
Karena sudah di beri izin abizard untuk keluar, adelia keluar dari kantor abizard dengan tergesa, perasaan tak tenang menyelimuti hatinya. sebelum ia meliahat keadaan putranya yang kata guru berantem dengan teman sekolahnya. Tidak biasanya aska membuat keributan di sekolah dan itu membuat adelia kawatir dengan keadaan sang putra.
Adelia mencoba menghentikan taksi yang lewat, tapi tak ada juga yang mau berhenti, Karena mungkin sudah ada penumpangnya.
Adelia semakin gelisah, karena tak kunjung mendapat kan taksi.
tin tin.
suara kelakson mobil mengagetkan adelia.
Adelia menoleh dan melihat kaca mobil terbuka. Adelia semakin kaget saat melihat siapa yang duduk di balik kemudi.
Hufff adelia tidak mungkin menghindar lagi di dipan rio. Ia takut kecelakaan dua bulan lalu terulang kembali, hanya karena ia menghindari rio.
"Mau kemana? mari saya antar." ucap rio dari dalam mobil. Adelia diam saja mendapati pertanyaan rio. Di liputi pikiran yang bercabang antara menghadipi rio atau lari dan cepat datang ke sekolah untuk menemui aska.
Rio keluar dari mobilnya dan mengampiri adelia.
"Mau ke mana?.. Mari saya antar?." ucap rio sekali lagi setelah ia dekat dengan adelia.
Adelia menatap rio yang berdiri di depannya dengan ragu. Ia ingin segera sampai ke sekolah aska. Tapi, jika di antar rio, otomatis rio akan tau sekolah aska. Bukannya adelia ingin menjauhkan aska dari ayah biologisnya itu, justru adelia ingin aska seperti anak-anak lain yang memiliki ayah. Hanya saja belum ada kesiapan di hati adelia untuk berdamai dengan masa lalu, dan menerima rio sebagai ayah aska.
"Tidak perlu saya bisa naik taksi" jawab adelia dingin. Maniknya tak henti menatap jalanan berharap ada kendaraan umum yang lewat.
__ADS_1
"Tapi sepertinya kamu buru-buru. Dan tidak ada taksi yang lewat."
"Saya bisa naik angkot." Adelia berniat berjalan ke arah angkot yang berhenti. Tapi sebelum itu tangan adelia sudah di cekal oleh rio.
"Tolong. saya ingin bicara dengan kamu sekali ini saja." Adelia berusaha melepas tangannya dari cekalan tangan rio.
"Lepaskan." Rio segera melepas tangan nya yang mencekal adelia dengan replek tadi.
"Maaf." Ucap rio pelan. Sepertinya rio haru extra sabar dan lembut mengadapi adelia yang agak keras kepala.
"Tidak bisakah kita bicara sebentar saja. Saya mohon."
Adelia menghela napas panjang mendengar permohonan rio.
"Baiklah, bagaimana kalo saya antar kamu." Adelia menghela napas panjangnya. Ia harusnya dari tadi tak boleh egois. Guru aska memintanya cepat datang ke sekolah, tapi ia malah berdebat dengan rio di sini.
"Baiklah." Pada akhirnya adelia menyerah dan memilih ikut dengan rio. Rio tentu tersenyum senang mendengar nya. Rio lantas membukakan pintu untuk adelia. Adelia kembali menghela napas menerima perlakuan rio.
"Silahkan." ucap rio dengan senyum manisnya.
"Terimakasih." Adelia duduk di kursi depan dekat kemudi. Sementara rio duduk memutar mobilnya dan masuk, lalu duduk di balik kemudi. Kecanggungan di rasakan adelia dan rio saat mereka sudah dalam mobil berdua.
"Mau di antar ke mana?." Tanya rio ketika mobil sudah mulai melaju.
__ADS_1
"Ke sekolah SMA b***********a." ucap adelia menyebutkan nama sekolah tempat aska anaknya menempuh pendidikan.
"Sekolah anak kita ya."
"Anak saya." Adelia buru-buru meralat kata 'anak kita' dari rio. Entah kenapa hatinya seakan belum rela jika rio dengan mudahnya mengklam aska sebagai anaknya.
"iya anak kamu. Tapikan aska juga anak saya secara biologis."
Hening. suasana di mobil itu hening sesaat.
Adelia memikirkan ucapan rio. Memang benar Rio adalah ayah aska secara biologis. Tapi aska tak punya nasab dengan ayah biologis nya itu. Adelia di liputi kebingungan. apa ia harus mengenalkan rio pada aska sebagai ayah?.
"Adelia saya minta maaf atas perlakuan saya dulu ke kamu. Saya benar-benar khilap. Setelah melihat kejadian di kebun teh itu dan kita terjebak berdua saja, membuat saya melakukan kesalan kepada kamu. Dan sampai sekarang pun saya masih merasa terganggu dengan penyesalan dan rasa bersalah pada kamu. Mungkin karena saya belum minta maaf secara pantas pada kamu."
Adelia menatap ke luar jendela, tak berniat menatap rio sedikitpun. Tapi ia menajamkan pendengarannya untuk mendengar dengan jelas apa yang rio katakan.
"Maaf. hm tapi maaf tak bisa mengembalikan segalanya." Ucap adelia dengan manik yang sudah berembun mengingat kejadian beberapa tahun silam yang membuatnya harus mengorbankan cita-citanya dan jauh dari orang tua.
"Saya tau. maaf memang tak bisa mengembalikan segalanya. Maka dari itu, ijinkan saya untuk menebus kesalah saya. Ijinkan saya untuk ikut andil mengurus aska."
Adelia tak menjawab Rio. Dan memilih turun dari mobil rio, setelah rio menghentikan mobilnya karena sudah sampai di dekat gerbang sekolah.
"Terimakasih." ucap layla sebelum meninggalkan mobil Rio.
__ADS_1