
WARNING 21+!!!
Seminggu telah berlalu dari kejadian itu, di mana Sakura jelas melihat suaminya menggandeng wanita lain. Sakura tidak permasalahkan itu karena dirinya pun menggandeng lelaki lain. Impas, bukan?
Setelah kejadian itu, Sakura tidak menemukan para suaminya di mansion miliknya. Bahkan sudah seminggu ini Sakura tidak melihat suaminya itu menginjakan kakinya di mansion. Setiap harinya Sakura bahkan hanya ditemani Sean dan Sebastian sesekali ketika ia pulang dari pekerjaannya.
"Nona Sakura, Tuan Lacretia datang dan menunggu Anda di ruang tamu," ucap seorang pelayan wanita yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Kau mengagetkanku saja, Kaoru," jawab Sakura yang terkejut sambil mengelus dadanya.
"Maafkan saya, Nona. Saya tidak akan mengulanginya lagi, kalau begitu saya permisi," jawab pelayan itu menunduk hormat dan berlalu pergi.
"Aku masih belum terbiasa dengan para Iblis itu yang selalu muncul tiba-tiba," gerutu Sakura sambil berlalu keluar dari ruang perpustakaan.
Pelayan di mansion Sakura bukanlah manusia, mereka adalah Iblis tingkat tinggi untuk melindungi Sakura dari Iblis lain yang ingin membunuhnya. Pelayan Iblis di mansion Sakura adalah prajurit dari Kerajaan Viper, Lazark, dan Rozenth. Sedangkan untuk penjaga adalah prajurit dari Kerajaan Shin, Shine dan Mysth.
Sakura membuka pintu ruang tamu dan terlihatlah Sebastian duduk manis dengan pakaian kasualnya sambil tersenyum simpul melihat kedatangan Sakura.
‘Ya Tuhan, demi kerang ajaib. Dia manis sekali, sepertinya aku akan terkena diabetes jika terus menatapnya.' batin Sakura.
"Jangan menatapku seperti itu, aku bisa menerkammu dan membawamu ke atas ranjang saat ini juga," ucap Sebastian sambil terkekeh.
"Mati saja sana," jawab Sakura kesal.
"Baiklah, tapi bersama denganmu. Mati bersama cinta pada pandangan pertama itu sangat bagus seperti di film-film," gurau Sebastian.
"Kau ini senang sekali menggodaku, Sebastian," jawab Sakura sambil mencubit kedua pipi Sebastian.
"Kau sangat bersemangat hari ini, ada apa?" tanya Sebastian sambil menarik tubuh Sakura untuk duduk di pangkuannya.
"Tentu saja, sudah seminggu aku tidak bertemu mereka. Sangat menyenangkan jika tidak ada mereka," jawab Sakura dengan mata berbinar.
"Sepertinya mereka mencariku," gumam Sebastian yang sambil memainkan rambut Sakura.
"Untuk apa mereka mencarimu?" tanya Sakura dengan wajah polosnya.
"Karena aku mencuri milik mereka yang berharga, yaitu dirimu," jawab Sebastian sambil menangkup wajah Sakura.
Tanpa aba-aba tentunya Sebastian langsung melumat bibir manis Sakura. Ini ciuman mereka yang pertama kali dan tidak ada romantisnya sama sekali. Tapi tetap saja membuat wajah Sakura merona merah.
"Dasar bodoh, apa yang kau lakukan?" kata Sakura sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Memberi morning kiss untuk kekasihku," jawab Sebastian enteng.
"Huft ... sejak kapan aku menjadi kekasihmu?!" jawab Sakura malu.
"Kalau kau tidak mau, aku akan memaksamu saat ini juga di atas ranjang. Bagaimana?" ancam Sebastian masih tetap tersenyum simpul.
"Sebastiaaannn...." Sakura memukul-mukul dada Sebastian dengan kesalnya.
Sebastian hanya tertawa senang melihat tingkah Sakura. Sedangkan di sudut lain ada yang memperhatikan mereka berdua dengan geram. Sebastian yang menyadari adanya orang lain di ruangan itu hanya menahan diri.
"Apa kau sibuk hari ini, Sakura?" tanya Sebastian menangkap tangan Sakura yang tadi memukulnya.
