
Adelia sadar saat waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Aska yang duduk di dekat ranjang ibunya melihat mata ibunya terbuka langsung berseru senang, matanya berkaca-kaca tapi senyuman mengembang di bibir nya.
"mama" ucap Aska, Adelia tak menjawab Aska kepala nya sakit, Adelia memejamkan matanya kembali, untuk sedikit mengurangi rasa sakit yang sedang ia rasakan. Aska yang melihat ibunya memejamkan mata, menjadi panik sendiri, Aska segera menekan tombol yang ada di dinding dekat ranjang ibunya.
Setelah Adelia di periksa, dokter menjelaskan kalo Adelia tidak apa-apa, hanya merasa sakit karena luka yang di alaminya.
Setelah dokter keluar dari ruangan rawat Adelia, Aska mendekati ranjang ibunya nya, walaupun Aska juga merasa sakit di bagian lutut dan tangannya, tapi Aska tidak boleh terlihat lemah apalagi mengeluh di depan ibunya.
"Mama "Adelia tersenyum pada putranya, Aska membalas senyum ibunya, Aska duduk di kursi dekat ranjang ibunya, tangan Adelia kanan Adelia yang di gips dan tangan kiri Adelia yang di infus membuat Aska menatap ibunya prihatin.
Aska memegang bahu ibunya mencium pipi ibunya, ibu yang telah mengandung, melahirkan, dan membesarkan nya seorang diri, menerima cacian, hinaan, orang-orang karena memiliki Aska tanpa suami.
Bagi Aska ibunya adalah ibu terhebat nya, pahlawannya. Dengan berbagai cobaan yang di alami ibunya, tapi ibunya tetap kuat menjalani hidup nya.
Aska adalah saksi hidup ibunya, makanya Aska bangga punya ibu seperti ibunya, dan takut jika ibunya kenapa - kenapa.
Tak bisa di bendung lagi, melihat ibunya yang berbaring tak berdaya membuat Aska yang selalu bersikap datar, takkuaasa menahan air matanya.
"jangan menangis mama tidak papah" Adelia memegang tangan Aska.
__ADS_1
"Aska takut mama kenapa - kenapa " Aska juga ikut membalas memegang tangan Adelia yang di infus. ia menatap ibunya dengan penuh haru, ia sangat bahagia melihat Adelia tidak apa-apa.
""" bagaimana dengan kamu?""
"aku baik-baik saja "
" syukur lah, besok hari pertama kamu masuk sekolah tapi mama malah seperti ini"
" tidak apa-apa, mama tak usah memikirkan sekolah ku dulu, yang terpenting mama sehat dulu "
" mama hanya ingin kamu menggapai cita-cita kamu, tidak seperti mama yang hanya lulusan smp"
"Iya Sayang nya mamah"
Adelia tersenyum kepada putranya begitu juga Aska membalas senyum ibunya.
Seseorang membuka pintu, membuat Aska dan adelia yang tengah berbincang melihat ke arah pintu yang di buka oleh seseorang yang mengucapkan salam.
"assalamualaikum "terlihat bunda dan ayah adelia yang masuk, karena tadi ia pulang dulu ke rumahnya, untuk membawa baju ganti dan mampir ke toko baju untuk membeli baju Aska, juga mampir ke restoran untuk membeli makan malam mereka.
__ADS_1
" Waalaikumsalam "Aska dan adelia menjawab salam mereka secara bersamaan.
" bunda, ayah "Adelia menatap Bunda dan Ayahnya dengan mata berkaca-kaca, karin dan adelio mendekat ke arah ranjang putrinya, Aska berdiri dan pindah duduk nya di sopa yang ada di ruangan itu, bemberiku ruang untuk nenek dan kakek nya, agar lebih dekat dengan ibunya.
" kamu udah sadar sayang "Adelia tak menjawab pertanyaan bunda nya, hanya air mata yang jatuh membasahi pipi adelia.
Enam belas tahun tak berjumpa dengan orang tuanya, membuat adelia tak dapat menggambarkan rasa bahagia nya, hanya air mata yang menjadi haru bahagia adelia saat berjumpa kembali, jika saja badan nya dapat leluasa bergerak mungkin adelia akan memeluk bunda dan ayah nya.
"Hey jangan menangis, maaf kan bunda tidak bisa menjadi ibu yang baik untukmu, tidak ada di saat-saat tersulitmu" karin mengelus pipi putrinya dengan hati-hati takut-takut mengenai luka putrinya, dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipi karin menciumi pipi putrinya. Karin tak menyangka bisa bertemu putrinya setelah belasan tahun, dengan keadaan putrinya yang berbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.
"Maafkan ayah juga, tanpa mendengar penjelasan mu, dengan keadaan mu yang tengah berbadan dua, ayah malah tega mengusir mu,"Adelio tentu paling menyesal, karena dia yang telah mengusir putrinya, beberapa hari dia mengusir Adelia, Adelio menyusul Adelia ke bandung ke rumah bibi nya, tapi tak di temukan juga Adelia, itu yang membuat Adelio di hantui perasaan menyesal sampai sekarang, apalagi saat Adelio tau dari mulut laki-laki yang telah m********a Adelia, kalo Adelia adalah korban disini.
"Tidak apa-apa Ayah Bunda aku tidak apa-apa "dengan isak tangis nya Adelia berusaha tersenyum kepada orang tua nya, berusaha mengatakan kalo dia baik-baik saja.
Adelio mengecup pipi Adelia dengan sayang, sedangkan Aska yang duduk di sapa manatap haru pada tiga orang dewasa itu.
Setelah acara tangis menangis, karin menyuapi putrinya dengan makanan yang sudah di siapkan rumah sakit, setelah nya karin makan juga dengan adelio dan Aska dengan makanan yang di beli nya dari restoran tadi, mereka makan dengan canda tawa, adelia menatap haru pada orang tua nya dan Aska yang sudah terlihat akrab, tidak ada kebahagiaan lain bagi adelia, selain kumpul dengan keluarga tercinta.
🍒🍒🍒🍒
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Gays, biar othor tau siapa aja orang baik hati yang mampir ke karya recehku othor ini 🙏