
...***...
Saat itu Staz sedang duduk bersama Wolf yang terlihat sangat santai. Karena mereka saat itu sedang berbincang-bincang setelah sekian lama tidak bertemu.
"Kau masih hidup ternyata. Bagaimana ceritanya kau bisa hidup?. Lalu bagaimana dengan gadis itu?." Begitu banyak pertanyaan yang keluar dari mulutnya saat itu.
"Aku tidak menduga, jika kau ternyata sangat cerewet sekali." Balas Staz dengan ramahnya, namun sangat menusuk hati.
"Diam kau vampir tidak berguna!." Wolf yang kesal melempari roti yang ia makan tadi.
"OPS!." Dengan sangat santainya Staz menangkap roti itu dan memakannya. "Baiklah, akan aku katakan padamu jika kau memaksanya." Staz hanya cengengesan saja.
"Kau ini sangat menyebalkan sekali." Gerutu Wolf dengan kesalnya.
Saat itu hanya keduanya saja yang berada di ruangan khusus itu, sehingga tidak ada yang menganggu keduanya untuk berbicara.
Kembali ke masa itu.
Namun saat itu Staz sedang memainkan sebuah game yang yang sangat menyebalkan. "Ah!. Sial!. Terkutuk lah kau game yang memiliki kata sandi!." Dengan kesalnya ia hampir saja membanting game itu jika ia tidak ingat game itu dengan susah payahnya ia dapatkan. "Oh, sayang, jangan dibanting." Ia berusaha untuk menahan amarahnya.
"Selamat siang staz-san. Sepertinya kau sangat menikmati harimu." Kelalawar kecil yang entah dari mana datang menyapa dirinya.
"Oh, selamat siang chibi." Balas Staz dengan senyuman ramah.
"Sepertinya ruangan-mu semakin banyak dipenuhi dengan barang buatan manusia ya?." Chibi Kelalawar memperhatikan ruangannya.
"Aku sangat suka dengan buatan manusia. Terutama yang berasal dari jepang. Dan aku sangat tertarik dengan kebudayaan jepang." Matanya menangkap semua barang miliknya yang berada di ruangannya itu.
"Tapi bagaimana bisa kau mendapatkan ini semua?." Chibi Kelalawar mendarat di pundak Staz.
"Aku mendapatkannya melalui kurir." Jawab Staz.
"Kurir?. Aku baru dengar itu." Chibi Kelalawar bingung. "Tapi kenapa kau tidak datang ke manusia saja?." Chibi Kelalawar begitu sangat penasaran.
"Aku tidak perlu pergi ke dunia manusia, apalagi aku ini vampir. Jika aku ke dunia manusia nanti mereka semua punah, karena aku adalah vampir." Jawab Staz sambil memainkan game itu?.
"Apakah kau takut?. Jika mereka akan punah, maka kau tidak bisa lagi mendapatkan barang? Ciptaan manusia?." Mungkin Chibi Kelalawar berpikiran seperti itu.
"Ya!. Karena itulah aku tidak berpikir untuk pergi ke dunia manusia, untuk menghisap darah mereka." Entah itu suatu kebanggaan atau apa, ia hanya ingin mengeluarkan apa yang ia rasakan.
__ADS_1
"Tapi jika staz-san tidak berada di dunia manusia?. Lalu kau berada dimana?." Chibi Kelalawar semakin penasaran dengan itu.
"Apa?. Kau bertanya aku berada dimana?." Jawabnya dengan sedikit heran. Setelah itu ia berjalan dengan cepatnya menuju tirai yang tergantung di ruangan itu.
Srakh!.
Duakh!.
"Sakit!." Teriak Staz dengan suara yang sangat keras. "Apa yang kau lakukan serigala busuk!." Bentaknya dengan penuh amarah. Kepalanya ditonjok begitu saja oleh Wolf, tentunya itu sangat menyakitkan baginya.
"Berisik!." Balas Wolf tidak mau kalah.
"Bukankah kau tadi yang bertanya bagaimana aku bisa hidup selama ini?. Kau ini sangat aneh sekali." Staz sangat jengkel dengan sikap Wolf yang sangat aneh.
"Oh?!. Maaf, sepertinya tanganku tadi keseleo. Jadi aku tidak sengaja memukul kepala mu yang bodoh itu." Ucapnya tanpa perasaan bersalah sedikitpun.
Kembali lagi ke masa itu.
Srakh!.
Saat itu ia membuka tirai yang menutupi ruangannya dengan sangat cepat. Matanya melihat jauh ke luar, matanya yang memperhatikan bagaimana keadaan luar. Di luar ada makhluk gaib aneh yang terbang, dan menyemburkan api?. Ah!. Lupakan.
Dalam kisah ini. Mari kita lihat bagiamana ia yang sesungguhnya. Ia yang mengatakan jika dirinya adalah seorang vampir?. Tidak memakan darah manusia?. Kenapa itu bisa tejadi padanya?. "Ini adalah dunia iblis." Staz menjawab pertanyaan itu. Kenapa ia bisa tinggal di dunia iblis?. Apakah itu tidak apa-apa baginya?.
