengan gajinya?" tanya Sakura lagi.


"Saya rasa itu cukup untuk saya makan dan anak saya," jawabnya sedikit kebingungan, Sakura menyipitkan matanya.


"Sean, naikkan gaji para pekerja di sini," ucap Sakura tanpa melihat ke arah Sean, pelayan tampan itu hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan Sakura.


"Selamat bekerja kembali, Nyonya Akihito. Dan semoga bulan ini dan berikutnya Anda bisa menabung dengan penghasilan tambahan tersebut," kata Sakura sambil menepuk pundak wanita itu dan berlalu begitu saja.


"Terima kasih, Nona," jawab wanita itu hampir menangis.


Dilihat dari jawaban wanita paruh baya itu Sakura mengetahui jika penghasilannya kurang untuk membeli keperluan lain selain makan saja. Karena itu, Sakura menaikan gaji mereka. Karena ini adalah tanggung jawabnya dan melindungi para pekerjanya yang mau bekerja untuknya.


Sakura berjalan dengan anggunnya dan selalu memperlihatkan senyum tipisnya jika ada yang menyapanya. Setibanya ia di depan pintu ruangan CEO, ia melihat teman sekolahnya dulu yang pertama di sekolah barunya.


"Koharu...,"


"Sakura...," panggil mereka bersamaan.


"Ssttt ... panggil aku 'Nona' jika di sini," bisik Sakura sambil menempelkan telunjuk tangan kanan ke bibir mungilnya.


"Ahh ... maafkan aku, Nona," jawab Koharu terkekeh pelan.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Sakura tanpa basa-basi.


"Aku sedang menggantikan Ayahku sementara, Beliau tiba-tiba terkena serangan jantung 3 hari yang lalu," jawab Koharu dengan tatapan sedih.

__ADS_1


"Ahh begitu ... padahal aku ingin tahu ada masalah apa di sini yang tidak bisa ia tangani," jawab Sakura.


"Aku tahu masalahnya, mari kita masuk, kita bicarakan di dalam," jawab Koharu dengan wajah serius.


"Jadi, ada apa sebenarnya?" tanya Sakura yang kini duduk di kursi CEO.


"Beberapa hari yang lalu, Ayahku kalah tender dengan perusahaan lain. Perusahaan itu baru dan langsung memenangkan tender. Perusahaan kita mengalami sedikit kerugian karena kalah tender besar itu. Dan ini yang pertama kali Ayahku kalah tender," jawab Koharu.


"Hmmm... apa nama perusahaan baru itu?" tanya Sakura.


"Antia Corp," jawab Koharu singkat.


"Kau urusi semua kerugian itu, aku akan menutupnya dengan keuntungan perusahaanku yang lain. Kau bisa membicarakan itu nanti dengan Sean," jawab Sakura tenang, Koharu hanya mengangguk tenang.


Tiba-tiba ada yang memeluk Sakura dari belakang dengan erat.


"Hime-chan, kenapa kau meninggalkanku," ucap seseorang yang kini bergelayut di bahu Sakura.


"Shine, lepaskan. Kau membuatku sesak," jawab Sakura sambil berusaha melepaskan diri dari Pangeran Iblis itu.


"Baiklah, tetapi kau jahat meninggalkan aku," jawabnya manja


"Aku tidak melihatmu di meja makan. Karena itu aku pergi sendiri dengan Sean. Memangnya kau di mana, Bodoh?" jawab Sakura kesal.


"Sedang rapat, hehehe. Kau sudah selesai, bukan? Ayo kita pulang," jawab Shine sambil menarik lengan Sakura.


"Koharu, aku pergi dulu. Sampai jumpa," pamit Sakura bahkan ia lupa begitu saja dengan keberadaan Koharu.


Koharu hanya mengangguk sambil tersenyum kaku, Sakura langsung saja pergi dengan tangannya yang ditarik oleh Shine.


"Siapa orang itu? Dan dari mana lelaki itu masuk?" tanya Koharu pada dirinya sendiri.


