
Sakura duduk manis dengan Sebastian di taman dekat istana, sinar kehidupan di mata Sakura belum juga kembali. Tatapannya kosong dan hanya akan bergerak jika Sebastian menyuruhnya. Setelah mendengar penjelasan Sebastian saat menolong Ayahnya, keadaan Sakura makin memburuk.
Bukan kesehatannya melainkan, mentalnya yang kini sedikit demi sedikit terkikis. Saat Sebastian ingin memusnahkan mereka, Sakura menghentikannya.
~Flashback On~
Saat itu Sebastian datang ke mansion Leonardo dan mendapati mansionnya sudah hancur lebur dengan beberapa mayat yang diketahui itu adalah mayat para pelayan Leonardo. Sebastian mencari Leonardo hingga mendapatinya bersama kelima anggota The Kings.
"Inilah akibatnya jika kau mengkhianati kami," kata Larzark sambil mematahkan tangan Leonardo.
"Kau sudah mati berkali-kali tapi masih tetap tidak mau memberitahukan tempat Hime berada?" tanya Shine sambil menendang kaki Leonardo sampai putus.
"Aaarrgggghhh ... sampai kapanpun, aku akan melindungi Putriku," jawab Leonardo yang sudah terkapar tidak berdaya.
"Kau mengesalkan. Aku ingin tahu, apakah Hime yang membunuh Shin atau tidak," ujar Mysth sambil menendang kepala Leonardo menahan kekesalannya.
"Ugh ... kau ingin tahu?" desis Leonardo yang hampir kehilangan kesadarannya.
"Sakura sudah mengetahui semuanya, ia sudah mengetahui kematian Sean," lanjut Leonardo dan kini sudah tidak sadarkan diri.
"Jadi, Hime sudah mengetahuinya?" tanya Viper terkejut.
"Ya, aku yang memberitahunya," jawab Sebastian yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Leonardo.
"Kau!!!"
"Hai, kita bertemu lagi," sapa Sebastian tersenyum simpul.
"Bagaimana bisa kau masuk?" tanya Viper mengambil langkah mundur diikuti Raja yang lain.
"Itu sangat mudah," jawab Sebastian sambil melepas sarung tangan kirinya dan memperlihatkan simbol kerajaan.
"Simbol itu," Viper terbelalak melihat simbol Kerajaan Phanthom di tangan Sebastian.
"Kerajaan Phanthom. Kau ... berasal dari Kerajaan Phanthom?" tanya Rozenth.
Sebastian hanya tersenyum simpul lalu menggendong tubuh Leonardo.
"Ahh, sepertinya Leonardo sudah sekarat. Aku harus membawanya ke hadapan Sakura," kata Sebastian sambil membuka lingkaran sihir di kakinya.
"Hime berada bersamamu? Siapa kau sebenarnya?!" tanya Viper sambil mencoba menghancurkan lingkaran sihir itu, tetapi usahanya gagal.
"Tanyakan saja pada Lord Orlando," jawab Sebastian masih dengan senyum simpulnya.
Cahaya dari lingkaran sihir semakin berpendar. Perlahan tubuh Sebastian menghilang terserap lingkaran sihir itu.
"Kira-kira apa yang akan dilakukan Sakura ketika mengetahui jika Leonardo disiksa oleh kalian?" ujar Sebastian lalu menghilang.
"Sial!!!” umpat Lazark kesal gagal menghancurkan lingkaran sihir yang dibuat Sebastian.
"Itulah yang terjadi." Sebastian selesai menceritakan.
__ADS_1
Sakura terdiam tatapan matanya makin menjadi kosong, tubuhnya bergetar hebat, tetapi tidak ada air mata yang keluar.
"Sakura, tenangkan dirimu. Aku di sini bersamamu dan hanya untukmu," ujar Sebastian sambil memeluk Sakura.
"Aku akan menghabisi mereka, jadi tenanglah aku akan membalaskannya untukmu," lanjut Sebastian menenangkan Sakura.
"Tidak, tidak Sebastian. Ayah berpesan untuk tidak dendam pada mereka. Aku akan lakukan itu jadi, ku mohon jangan lakukan apa pun," jawab Sakura sambil menangkup wajah Sebastian dengan kedua tangannya.
"Aku benci melihatmu memohon seperti itu untuk mereka, tetapi baiklah aku akan menurutimu kali ini,” jawab Sebastian setengah terpaksa.
~Flashback Off~
Setelah hari itu, Sakura tidak pernah tersenyum bahkan bicara pada siapapun termasuk Sebastian. Entah apa yang dipikirkannya Sebastian tidak mempermasalahkannya.
Hanya saja, Sebastian merasa miris melihat Sakura yang sekarang ini. Sebastian merasa harus melakukan sesuatu untuk mengembalikan sinar kehidupan di mata Sakura. Apa pun itu, Sebastian akan melakukannya untuk Sakura.
"Sakura, jika terus seperti ini aku akan membunuh mereka semua."
~★~
Viper yang datang bersama dengan para Raja lainnya menghadap Lord Orlando untuk menanyakan tentang penculik Sakura.
"My Lord, Lord Viper sudah hadir untuk menghadap," ujar seorang pengawal istana.
"Izinkan dia masuk," jawab Lord Orlando.
