
Sudah satu minggu Adelia menjadi asisten abizard, satu minggu pula adelia harus ikut kemanapun abizard pergi saat jam kantor. Beruntung ayah adelia yang baik hati menerapkan poin of sales (POS) yang di terapkan adelio di bagian kasir, lebih memudahkan adelia memantau kafe secara spesifik tanpa hadir di sana. Semua laporan penjualan, ketersedian barang dan menu yang menjadi bintang di setiap bulannya akan tertera di layar ponsel yang memang sudah terintegrasi dengan POS. CCTV yang terhubung dengan ponsel adelia, memudahkan adelia pemantau kafenya dari jauh. Adelia juga tidak mempermasalahkan pertemuannya tempo hari dengan keluarga abizard yang salah paham padanya, mungkin abizard sudah menjelaskan pada orang tuanya jika mereka tidak ada hubungan apa-apa selain asisten dan atasan sementara, karena adelia belum bertemu lagi dengan orang tua abizard.
Menjadi asisten direktur utama seperti abizard membuat adelia yang tidak tau apa-apa selalu kena omel, yang kadang membuat adelia menggrutu dalam hati.
"udah tau aku cuma lulusan smp, mana tau aku pekerjaan jadi asisten direktur masih ajah nyuruh." tapi terkadang adelia juga menasehati dirinya sendiri setelah selesai mengerutu abizard.
"sabar adelia. sabar, orang sabar di sayang tuhan. bersyukur keadan kafe sekarang baik-baik saja. Yang penting bunda sama ayah gak kecewa lagi, dan aska masih bisa jajan. Tapi kalo menghadapi bos seperti abizard tiap hari bisa rontok juga nih rambut."
Adelia masuk keruangan abizard abizard sembari membawa buku harian berisikan jadwal janji temu abizard dengan klien hari ini. Tapi tiba-tiba ponsel nya berdering di saat ia sudah masuk ke ruangan abizard. Abizard yang sedang memeriksa berkas, menoleh pada adelia karena merasa terganggu dengan suara ponsel adelia.
"Maaf pak saya angkat telpon dulu boleh?." Adelia merasa malu di tatap sedemikian insten oleh abizard.
Abizard menghela napas kasar, untuk kesekian kalinya adelia membuat kesalahan dalam bekerja. Kalo saja abizard tidak ingin lebih dekat mengenal adelia, mana mau ia memperkerjakan adelia yang tidak tau apa-apa soal bekerja di perusahan.
__ADS_1
"Yaudah angkat ajah." Adelia tersenyum mendengar ijin dari abizard.
"Terimakasih pak." ia lantas berbalik le arah pintu berniat meninggalkan ruangan abizard.
"et... tapi angkatnya di sini ajah." Adelia menghentikan langkah nya dan menghela napas kasar mendengar nada perintah abikar.ia berbalik kembali menghadap abizard dan tersenyum manis yang terkesan di paksakan.
"Baik pak." Abizard tersenyum puas melihat adelia yang selalu menurut padanya, dan tersenyum yang terlihat terpaksa saat menuruti perintahnya.
"Assalamualaikum pak ada apa?..tumben telpon saya.?"
"(.......................)"
"apa pak?. emang anak saya berbuat apa pak."
__ADS_1
Deg
"anak" abizard syok mendengar kata 'anak saya' dari adelia. Ia kira wanita yang sedang ia dekati belum menikah. Jadi selama ini ia mencoba mendwkati adelia ituh sia-sia.
Ia telah memdekati istri orang dan berniat menghancurkan rumah tangga orang.
"Pak. Apa boleh saya keluar sebentar.?"..
Abizard tidak menjawab. ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
" Pak, apa saya boleh keluar?." Sekali lagi adi bertanya pada abizard yang sedang melamun itu. Abizard tersetak kaget mendengar adelia yang bertaya sedikik keras, karena tak kunjung mendapat jawaban adi abizard.
Abizard berusaha menormalkan detak jantungnya, meresam rasa kecewnya. Ia akan mencari tahu terlebih dahulu, wanita yang sedang di dekatinya bersuami atau janda?. Kalo adelia janda, berarti ia punya kesempatan untuk mendekatinya. Tapi kalo adelia bersuami, berarti ia akan berusaha untuk melupakan cinta pertamanya itu.
__ADS_1