
...
...
...***...
Di tengah-tengah pertarungan itu, Bell datangĀ dengan cara yang tidak biasa?. Ia menghilangkan Staz, Yanagi Fuyumi, dan Wolf entah ke mana. Namun tentunya penonton sama sekali tidak suka dengan itu, sehingga mereka melempari arena pertandingan itu dengan apa saja yang ada di tangan mereka semua.
"Karena hampir malam?. Selamat tinggal ya?." Ucapnya dengan tampang tanpa bersalah sedikitpun.
"Bagaimana ini?. Sangat menyebalkan sekali?!. Taruhan kami bagaimana woi?!."
"Kembalikan taruhan kami!."
"Kembalikan uang kami, dasar kadal buntung!."
Teriak mereka penuh dengan amarah yang sangat membara, karena mereka sama sekali tidak terima dengan apa yang telah dilakukan oleh Bell saat itu.
Di sisi lain, jika mengatakan taruhan?. Yoshida yang saat itu sedang panik?. Tentunya ia sangat ketakutan ketika ada pesan masuk.
"Maaf ya bro?. Taruhannya batal, dan aku gagal mendapatkan uangnya." Setidaknya seperti itulah bunyi pesan yang ia dapatkan dari temannya itu.
"Ada apa yoshida?. Kau terlihat sangat ketakutan. Memangnya apa yang terjadi?." Deku masih menaruh perhatian pada Yoshida yang masih belum juga bisa menemukan solusi untuk menemukan cara mengganti robot kesayangan Staz.
"Taruhannya gagal, dan aku tidak bisa meminjam uang darinya." Jawabnya dengan nada merengek. "Tolong bantu aku deku san." Yoshida benar-benar sangat putus asa dengan apa yang telah terjadi padanya.
"A-aku tidak tahu, jadi kau harus berusaha lagi ingin mendapatkan uangnya." Deku telah pasrah.
"Aku harus bagaimana deku-san?. Aku masih mai hidup." Yoshida malah nangis lebay, sambil membayangkan dirinya yang kena sembur oleh Staz.
"Hufh!." Deku menghela nafasnya dengan pelan. "Terserah kau saja. Aku tidak ingin bos marah nantinya. Jadi kau pandai-pandai berusaha." Deku benar-benar pasrah dengan apa yang akan diterima Yoshida nantinya.
"Habislah sudah impianku." Dalam hatinya sangat takut, jika ia akan dibunuh oleh Staz hanya karena ia telah membuat robot figuran kesayangan Staz rusak.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?. Simak terus ceritanya.
...***...
__ADS_1
Sementara itu, Staz?. Wolf?. Dan Yanagi Fuyumi berada di sebuah tepat bangunan yang sangat sepi. Ternyata saat itu sudah sore, mereka tidak menyadari waktu yang terbuang setelah pertarungan itu.
"Sebenarnya kita ini berada di mana?." Wolf sangat bingung dengan keadaannya saat itu yang tidak karuan sama sekali. Wolf masih dalam keadaan duduk, sama seperti ketika ia terhisap oleh aliran dimensi lain.
"Aku tidak tahu." Jawab Staz, dan ia dalam keadaan berdiri.
Lalu bagaimana dengan keadaan Yanagi Fuyumi?. Gadis hantu itu malah menangis, dan ia belum menyadari apa yang telah terjadi padanya.
"Apakah kau kenal dengan wanita aneh itu?. Staz?." Wolf mencoba bertanya.
"Hah?. Ya, enggak terlalu kenal sih." Jawabnya. "Kenapa kau malah bertanya seperti itu?." Staz balik bertanya.
"Hanya penasaran saja, karena kau bukanlah tipe orang yang langsung bergerak jika tidak ada pemicunya." Wolf hanya ingin memastikan. "Kau pasti kenal dengan wanita aneh itu, kan?." Wolf merasa sangat penasaran.
"Ya. Memang kenal, meskipun tidak terlalu." Jawabnya. "Dia yang memberitahu padaku jika buku itu berada di sini. Jadi aku ke sini untuk memastikan buku itu memang ada di sini." Jawabnya lagi.
"Jadi kita telah dipermainkan oleh wanita itu." Wolf menyadari ada yang ganjal saat itu.
"Hah?. Apa yang kau katakan?." Staz masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan Wolf.
"Yang mengubah pertarungan kita adalah wanita aneh itu." Jawab Wolf. "Dia yang mengubah pertandingan bowling menjadi boxing." Ia sangat ingat itu.