Wajah Shine yang ceria kini menjadi serius dan sedikit menyeramkan. Diliriknya sedikit Sakura yang duduk sambil memandang ke arah luar jendela. Mobil pun dijalankan dengan kecepatan sedang. Tidak ada yang berbicara sedikit pun dan hanya suara deru mobil lain yang menghiasi keheningan mereka berdua.


Kini Sakura memiliki mansion tersendiri, ia tidak mau melihat ayahnya sedikit pun. Dengan mansion yang sangat luas itu, memiliki 10 kamar, 1 perpustakaan, 2 kamar besar untuk pelayan, 2 kamar besar untuk bodyguard, 1 mini bar, 1 dapur, 2 ruang keluarga, 1 ruang tamu, dan ballroom besar untuk pesta. Taman yang luas berserta 1 kolam renang dan 1 kolam ikan. Tidak lupa dengan penjara bawah tanah, dan beberapa ruang koleksi milik Sakura.


Sesampainya di mansion milik Sakura, gadis itu sudah ditunggu oleh para suaminya di ruang keluarga. Sakura duduk di kursi khusus untuknya yang terlihat seperti kursi kerajaan untuk sang Ratu. Suasana menjadi sangat tegang ketika mereka memancarkan aura tidak suka pada Sakura.


"Ada apa? Cepat katakan dan selesaikan. Aku memiliki banyak pekerjaan," tanya Sakura langsung, ia tidak ingin berbasa-basi seperti dulu lagi pada mereka.


"Jangan pernah bertemu lelaki itu lagi," ucap Viper sambil menatap tajam ke arah Sakura.


"Hmmm ... kenapa?" tanya Sakura sambil mengangkat satu alisnya.


"Hooo ... kalian cemburu. Ini menggelikan, sang Raja kini terkena karmanya sendiri. Hahaha...," jawab Sakura sambil tertawa sinis.


"Itu tidak lucu, Hime," jawab Viper sambil menaikan satu oktaf.


"Dulu aku juga menganggap seperti itu. Sangat tidak lucu, ketika kalian berkata mencintaiku nyatanya kalian hanya memperalatku. Dan bahkan ingin membuangku setelah kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan. Sungguh tragis, bukan? Ohh, pasti kalian tidak akan berpikiran ke sana. Kalian hanya mementingkan diri kalian sendiri. Lupakan percakapan ini. Kalian hanya membuang-buang waktuku," jawab Sakura sambil berlalu pergi ke kamar pribadinya.


Shine mengikuti Sakura, karena hari ini adalah harinya berdua dengan Sakura. Ia tidak ingin seperti Shin yang melepas Sakura dengan akhirnya Shin tidak bisa tidur bersama Sakura. Shine mensejajarkan langkahnya dan betapa terkejutnya dirinya saat melihat wajah Sakura.


"Hime-chan, kenapa kau terburu-"


"Hime-chan, kau menangis? Hime," Shine langsung memeluk tubuh Sakura, gadis itu kembali terisak di dalam dekapan Shine.


"Hime-chan, berhentilah menangis. Kumohon, sangat sakit melihatmu menangis seperti ini." Shine kembali mencoba menenangkan Sakura.


Iblis itu dapat merasakan apa yang dirasakan Sakura, Shine merasakan perih dan sakit di dada. Tatapan Pangeran Iblis kosong sambil terus mengelus-elus surai merah muda milik Sakura. Sakura mendongakkan wajah dan sedikit terkejut melihat wajah Shine. Pangeran Iblis itu ... menangis.


"Shine, mengapa kau menangis?" tanya Sakura dengan suara seraknya.


"Maafkan aku, aku merasakan apa yang kau rasa, Hime-chan," jawab Shine malu-malu sambil menghapus air matanya.


"Kau merasakannya?" tanya Sakura bingung.


"Aku memiliki kekuatan untuk bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain. Dan aku merasakan apa yang kau rasakan, Hime-chan," jawab Shine sambil menutup matanya dengan tangannya.


