
"Aska kamu kenapa nak?"
Adelia tiba-tiba panik melihat Aska yang semakin kencang memegang bagian perut sampai pinggang. Adelia ingin melihat perut Aska. Tapi aska malah menolak dan mengeratkan tangannya.
"Sayang kamu kenapa? Mama cuma pengen liat."
"Alah ... anak kamu itu cuma pura-pura
Lihat nih anak saya babak belur kaya gini. Kamu harus tanggung jawab."
Adelia tidak menghiraukan ucapan ibu-ibu itu, Ia hanya fokus memaksa Aska agar membuka tangannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan putra saya, Pak?" Rio yang sedari tadi diam mulai angkat bicara melihat kepanikan Adelia kepada Aska.
"Begini, Pak. Jadi Aska ini telah menghajar nak Bimo saat jam pelajaran," ucap kepala sekolah.
__ADS_1
"Aska, sini mamah liat!" Semua mata tertuju pada Adelia dan Aska karena teriakan Adelia yang cukup kencang hingga membuat terkejut.
"Jangan, Mah. Malu." Aska masih kekeh menyembunyikan perutnya. Tapi, Adelia berhasil menarik tangan Aska.
"Sakit, Mah." Mata Adelia melotot melihat banyak darah di tangan aska. Aska menggunakan hody hitam membuat darah tidak terlihat jika dari kejauhan, kecuali jika jarak dekat yang semakin membuat hody itu basah dan semakin hitam pekat.
Adelia melihat hudy bagian perut Aska yang basah sampai bagian pinggang. Ia lantas mengangkat hudy bagian perut Aska. Mata Adelia semakin melotot tak kala baju seragam bolong dan berlumuran darah.
Bimo yang melihat itu semakin menundukkan Kepalanya, rasa takut menyelimutinya. Ia tak menyangka perbuatan main-mainnya bisa sampai melukai Aska separah itu. Wajah Bimo tiba-tiba menjadi pias, keringatndingin membasahi dahinya.
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan pada anak saya?"
"Heh, kok Anda malah nyalahin anak saya? Liat nih muka anak saya karena ulah anak kamu," ucap ibu Bimo.
"Saya tidak menyalahkan. Hanya saja melihat gelagat anak anda yang sedari tadi hanya diam menunduk,dan berkeringat dingin di dahinya. Membuat saya yakin ada sesuatu yang tidak beres." Rio mengalihkan tatapannya dari ibu Bimo pada kepala sekolah. "Jadi saya pikir sekolah ini tidak mungkin tidak punya CCTV . Dan kejadian itu juga saat jam pelajaran kan, pasti banyak saksi," lanjut Rio.
__ADS_1
"Begini, Pak. Kami sudah menjelaskan kejadiannya pada ibu, Nak Bimo. Tapi beliau bersikeras ingin memanggil orang tua Nak Aska untuk mempertanggung jawabkan. Karena telah menghajar anaknya. Padahal jelas-jelas di sini nak Bimo yang salah. Nak Aska hanya membela diri," jelas sang kepala sekolah.
"Memang bagaimana kejadian yang sebenarnya, Pak?"
Rio sebenarnya sudah gemas dengan kepala sekolah ini karena sedari tadi masih bertele-tele tidak menjelaskan masalah intinya. Hanya menjelaskan Aska saja yang sudah menghajar Bimo. Seakan-akan Aska yang bersalah di sini.
"Nak Bimo telah melecehkan salah satu siswi, Saat siswi itu berjalan untuk meminjam penggaris pada temannya. Dan Nak Aska yang melihat itu langsung menarik tangan Bimo. lalu pertengkaranpun terjadi."
Kepala sekolah yang bertubuh tambun itu menjelaskan apa yang terjadi.
"Lalu kenapa Aska sampai terluka parah seperti itu?" Rio menunjuk perut Aska yang sudah di singkap bajunya oleh Adelia.
Luka Aska memang cukup parah seperti tertusuk benda tajam.
"Kalo itu saya kurang tau, Pak. Bapak bisa tanyakan langsung pada saksi."
__ADS_1
Kepala sekolah melihat pada siswi perempuan yang ada di sebelah Aska.
"Hm ... tadi saat Aska lengah, Bimo mengambil pisau khater dari tasnya dan menusuk bagian perut Aska. aku pikir tadi katernya gak kena Aska. Karena keburu ada guru yang merelai mereka. Aska juga tadi langsung pake hudy. Jadi gak ada yang nyangka kalo Aska luka," ucap gadis itu. " Maafin aku, ya, Aska. Gara-gara kamu nolong aku malah kamu yang kaya gini," lanjut gadis itu. Aska hanya tersenyum melihat gadis yang ia tolong meminta maaf padanya.