STAZ SI VAMPIR

STAZ SI VAMPIR
CHAPTER 24


__ADS_3

...***...


Pada saat itu Staz diancam Bell, sungguh rasanya sangat tidak menyenangkan sama sekali.


"Jika kau ingin dia baik-baik saja maka dengarkan apa yang aku katakan." Setidaknya seperti itulah yang keluar dari mulutnya itu.


"Jangan bercanda kau ya?." Staz pada saat itu terlihat sangat besar sekali. "Jika kau berani menyakitinya maka aku akan membunuhmu." Staz sama sekali tidak suka jika ada seseorang yang mengganggu dirinya.


Namun pada saat itu akhirnya ia menuruti apa yang dikatakan oleh Bell. Saat ini berjalan di lorong yang gelap?.


"Turunin lah tangga itu, dan ambilkan barang yang ada di sana." Tanpa perasaan Bell berkata seperti itu.


"Apakah yang berada di sana?." Staz terpaksa mengikuti perintah Bell. Tentunya itu semua demi Yanagi Fuyumi?. Apakah memang seperti itu yang terjadi?.


"Ya begitulah. Kau akan mengerti nantinya." Balas Bell.


Sepertinya Staz memasuki lorong dimensi yang sangat aneh yang sangat mencuriga dan baginya. Sementara itu, Bell malah tertawa ketika melihat Staz yang menuruti apa yang ia inginkan pada saat itu. Pada saat itu mereka telah kembali ke kamar Yanagi Fuyumi.


"Dia langsung diam terpaku dan terpana?!. Ternyata menjadikanmu sebagai saudara memang pilihan yang sangat tepat." Ucapnya sambil tertawa puas.

__ADS_1


"Kenapa kau melakukan itu padanya?!." Yanagi Fuyumi terlihat sedikit kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh Bell.


"Apakah kau benar-benar ingin mengetahuinya?." Bell menghentikan tawanya. "Biar aku beritahu satu hal penting padamu." Ucapnya dengan santainya. Saat itu ia duduk di atas tempat tidur, sedangkan Yanagi Fuyumi duduk bersimpuh di bawahnya. "Kali ini akan menjadi hal rahasia bagi wanita seperti kita." Entah kenapa raut wajahnya pada saat itu terlihat sangat senang sekali.


Yanagi Fuyumi hanya diam saja dengan apa yang aku dilakukan oleh Bell. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kita lakukan oleh Bell yang ternyata memiliki kekuatan sihir yang sangat aneh. Pada saat itu ia mengarahkan kekuatannya ke tirai hitam miliknya itu. Saat setelah ia mengarahkan kekuatannya, Bell malah terlihat kelelahan?.


"Apa yang sebenarnya kamu ketahui?." Yanagi Fuyumi masih duduk di tempatnya. Tetapi karena penasaran yang menyelimuti dirinya tentunya ia bertanya seperti itu. Akan tetapi pada saat itu Bell belum memberikan jawaban apapun dari pertanyaan yang diajukan oleh Yanagi Fuyumi.


Sementara itu, Staz telah berhasil memasuki sebuah tempat yang sangat aneh. Tempat ya sama sekali tidak pernah ia kunjungi selama ini?. Tempat itu terlihat seperti sebuah toko pakaian. "Tempat apa ini?." Dan Staz masih menanyakan tempat-tempat itu meskipun ia melihat sekelilingnya adalah pakaian yang disusun dengan sangat rapi?.


"Apakah anda pertama kalinya mengunjungi tempat ini?." Dengan sangat ramah seorang penjaga toko bertanya seperti itu. Ia adalah seorang laki-laki yang terlihat berbadan besar. Akan tetapi wajahnya tidak seseram dengan kondisi tubuhnya. "Jika bisa ke tempat ini, berarti anda adalah iblis, bukan?." Ia malah mengambil kesimpulan ketika melihat Staz?.


"Iblis katamu?." Staz sedikit bingung dengan ucapan itu. "Tapi ingin di dunia manusia." Staz masih ingat, jika saat itu ia berada di rumah Yanagi Fuyumi. Staz mendekati penjaga toko itu, supaya ia bisa mengobrol lebih dekat lagi dengan penjaga toko itu.