"Menurut kabar yang aku dengar. Para leluhurku memang senang sekali menghisap darah manusia. Ingat darah manusia, bukan darah hewan." Staz seperti sedang membuat narasi tentang leluhurnya?. "Mereka tinggal dan berbaur dengan manusia, menghisap darah manusia dengan santainya?." Staz dapat membayangkan bagaimana para leluhurnya melakukan itu. "Tapi hukum alam itu tidak berguna bagiku. Fyuuh!." Staz meniup pelan bayangan yang menari-nari di dalam pikirannya mengenai leluhurnya.
"Kau ini sangat aneh sekali." Chibi Kelalawar bingung dengan jalan pikiran Staz.
"Aku tidak akan tinggal di dunia manusia, karena dari apa yang aku dengar. Panas matahari di dunia manusia lebih menyengat, dan itu sangat menyakitkan." Staz tentunya tidak mau mengalami itu. "Ditambah lagi, jika kau ingin bepergian. Kau harus menggunakan uang yang sangat banyak. Itu sangat merepotkan bagiku." Lanjutnya sambil mengeluh dengan bayangannya. "Maaf saja, lebih baik aku tidur di rumahku yang nyaman ini." Dengan nada ogahan ia berkata seperti itu.
"Ho?. Baiklah kalau begitu aku pergi dulu." Chibi Kelalawar telah mendapatkan jawaban dari Staz.
Boofh!.
Chibi Kelalawar langsung menghilang dari ruangan itu. Ia hanya ingin memastikan apakah berita yang ia dengar itu benar atau tidak.
Akan tetapi pada saat itu ia mendengar suara nada dering hp nya berbunyi. "Seperti yang kalian lihat?. Aku ini sangat sibuk sekali." Ucapnya dengan penuh percaya diri sambil mengambil hpnya. "Nomor yang tidak dikenal?." Dalam hatinya sedikit bingung. "Siapa yang berani menghubungi aku seperti ini?." Masih mengamati panggilan itu.
Karena rasa penasaran yang ia rasakan pada saat itu, ia segera mengangkat telponnya. "Ya?. Ada apa?. Ini aku staz." Jawabnya setelah menekan tombol menerima panggilan.
__ADS_1
"Pesan tsuchinoko." Ucap seseorang entah dari mana.
Entah kenapa ia merasa kesal dengan ucapan orang yang tidak dikenali itu. "Kau ini siapa?!." Hatinya sangat kesal, jengkel dengan orang yang menghubunginya. Apalagi suara orang yang menelponnya itu tidak jelas sama sekali.
Tap!.
Bukannya menunggu jawaban dari orang yang menghubunginya itu?. Ia malah menutup kasar panggilan itu. Ia sangat kesal, jika ada seseorang yang tidak dikenal tidak memperkenalkan namanya?.
Drrr
Kembali hp nya berbunyi, tentunya ia semakin kesal. "Hah?!. Apa lagi?!." Tanpa melihat siapa yang menghubunginya, ia langsung mengangkat panggilan itu dengan perasaan yang sangat marah luar biasa.
"Bos?. Kenapa malah marah-marah?." Ucap seseorang.
"Ada apa?." Ralatnya dengan suara yang agak berbeda sedikit.
"Wah?. Bos?. Tumben bangun pagi." Dengan santainya orang itu berkata seperti itu pada Staz?. Dan bahkan memanggilnya bos?. Apakah ia tidak salah?. Mungkin saja dia ingin sesuatu?.
"Oh?. Deku kau?. Kau ya?. Aku hampir saja lupa." Sepertinya Staz sangat kenal dengan orang yang menghubunginya.
Kembali ke masa ini.
Wolf menyela nafasnya dengan lelahnya. "Dia ini berniat mendongeng atau apa?. Rasanya memang sangat menyebalkan sekali. Dia benar-benar menceritakan hidupnya di sana?. Aku sama sekali tidak tertarik sebenarnya dengan ceritanya. Hanya saja aku terpaksa mendengar itu. Mungkin nanti cerita yang akan ia ceritakan padaku akan menyambung pada alasan kenapa gadis cantik bahenol itu bersamanya." Dalam hati Wolf mencoba untuk bersabar.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Bagaimana lanjutan dari cerita Staz?. Apakah Wolf benar-benar berniat mendengarkannya?. Next.
...***...
Dunia imajinasi.
Staz berkumpul bersama dengan yang lainnya. Mereka yang saat itu mungkin merasa bosan?.
"Apakah kau tidak merasa penasaran dengan cerita lanjutannya?." Staz menatap mereka semua.
"Penasaran?. Aku merasa ini adegan yang dipotong saja, supaya pembaca penasaran dengan apa akan terjadi selanjutnya." Wolf dengan malasnya berkata seperti itu.
"Ta-tapi, penulisnya telah berusaha. Setidaknya hargai dengan baik." Yanagi Fuyumi sedikit khawatir dengan apa yang akan terjadi.
"Tapi, setidaknya kita dapat komisi." Tobi sangat senang, dan ia memegang uangnya.
__ADS_1
"Terserah kalian saja. Aku mau siap-siap dulu." Setelah berkata seperti itu ia pergi meninggalkan tempat. Benarkah melakukan persiapan?. Next halaman.
...***...