"Sepertinya tidak, hari ini aku bebas karena itu dari tadi pagi buta aku sudah di perpustakaan untuk membaca laporan perusahaan," jawab Sakura membuat Sebastian terkekeh geli.
"Apa?" tanya Sakura.
"Kau sibuk hari ini, karena itu kau menyelesaikannya di pagi hari, kan?" jawab Sebastian.
"Hehe... Apa kau sudah sarapan?" tanya Sakura mengalihkan pembicaraan.
"Aku ingin disuapi olehmu," jawab Sebastian manja.
"Manja sekali dirimu ini," gerutu Sakura, tetapi dalam hatinya ia sangat senang bukan main.
"Kalau begitu kita akan makan di taman." ajak Sakura, Sebastian hanya mengangguk tersenyum.
"Sean, aku tahu kau di sana, cepat kemari," teriak Sakura setelah bangkit dari duduknya.
Sean muncul dari sudut ruangan yang gelap itu dan menghampiri Sakura. Lelaki itu menunduk hormat pada Sakura. Sebastian terkejut karena Sakura menyadari pelayan itu di sudut ruangan.
"Siapkan sarapan di taman," titah Sakura, Sean hanya mengangguk sambil menatap tajam Sebastian.
"Nona Sakura, Tuan Leonardo akan berkunjung ke mansion pukul satu siang." kata Sean sebelum beranjak pergi.
"Kenapa si tua bangka itu ingin menemuiku? Aku sudah tidak mau bertemu dengannya," jawab Sakura sambil menghembuskan napas dengan kasar.
"Sakura, dia adalah Ayahmu. Hormatilah dia." Sebastian memberi nasihat kepada Sakura.
"Tapi Sebastian, dia-"
"Aku tahu, yang berlalu biarlah berlalu. Tataplah masa depan, aku di sini untukmu," potong Sebastian menenangkan Sakura.
"Baiklah." jawab Sakura pasrah, sedangkan Sean pamit untuk menyiapkan sarapan mereka berdua.
__ADS_1
Selesai mereka sarapan di taman, mereka asik berbincang tentang berbagai hal. Apa yang disuka Sebastian dan apa yang tidak ia suka. Sedikit demi sedikit Sakura mengetahui kepribadian Sebastian. Karena Sebastian orang yang sangat terbuka. Tetapi ada satu yang ia sembunyikan ... identitas aslinya.
Tepat pukul satu siang Leonardo datang, Leonardo disambut oleh Sean di pintu utama, sedangkan Sakura dan Sebastian menunggu di ruang tamu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Leonardo pada Sean.
"Sangat baik sejak mereka meninggalkan Nona," jawab Sean.
"Mereka meninggalkan Sakura? Apa yang terjadi?" tanya Leonardo terkejut.
"Itu biarkan Nona yang mengatakannya pada Anda," jawab Sean, ia tidak mau salah bicara pada Tuannya.
Leonardo mengangguk mengerti, Sean membuka pintu ruang tamu yang luasnya dua kali lipat dari kamar Sakura. Leonardo terkejut dengan seseorang yang kini tengah bersama Sakura.
"Sakura, apa kabarmu?" sapa Leonardo yang sudah duduk di kursinya.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Langsung saja pada intinya, apa mau mu?" jawab Sakura dingin.
"Kau masih tidak memaafkanku? Aku hanya ingin melihat putriku satu-satunya. Apa aku salah?" jawab Leonardo dengan wajah kecewa.
"Kau salah, ya kau sangat salah. Pergilah, aku tidak mau melihat wajahmu lagi," jawab Sakura setengah membentak.
"Sakura, apa yang sudah kukatakan tadi?!" Sebastian berkata sambil mencengkram pergelangan tangan Sakura.
"Maafkan aku, aku terbawa emosi," jawab Sakura menatap takut melihat wajah Sebastian.
"Kau...,"
"Apa kabar, Tuan Leon? Sudah lama sekali kita tidak bertemu," sapa Sebastian membuat Sakura menoleh bertanya-tanya.
"Kalian saling mengenal?" tanya Sakura.
"Apa yang kau katakan, Sakura? Dia adalah Sebastian Lacretia, dia adalah orang yang pernah kau selamatkan dari kecelakaan besar saat usiamu 13 tahun," jelas Leonardo.
"Apa? Mengapa aku tidak mengingatnya?" Sakura menatap ke arah Sebastian dengan tatapan bertanya-tanya.
