
"Pak Abi kenapa?" tanya Adelia.
"Pak Abi? " ulang Adelia karena Abi tak kunjung menjawab pertanyaannya. Mungkin karena Abizard terlalu bahagia dengan khayalannya sendiri.
"Eh iya, Sayang," jawab Abizard cepat.
"Eh," Adelia syok mendengar jawaban Abizard, apa-apaan Abizard ini.
"Eh, maaf-maaf saya kelepasan," ucap Abizard sembari mengaruk plipisnya, hal yang selalu ia lakukan saat salah tingkah.
"Tidak apa-apa, Pak Abi, saya mengerti. Mungkin pak Abi sedang merindukan pacar Pak Abi yah," ucap Adelia.
"Tidak, saya tidak punya pacar," ucap Abizard cepat.
"Masa sih, Pak Abi tidak punya pacar, atau calon istri mungkin?"
"Saya tidak punya pacar atau calon istri, karena selama beberapa tahun ini, saya masih setia menunggu seseorang yang pernah hilang," ucap Abizard sembari menatap dalam netra Adelia, begitupun juga dengan manik Adelia yang tidak sengaja menatap netra abu-abu Abizard. Dengan segera Adelia memalingkan muka, beralih menatap bunga milik bundanya yang begoyang karena tertiup angin.
Mendengar Abizard mengatakan sedang menunggu seseorang, entah kenapa ada perasaan sesak di dada Adelia. Kecewa, entahlah apa perasaan itu hingga membuat sesak di d**a.
"Wah, sungguh beruntung seseorang yang Bapak tunggu itu. Di cintai sebegitu dalamnya oleh Bapak sampai menunggu beberapa tahun. Padahal kalo di lihat dari usia, Bapak sudah cukup untuk menikah," ucap Adelia dengan senyumannya.
Ia menatap kembali Abizard yang sedari tadi tak hentinya menatap ke arahnya. Netra mereka kembali bertemu, entah kenapa saat ini Adelia tidak bisa berpaling dari Netra abu-abu Abizard. Ada sesuatu yang menahannya untuk tetap diam. Begitupun dengan Abizard yang tidak bisa berpaling dari manik hitam Adelia.
__ADS_1
"Ehmmm."
Suara deheman seseorang membuat Abizard dan Adelia mengakhiri acara saling tatapnya. Mereka sama-sama memalingkan muka ke arah lain.
Suasana canggung menyelimuti keduanya setelah kedatangan Adelio. Adelia lebih memilih masuk ke dalam rumah, meninggalkan Abizard dan Adelio berbicara. Saat ia masuk, Adelia bertemu dengan Karin yang membawa nampan berisi minuman dan makanan kering untuk di sajikan pada Abizard.
Adelia masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu dan memegang d**anya yang terasa berdebar begitu cepat. Dengan menghela napas panjang Adelia melangkahkan kakinya. Duduk di kursi yang di depannya, terdapat meja rias dan cermin besar. Ia tersenyum memandang wajahnya sendiri mengingat kebodohannya menatap manik Abizard, entah ada apa dengan kinerja jantungnya sendiri saat bersama dengan Abizard, selalu berdetak dengan cepat. Tapi, senyum itu pudar setelah mengingat perkataan Abizard yang sedang menunggu seseorang, dan mengingat masa lalu kelamnya sendiri.
Adelia pov
Apakah pantas jika kali ini saja aku berharap setelah 16 tahun aku menutup diri dari para laki-laki yang mendekatiku. Tapi sekarang beda lagi, aku sekarang yang menyukai laki-laki yang bahkan dengan setia menunggu wanitanya sampai bertahun-tahun. Apalagi mengingat keadaan ku yang seperti ini. Gadis, tapi bukan perawan. Miris memang. Tapi, bolehkah kali ini aku berharap, berharap bisa mengakhiri kepedihan yang selama ini ku pelihara, berharap bisa bahagia dengan keluarga kecil seperti pada umumnya.
Aku kembali menghela napas panjang , selama ini aku berusaha untuk selalu tersenyum, berusaha untuk terlihat kuat di mata semua orang terutama anakku. Aku tidak ingin melihatnya ikut bersedih jika dia melihatku bersedih. Meski sejujurnya aku menyimpan banyak luka.
