
Sampai rumah sakit semua, bunda karin yang ternyata bunda nya adelia hanya menangis di pelukan suaminya ayah Adelio, 16 tahun tak bertemu putrinya, dan ketika bertemu, keadaan putrinya tak baik-baik saja membuatnya syok, begitupun juga ayah Adelio yang hanya menyesali keputusannya dulu, mengusir anaknya tanpa mendengar penjelasan anaknya.
Aska duduk di lantai dekat pintu IGD menunggu dokter keluar dan memberinya penjelasan, bagaimana keadaan ibunya. Tak peduli dengan luka dan darah yang ada di bajunya, yang dia pikirkan hanya keadaan ibunya.
Rio yang juga ada di sana dengan ibunya berusaha membujuk Aska untuk mengobati lukanya, tapi Aska bahkan enggan bicara dengan Rio.
Dokter keluar dari ruang IGD semua yang menunggu di luar mendekat ke arah dokter.
"bagaimana keadaan ibu saya dok "tanya Aska.
" ibu Adel tidak apa-apa, sebentar lagi juga sadar. hanya saja pasien mengalami cedera ringan di kepala dan retak tulang di bagian tangan dan kaki mungkin ibu Adek harus di rawat inap beberapa hari di sini "ucap dokter wanita yang menangani ibunya.
Aska diam mendengar penjelasan dokter, jika ibunya di rawat beberapa hari di rumah sakit, pasti perlu biaya yang banyak untuk perawatan ibunya, dan besok hari pertama nya sekolah, mungkin besok dia tidak usah sekolah, lebih baik dia cari kerja, apa saja yang penting halal untuk membantu biaya rumah sakit ibunya, Aska tak mau kehilangan ibunya, lebih baik Aska kehilangan cita-cita nya, daripada kehilangan ibunya, fikir Aska.
"lakukan yang terbaik untuk anak saya dok"ucap ayah Adelio,
"baik pak, bapak bisa lakukan administrasinya, dan memilih kamar rawat inap yang bapak inginkan"ucap dokter.
"baik dok, em dok"Adelio melihat ke arah Aska yang juga sedang menatapnya.
"""Iya ada lagi yang bisa saya bantu?""
"tolong obati juga cucu saya ya"Adelio melihat ke arah dokter kembali.
Aska melihat ke arah Adelio dengan mata yang kembali berkaca-kaca, seraya mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
"terima kasih "ucap nya.
Adelio mendekat kearah Aska dan memeluk Aska.
" maafkan kakek nak, maaf kakek yang tidak ada di saat-saat tersulit kalian "ucap Adelio.
Bunda karin ibunya adelia pun mendekat ke arah suami dan cucunya yang sedang bepelukan dia juga ikut bergabung memeluk suami dan cucunya yang baru ia ketahui itu.
Rio dan ibunya terharu melihat keluarga itu, ibu Fatimah mengajak anaknya pulang, tapi Rio tidak mau, karena Rio ingin melihat adelia, dan memastikan jika Aska sudah di obati.
"Ada hubungan apa kamu dan nak Putri hingga kamu kekeh ingin ada di sini"tanya bu Fatimah.
"karena Aska adalah anakku bu"ucap Rio, sambil menunduk.
"Apa"bu Fatimah terkejut mendengar penuturan putranya, Adelio yang mendengar itu melihat ke arah Rio dan mengepal kan tangan nya menahan amarah.
Bu Fatimah menangis tersedu mendengar pernyataan Rio, Bu Fatimah tak menyangka anak nya yang selalu ia banggakan, telah merusak anak gadis orang.
M*******a, dengan tega nya kamu merusak anak gadis orang, tampa bertanggung jawab, apa karena itu kamu belum menikah sampai saat ini "fikir bu Fatimah.
Adelio yang mendengar kata m********a dari mulut Rio, mendekat ke arah Rio, adelio mencengkam keras baju Rio.
" brengsek " ia membujuk pipi kiri Rio.
" kamu tau, akibat apa yang kamu lakukan pada putri saya" Adelio kembali memukul pipi kiri Rio, sementara tangan kanannya memegang kerah kemeja yang Rio kenakan.
__ADS_1
"dia hamil di saat usia nya harusnya masih belajar dan bermain " Lagi-lagi Adelio memukul wajah Rio.
" bahkan dengan tega nya saya mengusir
Putri saya di saat keadaannya sedang berbadan dua" Terus saja Adelio memukul Rio.
"saya mencari kemana putri saya pergi, tapi tidak di temukan juga, saya tidak tau dimana putri saya tinggal, apakah putri makan atau tidak di luaran sana" lagi-lagi Adelio memukul pipi kiri Rio.
"dan setelah saya menemukan anak saya, saya harus melihat dia sekarat karena lari dari kamu".
Rio hanya pasrah menerima pukulan ayah nya Adelia, seandainya dulu iya dapat menahan nafsunya, mungkin semua takkan seperti ini, Adelia mungkin tak akan mengalami hal sulit ini, Adelia pasti tinggal dengan orang tuanya, menggapai cita-cita nya, dan menikah dengan orang yang dia cintai, begitupun dengan Rio yang tidak akan diliputi rasa bersalah pada Adelia sampai sekarang, hingga membuatnya, menyandang gelar jomblo bertahun-tahun.
Bu Fatimah menangis histeris melihat putranya babak belur di pukuli ayah Adelia, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena memang putranya yang bersalah di sini.
Bunda karin berusaha menarik suaminya agar berhenti memukuli Rio lagi, apalagi ini di rumah sakit.
Sedangkan Aska sudah di bawa dokter untuk di obati lukanya."Ayah udah, ini dirumah sakit gak enak di liatin orang."
Adelio berhenti memukuli Rio yang sudah babak belur, setelah mendengar suara lembut istrinya.
Adelio menunjuk wajah Rio.
" ingat, jangan pernah muncul lagi di hadapan keluarga saya, apalagi di depan anak dan cucu saya. "ucap Adelio dengan penuh penekanan. Ia berlalu pergi untuk mengurus administrasi Adelia dan cucunya meninggalkan Rio yang sekarang jadi sasaran kemarahan ibunya.
"ibu tak pernah menyangka putra yang ibu dan ayah bangga kan, ternyata bisa berbuat hal tidak senonoh pada seorang gadis, hingga gadis itu hamil, melahirkan, membesarkan anaknya tanpa keluarga, entah bagaimana sulit nya kehidupan Putri hidup jauh dari orang tua, tampa suami, berjuang sendiri membesarkan anaknya di usia muda "ucap bu Fatimah, sambil berlalu pergi.
__ADS_1
Meninggalkan Rio yang hanya diam memegang wajahnya yang sakit, menyesali perbuatannya dulu. Seandainya, seandainya, dan seandainya. Yang selalu ada di benak Rio anggara