"Seperti yang kukatakan, aku jatuh cinta padamu saat pandangan pertama. Dan itulah saat pertama kali kau menyelamatkanku, kau sama sekali tidak mempedulikan nyawamu," jawab Sebastian.
"Mengapa kau tidak mengatakan padaku, saat bertemu di restoran itu?" tanya Sakura.
"Aku tahu kau pasti melupakanku jadi, lebih baik aku memperkenalkan diriku lagi padamu," jawab Sebastian enteng.
"Jadi benar soal itu?" tanya Sakura ragu.
"Kau masih tidak mempercayaiku?" jawab Sebastian.
"Tetapi kau kan-"
"Jangan katakan apa pun, Tuan Leon. Biar aku saja yang memberitahunya," potong Sebastian.
"Apa yang mau kau beritahukan padaku?" tanya Sakura.
"Belum saatnya, aku ingin kau benar-benar mencintaiku dulu. Baru aku akan memberitahumu," jawab Sebastian.
"Sebenarnya apa yang kau incar?" tanya Sakura menatap waspada pada Sebastian.
"Sakura, lebih baik kau tetap bersama Sebastian, Ayah lebih senang kau bersama dengannya," ucap Leonardo tersenyum senang.
"Bukankah Ayah lebih senang jika aku bersama dengan para Iblis itu?"
"Tidak juga, kau akan lebih aman dengan Sebastian," jawab Leonardo, Sakura hanya menghembuskan napasnya pasrah, lalu ia menoleh ke arah Sebastian.
"Bisakah kau menceritakanku tentang kejadian itu? Saat aku menolongmu, Sebastian," tanya Sakura.
"Tentu saja," jawab Sebastian dengan senang hati.
~Flashback On~
Di hari musim bersalju ini, tepat hari Natal. Tahun 2025 saat usia Sakura tepat 13 tahun. Di musim dingin saat semua orang sedang bersama keluarganya. Sedangkan Sakura sedang berjalan bersama Laura, pelayan Sakura saat itu untuk melihat-lihat kota yang ramai dengan banyak pasangan dan keluarga.
Sedangkan Sebastian yang sedang berjalan seorang diri melihat-lihat kota yang dihiasi seluruhnya dengan lampu natal. Begitu indahnya malam itu sampai ia bertemu dengan Sakura dan pelayannya.
Bruukk
Sakura tidak sengaja menabrak Sebastian karena terlalu senang melihat lampu-lampu natal di kota.
"Ahh maafkan aku, Tuan," ucap Sakura yang jatuh karena menabrak Sebastian.
"Berhati-hatilah, Gadis Manis," jawab Sebastian sambil membantu Sakura berdiri.
" Di mana orangtuamu?" tanya Sebastian.
"Aku hanya bersama Laura, dia adalah pelayanku," jawab Sakura tetapi tidak ada Laura di belakangnya.
"Urgh.. di mana dia?" gerutu Sakura.
"Bagaimana jika aku menemanimu sampai kau menemukan pelayanmu?" tawar Sebastian, Sakura mengangguk.
__ADS_1
"Siapa namamu?" tanya Sebastian.
"Sakura ... Sakura Michaelis," jawabnya sambil tersenyum.
"Lalu nama Tuan?" tanya Sakura.
"Sebastian Lacretia. Namamu seindah rambutmu," jawab Sebastian tersenyum simpul, Sakura hanya tersenyum dalam diam.
" Di mana orangtuamu?" tanya Sebastian lagi.
"Ibuku meninggal setelah melahirkanku, sedangkan Ayah sedang sibuk bekerja," jawab Sakura sambil memainkan jemarinya yang kedinginan.
"Ohh, maafkan aku," jawab Sebastian cepat.
"Tuan tidak salah apa pun, jadi tidak perlu meminta maaf," jawab Sakura sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
Sebastian terpanah melihat senyum lembut Sakura. Sebut saja ia pedhopil dan ia tidak akan peduli. Dengan sigap Sebastian menghangatkan jemari Sakura yang kedinginan.
"Baiklah, ini sudah malam. Aku akan ke bagian informasi untuk mencari pelayanmu. Kau tunggulah di sini," kata Sebastian, tetapi Sakura tidak menurutinya.
