Stains Of The Past

Stains Of The Past
28


__ADS_3

Aku tak menyangka, di tempat ini Abizard melamarku di depan Aska. Aku tidak langsung menjawab lamaran Abizard, begitu banyak hal yang aku pikirkan. Memang, ya, aku menyimpan perasaan kepada Abizard. Tapi, ada beberapa hal yang membuat aku ragu menerimanya.


Di depan banyak mata ia meminta aku menjadi istrinya. Aku tak kuasa menolak, tapi aku juga tak mau gegabah menerima. Begitu banyak pertimbangan. Terutama dengan keadaanku. Tentang persetujuan Aska, orang tuaku juga orang tua Abizard. Apakah mereka akan menerimaku apa adanya, dengan keadaanku yang jauh dari kata sempurna.


Makanya aku meminta waktu untuk menjawab pinangan Abizard.


Pulang dari Resto, aku kembali di antar pulang Abizard. Abizard bicara biasa saja, walaupun ada sedikit perubahan dari awal tadi ia menjemputku dan Aska. Mungkin dia kecewa dengan keputusanku atau ent๐š๐ก.


"Maaf ya Pak. "


" Kenapa harus minta? Saya tidak apa. Saya mengerti kamu perlu waktu untuk menjawab lamaran dadakan saya. "


" Terimakasih pak "


" mmmm,,,, apa boleh saya meminta sesuatu dari kamu? "


"Silakan pak, jika saya bisa saya akan berikan. Tapi jika tidak saya minta maaf."


"Terimakasih" ๐€๐ค๐ฎ hanya tersenyum saja menanggapi ungkapan terimakasih Abizard.


"Saya tidak mau kamu panggil Pak "


"Lalu, bapak mau di panggil apa?"


"Sayang"


"Eh,"Ucap๐ค๐ฎ ๐an Abizard bebarengan. ๐€๐ค๐ฎ saling menoleh. Hening, selalu saja seperti itu. ketika netra ๐ค๐š๐ฆ๐ข saling bertemu, ๐’๐ž๐จ๐ฅ๐š๐ก ๐š๐๐š ๐ฌ๐ž๐ฌ๐ฎ๐š๐ญ๐ฎ mereka melupakan ada seseorang di kursi belakang, yang sedang memperhatikan mereka.


hmmm


Suara deheman cara menghentikan kontak mata mereka. Adelia dan Abizard segera memalingkan muka.


๐’๐š๐ฆ๐ฉ๐š๐ข ๐๐ข ๐ซ๐ฎ๐ฆ๐š๐ก ๐€๐๐ž๐ฅ๐ข๐š ๐ฅ๐š๐ง๐ ๐ฌ๐ฎ๐ง๐  ๐ฆ๐š๐ฌ๐ฎ๐ค ๐ค๐ž ๐ค๐š๐ฆ๐š๐ซ๐ง๐ฒ๐š, ๐›๐ž๐ ๐ข๐ญ๐ฎ๐ฉ๐ฎ๐ง ๐ฃ๐ฎ๐ ๐š A๐ฌ๐ค๐š ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐ข๐ค๐ฎ๐ญ ๐ฆ๐š๐ฌ๐ฎ๐ค ๐ค๐ž ๐ค๐š๐ฆ๐š๐ซ ๐ฆ๐š๐ฆ๐š๐ง๐ฒ๐š.


"Ada apa?" Tanya Adelia.


"๐ ๐š๐ค ๐š๐ฉ๐š-๐š๐ฉ๐š ๐ฆ๐š๐ก, ๐œ๐ฎ๐ฆ๐š๐ง ๐ฉ๐ž๐ง๐ ๐ž๐ง ๐ญ๐ข๐๐ฎ๐ซ ๐›๐š๐ซ๐ž๐ง๐  ๐ฆ๐š๐ฆ๐š ๐š๐ฃ๐š."

__ADS_1


"Bener?"


"Iya"


"Gak boleh, ya?"


"Boleh, kamu bersih-bersih dulu gih!"


๐€๐ฌ๐ค๐š ๐ง๐ฎ๐ซ๐ฎ๐ญ, ia ke kamarnya untuk bersih-bersih dan kembali setelahnya. Entah ada apa dengan Aska? tidak biasanya ia seperti itu.


..


Pagi hari aku berangkat ke Kafe seperti biasa. Tak aku sangka di depan pintu kafe sudah ada Buk Fatimah ibunya Rio. Untuk apa dia kemari? setelah sekian lama pertemuan kami saat aku kecelakaan waktu itu, pikirku. Apalagi pagi-pagi sekali belian sudah ada di sini.


Aku keluar dari taksi yg aku tumpangi dan menghampiri beliau.


