Stains Of The Past

Stains Of The Past
13


__ADS_3

Sudah satu minggu adelia belajar mengelola kafe orang tuanya. Di ajarkan karin terkadang juga adelio jika kebetulan tidak sibuk,adelia cepat paham ketika di ajarkan. Pada dasarnya adelia memang cerdas. Hanya saja saat di bandung ia bekerja hanya di rumah kompeksi. Membuat adelia tidak belajar apa-apa lagi selain menjahit.


Sore ini adelia memfoto menu kafe nya. Untuk ia iklan kan di sosial media nya. Mungkin ini strategi marketing yang adelia pikirkan, untuk memajukan kafe orang tuanya.


Adelia juga menambahkan beberapa menu sederhana. Seperti somay dan pisang goreng.




oo


"Buk Adel." Adelia yang sedang melihat hasil jepretannya, menoleh pada sumber suara yang memanggilnya. Maniknya melihat sosok Riska


Pegawainya.


"iya, Mbak. Ada apa?"

__ADS_1


"Ada yang membuat keributan di bawah, " ujar Riska.


Adelia mengerukan kening. Keributan? Ada apa? Tidak biasanya di kafenya ada keributan.


"Memangnya kenapa, Mbak? "


"Itu Mbak Riri nggak sengaja tumpahkan minuman ke leptop pelanggan," ujar Riska menjelaskan dengan ragu karena takut di marahi bosnya itu.


"Ya udah. Saya temui dulu." Adelia bangkit dari duduknya. Ia lantas menutup leptopnya dan masuk ke ruangannya untuk menyimpan leptopnya dan menyuruh Riska makan yang baru ia potret untuk menyimpan di ruangannya agai ia makan nanti setelah urusannya beres dengan pelanggan ini.


Adelia menghampiri pelanggan yang ketumpahan minuman di leptopnya itu. Yang sedang marah-marah pada mbak Riri.


"Mana menejer kamu? Biar kamu di pecat," lanjut laki-laki itu.


"saya minta maaf, Pak. Tolong jangan pecat saya."


"Maaf, maaf. Emang maaf bisa ...," ucapnya terpotong karena ucapan salam dari suara lembut Adelia yang berdiri di belakang orang itu.

__ADS_1


" Assalamualaikum," setelah menghampiri laki-laki yang sedang marah-marah itu, dan Mbak Riri. Adelia dengan tenang mengucapkan salam. Ia tersenyum pada pelanggannya yang terganggu akibat perdebatan itu.


"Waalaikum salam," jawab laki-laki itu dan Mbak Riri bersamaan.


"Bu, tolong jangan pecat saya. Saya butuh pekerjaan ini, maafkan saya, Bu," ucap Riri memohon.


"Tidak apa-apa, Mbak. Mbak Riri ke dapur dulu aja, ya, istirahat." menoleh ke arah Mbak Riska "Mbak Riska, tolong bereskan kekacauan ini, ya. Saya mau bicara dulu dengan, Bapak ini. Tolong juga suruh bang Rendi ke ruangan saya," ucap Adelia dengan tenang.


"Baik, Mbak," ucap Riska dan Riri. Adelia mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang tadi marah-marah, entah kenapa sekarang dia diam saja.


"Bapak, apa bisa kita bicara masalah ini? Di ruangan saya saja, ya." Adelia yang merasa tidak enak dengan p********nnya yang lain. Karena saat ini mereka jadi pusat perhatian.


"Maaf, Pak." Adelia memanggil sekali lagi karena lelaki dewasa yang ada di depannya hanya diam saja. Kecuali maniknya yang menatap Adelia dengan insten. Yang mana itu membuat Adelia risih.


"Eh, i-iya, Mbak. Bisa," dengan terbata-bata, laki-laki itu menjawab.


Adelia tersenyum melihat melihat glagat p******nnya yang satu ini, lucu. Tadi marah-marah, sekarang malah terlihat gugup seperti bicara dengan gebetan. Eh, apa yang di pikirkan Adelia ini.

__ADS_1


Adelia berlalu ke ruangannya di ikuti laki-laki itu. Adelia duduk di kursi kerjanya, dengan laki-laki itu duduk di seberangnya bersama Bang Rendi yang sudah menunggu di ruangannya Adelia. Adelia sebenarnya tidak memerlukan bantuan Bang Rendi. hanya saya ia merasa tidak enak jika harus berdua dengan laki-laki satu ruangan dengannya.


"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Adelia. Saya menejer kafe ini. Saya mohon maaf atas ketidak nyamanannya, ya, Pak."


__ADS_2