Diam-diam Sakura mengikutinya sampai di tengah jalan kejadian itu terjadi. Tiba-tiba ada mobil truk besar yang berjalan dengan cepatnya dan oleng karena jalanan yang licin sehingga rem pun tidak bisa memberhentikan mobil itu. Sebastian saat itu sedang menyeberang, dan seperti tidak menyadari jika ada mobil truk dengan kecepatan tinggi menghampirinya.
Sakura yang melihat itu tidak tinggal diam, gadis kecil itu berlari secepat mungkin dan mendorong Sebastian agar tidak tertabrak mobil truk itu.
"Tuan!!!" teriak Sakura dan...
Braaakkk
Suara hantaman terdengar jelas, Sebastian yang tersungkur di trotoar langsung melihat ke belakang.
"Ohh tidak ... Sakuraaa!!!"
Darah berceceran di jalan dengan tubuh anak kecil yang terlihat terlindas oleh sebuah truk. Dan anak itu masih bernapas.
"Sakura, apa yang kau lakukan, dasar bodoh. Sakura, sadarlah kumohon," teriak Sebastian lalu mengangkat tubuh Sakura yang berlumuran darah.
Pelayan Sakura yang saat itu tidak jauh dari tempat kejadian langsung terduduk lemas melihat tubuh majikannya tidak bergerak dan berlumuran darah. Sebastian langsung membawa Sakura ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan.
Sakura dinyatakan koma, dan sang pelayan saat itu juga dipecat. Sedangkan Sebastian, ia menunggu sampai akhirnya Sakura sadar. Akan tetapi, sayangnya setelah sadar, Sakura terkena SMS (Short Memory Syndrome). Sakura tidak ingat apa yang terjadi hari itu.
~Flashback Off ~
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa mengingatnya," jawab Sakura sambil memegang kepalanya.
"Kau tidak perlu memaksakannya, yang terpenting saat ini aku bersama denganmu yang sekarang," jawab Sebastian sambil tersenyum simpul.
Sakura tersenyum, merasakan sesuatu yang aneh muncul di dalam dirinya. Ia benar-benar tidak bisa mengingat kejadian itu, sehingga merasa bersalah.
'Orang yang selalu ia nanti dan ia cintai. Ternyata kau menungguku, gadis kecil yang dulu pernah menyelamatkanmu.' batin Sakura.
"Aku rasa aku tidak perlu berpikir lagi," gumam Sakura.
Sebastian yang mendengarnya terkejut dan menatap tidak mengerti ke arah Sakura.
"Apakah kau mau menerimaku apa adanya?" tanya Sebastian untuk memastikan.
"Tentu saja," jawab Sakura dengan percaya diri.
"Kalau begitu, maukah kau ikut denganku?" tanya Sebastian lagi.
"Ke mana kau akan pergi?" tanya balik Sakura.
"Tempat di mana seharusnya kau berada," jawab Sebastian sambil tersenyum simpul.
"Baiklah, jika itu bersamamu, aku akan ikut," jawab Sakura tersenyum manis.
"Hey, jangan lupakan aku yang masih ada di sini," gerutu Leonardo.
"Maafkan aku, Ayah. Aku lupa," jawab Sebastian dengan raut wajah tak bersalahnya.
"Kau bukan anakku," jawab Leonardo galak.
"Aku menantumu," jawab Sebastian dengan percaya diri.
"Baiklah, aku tidak ingin berdebat denganmu. Bawalah Sakura dan lindungilah dia," jawab Leonardo pada akhirnya.
"Itu sudah pasti," jawab Sebastian dengan seringaian di wajahnya.
Sebastian berdiri lalu memeluk Sakura dengan erat. Dijentikan jarinya lalu terbuatlah lingkaran sihir di kaki mereka berdua. Sakura terkejut lalu menatap wajah Sebastian. Lagi, ia terpesona dengan senyuman Sebastian sampai lupa apa yang ingin ia katakan.
"Kau...,"
"Ssttttt ... tenanglah, akan aku jelaskan nanti," bisik Sebastian di telinga Sakura.
Saat itu juga mereka berdua menghilang di hadapan Leonardo. Leonardo membuang napas kasar dan mengusap lembut wajah tampannya. Tanpa ia sadari ada beberapa orang sedari tadi berdiri di kejauhan tempatnya duduk tadi.
"Kenapa kau melepas Hime, Leonardo?"
__ADS_1