"Sesakit itukah? Maafkan kami. Setelah kupikir kami pun tidak pantas lagi mendapatkan cintamu, Hime-chan," lanjut Shine, gadis di hadapannya itu hanya terdiam.


"Kupikir juga begitu, terimalah keputusan apa pun yang kelak aku pilih nanti," jawab Sakura sambil melepaskan dekapan Shine.


Shine menarik lengan Sakura dan dengan kekuatan Iblisnya mereka sudah sampai di kamar Sakura. Shine membanting Sakura ke atas ranjang. Tatapannya yang lembut bagai memiliki cinta. Itu lucu, tetapi itu benar. Shine kini merasakan apa yang namanya cinta. Iblis adalah makhluk yang hidup tanpa cinta. Hidupnya hanya penuh dengan rayuan, nafsu dan kegelapan. Sesuatu yang suci seperti cinta tidak pernah masuk ke dalam kamus bangsa mereka.


Tetapi, cinta tidak pernah memandang apa pun. Tua-muda, kaya-miskin, manusia-iblis, bahkan sampai sesama jenis. Cinta akan hadir di antara orang yang saling menyayangi.


Tanpa aba-aba Shine langsung melumat bibir Sakura dengan rakus, ia tidak tahu mengapa, tetapi ada sesuatu perasaan yang membuncah saat menyentuh tubuh Sakura.


"Aku kehilangan kendali, karena tubuh ini ingin mencintaimu," bisik Shine di telinga Sakura.

__ADS_1


Sakura tetap diam, tidak melawan atau apa pun. Sakura menerima perlakuan Shine akan tetapi, ia tidak percaya jika Pangeran Iblis itu mencintainya. Bahkan dalam kamusnya tidak ada kata untuk kembali.


Shine kembali melumat bibir Sakura dengan tangannya melepaskan satu persatu pakaian Sakura. Shine memberikan jejak kepemilikkannya di tubuh Sakura, sesekali Iblis itu menggoda Sakura dengan menggigit telinga Sakura dan sedikit meniup telinga gadis itu. Shine mulai masuk dalam menu utama dengan memasukkan dua jarinya ke dalam kewanitaan milik Sakura.


"Ahh ... Shine...," desah Sakura saat tangan Shine mulai bergerak maju mundur dengan lambat.


Sesekali mempermainkan gairah gadis yang kini di bawahnya, Shine kembali melumat bibir manis Sakura. Bagai madu, bibir Sakura terus dikecap oleh Shine tanpa ampun. Shine pun mulai menggerakkan tangannya dengan cepat hingga suara desahan Sakura kembali terdengar dengan merdunya.


"Kita mulai," ucap Shine sambil menyeringai.


Pangeran Iblis itu memasukkan kejantanan miliknya dengan perlahan, kembali suara desahan terdengar membuat Shine hilang kendali. Terdengarlah suara percintaan mereka yang menghiasi kamar besar tersebut Sesekali Sakura menggerang nikmat saat Shine memainkan dua buah bukit indahnya, menghisapnya sambil terus memompa tubuh gadis itu.


"Shine...," desah Sakura sambil menyebutkan nama sang Pangeran.


"Teruslah mendesah dan panggil namaku, ugh ... kau selalu saja nikmat, Hime-chan," jawab Shine sambil terus mempercepat gerakan pinggulnya.


"Ahh ... Shine ... kau terlalu ... cep- ... ahh ... phat...," racau Sakura sambil mencengkram pergelangan tangan Shine yang kini kedua telapak tangannya memainkan puncak dada milik Sakura.


"Lakukan bersama, Hime-chan. Aku ingin memiliki anak darimu, dan itulah bukti akan cintaku padamu," bisik Shine di telinga Sakura.


Sakura tidak dapat berpikir jernih, saat ini yang di kepalanya adalah bagaimana menahan perasaan ingin meledak itu. Shine berhenti membuat Sakura membuka kedua matanya, lelaki iblis itu menyeringai membuat Sakura bergidik ngeri. Dengan cepat Shine membalikkan tubuh Sakura hingga terlungkup dengan penyatuan mereka yang tidak terlepas. Shine kembali memompa tubuh Sakura kini lebih dalam.