Viper dan yang lainnya pun dipersilahkan oleh pengawal tersebut. Viper berjalan dengan gagahnya lalu berlutut memberi hormat pada Lord Orlando.
"Hamba menghadap, My Lord," kata Viper dan yang lainnya.
"Tolong beritahu kami, siapa sebenarnya Sebastian Lacretia itu?" tanya Viper langsung.
Wajah Lord Orlando langsung saja menegang, ia tahu kali ini ia tidak bisa menghindar. Firasat buruk kini menyerangnya, ia tidak tahu akan jadi apa dunia iblis ini nantinya. Lord Orlando menghembuskan napas kasar.
"Baiklah akan ku beritahu, tetapi aku ingin tahu dari kalian. Apa yang kalian ketahui tentangnya?" jawab Lord Orlando tenang.
"Kami melihat simbol Kerajaan Phanthom di punggung telapak tangannya. Yang artinya orang itu adalah penduduk Kerajaan Phanthom. Dan biasanya simbol kerajaan terdapat di dada sebelah kiri, tetapi iblis itu berada di tempat lain, dan dia mengenal Anda. Hanya sebatas itu yang kami tahu," terang Viper.
"Kau benar, simbol Kerajaan Phanthom untuk rakyat dan para bangsawan berada di dada kiri, tetapi hanya dia yang berbeda dan kau benar kami saling mengenal," jawab Lord Orlando ambil mengusap dagunya.
"Hanya dia yang berbeda?" tanya Shine bingung dengan letak simbol kerajaan.
"Kerajaan Phanthom memberikan simbol di dada kiri para rakyatnya agar mereka tidak terdeteksi Iblis lain di luar batas kerajaan. Kecuali untuk sang Raja, ia boleh memilih tempat lain untuk memiliki simbol kerajaan," jelas sang Maharaja.
"Yang berarti…," gumam Viper.
"Sebastian...," lanjut Lazark.
"Adalah seorang Raja dari Kerajaan Phanthom." Viper menatap Lord Orlando dengan terkejut.
"Dan nama asli iblis itu adalah … Sebastian Lacretia Phanthom. Dia adalah Raja Phanthom generasi keempat dan usianya saat ini sekitar 40.000 tahun. Kalian sudah paham, bukan? Kalian tidak sebanding dengannya bahkan denganku. Dialah yang disebut malaikat berwujud iblis," lanjut sang Maharaja.
__ADS_1
"Karena itu, aku menyuruh kalian untuk melepas gadis manusia itu. Karena dia pun adalah Suami Sakura," lanjut Lord Orlando sambil memijat keningnya.
"Apa?! Bagaimana mungkin?" tanya Viper tidak percaya.
"Aku tidak tahu pasti, saat menemuinya di sana sedang mengadakan upacara penyambutan kedatangan sang Ratu. Dan Ratu Kerajaan Phanthom adalah … Sakura," jawab Lord Land.
"Anda bertemu Sakura di sana, tetapi mengapa Anda tidak membawanya kembali pada kami?" tanya Viper geram.
"Aku tidak mau mati di sana, Viper. Melawan kaki tangannya saja sudah membuatku kerepotan. Apa kau ingin ada perang hanya karena gadis manusia?!" jawab Lord Orlando masih dengan ketenangannya.
"Baiklah, terima kasih atas informasi yang Anda berikan, My Lord. Hamba permisi," jawab Viper menahan kekesalannya lalu memilih undur diri dari hadapan Lord Orlando diikuti Raja yang lainnya.
"Mengapa menjadi merepotkan seperti ini?!" gumam Lord Orlando sambil menatap kepergian Viper dan yang lainnya.
Di perjalanan menuju Kerajaan Lucifer mereka berpikir keras, bagaimana cara mendapati Sakura kembali.
"Bagaimana cara kita masuk ke Kerajaan Phanthom? Sangat mustahil jika kita harus memasuki kabut terlarang." Shine mulai membuka pembicaraan setelah sampai di istana Viper.
"Kita hanya perlu menunggu," jawab Mysth dingin.
"Menunggu?!" tanya Lazark tidak mengerti.
"Iblis itu pasti akan kembali untuk memburu kita," jawab Mysth dengan tenang.
"Kita hanya perlu menunggu sampai iblis itu masuk jebakan kita," sambung Rozenth sambil menyeringai.
***
Sebastian dengan segala cara mengembalikan sinar kehidupan di mata Sakura memikirkan hal konyol sepanjang hidupnya, tetapi Sebastian akan mencoba hal itu. Ditatapnya Sakura yang hanya diam tidak bergerak seinci pun. Iblis tampan itu hanya bisa menghela napas kasar.
"My Queen, kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah," titah Sebastian.
Sakura bangkit dari duduknya dan berjalan gontai menuju istana. Nico yang sedari tadi memperhatikan kini muncul dari belakang pohon di dekat Sebastian berada.
"My Lord, perintahkanlah hamba untuk memburu mereka," ujar Nico menatap iba kepergian Sakura.
"Lakukan apa pun yang kau mau, aku tidak bisa melanggar permintaan Ratuku. Aku memiliki rencana lain untuk mengembalikan Sakura seperti semula," jawab Sebastian tanpa menoleh ke arah Nico.
"Yes, My Lord," jawab Nico senang bukan main.
"Tidak ada cara lain lagi," gumam Sebastian.
***
__ADS_1