"Aku datang ke sini untuk mencari barang yang ada di sini." Staz sepertinya menceritakan apa tujuannya datang ke sana.


"Walah, pelanggan yang apa itu?." Penjaga toko itu mulai tampak serius ketika mendengarkan ucapan Staz. "Kenapa anda tidak bilang lebih cepat?." Sepertinya penjaga toko itu memahami apa tujuan kedatangan dari Staz. Setelah berkata seperti itu iya menunjukkan sebuah ruangan pada Staz?. "Silakan lewat sini." Ia mempersilahkan Staz mengikuti dirinya. "Yang anda inginkan pastinya-." Namun matanya pada saat itu tidak lepas dari Staz. Ia mengamati Staz melalui sudut matanya seakan-akan iya sedang meneliti apa yang sebenarnya disembunyikan oleh pemuda vampir itu. "Bu-kan-kah i-ni?." Pada saat itu ia menunjukkan sesuatu pada Staz.


"He?!. Eh?!." Staz sangat terkejut.

__ADS_1


Namun apakah yang dilihat olehnya pada saat itu?. Simak terus ceritanya.


Kembali pada Bell yang saat itu menjawab pertanyaan dari Yanagi Fuyumi. "Asal kau tahu saja." Ucapnya sambil menerawang jauh, seakan-akan tangannya sudah menggapai sesuatu?. Tidak, saat itu ia sedang menggapai tirai hitam yang ada di depannya saat itu. "Bukan aku yang menaruh Tiara ini di sini." Sepertinya ia masih belum terima, siapa yang telah mengambil tirainya itu dan menaruhnya sembarangan. "Pasti orang yang mencuri tirai hitam itu dari." Ia masih berkesimpulan bahwa ada seseorang yang telah mengambil tirai hitam itu darinya ketika ia sedang lengah pada saat itu. "Jadi, bukan aku yang menaruhnya di sana." Ia masih ingat dengan jelas apa yang telah ia lakukan pada saat itu.


"Jadi, siapa yang telah melakukan itu?." Yanagi Fuyumi juga merasa penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Aku pun juga masih mencarinya. Mencari siapa pelaku yang telah mengambil tirai hitam itu dariku." Ucapnya dengan perasaan yang sangat bergemuruh. "Aku ingin tahu, siapa yang dengan mudahnya mempermainkan sihirku seperti ini?." Ada perasaan yang tidak suka yang ia tunjukkan pada saat itu.


"Seandainya kau telah menemukan orangnya?. Apa yang akan kau lakukan padanya?." Yanagi Fuyumi kembali mengajukan sebuah pertanyaan pada Bell.


"Itu sudah jelas, bukan?." Dengan tatapan yang sangat serius ia berkata seperti itu. "Jika dia memang menaklukkan tirai di bawah sihirku dengan mudah. Ia pasti memiliki kekuatan sihir super luar biasa. Dan jika memang itu benar, maka yang akan aku lakukan ketika aku menemukannya." Raut wajahnya pada saat itu terlihat sangat serius.


Yanagi Fuyumi hanya menyimak dengan apa yang dikatakan oleh Bell. Ia belum bisa menanggapi apa yang dikatakan oleh Bell pada saat itu. Apalagi ketika Bell tiba-tiba saja terlihat sedang tersenyum lebar dengan pose pis?. "Dia akan aku jadikan suamiku yang tersayang." Dengan penuh perasaan cinta ia berkata seperti itu?.


"Suami?." Yanagi Fuyumi sangat terkejut dengan apa yang ia dengar pada saat itu.


"Ya, aku akan menjadikannya sebagai suamiku." Dengan penuh percaya diri ia berkata seperti itu.


"Aku rasa kau harus memikirkan itu lagi." Dalam hati Yanagi Fuyumi merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh Bell saat itu.

__ADS_1


Tapi apakah memang seperti itu yang ia inginkan?. Benarkah ucapannya saat itu?. Simak terus ceritanya. Next halaman.


...**...


__ADS_2