Stains Of The Past

Stains Of The Past
22


__ADS_3

Perdebatan masih berlanjut terutama ibu Bimo yang tidak terima anaknya di salahkan dalam hal ini. Adelia mengerti dengan keadaan ibu Bimo. Siapa ibu yang rela anaknya di salahkan, meskipun jelas ia tau anaknya bersalah.


Tapi berbeda dengan Adelia yang merasa ia gagal mendidik Aska. Karena Aska telah menghajar teman sekolahnya sampai babak belur seperti itu. Apa tidak ada cara yang lebih baik. Misal mengingatkan temannya yang salah dengan bicara baik-baik. tidak harus menggunakan cara kekerasan. Tapi Adelia tak menampik ada rasa bangga di hatinya pada Aska yang telah menolong gadis yang di lecehkan temannya. Hal itu mengingatkan Adelia pada kejadian dulu, saat ia di lecehkan Rio tapi tak ada yang menolong.


"Kenapa sih harus dengan kekerasan. Kenapa kamu gak bilang aja baik-baik sama temen kamu itu, kalo melecehkan wanita itu tidak boleh." ucap Adelia sembari menyuapi putranya makan. Saat ini Aska sedang duduk bersandar di berangkar rumah sakit. Saat perdebatan tadi belum selesai. Adelia nekat membawa aska dari ruangan kepala sekolah untuk ia bawa ke rumah sakit.


Luka di bagian pinggang aska tidak terlalu parah hanya mendapat tiga jahitan saja, tapi tetap saja adelia khawatir dengan putra satu-satu nya itu.


"Aku udah bilang mah. Karena itu bukan pertama kalinya. Tapi bimo ngeyel. Aku gak suka sama cowok yang melecehkan wanita."


"Apalagi ceweknya itu Reina." lanjut Aska dalam hati.


Adelia terharu dengan perkataan Aska. Sementara Rio yang juga ada di ruangan itu. sedang duduk di sofa seraya memperhatikan ibu dan anak itu. Terasa tertampar dengan perkataan anaknya sendiri. Apakah Aska juga tidak akan suka padanya karena dulu ia melecehkan ibunya?, Malahan sampe hamil.


"Siapa nama anak gadis yang kamu tolong itu?." Aska tersenyum mendengar pertanyaan ibunya.

__ADS_1


"Reina mah"


"Cantik ya dia"


"Iya" Aska tersenyum saat mengatakan 'iya'


Adelia yang yang melihat anaknya seperti itupun mengerti.


"Kenapa senyum-senyum?"


"Gak papah." Aska langsung mengalihkan pandangannya dari Adelia.


"Ko mama malah ketawa sih?." Aska merajuk dengan mulut sedikit cemberut karena di tertawa kan oleh ibunya.


"Abis kamu lucu. senyum-senyum gak jelas ampe pipi merah gitu, Trus di tanyain suka apa enggak kamu malah menggeleng terus mengangguk" Sembari menghapus air mata yang merembes keluar dari matanya karena terlalu banyak tertawa, Adelia menatap putranya yang sedang tersenyum malu itu.

__ADS_1


"Kamu suka ya sama reina?" ulang adelia bertanya kembali pada Aska.


"Enggak."


"Mulut kamu bilang enggak. Tapi, bahasa tubuh kamu gak bisa di bohongin." Adelia menunjuk dada Aska dengan jari telunjuknya.


"Masa sih?"


"Iya."


Rio yang melihat interaksi ibu dan anak itu tersenyum kerena melihat kelucuan mereka. Seandainya saja ia juga bisa masuk ke dalam pembicaraan ibu dan anak itu. Pasti ia akan sangat bahagia jika melihat mereka dari kejauhan saja sudah sebahagia ini. Tapi itu hanya andai-andai Rio saja. Karena nyatanya Adelia dan aska tak menghiraukan keberadaannya di ruangan yang sama dengan mereka. Adelia dan aska seru sendiri dengan pembicaraan mereka, seakan menganggap Rio yang yang juga berada di ruangan yang sama dengan mereka tak kasat mata.


.


.

__ADS_1


.


"


__ADS_2