Belajar dari kesalahan di masa lalu aku ingin memperbaiki diri, lebih menjaga diri dengan pakaian yang menutupi auratku.
Aku juga bukan wanita yang sehat dan tak semulia Khadijah, tidak setakwa Aisyah, tidak pula setabah Fatimah. Aku hanya wanita akhir jaman yang punya cita-cita menjadi wanita yang sholehah.
Meskipun pada kenyataannya aku wanita yang kotor. Tapi, tak apakan jika aku punya cita-cita menjadi wanita yang sholehah untuk kedepannya.
Aku meraba wajahku, tidak ada jerawat ataupun apa, karena mungkin aku sering merawatnya. Aku sangat bersyukur dengan rupa sempurna yang telah Allah swt berikan kepadaku. Walaupun mungkin dengan wajah ini juga aku dulu terjerumus pada dosa yang besar. Aku selalu berdoa di setiap sujudku jika mengingat wajah ini. "Ya Allah jika engkau memperindah rupaku maka percantiklah akhlakku. "
Abizard, nama yang mungkin akan aku sebut di sepertiga malamku, jika seandainya laki-laki itu tidak sedang menunggu seseorang.
__ADS_1
Sungguh beruntung wanita yang sedang di tunggu Pak Abi, sebegitu cintanya Pak Abi pada wanita itu hingga menunggu bertahun-tahun dengan setia.
Aku kembali menghela napas panjang.
Kenapa? Kenapa selalu ada pertemuan jika akhirnya di pisahkan. Mungkin lebih tepatnya hatiku yang tidak tau diri telah menyimpan rasa pada laki-laki yang mencintai orang lain.
"Ya Allah, jika seandainya Pak Abi adalah jodohku dekatkanlah. Jika dia bukan jodohku maka hapuskan rasa yang perlahan tumbuh ini, Aamiin," doaku dalam hati.
πΌπΌπΌπΌ
Selesai sudah tugasku menjadi asisten sementara Pak Abi, setelah satu bulan aku bekerja di sana. Banyak sekali ilmu yang aku ambil di perusahaan itu. Aku sangat berterima kasih pada Pak Abi yang telah memebikanku ilmu pengetahuan tentang bisnis dengan cuma-cuma. Aku juga tidak menyangka Pak Abi memberiku gaji satu bulan aku bekerja di sana.
Jika membahas tentang Pak Abizard aku jadi mengingat kejadian tempo hari di rumahku. Setelah kejadian itu, hubungan aku dan Pak Abi menjadi terasa canggung beberapa hari. Hingga kemudian entah ada apa dengan Pak Abi? Ia gencar mendekatiku, dengan menjemputku untuk berangkat ke kantor bersama, sekalian mengantar Aska ke sekolah. Hingga Aska yang awalnya jarang bicara dengan orang baru, sekarang ia jadi sering bicara dengan Pak Abi dan terlihat lebih dekat dengan Pak Abizard. Pak Abi juga sering chat aku sebelum tidur, chat yang mungkin tidak penting untuk di bahas. Tapi berhasil membuat aku tersenyum dan merindu jika Pak Abi tidak chat aku semalam saja.
Sejujurnya aku sempat ingin menjauh dari Pak Abi, agar rasa yang perlahan tumbuh ini bisa perlahan layu. Mengingat tentang percakapan ku dan Pak Abi tempo hari, bahwa Pak Abi sedang menunggu seseorang yang pernah hilang, yang aku pikir sekarang seseorang itu sudah kembali. Tapi, entah kenapa aku tak bisa menolak ketika Pak Abi menjemputku, aku juga tidak bisa mengabaikan setiap pesan yang ia kirim, ada perasaan tak enak di hatiku menolak setiap permintaannya untuk have lunch bersama.
Begitupun juga dengan malam ini. Pak Abi mengundangku makan malam bersama di salah satu restoran ternama. Katanya sebagai ucapan terima kasih karena satu bulan ini aku sudah membantu di kantornya, padahal yang sebenarnya terjadi di kantornya, aku selalu membuat kesalahan.
Aku datang dengan membawa Aska ikut karena Pak Abi juga mengajak Aska untuk ikut.
ππππππ
__ADS_1