
Pagi-pagi sekali adelia sudah ada di kantor rahendra corp. Ia lantas masuk dan bertanya pada resepsionis.
"Permisi mbak saya ingin bertemu dengan bapak abizard." ucap adelia pada resepsionis ber tag nama devi yang awalnya ramah dengan senyumnya kini terlihat judes.Terlihat dari wajahnya yang awal kedatangannya ia tersenyum kini terlihat datar. Adelia tidak peduli dengan perubahan sikap resepsionis itu, adelia yang awalnya membalas senyum resepsionis itu pun bersikap sama datarnya seperti yang resepsionis itu lakukan padanya. Terbiasa hidup dengan gunjingan orang membuat adelia bisa menyesuaikan diri bagaimana bersikap dengan orang baik, maka ia juga akan baik. dengan orang kurang suka padanya maka ia akan bersikap cuek.
"sudah ada janji mbak?." Adelia bingung sendiri dengan pertanyaan resepsionis itu. Kemarin abizard hanya memberikan nya kartu nama dan menyuruhnya datang pagi ke kantornya. Tapi ia tidak menjawab akan datang atau tidak, karena laki-laki itu sudah terlanjur pergi kemarin. Adelia menghela napas. Ternyata bertemu dengan bos harus membuat janji dulu.
"belum."kata adelia pelan.
" kalo belum membuat janji. Mbak bisa membuat janji dulu, dan kembali setelah membuat janji."ucap resepsionis itu yang tersenyum kembali, entah ada apa dengan resepsionis itu kadang senyum kadang jutek.
"Tapi pak abizard kemarin menyuruh saya Pagi-pagi datang ke kantornya."
Resepsionis itu menghembuskan napas kasar mendengar ucapan adelia, ia lantas mengambil telpon kantor dan menelepon seseorang.
"Halo pak ada yang ingin bertemu dengan bapak." ucap resepsionis itu dengan suara yang terdengar di lembut-lembutkan di telinga adelia, setelah sambungan telpon nya terhubung dengan orang di sebrang sana, entah siapa adelia tidak terlalu peduli.
"(............)"
"nama mbak siapa?." tanya resepsionis itu pada adelia yang sedang melihat sekeliling kantor.
"Adelia."
"Adelia pak."
"(.................)"
"baik pak."
"maaf mbak." adelia yang sedari tadi maniknya melihat isi kantor dan para karyawan berlalu lalang menoleh pada resepsionis itu.
"iya."
"mbak sudah di tunggu oleh pak abizard di lantai tiga belas."
"tiga belas."
"iya mbak. Mari mbak saya antar. Rin aku antar mbak ini dulu ya ke atas kamu gantiin aku sebentar." ucap resepsionis itu pada temannya yang juga ada di sebelah resepsionis itu sedari tadi.
"ok mbak."
__ADS_1
"mari mbak." Adelia mengikuti langkah resepsionis itu menuju lif.
Ini kali pertama adelia naik lif. Ia kira rasanya naik lif itu seperti naik bianglala, tapi Ternyata tidak, Lebih seru bianglala tapi jelas lebih nyaman naik lif. Tinggal di kampung membuat adelia agak takut saat naik lif. Tapi, ia mencoba untuk tetep tenang. Kan tengsin jika ketaun ini pertama kali ia naik lif di depan resepsionis judes itu.
Sampai di depan pintu yang tercantum nama pemilik ruangan. Resepsionis itu mengetuk pintu. Sampai ada yang menyuruh masuk dari dalam.
"permisi pak. Saya mengantar tamu bapak." ucap resepsionis itu dengan senyumnya ia menatap abizard yang duduk di kursi kerjanya.
"Terimakasih mbak devi. silahkan anda boleh kembali."
"i.iya pak." ucap devi tergagap. ia tersipu saat mendengar suara abizard, dan entah kenapa itu membuat adelia jengah. Tadi ia di jutekin sekarang ia melihat resepsionis itu tersenyum-senyum sembari tersipu malu saat bicara dengan abizard.
Setelah resepsionis itu pergi adelia di persilahkan duduk oleh abizard di kursi yang ada di depannya.
"Jadi saya bisa bantu apa pak?."ucap adelia tampa basa basi, setelah ia duduk di depan laki-laki bernama lengkap abizard rahendra itu.
" kok kamu gak basa basi dulu sih sama saya?."
"sok akrab banget pangil kamu ke saya." fikir adelia.
"Saya harus basa basi seperti apa pak?."