"Katanya kau akan berbuat curang jika bermain bowling. Kau akan menggunakan sihirmu untuk mengubah arah lemparan bola ku nantinya." Wolf menjelaskan apa yang telah terjadi. "Karena itulah dia menyarankan aku untuk tidak menerima tantangan bowling, dan malah boxing." Dengan jujur ia berkata seperti itu pada temannya.
"Ckh!." Staz berdecak kesal, dan saat itu juga ia melihat ke arah Yanagi Fuyumi yang masih saja menangis. "Sepertinya kita ini hanya dijadikan mainan saja oleh wanita bola itu." Staz sangat jengkel setelah mengetahui kebenaran itu.
"Tapi untuk apa dia melakukan itu?." Tentunya Wolf ingin mengetahui alasan itu.
"Yoho!. Apakah kalian ingin mengetahui alasannya?." Bell tanpa diundang malah berkata seperti itu.
Bell yang bisa datang dari mana saja?. Muncul begitu saja tanpa rasa takut, setelah apa yang ia lakukan pada kedua pemuda itu.
"Hiyah!."
Namun sepertinya bukan hanya dia saja yang datang, ia membawa Tobi, Kiji dan Mamejirou yang sempat dilupakan.
"Aku tidak akan memberitahukannya pada orang yang telah membuat seorang gadis menangis, hanya karena menyaksikan pertarungan kalian." Tanpa perasaan bersalah ia malah berkata seperti itu.
__ADS_1
"Hah?." Staz yang terbawa emosi langsung mendekati Bell yang sama sekali tidak merasa takut sedikitpun pada Staz. "Kau ini benar-benar wanita jahat yang sangat menyebalkan!. Bentaknya dengan penuh amarah.
"Tenanglah sebentar." Ucapnya dengan sangat santainya.
"Tenang kau bilang?. Aku hampir saja saling membunuh satu sama lain dengan dia!." Bentak Staz. "Kau ini memang pandai sekali membuat permusuhan diantara kami!. Dan lihat dia!. Dari tadi dia belum juga berhenti menangis!." Rasanya kesabarannya benar-benar hais karena sering diuji oleh wanita sihir aneh itu.
"Eh?." Yanagi Fuyumi tersadar jika ia telah berada di tempat yang sangat berbeda.
"Oh?. Aku rasa urat kesabarannya telah putus." Dalam hati Mamejirou merasa heran dengan sikap Staz yang selalu marah-marah.
"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan!." Wolf juga terlihat sangat sangat marah dengan apa yang telah ia alami. "Berani sekali kau mempermainkan kami." Ia sangat tidak terima.
"Benar itu!. Berani sekali kau mengadu domba kami!." Tobi juga ikut bicara. Ia sangat marah pada Bell yang telah menyarankan hal yang paling berbahaya.
"Kalian jangan bertengkar lagi. Aku sangat takut melihat kalian yang seperti ini." Yanagi Fuyumi masih saja menangis?.
"Kau masih saja menangis?." Staz, Wolf, Mamejirou, Kiji dan Tobi malah terlihat marah pada Yanagi Fuyumi .
"Ekhm!." Bell berdehem kecil. "Baiklah. Ini memang salahku." Bell mengakuinya?. "Aku melakukan ini karena aku hanya ingin menguji kalian saja." Lanjutnya.
"Memangnya kau mau menguji apa dariku?!. Wanita bohai!." Wolf masih marah.
"Dia ingin melihat siapa yang memiliki sihir yang sangat kuat, jadi dia ingin mengetahui siapa yang telah mencuri tirainya." Staz yang menjawab.
"Laknat kau memang!." Maki Wolf. "Aku ini iblis serigala!. Mana mungkin aku menggunakan sihir!. Kau ini sangat gila!." Amarahnya kembali memuncak.
"Ok!. Ok!. Maafkan aku. Aku akan bertanggung jawab atas kejadian ini." dengan sangat mudahnya ia berkata sepert itu setelah membuat dua orang teman lama tidak bertemu hampir saja saling membunuh?.
"Jangan diberi ampun. Dia hampir saja membuat bos saling membunuh." Tobi terlihat sangat dendam pada Bell.
"Kau mau aku kirim ke angkasa?." Bell memperlihatkan bagaimana keadaan luar angkasa yang sangat menyeramkan.
"Hiya!. Lihatlah!. Dia sangat menyeramkan sekali." Tobi sangat takut, hingga ia meringkuk ketakutan melihat pemandangan itu.
"Kau harus melakukan sesuatu untukku!. Kau yang telah mengatakan padaku buku-." Belum sempat ia melanjutkan ucapannya ia telah dilempari buku yang sangat aneh oleh Bell.
"Cemil itu buku." Ucapnya dengan sangat kesal.
__ADS_1
"Buku cara membangkitkan manusia?." wolf membacakan judul buku itu.
...****...