"Ahh ... Shine ... inih...." Shine menarik tubuh Sakura hingga menegakkan tubuhnya.


Diremasnya kedua bukit Sakura dengan terus memompa tubuh istrinya itu, Sakura yang sudah tidak tahan ingin mencapai puncak, menggenggam tangan Shine dengan sangat kuat.


"Ahh.. Shine..."


"Hime...," ucap mereka bersamaan dengan mencapai puncak secara bersama.


Tidak diberikan waktu istirahat, saat Sakura ingin merebahkan tubuhnya di ranjang, dengan sigap Shine menggenggam tangan Sakura dan kembali memompa tubuh gadis itu dengan cepat.


"Ahhh ... Shine ... biarkan aku istirahat," pinta Sakura di sela desahan merdunya.


"Setelah melakukan beberapa ronde kita akan istirahat," jawab Shine sambil terus memompa tubuh gadisnya itu.


3 ronde untuk siang ini, Shine yang terlihat tertidur dengan manisnya memeluk tubuh Sakura. Gadis itu melepaskan pelukan Shine dengan hati-hati, dengan cepat ia memakai pakaiannya. Terdengar suara ponsel milik Sakura berdering, dengan setengah hati Sakura mengangkat telepon tersebut


"Hallo, dengan Sakura di sini," jawab Sakura.


"Hai, Manis. Kau mengenali suaraku?" tanya orang di seberang.


"Tuan Sebastian? Kaukah itu?" jawab Sakura.


"Ternyata kau mengingat suaraku, Aku semakin mencintaimu," jawab lelaki itu senang.


"Jangan katakan hal itu dengan mudah," jawab Sakura yang tiba-tiba dingin, entah mengapa ia menjadi benci dengan pernyataan cinta.


"Tentu, ini sangat sulit untukku jika kau ingin tahu. Tetapi, aku tidak pernah berbohong. Untuk apa membohongi dirimu tentang cinta. Tidak membuatku untung," jawab Sebastian santai.


"Tentang pertanyaanmu dulu itu, aku sudah mempertimbangkannya," jawab Sakura.


"Aku sangat ingin mendengarnya, jadi apa keputusanmu?"


"Kupikir jawabannya, Ya. Lagipula aku penasaran sekali denganmu," jawab Sakura sambil melihat Shine yang tertidur.


"Jawaban yang bagus, jika tidak kupastikan saat ini kau tengah di bawah tubuhku," gurau Sebastian.


"Aku menantikannya. Haha ... kau orang yang lucu," jawab Sakura sedikit terkekeh.


"Kalau begitu sampai jumpa, Manis. Aku harus mematikan sambungan telepon ini, Suamimu akan terbangun sebentar lagi," ucap Sebastian membuat Sakura mengernyitkan dahinya.


"Sampai jumpa." telepon itu pun dimatikan.


"Bagaimana ia tahu?" tanya Shine tiba-tiba sudah duduk manis di tepi ranjang.


"Shine!" Sakura terlonjak kaget melihat iblis itu sudah terbangun.


"Kami sudah melacak lelaki itu, tetapi ada yang aneh dengannya," ucap Shine dengan wajah serius.


"Apa maksudmu?" Sakura menatap tidak mengerti ke arah sang Pangeran.


"Tidak. Kau tidak perlu memikirkannya. Kemarilah, aku ingin memelukmu," jawab Shine cepat.


Sakura hanya sedikit mengangkat alisnya sambil mendekati Shine dan duduk di pangkuan iblis itu. Shine memeluk Sakura dari belakang dan membenamkan kepalanya di tengkuk Sakura. Sesekali Shine mencium leher jenjang Sakura, membuat gadis itu menggeliat geli.


"Aku mencintaimu," bisik Shine, Sakura hanya diam tidak menanggapi.


Kini pikirannya terus melayang ke lelaki tampan yang baru saja menghubunginya.

__ADS_1


'Sebastian Lacretia, siapa sebenarnya dirimu?!'



__ADS_2