"gapain" fikir adelia
Adelia merasa jengah dengan laki-laki yang ada di depannya ini, palagi melihat senyum anehnya. Tapi adelia tetap menurut karena takut membuat laki-laki yang ada di depannya ini kesal, syukur-syukur kalo ia hanya minta ganti rugi gimana kalo Seandainya ia malah menuntut kafe orang tuanya. Adelia tidak ingin mengecewakan orang tuanya lagi, setelah dulu ia mengecewakan mereka karena masalah ini.
"bapak apa kabar?."
"tapi sekarang udah telat. Kamu usah lihat sendiri keadaan saya."
Adelia menelan salvina dengan susah payah, mendengar jawaban laki-laki yang tengah tersenyum puas di depannya itu.
"bikin dongkol nih cowo" fikir adelia.
Adelia mencoba tetap tenang dan tersenyum dengan sangat manis, Meskipun hatibya dingkol setengh mati menghadapi laki-laki bernama abizard ini.
"jadi apa yang bisa saya bantu pak."
"Kamu lulusan universitas mana?."
__ADS_1
"saya hanya lulusan SMP pak."
"Smp?." ujar abizard syok. Ia kira wanita yang dulu sering ia liat dari kejauhan ini menyelesaikan sekolah nya, karena dulu ia dan adelia, sama-sama sekolah di sekolah elit.
"iya."
"kenapa tidak melanjutkan sekolah?." Adelia menundukan Kepalanya. Sungguh ia juga ingin melanjutkan sekolah dulu, jika saja kejadian buruk yang menimpanya di masa lalu tidak terjadi. Mungkin sekarang ia sudah bekerja dengan layak. Tapi, nasi sudah menjadi bubur, tidak akan kbali seperti semula, semua sudah terlanjur.
Hening. setelah beberapa saat Adelia tak kunjung menjawab pertanyaan abizard.
"Tidak masalah kamu tidak perlu menjawab. Saya tau kehidupan remaja dulu, kadang remaja ada yang semangat ingin melanjutkan sekolahnya kadang ada juga yang tidak ingin melanjutkan sekolahnya. Tapi semua itu bisa kita rasakan sekarang saat kita dewasa. Saat kita membutuhkan pengetahuan."
Adelia merasa tertampar dengan ucapan abizard. Benar sekarang ia membutukan pengetahuan. Mengelola kafe saja ia harus di ajari dulu ibunya sampai seminggu. Seandainya, Seandainya dulu ia tidak ikut dengan teman-temannya. Seandainya ia dulu tidak berbohong pada ibunya. Kata Seandainya terus-menerus mampir di benak adelia. Seandainya penyesalan tidak datang terlambat mungkin semua tidak akan seperti ini. Tapi meskipun penyesalan selalu menggrogoti hati. Tapi adelia tidak pernah menyesali kehadiran putranya, Meskipun awalnya kehadiran putranya tidak di harapkan.
Adelia masih saja diam mendengar kata demi kata yang di ucapkan abizard.
"Jadi jika kamu hanya lulusan SMP jadi kamu tidak bisa membantu saya." Adelia mengangguk.
"hm gimana kalo kamu jadi asisten pribadi saya selama satu bulan."
"hah asisten."
"iya."
"saya tidak mau."
"kenapa?."
Adelia diam bingung harus jawab apa.
"Kamu tau kecelakaan kemarin membuat saya di marahi atasan saya. Saya semalaman lembur karena fail yang rusak kemarin akan di gunakan untuk meeting hari ini. Jadi kamu harus bertanggung jawab atas kelalaian pegawai kamu. Saya harap kamu mau mempertanggung jawabkannya. Jika tidak saya akan tuntut kafe tempat kamu bekerja itu."
Deg
Adelia tertegun mendengar kata tuntut dari abizard. Tidak itu tidak boleh terjadi. Tidak mungkin ia mengecewakan orang tuanya lagi untuk kesekian kali.
Dengan ragu Adelia mengangguk saja.
abizard yang melihat itu tersenyum puas. Berbagai rencana sudah tersusun rapi di kepalanya, agar bisa lebih dekat dengan wanitanya itu. Wanitanya, pantaskan ia menyebut Adelia wanitanya. Sekian tahun ia mencari wanita yang ada di depannya ini. Tapi ia tak kunjung bertemu.
__ADS_1
Ternyata tuhan mempetemukan dengan caranya sendiri setelah penantiannya sekian lama. Sungguh hatinya bahagia saat ini, bertemu kembali dengan cinta pertamanya.