"Assalamualaikum, Buk"


"๐–๐š๐š๐ฅ๐š๐ข๐ค๐ฎ๐ฆ๐ฌ๐š๐ฅ๐š๐ฆ ๐ฐ๐š๐ซ๐จ๐ก๐ฆ๐š๐ญ๐ฎ๐ฅ๐ฅ๐จ๐ก๐ข ๐ฐ๐š๐›๐š๐ซ๐จ๐ค๐š๐ญ๐ฎ๐ก"


Duduk berdua di ruangan ku. Entah kenapa? Hal yang biasa kami lakukan saat bertemu. Semisal bertegur sapa, bertanya kabar kini tak terjadi. justru hanya kecanggungan yang terjadi diantara kami.


Aku mulai bertanya dengan menanyakan kabar beliau. Untuk mencairkan suasana yang mula terasa canggung semoga saja mencair.


"Apa kabar Bu?." Tanyaku.


Bu Fatimah menjawab jika dia baik-baik saja beliau juga menanyakan kabarku balik.


Keheningan kembali menyelimutiku dan Bu Fatimah. Hingga akhirnya Bu Fatimah menangis tiba-tiba aku mengerutkan kening bingung dengan kenapa Bupati mah tiba-tiba saja menangis..


"Saya minta maaf Putri. Saya benar-benar minta maaf atas ketidak senonoh yang dilakukan Rio kepada kamu."


Aku menghela nafas sudah terlalu lelah jika aku membahas hal yang sama lagi. Aku tak ingin membahas lagi hal yang sudah berusaha aku lupakan meskipun sebenarnya sulit untuk dilupakan.


Akuu menengadahkan kepalaku menatap langit-langit kantorku.


"Tidak apa-apa buk, semuanya sudah berlalu saya sudah melupakan." bohong Adelia.

__ADS_1


Tentu saja Adelia tidak mungkin melupakan kejadian itu kejadian di mana kehormatannya direnggut oleh laki-laki bernama Rio, putra dari ibu paruh baya yang bernama Bu Fatimah, yang sekarang duduk di hadapannya dan meminta maaf atas kesalahan putranya.


Bu Fatimah menatap wajah Adelia. Ia tidak menyangka dengan jawaban Adelia.


heran saja kenapa Adelia tidak marah padanya padahal kan anaknya telah merenggut kehormatan Adelia. selembut itukah hati Adelia?.


bukan lembut sebenarnya Tapi Adelia hanya tidak ingin masa lalunya dibahas lagi. Ia ingin berdamai dengan masa lalu, ia tidak ingin terus mengingat-ngingat masa lalu. Ia m hanya ingin membuang noda di masa lalu dan memulai hidup baru dengan pewangi dan sabun baru sebagai penguat imannya untuk penghapus noda masa lalu yang teramat banyak hingga disebut dosa yang terlalu kotor.


"Kamu, kamu sudah mau maafkan ibu nak."


"Untuk apa saya maafkan ibu, jika ibu bahkan tidak bersalah kepada saya tapi."


"Bukan begitu nak. Tapi ibu, tapi Rio anak ibu begitupun juga dengan ibu tidak bisa mendidik Rio dengan baik, hingga kamu jadi korban Rio."


"Saya hanya ingin berdamai dengan masa lalu, melupakan masa lalu meskipun sebenarnya sulit. saya sekarang hanya ingin Istiqomah dijalan Allah. Berusaha memaafkan kan apa yang Rio lakukan pada saya. walaupun itu berat."


Bupati mah semakin menangis mendengar ungkapan hati Adelia dengan air mata yang tak kunjung surut ia menatap sendu wajah ayu Adelia.


kenapa ada wanita selembut Adelia.


tidakkah Adelia merasa dendam pada Rio


tidakkah Adelia ingin membalas perbuatan Rio


atau tidak adil dia ingin meminta hak Aska dari Rio


"Ibu akan memberikan kan warisan hak Rio untuk Aska." ucap Bupati mah dengan manik yang syahdu


sok ya Adelia sok


Untuk apa Harta, jika bahkan ia masih bisa hidup dengan layak bersama keluarga dan anaknya.


pikir Adelia.


Bahkan jika pun benar Bu Fatimah memberikan harta milik Rio untuk Aska itu bukan hak Aska Rio hanya ayah biologis Aska tidak sebaliknya jika Aska menerima pemberian Rio, Aska tak berhak sedikitpun dalam menerima harta Rio.


"Tidak perlu Bu saya dan Aska sudah cukup dalam hal ekonomi. Lagipula Aska tidak berhak menerima sepeserpun harta dari ayah biologisnya."

__ADS_1


__ADS_2