
Adelia masuk ke gedung sekolah Aska di ikuti oleh Rio. Adelia menghela napas saat tau Rio mengikutinya.
"Kenapa anda mengikuti saya," ucap Adelia seraya berjalan menuju ruangan kepala sekolah.
"Saya hanya ingin tau, apa yang anak kita lakukan, hingga kamu di haruskan datang ke sekolah." Adelia kembali menghela napas. Lagi-lagi kata 'anak kita' yang ia dengar dari Rio membuat Adelia merasa belum rela. Tapi, Adelia tidak meralat ucapan Rio kali ini. Mungkin ia harus bisa membiasakan diri dengan Rio menyebut kata itu. Toh memang Aska adalah anaknya juga Rio. Sampai di depan ruangan sang kepala sekolah. Banyak sekali murid yang mengintip lewat celah jendela dan menempelkan telinga ke tembok. Adelia jadi tersenyum geli melihat kelakuan murid-murid yang kepo itu. Ah Adelia jadi merindukan teman-temannya yang juga dulu sering melakukan hal konyol itu saat ada teman lainnya di tahan di ruangan guru sampai mereka di tegur tidak boleh melakukan hal yang tidak terpuji mengintip orang seperti itu.
Adelia masuk keruangan kepala sekolah setelah ia mengucapkan salam dan di jawab serempak oleh orang-orang yang ada di dalam. Adelia duduk di sofa yang sama yang di duduki Aska. Sementara Rio berdiri di dekat Adelia karena sofa sudah penuh hingga seseorang membawakan kursi kayu untuk Rio.
"Silahkan pak duduk." ucap salah satu guru yang telah membawakan kursi untuk Rio.
"Terimakasih pak." Guru dengan tag nama Ardian itu mengangguk seraya tersenyum. Rio duduk di kursi kayu yang di bawakan guru tadi di sebelah Adelia.
__ADS_1
"Ibu. kakaknya Aska putra yah, ko baru saya lihat."
Rio yang mendengar ucapan kepala sekolah itu merasakan sesak di d**anya, tak kala kepala sekolah menyebut nama panjang putranya.
"Aska putra. sebenci itukan del kamu sama aku. sampe kamu tidak menyematkan nama belakangku. Bahkan kamu menyematkan nama belakang ayahmu." pikir Rio. Padahal tadi ia sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan Adelia setelah kejadian beberapa bulan lalu ia tak dapat menemui Adelia karena di lalarang Adelio. Tapi saat ia masuk ke ruangan ini. Ia melihat Aska mencium tangan Adelia tapi tidak mencium tangannya. Bahkan menoleh saja tidak. Dan sekarang ia harus tau kenyataan bahwa putra pertamanya itu juga tidak memakai nama belakangnya. Hanya helaan napas yang ia keluar kan untuk mengurangi sesak di dadanya menerima kenyataan itu.
"Bukan pak. Saya ibunya Aska,"
"saya kira ibunya Aska yang sering antar Aska ke sekolah. anda juga terlihat sangat muda seperti kakaknya Aska." Adelia hanya tersenyum saja mendengar ucapan kepala sekolah itu. Ia tau yang sering mengantar Aska sekolah adalah Karin, ibunya.
"Aska kamu kenapa nak?."
__ADS_1
.
.
.
.🍁🍁🍁
Terimakasih banyak untuk para pembaca atas dukungannya😘
Mampir juga di karya baruku🙏
__ADS_1
Terimakasih