
Aku juga merasa tersinggung di sini, kenapa Bu Fatimah ingin memberikan hartanya, dengan mudahnya beliau mengatakan akan memberikan hartanya untuk Aska.
Tidakkah memikirkan perasaan aku sebagai ibunya.
Padahal aku sudah berpikir bahwa Bu Fatimah datang ke sini untuk meminta maaf dan ingin bertemu dengan Aska. Tapi itu hanya sekedar pikir belaka! jauh dari kata nyata. Dan malah harta yang menjadi pembahasan 4 mata, antara aku dan dia.
huffff
Aku hanya bisa menghela napas. Sungguh tebakan ku yang aku pikir buk Fatimah ini orang baik meleset. Atau memang karena aku belum mengenal beliau terlalu jauh.
Astaghfirullah aku beristighfar dalam hati. Sungguh berdosa aku telah berseuzon pada buk Fatimah. Mungkin saja buk Fatimah saat ini sedang banyak pikiran, lantas ia bersikap seperti itu.
Aku menatap wanita paruh baya itu.
Ia sedang menangis, entah apa yang ia tangisi, penyesalan karena tak bisa mendidik anaknya dengan baik atau yang hal lain.
__ADS_1
Sama sekali aku tak merasa marah melihat wajah wanita paruh baya itu. Wajah dari ibu laki-laki yang telah menorehkan noda dalam kehidupan masa laluku. Tapi setelah buk Fatimah mengatakan akan memberikan hartanya untuk Aska, tanpa basa dan cerita. Entah kenapa hatiku merasa tidak nyaman, aku tidak menyukai ucapannya itu.
Disini yang sakit aku tapi mengapa Bu Fatimah yang menangis. Seperti pratagonis yang teraniaya.
Aku syok dengan apa yang beliau katakan meskipun aku selalu menyembunyikan Aska dari Rio, tapi aku tidak mungkin menghalangi mereka jika ketulusan ada dalam diri mereka untuk bertemu dengan Aska.
Bukan harta yang ku harapkan pertama kali keluar dari mulut keluarga itu, tapi sikap dewasa sikap kepedulian keluarga ayah biologisnya untuk Aska.
Jika soal harta bahkan aku masih bisa menyanggupi kehidupan Aska meskipun keluargaku tak sekaya keluarga Rio, tapi seenggaknya keluargaku punya kepedulian dan kasih sayang yang tulus untuk anakku.
"Ternyata kamu sombong, ya, Putri. Kamu telah menjatuhkan harga diriku dengan tidak menerima pemberianku."
Aku mengerutkan kening mendengar perkataan dari Wanita paruh baya itu. Ada apa ini? Kenapa beliau mengatakan Aku sombong Aku hanya tidak ingin menerima harta yang bukan hak anakku.
Coba saja kalau Bu Fatimah bicara baik-baik atau paling tidak mengatakan ingin bertemu dengan cucunya, cucu biologisnya. Mungkin aku tidak akan menolak keinginannya. Jika menerima soal harta? entah kenapa hatiku tak mengijinkan.
__ADS_1
Aku menjatuhkan harga dirinya? lalu apa dengan beliau? dia dengan mudahnya ingin memberikan harta padaku tanpa memikirkan perasaanku.
Aska tak perlu harta, tapi Aska perlu perhatian. Ia sudah cukup menerima tekanan dengan hidupnya, ejekan teman-temannya karena tak punya ayah.
Tidakkah Bu Fatimah berpikir atau sedikit saja berbelas kasih pada Aska yang semasa hidupnya tak pernah merasakan hangatnya pelukan sang ayahnya, merasakan yang namanya kasih sayang seorang ayah.
Harga diriku bahkan sudah di jatuhkan oleh anaknya. jika saja aku pandai membalas mungkin aku akan membalas. Aku akan menjadi antogonis karena tersakiti. Tapi aku bukan wanita seperti itu. Aku bahkan diam saja 16 tahun ini.
"Kenapa ibu bilang begitu?" tanyaku dengan lembut.
"Kenapa kamu tidak mau menerima harta dariku? Kamu bisa hidup enak dengan harta itu juga anakmu," serunya bertanya balik.
Ada apa dengan harta kenapa lagi-lagi harta yang bisa menjamin kebahagiaan. Bisa menjamin hidup enak. Padahal justru hidup enak, hidup nyaman itu tidak selalu terhubung dengan harta.
Dengan hidup sederhana, atau paling tidak kita hidup dengan uang yang kita hasilkan sendiri, jerih payah sendiri, kita gunakan untuk diri sendiri tanpa meminta pada orang lain. Itu akan lebih Membuat orang bahagia, jika saja terkemas kata syukur di dalam hidupnya.
__ADS_1
.