
Aku mengajak Bu Fatimah masuk ke ruanganku.
Duduk berdua di ruangan ku. Entah kenapa? Hal yang biasa kami lakukan saat bertemu. Semisal bertegur sapa, bertanya kabar kini tak terjadi. justru hanya kecanggungan yang terjadi diantara kami.
Aku mulai bertanya dengan menanyakan kabar beliau. Untuk mencairkan suasana yang mula terasa canggung semoga saja mencair.
"Apa kabar Bu?." Tanyaku.
Bu Fatimah menjawab jika dia baik-baik saja beliau juga menanyakan kabarku balik.
Keheningan kembali menyelimutiku dan Bu Fatimah. Hingga akhirnya Bu Fatimah menangis tiba-tiba aku mengerutkan kening bingung dengan kenapa Bupati mah tiba-tiba saja menangis..
"Saya minta maaf Putri. Saya benar-benar minta maaf atas ketidak senonoh yang dilakukan Rio kepada kamu."
Aku menghela nafas sudah terlalu lelah jika aku membahas hal yang sama lagi. Aku tak ingin membahas lagi hal yang sudah berusaha aku lupakan meskipun sebenarnya sulit untuk dilupakan.
Akuu menengadahkan kepalaku menatap langit-langit kantorku.
__ADS_1
"Tidak apa-apa buk, semuanya sudah berlalu saya sudah melupakan." bohong Adelia.
Tentu saja Adelia tidak mungkin melupakan kejadian itu kejadian di mana kehormatannya direnggut oleh laki-laki bernama Rio, putra dari ibu paruh baya yang bernama Bu Fatimah, yang sekarang duduk di hadapannya dan meminta maaf atas kesalahan putranya.
Bu Fatimah menatap wajah Adelia. Ia tidak menyangka dengan jawaban Adelia.
heran saja kenapa Adelia tidak marah padanya padahal kan anaknya telah merenggut kehormatan Adelia. selembut itukah hati Adelia?.
bukan lembut sebenarnya Tapi Adelia hanya tidak ingin masa lalunya dibahas lagi. Ia ingin berdamai dengan masa lalu, ia tidak ingin terus mengingat-ngingat masa lalu. Ia m hanya ingin membuang noda di masa lalu dan memulai hidup baru dengan pewangi dan sabun baru sebagai penguat imannya untuk penghapus noda masa lalu yang teramat banyak hingga disebut dosa yang terlalu kotor.
"Kamu, kamu sudah mau maafkan ibu nak."
"Bukan begitu nak. Tapi ibu, tapi Rio anak ibu begitupun juga dengan ibu tidak bisa mendidik Rio dengan baik, hingga kamu jadi korban Rio."
"Saya hanya ingin berdamai dengan masa lalu, melupakan masa lalu meskipun sebenarnya sulit. saya sekarang hanya ingin Istiqomah dijalan Allah. Berusaha memaafkan kan apa yang Rio lakukan pada saya. walaupun itu berat."
Bupati mah semakin menangis mendengar ungkapan hati Adelia dengan air mata yang tak kunjung surut ia menatap sendu wajah ayu Adelia.
__ADS_1
kenapa ada wanita selembut Adelia.
tidakkah Adelia merasa dendam pada Rio
tidakkah Adelia ingin membalas perbuatan Rio
atau tidak adil dia ingin meminta hak Aska dari Rio
"Ibu akan memberikan kan warisan hak Rio untuk Aska." ucap Bupati mah dengan manik yang syahdu
sok ya Adelia sok
Untuk apa Harta, jika bahkan ia masih bisa hidup dengan layak bersama keluarga dan anaknya.
pikir Adelia.
Bahkan jika pun benar Bu Fatimah memberikan harta milik Rio untuk Aska itu bukan hak Aska Rio hanya ayah biologis Aska tidak sebaliknya jika Aska menerima pemberian Rio, Aska tak berhak sedikitpun dalam menerima harta Rio.
__ADS_1
"Tidak perlu Bu saya dan Aska sudah cukup dalam hal ekonomi. Lagipula Aska tidak berhak menerima sepeserpun harta dari ayah biologisnya."